Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 107

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 107

"Lebih baik bebaskan aku, kau tak mungkin menahanku."

"Tidak!" Swat Lian akhirnya menggeleng. "Masalah itu dapat kuatasi, Twako. Sekarang kau jawab dulu pertanyaanku tadi. Apakah kau mau membuang niatmu atau tidak?"

"Kalau mau?"

"Kau bebas!"

"Kalau tak mau?"

"Aku akan membiarkanmu di sini, memanggil seorang pelayanku untuk melayani makan-minummu!"

Siucai ini melongo, membuka matanya lebar-lebar. "Kau akan memperlakukan aku seperti itu?"

"Ya, kalau kau bandel!"

"Ha-ha!" Siucai itu tiba-tiba tertawa tergelak. "Kalau begitu aku pilih yang ini, Lian-moi. Aku tak dapat membuang niatku dan boleh kau coba panggil pelayanmu itu. Aku tetap akan mengikuti pibu!"

"Wut!" Swat Lian marah sekali. "Kau nekat dan minta dihukum begini? Kau menantangku dan tidak mau dengar omonganku? Baik, aku akan melaksanakan omonganku, Kim-twako. Kau robohlah dan tunggu aku mengambil pelayanku!"

Swat Lian mendorong, tubuh Kim-siucai terguling. Segera gadis itu berkelebat pergi untuk mengambil pelayannya agar menjaga siucai itu. Kejadian ini terasa aneh. Kim-siucai telah ditotoknya dan tak mungkin mahasiswa itu dapat melarikan diri. Namun, ketika Swat Lian tiba kembali bersama pelayannya ke tempat itu, mendadak gadis ini tertegun karena siucai itu sudah tak ada lagi di tempatnya. Hilang!

"Eh, mana dia?" Swat Lian celingukan, melompat, dan berputar-putar mencari siucai itu. Tak ada. Pelayannya bingung karena gerak-gerik sang nona terasa sulit dimengerti. Tadi majikannya bilang bahwa dia akan menjaga seorang pelajar lemah, kini orang yang dimaksud tak kelihatan batang hidungnya, dan si nona malah tampak kebingungan serta marah.

Ketika Swat Lian membanting kaki, mendadak dia melihat guratan kecil di atas tanah yang tadi tidak terlihat karena terburu-buru mencari Kim-siucai.

"Apa itu, Nona?" pelayannya menunjuk.

Swat Lian melompat dan memperhatikan guratan itu. Ternyata tulisan Kim-siucai yang memberitahukan bahwa pemuda itu telah pergi dan tak perlu dicari. Dua hari lagi dia akan datang; niatnya untuk berpibu tak dapat dicegah.

"Aku pulang. Kita kembali ke rumah!" Swat Lian menangis.

Dia meninggalkan pelayannya yang bengong terlongong, lagi-lagi tak mengerti sikap majikannya yang tiba-tiba menyuruh kembali tanpa penjelasan lengkap. Pelayan itu hanya bisa menggelengkan kepala. Meski begitu, karena Swat Lian berkelebat pulang, pelayan ini segera mengejar majikannya, tak dapat mendahului dan hanya bisa berkaok-kaok di belakang.

Swat Lian tak peduli dan segera menemui kakaknya yang kebetulan sedang menunggu. Ketika Swat Lian menangis dan ditenangkan oleh kakaknya, gadis itu menceritakan pertemuannya yang singkat; keberhasilan sekaligus kegagalan dalam mencegah kemauan siucai itu.

"Dia keras kepala, tak mau membuang niatnya, dan kutotok roboh. Tapi ketika kupanggil A-kin untuk menjaganya, mendadak dia lenyap dan aku tak tahu ke mana dia pergi!"

"Menghilang begitu saja? Dapat membebaskan diri dari totokanmu?"

"Ya, aku juga tak mengerti bagaimana siucai ini dapat membebaskan totokanku, Koko. Padahal kuketahui kepandaiannya begitu rendah!"

"Kalau begitu dia mempermainkanmu. Siucai ini memang aneh, jangan-jangan dia berlagak pilon saja untuk mengelabuhimu!"

Beng An terkejut mendengar cerita adiknya yang hampir tak masuk akal. Sekarang semakin kuat dugaannya bahwa siucai itu bukan orang sembarangan. Ayahnya benar, siucai ini patut dicurigai dan agaknya dia seorang yang berkepandaian tinggi. Buktinya, dia dapat lolos dari totokan adiknya yang melumpuhkan. Beng An yang berdebar serta mengerutkan kening berusaha menghibur adiknya agar tidak kecewa.

"Tak perlu kau marah, toh dua hari lagi dia akan datang. Kita tunggu dia, dan aku yang akan menghadapinya untuk melihat siapa sebenarnya Kim-siucaimu ini!"

Begitulah, Beng An menenangkan adiknya. Hari itu tak ada apa-apa, begitu juga keesokan harinya. Namun, ketika hari terakhir tiba dan hari yang amat menentukan ini datang dengan munculnya fajar di ufuk timur, kejadian menggemparkan terjadi di sini.

Hari itu, seperti hari-hari yang lain, Mo-ong dan kawan-kawannya yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Hu-taihiap mulai menganggap kakek iblis itu takut, barangkali telah mendengar kelihaian anak muridnya dan jerih sebelum bertanding. Jago pedang ini mulai tak acuh dan tak mengharapkan lawannya itu. Menunggu dan diguncang berbagai macam perasaan tanpa melihat hasil memang membuat orang mulai tak peduli.

Maka, ketika pagi itu datang dan hari itu adalah hari penutupan di mana pibu akan diakhiri, jago pedang ini acuh saja ketika mendengar seorang gadis muncul di panggung—seorang gadis tak dikenal yang menurut Gi Lun berusia dua puluhan.

"Tak perlu mengganggu aku. Aku tak mau melihat kecuali Mo-ong dan kawan-kawannya itu. Robohkan dan singkirkan dia sebelum macam-macam!"

"Tapi..."

"Sudahlah, aku tak mau mendengar lagi, Gi Lun. Jangan ganggu aku karena aku hendak bersamadhi!" Hu Beng Kui malah membentak, menutup pintu kamarnya, dan menyuruh muridnya yang nomor tiga itu pergi.

Gi Lun sebenarnya hendak memberi tahu bahwa gadis itu katanya telah dikenal suhunya, seorang gadis Tartar yang konon berkepandaian tinggi. Beng An pernah mengenal kepandaian gadis itu, meskipun tak sepenuhnya. Tapi karena sang suhu telah membentaknya marah, akhirnya pemuda ini menghela napas dan tidak berani banyak bicara lagi.

Siapa yang datang? Memang Malisa adanya, gadis Tartar itu. Pagi itu dia sudah menepati janji, datang dengan kepala tegak dan dada membusung. Hebat gadis ini. Kedatangannya segera menarik perhatian; topi burungnya bertengger anggun di atas kepala, cantik dengan mata berbinar-binar seolah harimau siap tempur.

Semua mata tertegun ketika dia datang, begitu juga Beng An. Pemuda ini seakan meloncat-loncat jantungnya melihat kedatangan gadis yang tak dapat membuatnya tidur itu. Dua hari ini dia gelisah tak keruan, meskipun di mata orang lain tampak bersikap biasa-biasa saja. Ketika pagi itu dia mendapat laporan bahwa gadis Tartar itu datang, Beng An segera menyambut bersama adiknya serta lima orang saudara seperguruannya yang lain.

"Selamat pagi," Beng An menjura, hatinya berdegup kencang. "Apakah Nona datang untuk berpibu?"

"Hmm!" si gadis malah mendengus. "Mana ayahmu, orang she Hu? Kenapa tidak menyambut? Aku datang memang untuk menantang kalian semua, aku ingin merampas Sam-kong-kiam!"

"Ayah di dalam, kami sudah cukup menyambut dirimu," Beng An berusaha menenangkan dirinya. "Apakah Nona bertekad merobohkan kami? Kalau begitu, kami akan gembira melihat kepandaianmu, silakan naik ke atas panggung!"

Beng An mendahului meloncat ke atas panggung lui-tai, lalu mendapat lirikan adiknya yang tersenyum mengejek. "An-ko, calon kekasihmu ini sombong benar. Agaknya dia terlampau angkuh untuk menjadi pendampingmu!"

Beng An mengerdipkan matanya. Bidikan adiknya tadi rupanya didengar gadis itu; cahaya yang berkilat dan berapi membuat Beng An terkejut. Malisa memandang adiknya, dan ketika gadis itu melayang naik, Beng An buru-buru maju ke depan menghalangi adiknya dengan perasaan tergetar.

"Nona, pertandingan boleh dimulai. Yang akan maju menghadapimu adalah Suhengku, Gi Lun!"

Beng An cepat memanggil suhengnya yang nomor tiga. Memang tadi sudah memberi isyarat, dan Gi Lun meloncat naik ke panggung luitai dengan gerakan ringan. Malisa mengerutkan kening, tampak tidak senang. Beng An sengaja menekan pembicaraan sesingkat mungkin, kemudian menjura dan meloncat turun, menyambar adiknya.

"Nona, itulah lawanmu, silakan mulai!"

Gadis ini mendongkol. Sebenarnya Beng An yang ia harap, tak tahunya pemuda itu malah melayang turun ketika suhengnya naik. Namun, dengan mendengus merendahkan lawan, ia pun menghadapi Gi Lun.

"Kau sudah bersiap?"

Gi Lun terkejut. Ditanya langsung begini membuat dia tercekat. Gi Lun sedikit gugup; kegagahan dan kecantikan gadis ini membuat dia tergetar. Ia tak tahu bahwa Beng An, putra suhunya, diam-diam memperhatikan gadis itu lebih dari siapa pun. Gi Lun mengangguk dan tak dapat bicara, hanya menelan ludah.

Ketika gadis itu menjengek dan sinar keras memancar dari sepasang mata yang bulat lebar, tiba-tiba dia dihardik, "Kalau begitu majulah, seranglah aku!"

"Eh," Gi Lun melengak. "Kami sebagai tuan rumah tak biasa menyerang dulu, Nona. Kalau kau menantang, silakan kau dulu yang mulai!"

"Kau cerewet seperti nenek bawel! Baiklah, aku menyerang dan jaga tamparanku... wuut!"

Gadis itu membentak, tubuhnya tiba-tiba lenyap dan Gi Lun kaget melihat sesosok bayangan mencelat ke arahnya dengan tamparan kilat. Angin yang panas dan pukulan yang kuat mendahului gerakan lawannya ini. Gadis itu tahu-tahu sudah di depan mata dan sebelah kepalan meninju tengkuknya. Tentu saja Gi Lun kaget dan mengelak, namun bayangan itu seolah tak mau menjauh. Ia sudah merasa mundur satu langkah, namun tamparan tetap membayanginya.

Gi Lun terkejut dan berseru keras. Ketika lawan tetap mengejar dan dia tak dapat menghindar, maka Gi Lun terkesiap menangkis serangan pertama ini.

"Plak!"

Gi Lun terpental. Dalam gebrakan pertama ini, ternyata Gi Lun mendapat kejutan luar biasa. Tamparan gadis itu seperti api panasnya dan Gi Lun berteriak.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment