Chapter 106
Gadis itu tidak lain adalah gadis Tatar yang selama ini membuat hati Beng An tidak keruan, berdebar kencang, dan tidak bisa dilupakan. Wajahnya ayu dan manis, meski terkesan galak.
Ketika Beng An merasa gelisah dan gugup, gadis yang memperkenalkan diri sebagai Malisa itu mendengus sembari menarik bibirnya sedikit.
"Orang bermarga Hu, selama ini kau sekeluarga bersikap sombong dengan menantang semua orang di dunia persilatan. Kenapa mesti takut kalau aku datang? Aku ingin mencoba-coba dan ingin mengalahkan Giam-lo Kiam-sutmu itu!"
"Ah, bukan takut, Nona. Tapi aku tidak suka! Aku tidak ingin bermusuhan denganmu dan menciptakan permusuhan!"
"Aku tidak mengajak bermusuhan, aku hanya ingin mencoba memasuki pibu dan merebut Sam-kong Kiam!"
"Kau tidak mungkin menang, Ayah terlalu lihai dan..."
"Wut-plak!"
Beng An terpelanting. Gadis itu menamparnya hingga roboh. Tadi, dalam gerak yang sangat cepat, gadis itu berkelebat, tangannya terayun, dan pipi Beng An pun terkena gampar.
Beng An pucat, lalu melompat bangun. Ketika ia terbelalak dan menggigil melihat gadis itu berkacak pinggang, gadis itu berseru dengan mata berapi-api, kepala tegak, dan dada dibusungkan, "Orang bermarga Hu, jangan terlalu congkak dengan kepandaian ayahmu. Meskipun kau sekeluarga maju, aku tidak takut. Aku datang memang ingin mencoba dan merobohkan kalian. Kalau kau tidak sabar ingin bertanding, maka aku siap melayani. Majulah!"
Beng An terkejut dan merasa serba salah. "Tidak... tidak, aku percaya padamu, Nona. Kalau begitu kehendakmu, baiklah, aku menunggu!"
Beng An, yang tidak menerima tantangan tersebut, segera mengusap pipinya, lalu berdiri mematung ketika gadis itu mendengus, memutar tubuh, dan berkelebat pergi. Setelah orang itu lenyap dari pandangan, pemuda ini terhuyung memasuki rumah, lalu bertemu dengan adiknya yang berlari dengan wajah pucat.
"An-ko, celaka. Kim Siucai mau mengikuti pibu!"
Beng An bengong. "Apa?"
"Ya, Kim Siucai mau bertanding, An-ko. Tadi dia datang dan menyerahkan sepucuk surat kepada Lun-suheng. Lihat!" Swat Lian mengeluarkan sepucuk surat dengan tangan gemetar, lalu menyerahkannya pada sang kakak.
Beng An menerima dan segera melihat tulisan halus pada surat itu. Ia mengenal gaya coretannya. Saat Beng An tertegun, heran, dan bingung, tiba-tiba adiknya menangis.
"Eh, kau kenapa? Kenapa menangis?"
Swat Lian terisak. Tanpa ba-bi-bu, dia menubruk kakaknya dan bersedu-sedan. Tak lama kemudian, baju kakaknya basah oleh air mata, membuat Beng An terkejut.
Saat Beng An mengguncang dan mendorong adiknya, Swat Lian berkata dengan tersendat-sendat, "An-ko, apa jadinya ini? Bagaimana kalau Ayah tahu? Aku cemas, An-ko. Tolong aku dan cegat siucai itu agar tidak memasuki arena pibu!"
"Maksudmu?"
"Siucai itu gila, An-ko. Dia tidak tahu kemarahan Ayah kalau dia terlihat. Aku takut Ayah membunuhnya dan aku tidak ingin hal itu terjadi. Cegahlah dia dan suruh dia kembali!"
"Hm," Beng An tergetar, teringat kegelisahannya sendiri terhadap gadis Tatar itu. "Apakah kau sedemikian mengkhawatirkan nasib siucai itu, Lian-moi? Apa yang menyebabkanmu begitu?"
Empat mata itu beradu pandang. Swat Lian tidak mampu menjawab dan menggigit bibirnya yang gemetar. Pertanyaan itu diulang, dan Swat Lian tiba-tiba memejamkan mata, air matanya membanjir.
Ketika Beng An memeluk dan mengusap rambut adiknya, ia segera maklum apa yang terjadi. "Kau mencintainya, Lian-moi? Kau jatuh hati pada siucai yang aneh itu?"
Swat Lian terisak. Dia menyusupkan kepala di dada kakaknya dan mengangguk. Bagaimanapun, dia tidak perlu menyembunyikan hal itu dari kakaknya, karena kakaknya inilah yang lebih bisa dipercaya daripada ayahnya. Swat Lian merasa lebih bebas berterus terang kepada kakaknya.
Saat dia menangis dan kakaknya mengeluh, tiba-tiba Beng An berkata, "Kalau begitu, keadaan kita sama, Lian-moi. Aku pun baru bingung dengan kedatangan gadis Tatar itu!"
"Ah!" Swat Lian menarik kepalanya, seketika menghentikan tangis. "Apa... apa katamu, Koko? Gadis Tatar itu?"
"Ya, dia baru datang ke sini, Moi-moi. Dan aku tidak keruan mendengar dia mau memasuki pibu!" Beng An segera menceritakan hal itu tanpa perlu sembunyi-sembunyi lagi. Swat Lian tertegun. Di sinilah mereka bisa merasakan perasaan satu sama lain karena mereka mengalami hal yang sama, apalagi mereka memang suka berterus terang.
Saat Beng An mengakhiri ceritanya bahwa besok, pada hari terakhir, gadis yang membuatnya jungkir balik itu akan menantangnya di pibu, pemuda ini menahan dua titik air mata yang menggantung di pelupuk.
"Aku sedih. Aku bingung. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan kalau dia benar-benar datang!"
"Hmm, dan aku juga tidak tahu apa yang harus kulakukan pada Kim Siucai itu. Aku juga bingung, An-ko. Lalu bagaimana ini?"
"Menurutmu bagaimana? Apa yang harus kita lakukan?" tanya balik sang kakak.
"Aku tidak tahu, tapi kalau kau, mungkin kau dapat menolongku!"
"Menolong bagaimana?"
"Mencari Kim Siucai itu, dia pasti di sekitar sini!"
Beng An mengerutkan kening. "Di saat kita harus berjaga-jaga? Hm," pemuda ini menggeleng. "Ayah menyuruh kita menanti kedatangan Mo-ong, Lian-moi. Kalau aku keluar dan Ayah mencari, tentu repot!"
"Kalau begitu, aku saja yang pergi. Kau lindungi aku barang satu-dua jam!"
"Ah, begitu nekat?"
"Ya, aku ingin menemui siucai ini, An-ko. Kalau perlu, menyelidiki apakah kepandaiannya cukup untuk memasuki pibu!"
"Daripada bikin malu?" kakaknya tersenyum. "Kalah baru menghadapi Kao Sin-suheng. Baiklah," pemuda ini mengangguk. "Kau boleh cari pemuda itu, Lian-moi. Tapi janji, tidak boleh lebih dari dua jam. Aku tidak dapat melindungimu dari pertanyaan Ayah kalau lebih dari batas waktu yang ditentukan!"
"Terima kasih!" Swat Lian mencium kakaknya, girang bukan main. "Kau baik sekali, An-ko. Kau sungguh kakakku yang mulia!"
Tetapi, ketika gadis itu siap berkelebat pergi, mendadak Beng An menahan lengan adiknya.
"Eh, nanti dulu. Ini baru pertolonganku. Lalu bagaimana pertolonganmu kepadaku? Apa yang bisa kau perbuat untuk menolongku, Lian-moi?"
Swat Lian terkejut dan mengerutkan kening. "Apa yang bisa kulakukan? Aku tidak tahu harus melakukan apa..."
"Begini saja, kalau kau nanti menemui gadis Tatar itu pula, tolong nasihati dia agar tidak mengikuti pibu. Sampaikan padanya bahwa aku tidak dapat melawannya, bahwa aku... hm, aku mencintainya."
"Ih!" sang adik tertawa lebar. "Kenapa menyatakan cinta harus lewat orang lain, Koko? Aku tidak mau, malu!"
"Kalau begitu, bujuk saja dia, atau... ah, terserah kaulah!" Beng An merah mukanya. Mendengar sang adik tertawa, tentu saja dia tersipu.
Dalam suasana begitu, tiba-tiba mereka saling menggoda. Beng An meremas adiknya itu dan Swat Lian melompat pergi. Ketika pemuda itu menghela napas dan adiknya lenyap di luar tembok, pemuda ini masuk dengan langkah berdebar.
Swat Lian sendiri sudah mengelilingi Ce-bu. Gadis ini tidak sabar mencari Kim Siucai, berputar-putar, dan akhirnya tiba di kota sebelah timur. Melihat seseorang sedang melukis, ia merasa berdebar karena itulah Kim Siucai, orang yang dicari!
Saat Swat Lian meloncat dan mendapati bahwa pelukis ini memang benar Kim Siucai, ia langsung menegur dengan suara menggigil.
"Twako, apa yang kau lakukan ini? Kau mengikuti pibu di rumahku?"
Kim Siucai terkejut. "Eh, kau, Adik Lian? Ada apa kau datang?" pelukis itu gugup.
"Aku... eh, benar, aku coba-coba mengikuti pibu untuk menjajal kepandaianku!"
"Kau gila?" Swat Lian sudah mencengkeram lengan pemuda ini. "Kaukira apa dirimu ini? Kau tidak tahu bahaya pibu? Tidak, kau tidak boleh ikut, Twako. Jangan berpikiran sinting dan tarik niatmu itu!"
"Lho?" pemuda ini terbelalak. "Kenapa, Lian-moi? Bukankah pibu diadakan untuk siapa saja?"
"Benar, tapi bukan untuk kau. Ayah bisa marah dan membunuhmu begitu kau muncul! Tidak, kau harus menarik niatmu itu, Twako. Jangan dilanjutkan dan jangan terlihat oleh ayahku. Kau dicari-cari, Ayah bisa membunuhmu dan kau celaka!"
"Mm," pemuda ini menyeringai, menarik tangannya. "Lepaskan aku dulu, Lian-moi. Jangan dicengkeram begini kalau tidak ingin membuatku kesakitan. Aku datang karena ingin mencoba-coba, dan lagi, aku tidak takut bertemu ayahmu karena aku merasa tidak mempunyai kesalahan. Apakah memasuki pibu berarti membuat kesalahan?"
"Kau tolol!" Swat Lian membanting kaki. "Ayah sudah tidak suka padamu, Twako. Ayah sudah mencurigai dan tidak senang padamu sejak kau melarikan diri dulu. Ini yang harus kauperhatikan!"
"Tapi aku lari karena aku takut, dulu ayahmu itu seperti harimau haus darah yang ingin membunuhku!"
"Itulah, makanya jangan tolol dengan mengikuti pibu, Twako. Kau tidak mungkin selamat kalau Ayah melihatmu. Dan lagi, apa yang kauandalkan? Kepandaian apa yang kaupunya?"
"He-he," Siucai ini tertawa. "Yang kuandalkan adalah pelajaran silat darimu, Adik Lian. Kepandaian yang kupunya itu yang akan kucoba. Aku memang ingin mencoba-coba."
"Dan itu berarti mampus! Aku bakal mendapat marah Ayahku pula kalau kau memperlihatkan kepandaianmu itu. Kau harus tahu ini! Apakah kau mau menyusahkan aku? Apakah kau senang melihat Ayah marah-marah kepadaku? Tidak, kau tidak boleh ikut, Twako. Daripada kau dihajar di sana, lebih baik aku yang merobohkanmu di sini... tuk!"
Swat Lian tiba-tiba menotok, Siucai itu roboh, dan Swat Lian terisak. Gadis ini menyambar kembali pemuda itu, mendudukkannya di pinggir jalan tak jauh dari lukisannya, bersandar pada batu besar.
Saat siucai itu menahan sakit dan bertanya kenapa ia diperlakukan seperti itu, Swat Lian jengkel dan membentak perlahan, "Aku ingin tanya apakah kau mau membuang niatmu itu atau tidak. Kalau kau membuang niatmu, kau boleh bebas. Tapi kalau tidak, hm... aku terpaksa menotokmu di sini agar kau tidak dapat ke mana-mana!"
"Wah, mana mungkin, Adik Lian? Bagaimana kalau perutku lapar atau kerongkonganku haus?"
Swat Lian tertegun juga.