Chapter 114
Ketika Bu Ham berguling dan melompat bangun dengan wajah pucat memandang lawan, Kao Sin sudah menusuknya lagi dengan jurus terakhir untuk menyelesaikan pertempuran. Lawan terbelalak dan menggerakkan kipas, namun senjata itu malah terpental. Bu-kongcu benar-benar berada di ambang kekalahan.
Tiba-tiba, saat lawan membentak dan Bu Ham melotot gusar, tanpa diduga pemuda itu merenggut sesuatu dari balik bajunya dan melempar granat ke muka Kao Sin. "Darr!" Granat meledak, Kao Sin berteriak dan roboh menggelepar. Penonton segera gempar melihat kejadian tak terduga itu. Bu Ham berbuat curang dalam pibu yang adil dengan melempar senjata peledak yang tepat mengenai muka lawannya. Tadi Kao Sin sempat menangkis dengan pedangnya karena tidak menyangka itu sebuah granat, sehingga pecahan granat berhamburan mengenai dirinya.
Kao Sin berkelojotan dan suasana semakin riuh. Ketika murid Hu Beng Kui itu roboh dengan luka parah, Bu Ham melompat dan melempar lagi beberapa granat ke arah Cun Li dan Gi Lun. "Dar-dar!" Keadaan menjadi kacau. Saat itu, Cun Li dan suheng-nya sedang sibuk menghadapi Hek-bong Siang-lo-mo. Mereka harus memusatkan seluruh perhatian pada lawan yang berbahaya itu. Ketika granat dilemparkan, mereka tidak sempat mengelak sehingga terbanting roboh sambil menjerit.
Siu Cing berkelebat kaget melihat kekasihnya berteriak. Bersama adiknya, Siu Loan, ia menghambur ke tempat Kao Sin dan Cun Li dengan perasaan marah. Karena tiga murid Hu Beng Kui telah roboh dihantam granat, Hek-bong Siang-lo-mo tertawa terbahak-bahak. Tersembunyi di balik asap tebal, mereka menyerang Hauw Kam dan Gwan Heng. Kekalutan terjadi saat Bu Ham terus melempar granat ke arah mereka. Penonton berlarian, dan kegaduhan melanda arena pibu.
Di tengah kekacauan itu, saat Hauw Kam dan Gwan Heng terkesiap menghadapi kecurangan, sambaran sabit menyobek pundak mereka. "Cret-augh!" Hauw Kam dan suheng-nya terguling. Twa-lo-mo dan adiknya terbahak-bahak menyerang kedua pemuda itu. Sementara itu, Bong Kak dan Ma Tung sebenarnya tidak senang dibantu oleh dua iblis cebol tersebut karena merasa direndahkan. Namun, karena pertempuran sudah telanjur kacau, dua kakek Bhutan itu ikut memaki dan menyerang Hauw Kam serta suheng-nya agar bisa lebih dulu merobohkan lawan.
Keadaan semakin berbahaya bagi kedua pemuda itu karena harus menghadapi serangan keroyokan. Ketika sabit melukai pundak mereka dan Gwan Heng menjadi marah, di pihak lain, Hu Beng Kui, Beng An, dan Swat Lian terkejut. Sang jago pedang terbelalak melihat muridnya roboh akibat ledakan granat. Saat ia lengah, sebuah pukulan petir menyambar dan mengenai pangkal lengannya. Hu Beng Kui tergerung dan terpelanting.
Meskipun Tiat-lui-kang yang dilakukan Salima merupakan pukulan berbahaya yang bisa membuat tubuh korbannya gosong, Hu Beng Kui mampu mengerahkan sinkang sehingga hanya baju di pundaknya yang hangus. Ia segera melompat bangun. Ketika Salima menyerang kembali dan menuntut penyerahan Sam-kong-kiam, jago pedang itu naik pitam dan menangkis pukulan lawan. "Dukk!" Salima menjerit. Kali ini Hu Beng Kui mengerahkan tenaga sedemikian rupa hingga Tiat-lui-kang tertolak, membuat Salima terpental dan jatuh bergulingan.
Hu Beng Kui segera melompat ke arah muridnya yang sedang dikeroyok Hek-bong Siang-lo-mo, Ma Tung, dan Bong Kak. Saat mereka menyerang, tiba-tiba secercah sinar mendesing dari tangan Hu Beng Kui, disusul pekik kaget Hek-bong Siang-lo-mo yang terkena sambaran sinar tersebut. Mereka bergulingan menjerit ketika sinar luar biasa itu kembali mengejar.
Saat Hu Beng Kui membuat gerak silang dari atas ke bawah, Bong Kak dan Ma Tung terkesiap saat menyadari sinar apa yang berkelebat di tangan lawannya. "Awas Sam-kong-kiam!" teriak mereka. Namun, terlambat, kedua kakek itu justru terkena babatan pedang hingga terluka panjang dari lengan ke pergelangan. Sabit Hek-bong Siang-lo-mo putus disambar sinar dari Sam-kong-kiam yang dingin dan menyeramkan.
Hu Beng Kui yang marah besar memburu Hek-bong Siang-lo-mo. "Lo-mo, kalian iblis licik. Kubunuh kalian!" Pedang itu melesat lurus bagai petir menuju tenggorokan mereka. Hek-bong Siang-lo-mo tunggang-langgang, bergulingan menjauh dalam kondisi terluka. Hu Beng Kui bagaikan harimau haus darah yang tak memberi ampun. Ma Tung sempat mencoba menghantam belakang kepala pendekar itu dengan pecut berodanya, namun Hu Beng Kui hanya tergetar sedikit dan kembali mengejar lawan dengan mata yang beringas.
Saat Hu Beng Kui mengamuk dengan Sam-kong-kiam bagaikan naga sakti, tiba-tiba terdengar tawa mengejek. "Hu-taihiap, berhenti! Lihat apa ini!" Hu Beng Kui tertegun mendengar jeritan lirih dari kedua anaknya. Ternyata Swat Lian dan Beng An telah roboh di tangan Siauw-bin-kwi dan Mo-ong. Kedua iblis itu mencengkeram tengkuk kedua anak tersebut.
"Hu-taihiap, kami telah merobohkan anakmu. Kalau kau menginginkan keselamatan mereka, serahkan pedang itu kepada kami!"
Hu Beng Kui tertegun. Ia menyadari ini adalah kecurangan lain dari kelompok iblis tersebut. Sebelumnya, Swat Lian dan Beng An mampu melayani Mo-ong dan Bin-kwi dengan baik, namun mereka lengah sesaat ketika melihat rekan-rekan mereka roboh akibat ledakan granat Bu Ham. Kelemahan itulah yang dimanfaatkan oleh lawan untuk melumpuhkan mereka.