Chapter 105
Suara yang terdengar hanyalah benturan senjata, kadang seperti logam bertemu logam, namun sewaktu-waktu berubah seperti kayu bertemu kayu, bahkan tongkat, trisula, maupun pedang yang bertemu dengan senjata di tangan Beng An.
Ketika pertempuran berjalan cepat dan tubuh ketiga ketua partai itu kini lenyap terbungkus gulungan senjata mereka yang mengelilingi Beng An, penonton yang tingkatnya rendah tidak dapat lagi mengikuti jalannya pertandingan karena mata mereka kabur.
"Hebat, lihai sekali. Hu-kongcu itu benar-benar luar biasa!" Pujian ini tidak mengherankan bagi Beng An.
Dia sendiri sudah dikurung oleh tiga senjata lawan yang tidak memberinya jalan keluar; semua celah seolah sudah ditutup oleh ketiga senjata tersebut. Namun, karena Beng An telah mencoba dan mengetahui bahwa sinkangnya masih lebih tinggi daripada lawan, pemuda itu sebenarnya tidak menemui banyak kesulitan. Meskipun dari luar tampak terkurung, dia diam-diam memperhatikan silat lawan dan mempelajarinya.
Itulah sebabnya tiga puluh jurus berlalu dengan cepat sementara Beng An hanya menangkis atau menghindar. Ketika pertempuran menginjak jurus keempat puluh dan Beng An merasa cukup, tiba-tiba dia mendengar teriakan adiknya dari bawah, "An-ko, ayo balas! Hajar mereka itu!"
Beng An tersenyum. Sikapnya yang tidak segera membalas membuat adiknya di bawah panggung khawatir. Tentu Swat Lian sudah menghitung jurus yang mereka lalui; memang mendebarkan karena sepuluh jurus lagi dia bisa dinyatakan kalah. Hu Beng Kui pun mengerutkan alis. Jago pedang ini melihat putranya bertele-tele; baginya terlalu lamban. Mulailah jago pedang itu tidak senang, lalu diam-diam menegur putranya dengan ilmu jarak jauh, menyusupkan suara dan menyuruh putranya menyelesaikan pertandingan.
Beng An mengangguk. Ketika senjata lawan kembali menyambar dari segala penjuru dan pedang serta tongkat seolah berkejaran memburunya, mendadak Beng An mengubah gerakan.
"Sam-wi-pangcu, awas. Aku membalas!"
Tiga ketua itu mendengus. Sebenarnya mereka penasaran sekaligus marah melihat kelihaian putra Hu Beng Kui ini. Bayangkan, empat puluh jurus mengeroyok, belum sekalipun senjata mereka mengenai tubuh pemuda itu; selalu dikelit atau ditangkis dan mereka terpental, padahal si pemuda belum membalas. Maka ketika pemuda itu berseru dan menyuruh mereka berhati-hati karena akan membalas, tiba-tiba Koang-san Tojin dan temannya berteriak agar mereka memperketat kepungan.
"Jangan biarkan dia menyerang. Hati-hati, persempit ruang geraknya dan kita berpindah-pindah!"
Beng An tertawa. Tentu saja dia tahu bahwa lawan hendak membuatnya bingung dengan cara baru. Koang-san Tojin dan dua temannya sudah berpindah tempat. Kini mereka berputaran cepat mengelilingi dirinya; tongkat, trisula, serta pedang berganti-ganti menyambar. Namun, karena Beng An ingin menyudahi pertempuran dan ia pun mulai hafal gaya serangan lawan, tiba-tiba pemuda ini berseru keras pada jurus keempat puluh satu saat tongkat di tangan Pek-tung Lo-kai menghantamnya dari depan, sementara Koang-san Tojin dan Hwa-i-paicu menyerangnya dari kiri dan kanan.
"Trak!" Beng An menangkis, langsung menempel, dan mengerahkan tenaganya untuk menyedot. Tongkat di tangan ketua Pek-tung-pang itu tidak dapat ditarik. Pek-tung Lo-kai berseru kaget. Dia terbelalak, terkejut, serta merasa heran kenapa Beng An tidak peduli pada dua serangan yang lain, yaitu pedang dan trisula di tangan Koang-san Tojin dan Hwa-i-paicu yang saat itu menyambar serta menusuk bahu pemuda ini.
Ketika pedang dan trisula mental mengenai bahu pemuda itu, ternyata Beng An telah melindungi diri dengan sinkangnya hingga tubuhnya kebal. Barulah Pek-tung Lo-kai berteriak keras ketika Beng An tertawa, membetot dan menarik tongkatnya yang menempel di pedang kayu pemuda itu. Ketua pengemis ini tidak dapat menahan tarikan tersebut, tubuhnya terhuyung ke depan mendekati pemuda itu. Tentu saja Pek-tung Lo-kai terkesiap. Ketika dia berusaha menarik diri, tubuhnya ternyata sudah "disedot" pula oleh pedang di tangan Beng An. Mendadak tubuh ketua pengemis ini terangkat naik ketika Beng An mengangkat pedangnya.
"Pek-tung Lo-kai, sekarang kau roboh!"
Ketua pengemis ini pucat. Saat itu dia benar-benar tak berdaya; tubuh dan tongkatnya lekat di pedang pemuda itu. Sebuah getaran mukjizat muncul di badan pedang dan ketua pengemis ini terpekik. Dia berusaha meronta, tapi ketika dia terangkat dan Beng An menggerakkan kakinya, tiba-tiba tubuh ketua pengemis ini mencelat dan tongkatnya pun lepas dari tangan.
"Des! Augh!"
Gerakan itu mengejutkan dua orang ketua yang lain. Hwa-i-paicu dan Koang-san Tojin tersentak melihat teman mereka melayang keluar panggung, terlempar, dan terguling-guling. Tentu saja ini berarti kekalahan Pek-tung Lo-kai. Ketika mereka terbelalak dan bengong, tahu-tahu Beng An membalik dan menggerakkan pedang menyilang dua kali.
"Ji-wi pangcu, kalian pun sekarang menyusul. Robohlah!"
Hwa-i-paicu dan Koang-san Tojin terkesiap. Pedang kayu di tangan pemuda itu menyilang dengan gerak menggunting. Mereka kaget dan berseru keras, tentu saja menangkis. Namun, begitu mereka menangkis, sekonyong-konyong mereka menjerit karena Beng An menambah tenaganya hingga delapan persepuluh bagian. Pedang dan trisula mencelat sementara telapak tangan mereka pun pecah.
Beng An tertawa, namun dua orang ketua itu membanting tubuh dan bergulingan. Di saat seperti itu memang tak ada jalan lain menyelamatkan diri kecuali dengan melempar tubuh bergulingan, menjauhi lawan. Namun, Beng An yang berkelebat dengan pedang di tangan tahu-tahu menikam pundak Hwa-i-paicu sementara kaki kirinya bergerak menendang Koang-san Tojin. Serangan itu tak dapat dielak, Koang-san Tojin terlempar keluar panggung dan berdebuk di sana. Ketika Hwa-i-paicu juga terkesima dan robek baju pundaknya, maka wanita cantik ketua perkumpulan Baju Kembang ini pun roboh tak berkutik di bawah kaki Beng An.
"Des! Bluk!"
Semuanya berlangsung cepat. Dua tokoh terakhir ini sudah tak berdaya lagi, masing-masing terbelalak seakan tak percaya. Namun, begitu Beng An menyimpan pedangnya dan Hwa-i-paicu terisak, penonton gempar menyambut kemenangan putra si jago pedang ini.
"Hu-kongcu menang, tak sampai lima puluh jurus!"
"Ya, dan Hwa-i-paicu kalah, tak perlu menyesal. Hu-kongcu memang lihai!"
Ketika teriakan dan seruan memecah suasana menjadi gaduh, Pek-tung Lo-kai dan Koang-san Tojin yang tertegun di bawah panggung tiba-tiba menghilang, menyelinap, dan lenyap di balik seruan ribut yang memuji kemenangan Beng An. Tentu saja mereka malu dan tak ada muka lagi menghadapi si jago pedang, kekalahan mereka memang telak. Ketika Beng An memungut pedang Hwa-i-paicu dan menyerahkannya, wanita baju kembang itu pun melompat turun tanpa bicara apa-apa lagi. Dia menghilang menyusul dua temannya yang sudah tidak ada di tempat itu. Kekalahan tiga orang ini diiringi ejekan-ejekan yang membuat telinga merah, wanita ini tidak tahan lagi.
Begitu semuanya berakhir dan orang-orang kembali kagum akan kehebatan keluarga ini, Hu Beng Kui menyambut putranya dengan gembira.
"Kau membuat kami berdebar, kau bersikap bertele-tele!"
"Ah, maafkan aku, Yah. Toh aku melaksanakan permintaanmu."
"Ya, tapi adikmu tak tahan, Beng An. Kau membuatnya cemas, terlalu!"
Beng An yang tertawa disambut adiknya akhirnya masuk ke dalam setelah pibu berakhir. Pertandingan hari itu memang tidak bersambung lagi, semuanya selesai. Tinggal menanti kedatangan Mo-ong pada hari kedua. Di sini, Hu Beng Kui bersikap serius. Ketika hari yang dijanjikan tiba dan si jago pedang bersiap-siap, Hu Beng Kui menyuruh muridnya berjaga-jaga. Kao Sin telah sehat kembali.
"Kalian jaga setiap sudut, jangan ada yang lolos!"
Namun sayang, hari itu tidak terjadi apa-apa. Mereka kecewa; Mo-ong yang berjanji datang ternyata tidak datang. Tengah malam lewat dan hari pun menginjak hari ketiga. Hu Beng Kui mengerutkan alis dan merasa dipermainkan. Barangkali hari ketiga itu musuh akan datang. Tapi ketika pada hari ketiga ini Mo-ong dan kawan-kawannya juga tidak muncul, jago pedang itu membelalakkan mata dan menggeram marah.
"Apakah mereka takut?"
"Tak mungkin. Mereka pasti bersiasat, Yah. Mo-ong terkenal licik dan curang, kita berhati-hati saja."
"Benar, aku juga curiga, Beng An. Jangan-jangan mereka bersiasat dan tetap jaga setiap sudut. Barangkali hari ini dia datang!"
Namun, seperti sebelumnya, ternyata Mo-ong dan kawan-kawannya itu tidak muncul. Mereka melanggar janji; bilang dua hari lagi datang tapi nyatanya tidak. Hu Beng Kui mulai gusar. Ketika menginjak hari kelima dan orang yang ditunggu belum juga muncul, mendadak seorang gadis mengejutkan Beng An saat datang menantang.
"Aku ingin merampas Sam-kong-kiam. Beri tahu ayahmu bahwa hari terakhir aku ke sini!"
Beng An tertegun. "Nona... Nona mau pibu?"
"Ya, bukankah kalian mengadakan sayembara? Aku ikut, aku akan bertanding!"
Gadis itu lalu pergi. Beng An melongo ketika tanya jawab singkat ini berakhir. Pemuda itu tampak kaget, keringat tiba-tiba membasahi dahinya. Namun, begitu gadis itu meninggalkannya, mendadak Beng An mengejar dan berseru memanggil, "Nona, nanti dulu. Tunggu!"
"Kau mau apa?" Gadis itu berhenti dan membalikkan tubuh.
"Aku... eh, aku bingung, Nona. Benarkah kau mau bertanding dan memusuhi kami?"
Beng An yang panik mengusap keringat, lalu menggigil di depan orang. Dia gugup dan jelas bingung kenapa gadis ini datang bukan dengan maksud baik, melainkan justru mengikuti pibu yang berarti menciptakan permusuhan. Bisa jadi dia harus merobohkan gadis itu, dan Beng An tidak menyukainya.