Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 104

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 104

"Mengapa begitu ganas dan permusuhan besar memancar di wajahmu!"

"Hm!" Wanita ini terkejut, wajahnya memerah. "Aku benci karena kau merampas Sam Kong-kiam, Hu Taihiap. Dan aku ingin merampasnya kembali dari tanganmu!"

"Begitukah?" Hu Beng Kui tertawa, tentu saja ia tidak tahu rahasia sebenarnya. "Kalau begitu cobalah. Hadapilah muridku yang lain bernama Gi Lun!"

Namun, baru saja pendekar itu memanggil murid ketiganya, Gi Lun, mendadak Koang-san Tojin berkelebat naik ke atas panggung.

"Hu Taihiap, kukira tak adil jika begini. Hwa-i Paicu baru saja bertanding, tentunya ia lelah. Kalau ia maju lagi, berarti pihakmu curang karena mengajukan tenaga yang masih segar. Sebaiknya Hwa-i Paicu beristirahat dan aku menggantikannya!"

Koang-san Tojin sudah di atas panggung. Seruannya yang lantang disambut banyak anggukan penonton, sementara Hu Taihiap mengerutkan kening. Tentu saja ia bisa menangkis bahwa Kao Sin yang baru saja kalah itu pun bukan tenaga yang segar. Muridnya sampai roboh karena berkali-kali harus menghadapi lawan baru; itu hal yang tidak perlu dijadikan alasan.

Namun, mendengar kata-kata tosu ini dan melihat anggukan penonton di bawah panggung, tiba-tiba pendekar ini tertawa dan berkata dingin, "Baik, kalau begitu boleh saja, Totiang. Atau kalau ingin ramai, biar sekalian saja kau dan Pek-tung Lo-kai maju menghadapi dua muridku. Bagaimana?"

Koang-san Tojin terkejut. Namun, sebelum ia menjawab, mendadak Pek-tung Lo-kai melayang ke atas panggung sambil tertawa terbahak-bahak. "Boleh, aku menerima, Hu Taihiap. Kalau perlu, boleh semua muridmu maju menghadapi kami. Bertiga dengan Hwa-i Paicu, kukira tak perlu kami takut!"

Penonton tiba-tiba bersorak. Sebagai penonton, tentu saja mereka menyambut baik tantangan ini. Pek-tung Lo-kai mendapat dukungan, dan suara gaduh di bawah membuat Hu Beng Kui memerah. Jago pedang ini tersinggung. Namun, ketika ia mengangkat tangannya dan semua suara di bawah lenyap, ia menatap Hwa-i Paicu.

"Bagaimana, kau setuju dengan usul rekanmu, Paicu? Pertandingan keroyokan boleh terjadi di sini, tapi bukan kalian yang dikeroyok, melainkan seorang muridku, anakku sendiri, Beng An!"

Suasana kembali gaduh. Penonton bersorak. Si jago pedang kini menghadapi kecongkakan Pek-tung Lo-kai dengan tak kalah pongahnya. Beng An terkejut mendengar ayahnya mengajukan dirinya untuk menghadapi tiga ketua sekaligus. Namun, ketika penonton bersorak dan Beng An berdebar, tiba-tiba Hwa-i Paicu yang rupanya sengit kepada ayahnya mengangguk.

"Boleh, kau sendiri yang mengajukan itu, Hu Taihiap. Kami menerima dan tak perlu aku beristirahat. Majukan anakmu dan biar kulihat sampai di mana hebatnya ilmu pedang Giam-lo Kiam-sut!"

Jadilah. Hu Beng Kui menawarkan sebuah pertarungan baru. Beng An dipanggil dan segera pemuda itu melayang naik. Pemuda yang gagah dan tampan ini segera menarik perhatian orang; penonton menghentikan teriakannya, dan Hu Beng Kui tersenyum mengejek.

Ketika mereka sudah berhadapan dan penonton berbisik-bisik bertaruh siapa yang menang, dengan tegas dan sombong Hu Beng Kui menyatakan bahwa pertandingan tidak akan lebih dari lima puluh jurus.

"Cuwi (Anda semua) menjadi saksi. Kalau anakku tak dapat merobohkan lawannya dalam lima puluh jurus, biarlah aku menyatakan kalah dan Sam Kong-kiam menjadi milik mereka!"

Inilah kesombongan yang menampar tiga ketua partai itu. Pek-tung Lo-kai tadinya hendak melakukan perang saraf, membakar si jago pedang itu agar membangkitkan kemarahannya serta kemarahan murid-muridnya, dengan harapan mampu memperoleh kemenangan. Namun, begitu lawan berbalik menghinanya dengan kata-kata seperti itu dan yang maju hanya seorang saja, tiba-tiba kakek ini mendelik dan menjadi gusar.

Pek-tung Lo-kai merasa direndahkan dan marah bukan main. Ketika kakek ini gemetar memegang tongkatnya, Koang-san Tojin dan Hwa-i Paicu yang juga gusar bukan kepalang sudah berkerut gigi membentak si jago pedang itu.

"Hu Taihiap, kau sendiri yang menentukan. Kalau dalam lima puluh jurus putramu tak dapat merobohkan kami, jangan jilat ludahmu sebagai orang gagah!"

"Hm, aku bukan orang macam begitu, Koang-san Tojin. Justru kalau kalian menang, bukan saja Sam-kong-kiam kuserahkan, tapi juga jiwaku. Percayalah."

Kemarahan tiga orang ini tak dapat dikendalikan lagi. Hu Beng Kui telah menantang mereka sedemikian rupa. Ketika Hu Beng Kui melayang turun dan mereka sudah menghadapi Beng An, Pek-tung Lo-kai mendelik sambil mengeremus ujung tongkatnya.

"Anak muda, ayahmu telah mengucap janji. Mudah-mudahan kau sebagai anaknya dapat memegang teguh dan tidak bersikap pengecut!"

Beng An merah mukanya. Sebenarnya ia tak setuju dengan segala sepak terjang ayahnya itu, juga dengan kata-katanya tadi. Ia dapat membayangkan betapa sakitnya hati tiga orang ketua ini. Namun, karena ia berada di posisi sulit dan sungkan melihat permainan pedang di tangan Hwa-i Paicu, Beng An tidak takut meskipun agak menyesal. Tidak enak akan semua ini, namun musuh sudah berdiri menantang, ia tidak boleh mundur.

Ketika lawan mencabut senjata dan ia masih berdiri diam, Pek-tung Lo-kai bertanya apakah ia mau bertangan kosong atau mencabut senjata. Beng An menoleh ke bawah. Swat Lian yang mendapat isyarat kakaknya tanggap; tiba-tiba ia melempar sebatang pedang kayu ke atas panggung. Beng An menangkapnya dan tersenyum.

Ketika ia sudah tenang dan yakin dengan pedang kayunya—pedang yang biasa dibuat berlatih bersama adiknya—Beng An menjura menghadapi lawan. "Maaf, aku tak ingin melukai siapa pun. Sam-wi (kalian bertiga) boleh maju dan mulai!"

Penonton gempar. Untuk kesekian kalinya mereka melihat keanehan pada keluarga Hu Taihiap. Beng An menghadapi lawan dengan sebatang pedang kayu. Bukan maksud pemuda itu untuk merendahkan lawan, melainkan semata menjaga agar tidak ada pertumpahan darah. Namun, ketika penonton gaduh dan Pek-tung Lo-kai serta dua kawannya tak dapat menahan diri, mendadak mereka membentak melepas serangan pertama. Kemarahan benar-benar tak dapat dikendalikan lagi.

"Awas serangan Pinto!" Koang-san Tojin menerjang. Matanya melotot seakan hendak meloncat, trisula di tangannya mengaung dengan suara mengerikan, senjata itu menyambar tenggorokan Beng An.

Saat tosu Koang-san itu membentak membuka serangan, tongkat dan pedang di tangan Hwa-i Paicu juga berkelebat menyusul, diiringi deru tongkat Pek-tung Lo-kai yang diayunkannya dengan tenaga dahsyat hingga lantai panggung berderak. Tiga orang itu bergerak hampir berbarengan dengan titik sasaran yang sama: tubuh Beng An.

Ketika tiga senjata itu menyerang dari tiga jurusan menuju tempat-tempat berbahaya, penonton ternganga melihat Beng An mengeluarkan seruan perlahan. Ia tidak mengelak atau menangkis, melainkan mencelat ke atas. Tubuhnya mumbul tinggi dan amat ringan; tiga senjata lewat di bawah kakinya.

Saat lawan terkejut karena Beng An tiba-tiba menghilang, pemuda itu menggerakkan pedang kayunya ketika melayang turun. "Cring-krak-krak!"

Tiga ketua itu terperanjat. Mereka dibabat dari atas ke bawah; tiga senjata mereka terpental bertemu pedang kayu di tangan pemuda itu. Ketika mereka berteriak kaget karena tubuh pun terhuyung, mendadak Pek-tung Lo-kai membalik menerjang lagi. "Siuuut!"

Tongkat mengeluarkan cahaya keperakan, menyerang lurus dan cepat menuju ulu hati, didorong tenaga yang kuat. Kakek itu menggeram saat melancarkan serangan ini. Namun, Beng An yang mengangkat satu kaki menyambut dengan pedang, membuat tongkat itu melenceng. "Trak!" Tongkat pun terpental.

Untuk kedua kali, Pek-tung Lo-kai merasa tangkisan yang membuat telapaknya seolah terbeset. Kakek ini terbelalak karena lawan yang masih muda itu ternyata memiliki sinkang yang membuatnya tergetar. Lagi-lagi Pek-tung Lo-kai terhuyung.

Namun, Hwa-i Paicu dan Koang-san Tojin yang sudah melengking marah mengulang serangannya, membalik dan maju lagi dari kiri dan kanan. Pedang dan trisula mendesing menyambar pemuda itu. Namun, Beng An yang lagi-lagi menunjukkan kebolehannya menahan lawan, kembali menangkis dengan mengangkat sebelah kakinya.

"Trang-trang!"

Suara ini aneh. Pedang kayu di tangan pemuda itu dapat mengeluarkan suara mirip logam bertemu logam, padahal sebelumnya jelas mengeluarkan suara kayu bertemu kayu. Itulah tanda Beng An pandai menguasai senjatanya. Hwa-i Paicu serta Koang-san Tojin terbelalak. Sama seperti Pek-tung Lo-kai, mereka pun merasa telapak tangannya panas seperti dibeset.

Dua orang ini terkejut karena itu bukti sinkang lawan yang mengagumkan. Saat mereka terhuyung, Pek-tung Lo-kai kembali menerjang mengisi kekosongan. Bertubi-tubi dan cepat, mereka segera maju kembali dan mengeroyok pemuda ini, berganti-ganti menyerang tiada henti, sementara lawan menggerakkan pedangnya menangkis sana-sini.

Penonton terbelalak; mereka tak melihat secuil pun pedang kayu itu rusak. Ini lagi-lagi bukti kelihaian putra jago pedang itu "mengisi" senjatanya. Dengan sinkang yang tinggi, ia mampu membuat benda lemah menjadi kuat; pedang kayu seolah berubah menjadi pedang besi. Ketika tiga ketua itu membentak dan mengeroyok Beng An tiada henti, pertandingan menarik segera terjadi. Beng An dikelilingi cahaya sambar-menyambar dari tiga macam senjata di tangan tiga ketua partai itu.

"Trang-trang!" Suara ini kembali memekakkan telinga. Tiga ketua itu marah, mereka mulai melengking dan mengerahkan ginkang. Dua puluh jurus berlalu dengan cepat, sementara penonton mulai berdebar melihat pertandingan yang kian meningkat. Tak ada suara keluar dari mulut penonton.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment