Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 108

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 108

Beng An dan adiknya melihat pemuda itu mencelat, nyaris terguling keluar panggung. Gi Lun berjungkir balik dengan menahan bibir panggung dan berhasil selamat sehingga tidak terlempar keluar. Gi Lun terbelalak dengan muka pucat. Ketika ia melayang turun, pukulan serta tamparan menantinya di bawah dengan angin panas yang menderu. Mendadak, pemuda itu sudah terdesak kalang-kabut.

"Plak! Plak!" Gi Lun membuat saudara-saudara seperguruannya tidak percaya. Dua kali pemuda itu menjerit. Tangan yang beradu dengan tamparan si gadis ternyata bengkak dan kemerah-merahan. Hampir semuanya tidak percaya ketika Gi Lun mendesis kesakitan. Saat pemuda itu mengeluh dan terhuyung menghindar, dalam beberapa jurus kemudian ia terdesak hebat dan tidak berani menangkis, hanya bisa melompat dan mengelak ke sana kemari.

"Suheng, keluarkan pedangmu. Mainkan Giam-lo Kiam-sut!" Swat Lian akhirnya penasaran, terkejut, dan berseru agar suhengnya mencabut pedang. Dalam beberapa jurus saja suhengnya ini kewalahan, tangannya bengkak-bengkak dan tentu saja tidak dapat dipakai lagi. Ketika Swat Lian berseru dan gadis Tar-tar itu mengejek, ia mengatakan bahwa pemuda itu boleh mencabut pedang.

"Ya, keluarkan pedangmu, orang she Gi. Aku akan bertangan kosong menghadapimu!" Gi Lun pucat. Ia ingin mencabut pedangnya, tetapi mana mungkin mencekal pedang jika tangan sudah bengkak-bengkak seperti ini? Ia tidak berani menangkis karena tidak mengenal kemampuan gadis ini. Ia mengira gadis ini sama saja dengan wanita lain, seperti ketua Hwa-i-pang. Maka, ketika tangkisan pertama membuat lengannya kesakitan dan terasa seolah terbakar, pemuda ini hanya dapat menggigit bibir sementara lawan terus menyerangnya dengan tamparan-tamparan mengerikan.

Lawan terus mendesak dan merangsek hingga pemuda ini bingung, terjepit, dan kian kewalahan. Ketika satu tamparan cepat menuju pelipisnya dan Gi Lun tidak sempat mengelak, dengan terpaksa dan amat gentar, Gi Lun menangkis.

"Plak!" Gi Lun menjerit. Kali ini ia terpelanting, gadis itu mengejek dan mengejarnya. Beng An dan saudara-saudaranya terbelalak melihat kejadian itu; Gi Lun tidak akan menang. Ketika Gi Lun menggulingkan tubuh dalam usahanya menghindar, tahu-tahu gadis itu mengangkat sebelah kaki dan sebuah tendangan membuat Gi Lun terpelanting roboh, terlempar keluar panggung.

"Dess!" Semuanya terkesima. Baru kali ini pihak mereka dikalahkan telak. Gi Lun terkapar tidak berdaya di bawah panggung, merintih menahan sakit. Beng An melompat mendekati dan segera menolong suhengnya. Ternyata hampir seluruh tubuh Gi Lun bengkak-bengkak, beberapa bagian bahkan tampak gosong, seakan dibakar api atau tersengat halilintar.

Ketika yang lain maju menolong dan Beng An masih bengong, tiba-tiba adiknya melayang naik dan berseru nyaring, "Malisa, kau menang. Sekarang kau boleh hadapi aku!" Beng An terkejut. Ia melihat adiknya sudah berhadapan dengan gadis itu dengan muka merah dan sikap beringas. Beng An khawatir, maka begitu adiknya berada di atas panggung, Beng An melompat naik pula dan berseru keras, "Tidak, di sini masih ada suheng-suheng yang lain. Lian-moi, biar Gwan Beng suheng atau Hauw Kam suheng yang maju. Mundurlah!"

Beng An menarik adiknya ke belakang punggung, merangkapkan tangan, dan buru-buru berkata, "Nona, kau memang menang. Tapi babak berikut masih menantimu. Sanggupkah kau bertempur lagi menghadapi yang lain?"

"Hm, kenapa satu per satu? Suruh mereka maju semua, orang she Hu. Aku ingin cepat-cepat membereskan urusan ini dan pergi!" gadis itu berkata congkak.

"Tidak, kami tidak mau mengeroyok. Kalau kau belum capai, kau boleh menghadapi suhengku nomor dua atau satu!"

"Kalau begitu, suruh saja yang paling lihai maju ke sini, atau kau saja yang menghadapi aku!" Gadis itu memandang Beng An, tetapi Beng An menolak dan hendak memanggil suheng nomor satu, Gwan Beng. Namun, Hauw Kam sudah melayang mendahului dan berdiri di situ; ia menghendaki dirinya sendiri yang menghadapi gadis Tar-tar ini.

"Sute, biarlah kau turun. Kalau aku tidak dapat mengalahkan gadis ini, sebaiknya kau saja yang maju. Biarlah kucoba kepandaianku dengannya," ujar Hauw Kam tenang dan lembut. Beng An lega. Dengan begini, ia tidak perlu lama-lama menghadapi gadis itu karena perasaannya selalu terguncang bila beradu pandang dengan bola mata yang lebar itu.

Begitu suheng nomor dua maju dan Hauw Kam memberi hormat di depan lawannya, pemuda ini bersiap dengan kuda-kuda yang kokoh. "Nona, aku telah melihat bekas pukulanmu pada suteku, Gi Lun. Agaknya semacam Tiat-lui-kang atau sejenis itu. Kalau begitu, apa hubunganmu dengan Tiat-ciang Sian-li Salima? Saudaranyakah kau?"

Gadis itu terkejut. "Aku tidak mengenal orang yang kausebut itu. Aku adalah Malisa dan tidak ada hubungan dengan orang lain. Majulah, aku ingin merobohkanmu dan secepatnya menghadapi Hu Beng Kui!"

"Hm, tidak mudah, Nona. Kau masih harus menghadapi kami berlapis-lapis dan tidak mungkin menang menghadapi guruku. Majulah, kau agaknya pantas mendapat kehormatan pertama dariku!" Hauw Kam bersiap dengan memperhatikan telapak lawan. Ia menekuk lutut dan berhati-hati; ucapannya tadi tidaklah sombong karena baru kali ini ia maju. Sebagai murid nomor dua dari Hu Beng Kui, ia belum pernah menunjukkan kepandaiannya.

Ketika gadis itu mengejek dan keningnya yang panjang terangkat naik, tiba-tiba ia membentak dan menerjang maju. "Awas!" Hauw Kam berkelit. Tidak seperti Gi Lun yang berkelit mundur, pemuda ini menghindar ke samping, kaki terangkat, dan lutut bergerak. Tamparan itu diterima lutut pemuda ini. Hauw Kam cukup cerdik dengan memasang lutut sebagai bagian terkuat untuk menerima pukulan lawan; ia belum berani menerima serangan dengan tangan kosong.

Ketika Hauw Kam mengerahkan tenaga dan lutut menyambut tamparan, terjadilah benturan kuat. "Dukk!" Hauw Kam terdorong. Pemuda ini mendesis kesakitan, terbelalak melihat lawannya tidak apa-apa dan sudah menyerang lagi. Gadis Tar-tar itu berkelebat dengan pukulan demi pukulan yang menyambar cepat. Hauw Kam terkejut karena lawan memiliki sinkang yang panas. Lututnya terasa nyeri dan tulang seakan berkeretak ditampar telapak halus itu.

Ketika Hauw Kam mendesis dan berlompatan mengelak, lawan menyerang gencar dengan pukulan berhawa panas. "Orang she Hauw, cabut saja pedangmu. Mainkan Giam-lo Kiam-sut!" Hauw Kam memerah mukanya. Dalam serangan cepat ini ia belum terdesak, tetapi lawannya dianggap sombong karena menyuruhnya mencabut pedang. Hauw Kam menggeleng marah.

Gadis itu mendengus dan mempercepat gerakannya hingga lenyap dalam gulungan arus pukulan yang kian panas. Hauw Kam terkejut karena sebentar kemudian ia sudah berkeringat. Dalam belasan jurus, ia merasa panik; lawan kehilangan bentuknya dan berganti menjadi bayangan cepat yang berputar di sekelilingnya. Ketika Hauw Kam gugup menerima pukulan dari segala penjuru, tiba-tiba pundak kanannya tertampar tanpa diduga.

"Plak!" Hauw Kam mendesis. Ia merasa kesakitan, menggigit bibir, dan penasaran. Tubuh gadis itu berputar kian cepat hingga Hauw Kam tidak punya kesempatan mengelak kecuali menangkis. Pukulan lawan datang bagaikan hujan dengan hawa panas yang menyesakkan. Ketika ia menangkis dan terus terhuyung, sadarlah pemuda ini bahwa ia kalah kuat.

"Suheng, keluarkan pedangmu. Cabut pedangmu!" Swat Lian berteriak. Hauw Kam mulai terdesak dan bingung. Semuanya membuat saudara-saudaranya maju mundur. Seruan sumoinya itu memang baik, tapi Hauw Kam terbentur kegagahannya; berat rasanya harus mengeluarkan senjata sementara lawan masih bertangan kosong. Padahal, keistimewaan murid Hu Beng Kui adalah bermain pedang, bukan tangan kosong.

Karena lawan memiliki kelebihan sinkang dan setiap benturan membuat Hauw Kam menyeringai menahan sakit, pemuda ini terdesak hebat saat harus memilih antara mencabut senjata atau tidak. Satu tamparan mengenai pundaknya lagi, membuat Hauw Kam terhuyung dan meringis. Pukulan itu sempat ditahan, tapi lama-kelamaan ia tidak sanggup lagi.

Ketika satu tamparan miring menyambar ulu hatinya, Hauw Kam menggeram dan mencoba menangkis dengan mengerahkan seluruh tenaganya. "Dukk!" Hauw Kam terpental. Bajunya sudah basah oleh keringat dan tenaganya banyak terkuras. Lawan benar-benar kuat. Ketika lawan mengejar dan satu pukulan mengenai tengkuk, Hauw Kam terjungkal, melompat bangun, namun sebuah tendangan mengenai pinggangnya.

Hauw Kam roboh lagi. Ketika ia menjadi bulan-bulanan pukulan yang menghujani tubuhnya hingga mulai bengkak-bengkak, akhirnya Beng An tidak tahan dan berseru keras tepat di saat suhengnya terpelanting. "Suheng, kau kalah. Kita harus mengakui ini, mundur!" Beng An menangkap suhengnya, tidak mau suhengnya roboh di bawah panggung sebelum semuanya semakin parah.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment