Chapter 109
Beng An menyambar suhengnya, menyuruhnya berdiri, lalu melemparkannya ke bawah panggung. Ia segera menghadapi gadis Tartar yang lihai itu dengan wajah berseri-seri penuh kekaguman.
"Nona, kau hebat. Kau lihai sekali. Dua kali kau memenangkan pertandingan dan pantas menantang kami!"
"Sekarang kau yang akan maju menghadapi aku?" Gadis itu mengusap keringat. "Dengan cara begini kau hendak menguras tenaga dan mencari kemenangan?"
"Tidak, aku memberimu waktu untuk beristirahat, Nona. Kalau kau lelah, boleh beristirahat sejenak dan maju lagi."
"Aku tidak lelah. Siapa pun boleh maju kalau ingin terjungkal!" ujar gadis itu sombong. "Nah, aku siap, orang she Hu. Kalau boleh kunasihati, sebaiknya kau atau adikmu itu yang maju."
"Wut!" Swat Lian melayang naik. "Gadis ini sombong benar, An-ko. Kalau tidak diberi pelajaran, tentu ia semakin congkak. Minggirlah, aku yang menghadapi dan kau turun!"
Swat Lian tidak tahan, sejak tadi sebenarnya ia merasa marah dan geram. Gadis ini semakin menjadi-jadi. Maka, setelah menyuruh kakaknya mundur, tangan Swat Lian bergerak ke belakang. Tiba-tiba ia sudah mencabut pedangnya dan menyilangkannya di dada.
"Malisa, berkali-kali kau ingin menghadapi Giam-lo Kiam-sut. Nah, aku memenuhi permintaanmu. Cabutlah senjatamu dan kita boleh tentukan siapa yang kalah dan menang di sini!"
Swat Lian memasang kuda-kuda, tangannya lurus bergetar dengan pedang di tangan, sementara kakaknya terkejut. Sebenarnya Beng An tidak menghendaki adiknya maju; ia hendak menyuruh suheng tertuanya, Gwan Beng. Namun, saat ia hendak mencegah dan melompat ke depan, tiba-tiba tujuh bayangan berkelebat di depan panggung dan seorang kakek bermuka singa tertawa gemuruh.
"Tiat-ciang Sian-li, kau memang hebat. Sendiri tanpa dibantu siapa pun kau hendak menantang Hu Beng Kui. Ha-ha, jago pedang itu tak mungkin kauhadapi sendirian, Dewi Jelita. Kami datang untuk membantumu... wut-wut!"
Enam bayangan lain yang berkelebat di samping kakek ini membuat Beng An tertegun dan berhenti. Ia terkejut dan baru sadar bahwa inilah musuh yang ditunggu-tunggu, yakni Mo-ong dan kawan-kawannya. Dengan melihat wajah kakek bertelanjang kaki itu, Beng An segera mengenalinya; Mo-ong memang tidak pernah memakai sepatu dan wajahnya mirip singa, kasar dengan brewok yang lebat.
Namun, saat mendengar Mo-ong menyebut gadis Tartar itu sebagai Tiat-ciang Sian-li, pemuda ini mendadak bengong. "Kau Tiat-ciang Sian-li? Kau, eh... bukankah Tiat-ciang Sian-li bernama Salima dan sumoi-nya Kim-mou-eng?"
"Ha-ha, ini memang sumoi Kim-mou-eng, Hu-kongcu. Dia datang tentu saja untuk membalas dendam, di samping merampas kembali Sam-kong-kiam!"
Beng An tersentak. Bagai dipukul sesuatu, ia mundur dan memandang Malisa. Ia menghubungkan nama itu dengan Salima, lalu terkejut dan sadar setelah mengetahui bahwa nama itu dibalik. Beng An segera berubah pucat.
Saat ia tertegun dan Mo-ong serta kawan-kawannya membuat suheng-suhengnya bangkit berdiri, seorang pemuda bermuka pucat yang matanya bergerak-gerak menghampiri Malisa (Salima) dengan senyum dikulum. Ia tertawa gembira sambil membungkuk.
"Sian-li, apa kabar? Kau baik-baik, bukan? Kami sudah mendengar dirimu berkeliaran di sini, sengaja menunggumu agar dapat menghadapi Hu Taihiap bersama-sama. Aku prihatin dan turut berbelasungkawa atas kematian suhengmu. Terimalah pernyataanku!"
Pemuda muka pucat itu membungkuk dan memberi hormat, bahkan tiba-tiba menitikkan air mata. Meski tidak digubris, ia terus menunjukkan wajah sedih. Beng An melihat gadis cantik itu mendengus dan menatap Mo-ong dkk. dengan terkejut. Gadis itu tidak menduga kedatangan kakek iblis tersebut. Ketika Bu Ham, pemuda muka pucat itu, menyeringai, gadis itu membentak si kakek bermuka singa.
"Mo-ong, apa maksud kedatanganmu kemari? Siapa yang perlu bantuan?"
"Heh-heh, kami datang untuk membantumu, Sian-li. Kami telah mendengar tewasnya suhengmu itu dan turut menaruh kebencian terhadap Hu-taihiap."
"Aku tak butuh belas kasihanmu, kalian orang-orang sesat yang tak dapat dipercaya. Pergilah, aku dapat menghadapi Hu Beng Kui sendirian!"
"Hmm," sesosok bayangan tiba-tiba muncul dan berdiri di pintu tengah. "Siapa yang membuat ribut-ribut ini, Beng An? Kalian mengganggu samadhiku?"
Semua orang menengok. Beng An dan saudara-saudaranya segera menjadi girang karena itu adalah ayahnya, Hu-taihiap. Rupanya Hu Beng Kui terganggu dan mendengar suara pertempuran itu. Dari suaranya saja, Hu Beng Kui tahu bahwa sebuah pertandingan berat terjadi. Ia terkejut mendengar gerakan Gi Lun berhenti dan muridnya itu roboh. Saat pertandingan berlanjut dengan Hauw Kam yang maju namun murid nomor duanya itu tak dapat bertahan lama akibat siutan angin panas, Hu Beng Kui menjadi curiga. Saat itu pula ia mendengar tawa Mo-ong, sehingga ia keluar dan berdiri di pintu ruangan; sosoknya tampak gagah dan angker.
Hu Beng Kui tegak di tengah pintu dengan mata menyapu ke depan. Semua orang merasa terintimidasi. Saat jago pedang itu melihat Mo-ong dan kawan-kawannya, ia menggerakkan kakinya dan sudah berdiri di atas panggung secepat iblis, hampir tak terlihat gerakannya.
"Ayah, inilah Mo-ong. Dan itu Tiat-ciang Sian-li Salima!"
Hu Beng Kui mendengus. Ia telah mendengar semua pembicaraan tadi. Kini, bersama putranya, ia menghadapi semua lawan. Saat lima muridnya melayang naik dan Mo-ong serta kawan-kawannya siap dihadang, Hu Beng Kui menghentikan pandangannya pada gadis Tartar itu.
"Kau kiranya Tiat-ciang Sian-li? Kau sumoi Kim-mou-eng?"
Salima, yang memang membalik namanya, mengangguk. Pandang matanya tajam bersinar. "Ya, aku Salima, Hu-taihiap. Kita pernah bertemu, tapi saat itu kau belum membunuh orang yang kauanggap Kim-mou-eng. Aku datang untuk mengambil pedang!"
"Dan membalas kematian suhengmu?"
"Aku tak peduli padanya, aku peduli pada Sam-kong-kiam!"
Semua orang melongo. Hu Beng Kui terheran mendengar jawaban itu. Gadis itu tidak tampak dendam, hanya pandang matanya beringas saat membicarakan Sam-kong-kiam. Hu Beng Kui bertanya kembali sambil menuding Mo-ong dan rombongannya, "Kau membawa teman-temanmu itu? Kau mau berbuat curang untuk merampas Sam-kong-kiam?"
"Hm, aku tak mengajak tujuh setan ini, Hu-taihiap. Kalau mereka datang, ini semua kebetulan. Aku datang sendiri dan ingin merampas sendiri Pedang Tiga Dimensi itu dari tanganmu!"
"Bagus, kalau begitu kau bukan segolongan mereka. Dan kau, kenapa mengingkari janji, Mo-ong? Kenapa baru sekarang kalian datang? Bukankah seharusnya lima hari yang lalu?" Hu Beng Kui menoleh pada kakek iblis itu.
"Ha-ha, kami datang karena sekarang inilah saatnya yang tepat, Hu-taihiap. Lima hari yang lalu kami masih keluyuran dan belum siap."
"Dan kau mau memasuki pibu?"
"Tentu, merampas Sam-kong-kiam dan merobohkan anak muridmu!"
"Bagus, kalau begitu silakan coba!"
Namun, baru saja pendekar ini menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba seorang pemuda muncul, seorang siucai dengan kopiah mahasiswa yang cakep.
"Hu-taihiap, nanti dulu. Aku juga ikut, aku mendaftar!"
Siucai yang muncul terburu-buru itu berlari ke depan panggung dan tertawa ha-ha he-he. Sikapnya tampak konyol dan Swat Lian kaget. Siucai aneh ini mengenakan pakaian komprang yang kedodoran. Karena semua orang sedang tercekam oleh kedatangan Mo-ong dan kehadiran Tiat-ciang Sian-li Salima, tidak ada orang yang tertawa melihat sikap lucu siucai ini kecuali rombongan Mo-ong.
Siucai itu berdiri di depan panggung dengan berani di samping Mo-ong. Saat Hu-taihiap terkejut dan terbelalak, siucai itu menjura dan lengan bajunya yang besar mengebut hidung Mo-ong!
"Hu-taihiap, dua hari yang lalu aku sudah mendaftar. Tolong diriku diterima dan jangan ditolak!"
Hu-taihiap tertegun. Tentu saja ia melihat kebutan ke hidung Mo-ong itu. Ia merasa geli melihat Mo-ong batuk-batuk karena bau kecut yang keluar dari ujung lengan baju itu. Namun, sebelum ia sempat menjawab, Mo-ong yang marah karena kebutan itu tiba-tiba mengibas dan menendang siucai tersebut.
"Mahasiswa busuk, minggir kau! Ini bukan urusanmu!"
"Dess!"
Kim-siucai menjerit dan terlempar jauh, jatuh terbanting, dan bergulingan. Suasana disusul pekik tertahan seorang gadis, dan semua orang menoleh ke arah Swat Lian. Putri Hu Beng Kui itulah yang memekik.
Ketika semua orang merasa aneh karena putri si jago pedang itu memperhatikan siucai ini, Swat Lian melayang turun dan membangunkan siucai itu. "Kim-twako, kau tidak apa-apa?"
Orang-orang menjadi bengong. Perhatian dan sikap khawatir yang ditunjukkan putri Hu Beng Kui ini membuat mereka iri. Mo-ong tertawa mengejek dan memandang ke panggung. Hu Beng Kui terkejut dan merah mukanya melihat perbuatan putrinya; jelas perasaan gadis itu tidak dapat disembunyikan. Saat siucai itu diangkat dengan sikap lembut dan perhatian yang mesra oleh Swat Lian, Mo-ong tertawa nyaring menyindir Hu-taihiap.
"Kawan-kawan, agaknya Hu-siocia ini sedang jatuh hati pada seorang siucai tolol. Lihat, betapa mesranya dia menggandeng lengan siucai itu."