Chapter 11
Sekarang kau datang, kehadiranmu ini sangat bagus.
Dapatkah kau memberi keterangan bahwa kau memang bukan pencuri Sam-kong-kiam? "Hm, kalau aku mencuri pedang itu, tak mungkin aku sekarang berada di sini, taijin. Aku memang tidak tahu-menahu tentang pedang itu karena selama ini aku di tengah-tengah suku bangsaku!"
"Kalau begitu, apa maksudmu datang ke sini?" pangeran mahkota tiba-tiba bertanya, kening masih berkerut dan tatapan mata pun masih ragu. Ada kebimbangan di hati putera mahkota ini. Dan Kim-mou-eng yang mendengar pertanyaan itu tiba-tiba gelap mukanya.
"Aku ada urusan dengan ayahandamu, pangeran. Urusan pribadi yang ingin kutanyakan secara empat mata." "Tentang apa?" "Maaf, aku tak dapat memberi tahu. Sementara ini biarlah kusimpan saja untuk ayahandamu seorang. Kelak paduka akan tahu juga kalau kami sudah bertemu." "Hmm" pangeran mahkota mendadak curiga.
"Sikapmu aneh sekali, taihiap. Kalau kau membawa maksud jujur, tentunya tak perlu kausembunyikan pula dari kami. Aku dan paman Kim bukan orang lain, kami orang-orang yang paling dekat dengan Sri Baginda." "Benar, tapi urusan ini terlampau penting, pangeran, juga amat pribadi sekali. Sebaiknya paduka tak perlu mendesak kalau aku belum menemui ayahandamu."
Pangeran ini tak senang. Sorot matanya tertangkap Kim-taijin, sebagai orang tua segera mengetahui bahwa pangeran mahkota tersinggung, cepat menyela dan berkata "mungkin Pendekar Rambut Emas benar. Urusan itu agaknya perlu segera di sampaikan." Dan ketika Kim-mou-eng mengangguk tapi ragu mengingat hari sudah malam, maka secara cerdik pembesar ini berkata, "Tak apa, kami dapat membantumu, taihiap. Lagi pula Sri Baginda tentu telah mendengar ribut-ribut ini. Sebaiknya kuantar dirimu dan paduka pangeran dapat mengantarmu bersama untuk menghadap kaisar."
Inilah omongan bagus. Dengan begitu pangeran otomatis akan mendengar pula apa yang hendak dibicarakan Kim-mou-eng kepada ayahnya, jadi Kim-taijin melenyapkan kekecewaan pangeran itu sekaligus menolong Kim-mou-eng mempercepat urusannya. Dua-duanya merasa girang karena kata-kata ini memang tepat.
Dan ketika saat itu juga Kim-taijin mengantar Kim-mou-eng dan banyak mata memandang was-was ke arah tiga orang ini, maka mereka langsung menuju pusat istana. Pengawai diberi tahu bahwa Kim-mou-eng bersama Kim-taijin dan pangeran mahkota ingin menghadap, ternyata kaisar sudah menunggu mereka di ruang dalam, kiranya menanti berita akan keributan di luar, mendengar datangnya Kim-mou-eng.
Dan ketika dengan pengawalan ketat tapi penjaga berdiri secara tidak kentara di sudut-sudut ruangan dan segala penjuru, maka Kim-mou-eng dan dua temannya itu memberi hormat. "Sri Baginda, maafkan gangguan hamba malam-malam begini. Kim-taijin mengajak hamba untuk menemui paduka." Sri Baginda duduk dengan muka marah. Dia tidak membalas penghormatan orang, sedikit pun juga tidak mengangguk. Kemarahan memancar di wajahnya.
Tapi ketika Kim-taijin duduk di dekat Sri Baginda dan pangeran mahkota juga menempatkan diri di samping ayahnya, maka Kim-taijin berseru meredakan ketegangan ini, "Sri Baginda, Kim-taihiap datang untuk menolak tuduhan mencuri Sam-kong-kiam. Dan lagi dia pun membawa urusan pribadi dengan paduka!" "Hmm" kini kaisar bersuara, para penjaga bersiap-siap. "Apa yang hendak kaukatakan, Kim-mou-eng? Bagaimana kau menolak membawa Sam-kong-kiam kalau semua orang melihatnya begitu?"
"Maaf," pendekar ini penasaran. "Kalau hamba mencuri pedang itu, tentu hamba tak akan ke sini, Sri Baginda. Dan untuk menunjukkan itikad baik hamba, maka malam ini hamba siap menerima tuduhan untuk membela diri!" "Sekarang apa bicaramu?" "Hamba tak tahu-menahu tentang pencurian itu. Hamba berada di tengah-tengah suku hamba ketika peristiwa terjadi. Ini tentu perbuatan seseorang untuk merusak nama hamba!"
"Kau dapat membuktikan bahwa itu memang bukan perbuatanmu?" "Tentu saja. Bangsa hamba menjadi saksi, Sri Baginda. Paduka dapat bertanya mereka kalau itu dikehendaki!" "Tapi itu suku bangsamu, tentu saja mereka akan membelamu!" kaisar menyergah. "Jadi maksud paduka bagaimana?" Kim-mou-eng terkejut.
"Hm, tentu saja perbuatan nyata, Kim-mou-eng. Kim-taijin memberiku jaminan bahwa bukan kau orangnya yang mencuri Sam-kong-kiam. Tapi karena namamu telah dituduh dan kau satu-satu nya orang yang berambut keemasan di seluruh dunia kang ouw, maka kau harus membersihkan namamu ini dengan menangkap orang yang katamu sendiri telah merusak namamu itu."
"Baik, hamba memang akan melakukannya!" Kim-mou-eng tegas bicara, mata pun mulai berkilat. "Tapi hamba juga mempunyai suatu tuduhan terhadap paduka, Sri Baginda. Karena itu mohon keadilan pula agar paduka menjawab pertanyaan hamba." Kaisar terkejut. "Apa?" "Ya, hamba datang untuk keperluan penting ini, Sri Baginda. Bahwa sebelum hamba dituduh mencuri Sam-kong-kiam, sebenarnya hamba juga membawa sebuah tuduhan untuk paduka. Masalah pribadi!"
Kaisar semakin terkejut. Tiba-tiba ketegangan mencekam tempat itu, secara aneh kaisar siap menjadi "terdakwa". Kalau bukan Kim-mou-eng, tentu orang yang berani bicara seperti ini sudah ditangkap! Kaisar terbelalak, tanpa terasa merubah duduknya. Dan ketika kaisar bertanya apa tuduhan itu dan kesalahan apa yang dilakukan kaisar ini, maka Kim-mou-eng melirik bayangan-bayangan di dekat mereka.
"Harap pengawal-pengawal disuruh menjauh, Sri Baginda. Ini urusan pribadi paduka." "Hmmm" Kaisar tak sabar. Dia menepuk tangan, bayangan-bayangan itu menjauh dan Kim-mou-eng lega. Sejenak melirik Kim-taijin dan pangeran mahkota, tapi kaisar sudah memberi isyarat. Mereka bukan orang-orang lain.
Dan ketika Kim-mou-eng menjelaskan bahwa tuduhan itu berupa penghinaan kaisar atas perkara Bi Nio karena urusan itu dianggap merendahkan bangsa Tar-tar, mendadak kaisar tertegun dan kaget bukan main. "Apa, Bi Nio hamil sebelum kuberikan kepada mendiang suhengmu?" "Begitu menurut yang hamba dengar, Sri Baginda. Karena itu mohon kejujuran paduka untuk berterus terang masalah ini. Hamba menyatakan sanggup untuk menangkap pencuri Sam-kong-kiam sebagai bukti kebersihan hamba. Dan harap paduka juga menyatakan sanggup untuk membuktikan kebersihan paduka!"
"Ha ha!" kaisar tiba-tiba tertawa hergelak, begitu hilang kagetnya. "Tentu saja aku dapat menyatakan diri bahwa tuduhanmu tidak benar, Kim-mou-eng. Dan saat ini juga kujawab dengan jujur bahwa selir yang telah kuberikan pada mendiang suhengmu itu memang benar-benar hamil dengan suhengmu sendiri. Bahkan, sampai saat ini pun Bi Nio tidak pernah kusentuh dan tetap mendapat pelayanan istimewa sebagai tanda hormatku kepada bangsa Tar-tar!"
Kim-mou-eng tak begitu saja percaya. "Darimana hamba dapat membuktikannya?" "Dari sini!" kaisar tiba-tiba bertepuk tangan, memanggil seorang pengawal. Lalu memerintahkan pengawal itu memanggil Bi Nio segera. Kim-mou-eng disuruh menunggu. Kim-mou-eng berdebar, kaisar menyuruh Bi Nio membawa bayinya. Kiranya Bi Nio telah melahirkan.
Kaisar mengatakan bahwa bayi Bi Nio adalah seorang anak laki-laki yang sehat berkulit hitam, persis bapaknya. Mendiang Gurba memang hitam. Tapi ketika pengawal datang dengan muka pucat dan Bi Nio yang ada di belakang menangis tersedu-sedu seorang diri, maka kaisar dan semua orang tertegun tak mengerti, tak melihat bayi yang disuruh bawa. "Bi Nio, mana bayimu? Tidakkah pengawal memberi tahu bahwa kau harus datang bersama bayimu?" "Ampun....!" Bi Nio menjatuhkan diri berlutut, tangisnya tak dapat ditahan. "Hamba mengalami hal yang aneh, Sri Baginda. Bayi hamba berubah ujud dan tak mampu hamba bawa ke mani."
"Apa" Berubah ujud bagaimana?" kaisar terkejut. "Anak itu.... bayi itu.... kulitnya berubah, Sri Baginda. Hamba merasa seseorang telah menukar bayi hamba. Togura lenyap terganti anak lain....!" Dan Bi Nio yang mengguguk tak dapat berkata-kata, tiba-tiba roboh dan pingsan di hadapan kaisar.
Dan ketika kaisar tertegun dan Kim-mou-eng mengerutkan kening curiga pada kaisar, maka Sri Baginda menggigil memandang anak laki-laki di gendongan dayang itu. "Ini bukan anak Bi Nio. Kau salah ambil!" "Ampun," dayang itu gemetar. "Hamba mengambil bayi ini di kamar Bi Nio, Sri Beginda. Tak ada bocah lain di kamar itu selain bocah ini...." "Tapi ini bukan anaknya. Kau bodoh, cari lagi yang benar!" Tapi ketika sang dayang menangis dan mencari lagi tapi kembali menyatakan tak ada anak lain selain anak di gendongannya itu, akhirnya Kaisar tertegun sementara Kim-taijin dan lain-lain membelalakkan mata.
"Nah, paduka tak dapat membuktikan omongan paduka, Sri Baginda. Anak yang dilahirkan Bi Nio ternyata putih bukannya hitam!" Kim-mou-eng tampil bicara, kata-katanya mulai dingin karena Kim-mou-eng mulai curiga pada kaisar. Jangan-jangan kaisar mempermainkannya. Entah apa maksud kaisar itu. Keadaan tiba-tiba menjadi tidak enak.
Kim-taijin merasakan ketidaknyamanan itu, mulai khawatir melihat kilatan di mata Pendekar Rambut Emas. Ada sesuatu yang tidak beres! Dan ketika kaisar membelalakkan mata dan tertegun tak dapat menjawab, maka Kim-mou-eng kembali bertanya, "Sri Baginda, apa yang akan paduka katakan tentang hal ini?" Sri Baginda mengepal tinju.
"Itu tidak benar: Ada yang main gila di dalam istana. Biar ku tanya Bi Nio!" Dan kaisar yang melihat Bi Nio sudah sadar tiba-tiba berseru, "Bi Nio, apa yang sesungguhnya terjadi? Bagaimana anakmu bisa berubah begini?" "Hamba tak tahu," Bi Nio menggigil. "Hamba semalam terlelap pulas, Sri Baginda. Dan ketika pagi harinya hamba bangun, tahu-tahu anak hamba telah berubah...." "Tak ada yang masuk ke kamarmu?" "Hamba telah mengunci pintunya, Sri Baginda."