Chapter 113
Ketika Beng An merasa dapat menahan tongkat bambu di tangan lawan dan Siauw-bin-kwi harus gusar serta mengumpat tak keruan, di pihak lain Mo-ong juga menggeram melihat perlawanan Swat Lian yang tangguh menghadapi kipasnya.
"Bocah, kau betina lihai. Bagus sekali ilmu pedangmu itu. Tapi jangan sombong, aku akan membuatmu terjungkal dan kau akan roboh!"
"Hmm, jangan menggonggong seperti anjing kehabisan tulang, Mo-ong. Bukankah kipasmu yang sobek membuktikan kepandaianku yang lebih tinggi? Kau tak mungkin dapat menghadapi Giam-lo-kum-sut, pedangku akan merobohkanmu dan kau mampus!"
"Keparat, mulutmu tajam!" Mo-ong yang membentak marah itu menggerakkan kipasnya kian cepat. Segera keduanya terlibat pertempuran hebat di mana masing-masing pihak tidak ada yang mau mengalah, saling serang, dan mencoba merobohkan satu sama lain. Karena Mo-ong adalah seorang iblis berkepandaian tinggi dan kakek ini sudah kenyang asam garam pertempuran, pedang di tangan Swat Lian dapat dibendung. Swat Lian terbelalak penasaran dan memperhebat serangannya, namun Mo-ong dapat mengelak dengan lincah. Kakek iblis itu memang memiliki *ginkang* yang ringan untuk menghindari serangan-serangan berbahaya. Pertandingan di antara mereka berjalan ramai dan sekejap kemudian dua puluh jurus berlangsung cepat dan seru.
Bagaimana dengan Gwan Beng? Hampir tak jauh berbeda. Murid tertua Hu Beng Kui ini menghadapi Ma Tung. Kakek tinggi besar dari Bhutan itu menggosok-gosok kedua tangannya, timbullah semacam kepulan tipis di mana hawa dingin menyerang. Gwan Beng menghadapi kakek itu dengan tangan kosong pada mulanya. Tapi ketika belasan jurus mereka bertanding dan hawa dingin itu kian mendesak, tiba-tiba Gwan Beng terpaksa mencabut pedangnya untuk menahan pukulan-pukulan dingin lawannya, sementara Ma Tung tertawa mengejek.
Kakek ini memiliki ilmu yang disebut Pek-in-kang (Pukulan Awan Putih), mengandalkan tenaga *Im-kang* (tenaga dingin). Dengan tenaga itu, dia mengisi pukulan-pukulannya untuk mendesak dan menekan lawan, tapi kini pedang mulai bicara. Gwan Beng melindungi dirinya dengan pedang di tangan hingga gulungan putih membungkus dirinya begitu rapat. Pukulan dingin selalu terbentur sinar pedangnya dan kakek Bhutan ini terkejut karena Pek-in-kang-nya terpental setiap kali menyentuh gulungan putih di depan tubuh lawannya. Ketika berkali-kali dia harus menggeram karena pukulannya tidak dapat masuk, kakek ini membentak menyuruh lawan membalas.
"Ayo jangan bertahan saja, bocah. Balas dan seranglah aku!"
Gwan Beng adalah pemuda yang tenang. Di antara kelima murid Hu Beng Kui, pemuda ini adalah yang paling pendiam dan jarang bicara jika tidak dirasa perlu. Karena itu, dia juga paling penyabar dibanding adik-adiknya. Maka, mendengar lawan membentak, pemuda ini tersenyum menjawab, "Seranglah aku kalau bisa, kakek Bhutan. Kalau aku sudah selesai dan kurasa waktunya tepat, tentu aku akan membalasmu."
"Keparat, kalau begitu aku akan merobohkanmu!"
"Wuuut-plakk!" Pukulan Pek-in-kang yang kembali membentur cahaya pedang tiba-tiba membalik. Ma Tung marah, berseru keras, lalu melompat tinggi. Dalam pertempuran belasan jurus ini, dia melihat bahwa bagian kosong lawan ada di atas, karena depan, belakang, serta kiri dan kanan sudah penuh dilindungi pedang. Maka, begitu melihat lowongan, kakek ini melompat tinggi dan berjungkir balik, tiba-tiba melepas pukulan ke ubun-ubun kepala lawan.
"Plak-bret!" Ma Tung malah kaget. Pukulannya yang dilancarkan dari atas tadi sekonyong-konyong menghadapi cahaya keperakan. Gwan Beng membentuk gerakan pedangnya seperti setengah bola, melindungi ubun-ubunnya dari serangan lawan. Kakek Bhutan itu memekik karena gagal. Ketika Ma Tung mencoba lagi namun kembali gagal, tiba-tiba kakek ini mengeluarkan pecut berujung roda yang menjilat menuju tengah-tengah gulungan cahaya pedang.
"Tar-tar!" Kini kakek itu bersenjata. Ma Tung rupanya tak tahan diajak bersabar; dia geram menghadapi lawan yang demikian tenang. Begitu Pek-in-kang-nya tak mampu menembus cahaya pedang di tangan lawan, dua kali pecut berodanya menyambar dan kali ini gulungan pedang di tangan Gwan Beng pecah.
"Siiing!" Gwan Beng terkejut. Gulungan pedangnya buyar, kakek itu mampu menerobos, dan kini pecut beroda menyambar lurus menuju dadanya. Dia mengelak, tapi pecut itu masih mengejar, sehingga pemuda ini terpaksa menggerakkan lengan kiri untuk menangkis. Ketika lengannya tergetar bertemu roda di ujung pecut dan lawan merangsek maju, tiba-tiba tangan kiri Ma Tung menyambar pula dengan pukulan Pek-in-kang-nya.
"Des-plak!" Gwan Beng terhuyung, kalah posisi dan nyaris terpelanting. Kiranya setelah dibantu senjatanya, kakek ini bagai harimau tumbuh sayap. Gwan Beng terpaksa berlompatan dan belum sempat membalas. Tapi ketika lawan mengejar, pemuda ini terpaksa melawan keras dengan keras. Akhirnya, untuk pertama kali pemuda ini membentak dan menukikkan pedangnya saat menangkis pecut beroda yang mengejar pundaknya. Lawan tergetar. Gwan Beng mengerahkan tenaganya ketika menangkis tadi. Ketika lawan tertegun dan marah, tiba-tiba pemuda ini melesat ke depan dengan tikaman beruntun. Tiga kali menusuk tenggorokan lawan dan ujung pedangnya pecah menjadi tiga bagian. Hebat sekali.
Ketika lawan mengelak dan pecut ditarik menangkis, tiba-tiba dengan satu seruan keras pemuda itu mengeluarkan jurus yang disebut "Bianglala Menembus Bulan".
"Brett!" Untuk pertama kali Ma Tung menggereng. Leher bajunya putus dimakan pedang. Dia tadi menggerakkan pecut berodanya namun kalah cepat; pedang menyelinap dan sudah menusuk, dilanjutkan dengan gerak membabat. Dia memiringkan kepala, namun leher bajunya termakan dan sebagian kulit lehernya terserempet. Kulitnya tidak terluka karena Ma Tung mengerahkan *sinkang* hingga menjadi kebal. Gwan Beng kagum, karena jurus secepat itu tentu sudah merobohkan lawan lain, namun kakek ini hanya terhuyung saja.
Gwan Beng mendecak dan lawan pun mengumpat. Ketika kakek itu menggereng dan kembali menyerang dengan pecut berodanya, tiba-tiba di ujung pertempuran terdengar pekik seseorang dan Bu-kongcu roboh terjungkal.
Apa yang terjadi? Pertandingan Bu Ham melawan murid termuda Hu Beng Kui berjalan lama. Kao Sin dapat mendesak lawan, tapi Bu-kongcu menarik ularnya. Dengan ular ini, murid Mo-ong itu bertahan dan pertandingan kembali berjalan imbang. Kao Sin harus berhati-hati menghadapi ular di tangan kiri pemuda muka pucat itu. Tapi karena Kao Sin adalah pemuda yang sudah kenyang pertempuran, dia mulai dapat menguasai jalannya pertandingan lagi dengan menekan lawan, menggerakkan pedang pada tubuh ular itu, sementara kebutan kipas dihadapi dengan tangan kirinya.
Bu-kongcu terbelalak karena dia mulai merasa bahwa ular di tangan kirinya itulah yang diperhatikan lawan daripada kipasnya. Dari benturan *sinkang*, dia tahu bahwa murid Hu Beng Kui itu lebih kuat. Bu Ham diam-diam gentar. Ketika pedang menyambar-nyambar ke arah ular di tangan kirinya dan nyaris membacok pergelangan tangannya, akhirnya murid Mo-ong ini tak dapat menjaga piaraannya ketika pedang membacok putus kepala ularnya.
"Tas!" Ular menggelepar terbelah dua. Bu-kongcu memekik melihat ularnya terbacok, darah memuncrat, dan dia membuang bangkai ular itu ke muka lawan. Ketika lawan menggerakkan pedang menebas lagi tubuh ular, tiba-tiba dia berkelebat menotok rahang lawan dengan kipas tertutup.
"Criit!" Kao Sin waspada. Dia memang menunggu saat itu dengan seolah membiarkan dirinya terbuka. Begitu pedangnya bergerak dan lawan terkekeh dengan kipas tertutup, tiba-tiba Kao Sin melakukan gerakan yang sama sekali tak disangka lawan. Jurus tipuan yang disebut "Dewa Pedang Memetik Kembang" dilancarkan; tubuhnya meliuk dan tahu-tahu dia sudah berputar di belakang lawan. Bu-kongcu kaget bukan main. Totokannya tadi mengenai angin kosong dan Kao Sin sudah bergerak dengan pedang di belakang, menusuk punggung. Karena sudah tak mungkin lagi menangkis dan membalikkan badan, Bu-kongcu melempar tubuh bergulingan, namun Kao Sin mengejar. Pedang tetap membayang di belakang punggung dan tiga titik menjadi sasaran.
Ketika pedang mengenai lawan dan punggung pemuda itu tertusuk, Bu Ham menjerit terpelanting roboh, luka, dan mengaduh memanggil suhunya. Pemuda itu kesakitan ketika lawan menendangnya pula.