Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 110

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 110

"Kalau saja muridku beruntung mendapatkan gadis ini, tentunya Hu-taihiap tak perlu malu memiliki menantu seorang mahasiswa goblok."

"Ha-ha, kau betul, Mo-ong."

"Kalau tidak kulihat dengan mata kepalaku sendiri, barangkali aku tak mau percaya putri seorang jago pedang mencintai seorang pelajar tolol. Aih, sayang. Kasihan nama ayahnya!" seorang kakek buntung yang tidak lain adalah Siauw-bin-kwi menyambung, disusul dengus dan ejekan lain dari rombongan Mo-ong.

Bu Ham juga terbelalak melihat betapa mesranya putri Hu Beng Kui itu memperhatikan siucai tersebut. Ketika ejekan serta cemoohan membuat Hu Beng Kui semakin tak tahan dan gusar melihat sikap putrinya, tiba-tiba pendekar ini membentak, "Swat Lian, ke sini! Tinggalkan siucai itu!"

Swat Lian terkejut. Dia segera sadar, tetapi juga lega melihat Kim-siucai baik-baik saja. Rupanya kibasan Mo-ong tadi tidak cukup bertenaga, atau mungkin memang tidak bertenaga karena kakek iblis itu tidak bermaksud melukai. Ia tidak tahu bahwa diam-diam Mo-ong kaget setengah mati karena kibasannya tadi disambut pukulan tak tampak yang keluar dari lengan kanan siucai itu. Ketika seolah tak sengaja ia menangkis dan menolak, nyaris saja Mo-ong terdorong!

Saat mendengar bentakan ayahnya, wajah Swat Lian menjadi merah karena sikapnya tak dapat ditahan. Gadis itu berkelebat kembali ke atas panggung dan mendengar bisikan siucai itu, lembut di telinganya, "Lian-moi, tak perlu khawatir. Aku dapat menjaga diriku. Kau berhati-hatilah terhadap Mo-ong dan kawan-kawannya itu, jangan pikirkan aku!"

Di atas panggung, Hu Beng Kui memarahi putrinya, mengecam pedas sikapnya yang membuat malu nama keluarga. Beng An menengahi; ia segera memberi tahu bahwa lawan di depan lebih penting daripada Swat Lian. Jago pedang itu sadar. Ketika ia kembali menghadapi Mo-ong dan rombongannya dan melupakan siucai itu, Tiat-ciang Sian-li Salima menuntut perhatian.

"Hu-taihiap, bagaimana sekarang? Aku sudah siap merampas pedang!"

"Nanti dulu," Hu Beng Kui mengerutkan kening. "Rombongan Mo-ong ini ingin kukenal satu per satu, Nona. Harap sabar, biar kutanya mereka." Hu Beng Kui kembali menghadapi Mo-ong dengan tatapan bersinar. "Mo-ong, dapatkah kau beritahukan nama teman-temanmu itu?"

"Ha-ha, ini muridku, Hu-taihiap, Bu Ham. Sedang yang cebol-cebol itu adalah Hek-bong Siang-lo-mo dan dia itu Siauw-bin-kwi. Sedangkan yang terakhir ini, dua kakek gagah ini adalah sahabat-sahabatku dari Bhutan, Bong Kak dan Ma Tung!"

Hu Beng Kui mengangguk-angguk. Untuk Hek-bong Siang-lo-mo, dia sudah menduga; sepasang iblis itu memang dikabarkan cebol dan senjatanya adalah sabit. Ilmu kepandaian mereka tinggi. Namun, melihat Siauw-bin-kwi, seorang kakek buntung yang papas kedua kakinya, ia pun merasa heran. Ia memandang iblis itu dengan senyum mengejek yang membayang di wajahnya. Hu Beng Kui tidak gentar. Namun, melihat dua kakek Bhutan yang belum pernah didengar namanya itu, jago pedang ini mengerutkan kening.

"Mereka ini dari Bhutan?"

"Ya, aku Ma Tung!" suara geraman menjawab, disusul berkilatnya sepasang mata merah dari kakek di sebelah kiri.

Ketika Hu Beng Kui mencemooh dan kakek di sebelah kanan maju pula, kakek tinggi besar itu pun memperkenalkan diri dengan geraman yang sama. "Dan aku Bong Kak, ingin menjajal kepandaianmu dan merampas Sam-kong-kiam!"

"Hm, boleh!" Hu Beng Kui akhirnya mengenal semua lawan. "Pibu ini memang terbuka untuk siapa saja, Bong Kak. Kalau kalian ingin maju, silakan, tapi satu per satu."

"Bagaimana dengan aku?" Salima melengking. "Aku telah merobohkan dua orang muridmu, Hu-taihiap. Urusanku belum selesai dan sebaiknya kita selesaikan dulu!"

"Benar," Mo-ong terkekeh. "Tiat-ciang Sian-li telah maju lebih dulu, Hu-taihiap. Kau selesaikan urusanmu dan biar kami menonton!"

"Tidak!" Kim-siucai tiba-tiba berseru nyaring. "Gadis itu telah bertempur dua kali, Hu-taihiap. Masa tidak diberi istirahat dan menghadapi lawan baru lagi? Kalau begini, keenakan Mo-ong dan kawan-kawannya itu. Mereka bisa mendapat lawan yang sudah kehabisan tenaga melawan gadis itu!"

"Keparat!" Mo-ong mendelik. "Kau tutup mulutmu, siucai busuk! Hu-taihiap tak mungkin mengikuti omonganmu yang menunjukkan ketakutan. Anak muridnya gagah berani, masa harus kehabisan tenaga melawan musuh baru? Kalau itu dilakukan tuan rumah, maka Hu-taihiap bukan seorang pendekar yang terjaga namanya!"

Siauw-bin-kwi dan kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka tentu saja ikut membakar dan mendukung kata-kata Mo-ong hingga Hu Beng Kui tersudut. Kegagahan jago pedang ini disinggung. Hu Beng Kui maklum, dan karena pendekar itu telah bersiap menghadapi segalanya dan tidak akan mundur, ia berseru seraya mengangkat tangan, "Mo-ong, tak perlu membakar hatiku. Kami keluarga Hu bukan orang-orang yang takut menghadapi lawan kuat. Kalau nona ini ingin maju dan menantang kami, tentu saja kami layani. Pibu tetap dilaksanakan. Biar putraku yang maju, Beng An, hadapi nona ini!"

Hu Beng Kui mengebutkan lengan, menyuruh yang lain mundur.

"Bagus!" Mo-ong tertawa. "Ini pertandingan menarik, Hu-taihiap. Biar aku dan teman-temanku menonton!"

Namun, baru saja kakek iblis itu mundur bersama kawan-kawannya, mendadak Kim-siucai kembali membuat ulah. "Hu-taihiap, tunggu. Bagaimana kalau pibu diadakan secara berbareng saja? Aku usul agar pertandingan ini dijalankan sekaligus di halaman yang luas itu. Terlalu lama rasanya kalau pibu berjalan satu per satu seperti ini. Lebih baik kita masing-masing mencari lawan dan siapa kalah, dia langsung tersingkir!"

"Setuju!" penonton tiba-tiba bersorak; mereka muncul begitu saja seperti iblis dari balik kubur. "Apa yang dikatakan Kim-siucai ini betul, Hu-taihiap. Pertandingan berjalan terlalu lama kalau maju satu per satu. Persingkat saja waktunya, biar kami menonton delapan pertandingan sekaligus!"

Hu-taihiap terkejut. Penonton sudah berteriak susul-menyusul; mereka memenuhi rumahnya bagai semut menemukan gula. Agaknya kedatangan Mo-ong dan kawan-kawannya sudah diketahui dari mulut ke mulut, menyebar begitu cepat. Ketika teriakan ramai mengacaukan suasana, Mo-ong yang terbelalak tidak setuju membentak keras, "Diam, kalian semua diam! Apa yang sudah diputuskan Hu-taihiap tak boleh diubah. Pibu tetap berjalan seperti yang sudah digariskan!"

"Apakah kau takut?" Kim-siucai kembali berseru nyaring. "Kalau kau takut, boleh saja Hu-taihiap menerima permintaanmu, Mo-ong. Karena semua akan tahu bahwa kau dan teman-temanmu menghendaki lawan yang sudah kehabisan tenaga. Ha-ha, Mo-ong, kakek iblis ini ternyata takut!"

"Wut!" Mo-ong berkelebat, langsung menghantam. "Kau bermulut tajam, siucai busuk! Kalau begitu, biar kau mampus!"

Namun, Kim-siucai buru-buru melempar tubuh, bergulingan, dan berteriak pada Hu Beng Kui, "Hu-taihiap, tolong! Tamumu ini liar...!" Ia melompat bangun dengan kaki tunggang-langgang menuju tempat Hu-taihiap, lalu bersembunyi dan gemetar memegangi baju Swat Lian. Saat Mo-ong berteriak marah dan tertegun melihat pukulannya luput, iblis itu berhenti dan tidak berani mengejar karena tuan rumah memandangnya tajam.

"Hu-taihiap, siucai itu manusia pengacau. Berikan dia padaku, biar kuhajar!" iblis itu terengah-engah.

"Tidak, apa yang dia katakan didukung penonton, Mo-ong. Kalau kau memang tak takut, sebaiknya persingkat saja aturan ini," Swat Lian membela, melindungi siucai itu. Sebenarnya ia cemas dan gelisah oleh kehadiran Kim-siucai yang dianggapnya gegabah, meskipun ia kagum akan keberaniannya menentang Mo-ong.

Hu Beng Kui mengerutkan kening dan ragu-ragu. Ketika penonton kembali bersorak setuju untuk mempercepat pibu dengan pertempuran berbareng, Kim-siucai berseru lagi, "Nah, tunggu apa lagi, Taihiap? Kalau ini adalah hari terakhir penutupan pibu, anggap saja keinginan penonton kau penuhi. Hitung-hitung sebagai hadiahmu kepada mereka!"

Terpaksa Hu-taihiap memandang Mo-ong. Karena Mo-ong mewakili teman-temannya sementara ia mewakili anak muridnya, pendekar itu bertanya, "Bagaimana, kau menerima usul Kim-siucai ini, Mo-ong? Kau tak takut mengadakan pibu secara serentak?"

"Kalau Mo-ong takut, lebih baik kencingi saja dia. Aku tak takut!" Kim-siucai mendahului, suaranya lantang dan nyaring. Swat Lian tersenyum geli; siucai ini semakin menarik hatinya.

Ketika Mo-ong mendelik dan terpaksa meminta persetujuan kawan-kawannya, penonton bersorak agar ia tidak menolak.

"Jahanam, siucai itu menghancurkan semua rencana kita!" Hek-bong Siang-lo-mo menggeram marah. Semuanya mendelik dan gusar kepada siucai itu. Karena teriakan penonton mengharuskan Mo-ong dan kawan-kawan menerima, akhirnya kakek ini mengangguk geram, "Baiklah, kami menerima, Hu-taihiap. Kita berpibu sekaligus mencari kemenangan. Siapa roboh, dia langsung dikeroyok. Aku ingin menghancurlumatkan siucai itu!"

Mo-ong melompat, mendekati Kim-siucai, dan bersiap melancarkan pukulan lagi. Agaknya, sebelum menyerang Hu-taihiap, ia ingin menghajar siucai ini dulu. Tapi Swat Lian mendorong siucai itu menjauhi tempat berbahaya lalu berkata, "Kim-twako, kau pergi dulu. Tempat ini bukan main-main untukmu."

"Lho, kenapa begitu, Lian-moi? Aku juga bertempur, aku sudah mendaftar!"

"Hm," Swat Lian tersenyum geli. "Menghadapi Mo-ong saja kau terbirit-birit, mana mungkin menghadapi kami? Tidak, menyingkirlah, Twako, pergi dan menontonlah saja di situ."

"Menonton? Ah, aku tak mau. Aku ingin maju!"

Hu Beng Kui membentak dan mengebutkan lengan, tiba-tiba mendorong, "Kim-siucai, kau enyahlah!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment