Chapter 115
Tongkat di tangan Bin-kwi menyambar kepala Beng An. Pemuda itu nyaris roboh jika tidak cepat menggulingkan tubuh. Hal ini membuat putaran pedangnya kacau dan Bin-kwi terbahak-bahak.
Bin-kwi berkelebat dan mengejar, lalu melakukan serangan bertubi-tubi. Kedua tongkatnya bergantian menyodok dan mengemplang. Jika sekali saja kena, tentu Beng An akan celaka. Terpaksa pemuda ini menggulingkan tubuh semakin jauh untuk menghindari lawan.
Namun, karena Bin-kwi terus memburu dan Beng An sibuk bergulingan di bawah sambil memutar pedangnya, berkali-kali tongkat tersebut tertangkis pedang. Bin-kwi merasa penasaran karena belum juga dapat menyelesaikan perlawanan pemuda itu. Ia merasa kagum sekaligus sengit, lalu terus mengejar Beng An.
Beng An terdesak dan posisinya berada dalam bahaya. Namun, karena Beng An adalah putra seorang jago pedang—dan meski kemampuannya satu tingkat di bawah ayahnya—ia berhasil melancarkan jurus "Trenggiling Menari Dua Kali" saat tongkat di tangan kiri lawan menyambar. Ia tidak menangkis, melainkan melipat tubuh menjadi dua.
Dengan amat berani dan cepat, pemuda ini mengambil risiko. Tongkat lawan hanya berjarak sehelai rambut dari pinggangnya. Sebenarnya serangan itu menuju dada, tetapi karena Beng An telah melipat tubuhnya, ia nyaris tidak terkena. Ketika lawan mengumpat dan tongkat yang satu lagi bergerak menghantam kepalanya, tiba-tiba Beng An melenting dan membentak sambil menangkis tongkat tersebut, sekaligus menggerakkan kaki dari arah berlawanan untuk menendang kepala lawannya.
"Trak-dess!" Bin-kwi terpelanting.
Gerakan Beng An yang mengerut dan melenting itu luar biasa. Dalam posisi sulit, pemuda ini mampu meloloskan diri. Meski sedikit terlambat saja tentu dia bakal terkapar, karena tongkat bisa menghantam dadanya jika tidak cepat melipat tubuh. Satu gerakan yang berbahaya dan penuh risiko. Ketika Bin-kwi terpelanting dan Beng An bebas melompat bangun, pemuda ini ganti mengejar lawan. Pedangnya menusuk dan membacok bertubi-tubi dengan sangat cepat dan gencar hingga Bin-kwi memaki.
Iblis ini terdesak dan terpaksa menggerakkan tongkat berkali-kali. Benturan demi benturan membuat keduanya berkeringat dan menguras tenaga. Saat pertempuran sengit kembali terjadi dan Beng An mendepak, Bin-kwi dapat bertahan. Namun, di lain tempat, Swat Lian juga mengalami hal yang hampir sama dengan kakaknya.
Saat itu ia lengah, menengok jeritan Kao Sin yang roboh karena luka parah. Hanya sekejap saja dia memperhatikan itu, tapi Mo-ong yang melihat kesempatan segera menubruk. Ia menutup kipasnya dan menotok kening Swat Lian; gerakannya cepat dan hampir tak bersuara.
Swat Lian kaget ketika ujung kipas tiba-tiba sudah berada di dekat hidungnya. Mo-ong tertawa tergelak, dan gadis itu melempar kepala ke belakang. Namun, ketika kakek itu mengejar dan ujung kipas berganti menuju dadanya yang membusung padat, tiba-tiba dengan kurang ajar kakek itu menggerakkan tangan yang lain untuk meremas.
"Aih... trak-trakk!" Swat Lian terpaksa membanting tubuh bergulingan, memekik, dan memaki kakek itu seraya menggerakkan pedang. Ia mencoba menangkis, tetapi pedangnya justru terjepit.
Kiranya kipas yang robek tertusuk pedang justru membuat celaka bagi gadis ini. Pedangnya terjepit di tengah tulang-tulang kipas. Saat hendak dicabut, lawan menutup kipasnya sehingga pedang tidak dapat ditarik. Mo-ong mengikuti gulingan tubuh gadis itu.
Kakek ini terbahak seraya membetot dan hendak merampas pedang. Swat Lian pucat dan justru melakukan gerakan sebaliknya untuk mencabut dan menyelamatkan pedangnya. Ketika keduanya bergulingan seolah orang yang sedang berkejar-kejaran, jari Mo-ong mencengkeram celana Swat Lian dan langsung menariknya.
"Breett...!" Swat Lian terpekik.
Untuk kedua kalinya ia memaki kakek itu dan menendang. Mo-ong melepaskan sobekan celananya, tertawa, tetapi tetap mengikuti ke mana putri Hu Beng Kui itu menggulingkan tubuh. Saat Swat Lian merasa pucat, marah, dan gelisah, tiba-tiba dengan nekat ia menghentikan gerakannya dan membentak sambil mencobloskan pedang yang langsung menusuk dada kakek itu. Tentu saja hal itu membuat Mo-ong terkesiap dan menghentikan gerakannya.
Ada satu di antara dua pilihan bagi Mo-ong: tetap "menempel" gadis itu tetapi dadanya menerima tusukan, atau dia mengelak yang berarti menarik kipas. Jalan kedua itulah yang dipilih Mo-ong. Kakek itu tak berani mengambil risiko, betapapun dia tahu betapa berbahayanya pedang di tangan putri Hu Beng Kui ini.
Maka ketika dengan kecewa terpaksa dia menarik kipas dan bergulingan menjauh sambil melompat bangun, di sana Swat Lian juga melompat bangun dan berseru keras menerjang kakek itu lagi. Begitulah, keduanya lalu bertempur sengit.
Mo-ong diam-diam merasa sayang dengan kesempatannya tadi; kesempatan yang sukar didapatkan dan sulit rasanya mengulang kejadian seperti tadi. Namun, karena kipasnya yang berlubang justru seakan memberikan ilham untuk mempergunakannya sebagai "penjepit", Mo-ong mulai beraksi dengan memanfaatkan bagian itu untuk menangkap pedang lawannya lagi. Dua-tiga kali berhasil, tapi Swat Lian mampu melepaskan diri. Kiranya gadis ini tak mau dibodohi lagi dengan cara seperti itu.
Tadi dia terjebak karena konsentrasinya pecah, terkejut oleh robohnya Kao Sin. Jadi, inilah yang menjadikan dia dikejar lawan dan nyaris celaka. Namun, karena sekarang konsentrasinya sudah dipusatkan lagi dan tak mungkin Mo-ong memperdayainya seperti tadi, iblis ini geram. Swat Lian melakukan perlawanan sengit dan tak dapat didesak lagi. Bahkan, justru Mo-ong yang dihujani serangan-serangan gencar di mana pedang menyambar-nyambar bagai naga haus darah. Dua-tiga kali mengelak, namun baju Mo-ong beberapa kali terkuak.
Mo-ong mulai gusar. Ketika kipas kembali menangkis tapi gagal menjepit, tiba-tiba iblis ini mengedarkan pelor-pelor rahasianya dan mulai mempergunakan senjata-senjata rahasia itu untuk memecah perhatian lawan.
"Bocah, kau akan kurobohkan. Tak boleh tidak!" Mo-ong mulai menghamburkan senjata rahasianya untuk menahan desakan perang.
Swat Lian terbelalak. Gadis ini seketika merah mukanya karena lawan tak malu-malu berbuat seperti itu, memakai senjata gelap (am-gi) untuk membantu kipas di tangan kanan guna mengacaukan konsentrasinya. Karena Swat Lian kurang pengalaman dan berani menangkis pelor-pelor yang menyambar tubuhnya, tak pelak lagi ia menerima akibat yang tak menyenangkan. Dari dalam pelor-pelor yang pecah itu berhamburan jarum-jarum halus yang menuju ke tubuhnya. Inilah keistimewaan senjata rahasia Mo-ong, di mana orang yang tidak tahu akan menangkis dan menerima hamburan jarum halus itu; senjata rahasia yang di dalamnya mengandung "rahasia" pula.
Swat Lian terkejut ketika harus menerima ini. Ia menangkis pelor-pelor yang pecah dan menghadapi lagi jarum-jarum halus yang amat banyak yang menyembur dari balik pelor itu. Karena Mo-ong terus menggerakkan kipasnya dan melancarkan jurus demi jurus untuk mencapai kemenangan dengan cara apa pun, Swat Lian menjerit ketika dua batang jarum mengenai pundak dan pangkal lengannya. Ia terhuyung dan merasa kesemutan, sementara lawan terus menyerang dengan kipasnya.
Mo-ong terbahak. Ketika satu saat Swat Lian menangkis totokan kakek itu dan pedangnya bertemu kipas, tiba-tiba pedangnya terlepas. Tenaga yang dipakai untuk menangkis serangan mendadak itu seolah hilang karena gangguan kesemutan akibat terkena jarum-jarum beracun.
"Trang-trang...!" Swat Lian pucat. Ia tak menduga semuanya itu. Ia membanting tubuh bergulingan ketika lawan mengejar, mengeluh, dan kaget karena tenaga tiba-tiba seolah habis semua. Pundak dan pangkal lengannya tak dapat digerakkan. Sadarlah Swat Lian sekarang bahwa dua jarum yang mengenai tubuhnya itu beracun; bagian yang terkena serasa kaku, sakit, juga panas.
Karena gerakannya sudah tak leluasa lagi dan totokan demi totokan yang dilakukan lawan selalu mengejar dan menghujani dirinya, akhirnya Swat Lian roboh ketika satu ketukan mengenai tengkuknya. Ia ambruk dan tidak dapat berguling lagi karena Mo-ong telah mencuranginya. Inilah kelemahan Swat Lian: kurangnya pengalaman. Ketika gadis itu mengeluh dan tidak bergerak lagi setelah dirobohkan Mo-ong, Beng An yang kaget melihat kekalahan adiknya pun terbelalak.
Pemuda ini pun, seperti adiknya, juga tidak jauh berbeda saat menghadapi lawan. Bin-kwi terus mendesak, tapi iblis buntung itu memang hebat. Ketika berkali-kali benturan membuat keduanya menguras keringat dan Bin-kwi melotot tersengal-sengal, sama seperti Mo-ong, tiba-tiba iblis ini mengeluarkan senjata rahasianya, sebuah granat, karena Bin-kwi memang ahli dalam senjata yang amat berbahaya ini. Bu Ham pun sebenarnya mendapatkan beberapa buah darinya demi penjagaan diri dan perlawanan bila keadaan mendesak di saat darurat.
Begitu Bin-kwi melepas senjata rahasianya itu, Beng An jelas tidak berani menangkis. Desakan terhadap lawan menjadi kendor dan Bin-kwi ganti merangsek. Beng An mundur karena harus berhati-hati terhadap senjata peledak itu. Dia membentak dan memaki lawan. Tapi karena Bin-kwi adalah iblis yang tebal muka dan semua makian pemuda itu tidak digubrisnya, ia menyerang dengan kedua tongkat bambunya yang dibantu ancaman granat. Kakek ini akhirnya berhasil mendesak Beng An yang terus mundur dan kebingungan bagaimana harus melawan senjata yang satu itu.
Berkali-kali dia lolos, tapi berkali-kali pula granat baru siap di tangan kakek buntung ini. Saat Beng An memaki dan marah oleh kelicikan iblis ini, mendadak dia mendengar keluhan adiknya di sebelah. Swat Lian roboh. Beng An tercekat dan kaget bukan main karena itu berarti bahaya. Adiknya tak dapat ditolong lagi karena dirinya sendiri diancam oleh serangan kakek buntung itu.
Sekarang maklumlah Beng An akan kekejian orang-orang sesat ini, kelicikan dan kecurangan mereka yang tak malu-malu mempergunakan segala cara. Ketika Bin-kwi mengejar dan kakek itu terbahak-bahak melihat Beng An pucat mukanya, mendadak Mo-ong yang telah merobohkan Swat Lian berkelebat maju untuk mengeroyok pemuda ini.