Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 111

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 111

"Kami tak main-main!" Kim-siucai terlempar bergulingan didorong oleh pendekar itu. Ia akhirnya meringis dan bangun diiringi tawa ejekan penonton yang menyuruhnya minggir. Pihak Hu Beng Kui tidak memiliki kelebihan jumlah untuk menghadapi lawan tambahan; tujuh anggota Mo-ong dan Salima sudah cukup untuk menghadapi Hu Beng Kui beserta anak muridnya.

Pihak sang pendekar kini berjumlah delapan orang.

Setelah siucai itu menahan kecewa dan mengomel panjang pendek, Hu Beng Kui menghadapi lawan-lawannya sambil berseru nyaring, "Nah, kami berdelapan siap menghadapi kalian, Mo-ong. Mari turun dan kita bertempur di lapangan luas itu. Siapa di antara kalian yang ingin menghadapiku!"

Jago pedang ini melompat turun, berkelebat, dan berdiri di halaman luas. Lima muridnya serta dua putera-puterinya telah siap di sisi kiri dan kanan. Pertandingan satu lawan satu segera dimulai dengan suasana yang menegangkan. Saat Hu Beng Kui menantang siapa yang akan menghadapinya, rombongan Mo-ong tampak saling dorong. Tiba-tiba, Salima mendengus dan berkelebat maju menerima tantangan.

"Aku yang akan menghadapimu, Hu-taihiap. Biar kurasakan seberapa hebat ilmu pedang Giam-lo Kiam-sut-mu!"

Mo-ong tertawa bergelak. Ia dan kawan-kawannya memang sengaja menunggu siapa yang akan menghadapi jago pedang itu. Mereka saling berharap agar tidak mendapatkan lawan terberat di awal pertandingan, kendati telah mendengar kehebatan pedang maut Hu Beng Kui.

Karena Salima telah maju menghadapi lawan terberat, Mo-ong dan kawan-kawannya merasa lega. Iblis itu memilih Swat Lian dan berkata terkekeh, "Kalau begitu, aku menghadapi lawan yang ini, Hu-taihiap. Biar kucoba kepandaian puterimu, sementara temanku yang lain memilih sendiri."

"Aku menghadapi dia!"

"Dan aku dia..."

Berturut-turut Siauw-bin-kwi dan kawan-kawan memilih Beng An dan yang lainnya. Setelah Beng An berhadapan dengan kakek buntung itu, Kao Sin dan empat suheng-nya menghadapi lawan-lawan tangguh. Murid termuda sang jago pedang mendapat lawan yang dianggap paling ringan, yakni Bu Ham atau Bu-kongcu. Pemuda itu telah melompat di depan Kao Sin karena tahu bahwa ia adalah murid paling muda. Sambil tertawa, ia mencabut kipas hitam yang menjadi senjata andalannya.

Cun Li dan Gi Lun menghadapi sepasang kakek iblis Hek-bong Siang-lo-mo, sementara Hauw Kam menghadapi Bong Kak, dan suheng tertuanya, Gwan Beng, menghadapi Ma Tung. Rombongan Mo-ong telah memilih sendiri pasangan lawan mereka.

Ketika semuanya berhadapan, murid-murid Hu Beng Kui bersiap dengan kewaspadaan tinggi. Hu Beng Kui sudah berhadapan dengan Salima. Mendadak, tanpa banyak bicara atau menunggu aba-aba, Siauw-bin-kwi menyerang Beng An!

"Wuutt!" Beng An terkejut saat tongkat penyangga kaki lawan bergerak menotok ulu hatinya. Siauw-bin-kwi terkekeh, dan tawa itu menjadi komando bagi rekan-rekannya untuk menyerang.

Beng An berkelit dan mundur selangkah. Saat iblis buntung itu mengejar dengan serangan bertubi-tubi, Siauw-bin-kwi berseru, "Kawan-kawan, serbu!"

Mo-ong menggerakkan lengannya, dan Bong Kak beserta yang lain menerjang. "Wut-plak-siuuttt!" Kipas dan senjata lainnya menyambar. Hek-bong Siang-lo-mo menggerakkan sabit mereka menyerang dua murid Hu Beng Kui; Twa-lo-mo menghadapi Gi Lun, sedangkan Ji-lo-mo menghadapi Cun Li.

Serangan itu sangat cepat dan ganas hingga kedua murid Hu Beng Kui terkejut. Karena tak sempat menangkis, mereka terpaksa membanting tubuh dan bergulingan. Hu Beng Kui mengerutkan kening melihat sepak terjang iblis-iblis yang curang itu. Ia segera berseru agar Cun Li dan kakaknya mencabut senjata, menyadari bahwa murid-muridnya menghadapi lawan berat.

"Cun Li, Lun-ji, cabut pedang kalian. Mainkan sepenuhnya Giam-lo Kiam-sut!"

Dua murid itu mengangguk. Mereka sadar sepasang iblis cebol itu memiliki kepandaian tinggi. Gerak sabit mereka bagai petir yang menyambar, terlalu berbahaya untuk dilawan dengan tangan kosong. Saat Hek-bong Siang-lo-mo memburu, Cun Li dan Gi Lun segera mencabut pedang dan menangkis, "Trang-trangg!"

Dua iblis itu terpental. Cun Li dan Gi Lun bangkit dan membalas dengan tusukan serta bacokan cepat. Kini giliran Hek-bong Siang-lo-mo yang terkejut. Saat pedang dan sabit beradu memuncratkan bunga api, kedua iblis cebol itu tertegun karena murid ketiga dan keempat Hu-taihiap mampu menahan serangan mereka.

Cun Li dan suheng-nya harus bekerja keras. Hek-bong Siang-lo-mo memiliki tenaga dalam yang membuat telapak tangan mereka terasa pedas, belum lagi gerakan kaki yang lincah. Karena kedua lawan mereka cebol setinggi dada, serangan lebih banyak ditujukan ke bagian bawah tubuh, membuat Cun Li dan suheng-nya berkeringat dingin. Namun, karena mereka telah memutar pedang dan melindungi tubuh dengan gulungan sinar pedang, lawan dapat tertahan.

Di sisi lain, Bu-kongcu mendapatkan Kao Sin sebagai lawan. Mula-mula kipasnya mendesak, memaksa Kao Sin berhati-hati. Namun, setelah Kao Sin mencabut pedang dan membalas dengan Giam-lo Kiam-sut, kipas Bu-kongcu terpental. Pemuda itu kalah kuat. Sebuah bacokan pedang menyambar dan merobek pundak Bu-kongcu.

Dalam keadaan terdesak, Bu-kongcu mengeluarkan ular kecil dari balik sakunya untuk membantu serangan. Kao Sin mengerutkan kening melihat ular berbisa itu, namun dengan bantuan ular tersebut, Bu-kongcu mampu menyeimbangkan pertarungan.

Sementara itu, Bong Kak menyerang Hauw Kam dengan tangan kosong. Meski Hauw Kam awalnya enggan menggunakan senjata, ia terkejut dengan sinkang kuat dari lengan kakek Bhutan tersebut. Hauw Kam terdesak hingga gurunya, Hu Beng Kui, berseru, "Hauw Kam, mainkan Giam-lo Kiam-sut. Cabut pedangmu!"

Hu Beng Kui masih mengamati jalannya pertandingan dan memberi instruksi, sementara Salima—meski gemas ingin segera bertarung—tetap menunggu lawan yang siap dengan penuh kesabaran. Murid-murid Hu Beng Kui kini mulai mengeluarkan ilmu Pedang Maut mereka.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment