Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 116

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 116

"Ha-he, kita habisi dia, Bin-kwi. Bunuh dan basmi pemuda ini!"

"Tidak, jangan, Mo-ong. Jangan dibunuh, biar ditangkap hidup-hidup saja untuk penukar Sam-kong-kiam. Ayahnya tentu tunduk dan tak berdaya mengikuti kemauan kita!"

"Ah, begitukah? Baik...."

Mo-ong yang tertawa mengeroyok Beng An, lalu mengeluarkan pelor-pelor berbahayanya. Ia menyerang dan mendesak pemuda itu sehingga mau tidak mau Beng An harus menangkis. Ketika jarum-jarum halus menyambar dari dalam pelor-pelor yang pecah itu dan Beng An kewalahan menghadapi tongkat bambu di tangan Bin-kwi, sebatang jarum mengenai dirinya. Ia tak dapat mengelak karena jarum-jarum itu sangat banyak, lebih dari dua puluh.

Beng An terhuyung dan kesemutan. Sama seperti adiknya, ia pun tiba-tiba merasa kaku, panas, dan sakit. Bibirnya dikatup rapat dan ia mencoba bertahan dengan putaran pedangnya, namun dua iblis itu sangat licik. Karena Beng An terkena jarum beracun dan tangan yang memegang pedang menggigil oleh racun yang menjalar, akhirnya pemuda ini tak dapat menahan senjatanya. Ketika tongkat di tangan kiri Bin-kwi menyambar, pedangnya tertangkis hingga tercelat.

Bin-kwi terbahak menyerang dengan tongkat satunya lagi. Beng An mengelak, tapi ia tergelincir. Saat ia mengeluh dan memaki dua kakek itu, tiba-tiba Mo-ong berkelebat dan kipasnya menotok pundak Beng An.

"Tuk!" Beng An roboh.

Sekarang ia benar-benar tak berdaya di tangan dua iblis itu. Bin-kwi terkekeh dan menghajar pinggangnya. Beng An menggeliat dan terguling-guling; sama sekali ia tak dapat melawan. Begitu Mo-ong menendang tubuhnya ke arah Bin-kwi, iblis buntung itu telah menangkapnya, sementara Mo-ong menyambar adiknya yang pingsan. Mereka tertawa bergelak dan kini mengancam Hu Beng Kui agar berhenti.

Saat Hu Beng Kui tertegun melihat dua anaknya di pondongan Bin-kwi dan Mo-ong, Mo-ong berseru, "Bagaimana, Hu-taihiap? Apakah kau mau menukarkan Sam-kong-kiam? Kami akan membebaskan mereka jika kau menyerahkan pedang itu!"

Hu Beng Kui sadar. Ia mengeram memandang dua iblis itu, matanya berkilat menakutkan, namun jago pedang ini tak dapat berbuat apa-apa. Mo-ong dan Bin-kwi mencengkeram tengkuk anak-anaknya; jika ia bergerak sedikit saja, mereka tak akan segan-segan membunuh Beng An dan adiknya.

Di tengah kebingungan Hu Beng Kui, tiba-tiba Kim-siucai muncul kembali. Ternyata ia tidak menyingkir dari tempat berbahaya itu.

"Mo-ong, kalian licik! Kemenangan kalian tidak sah karena banyak terjadi kecurangan di sini. Sebaiknya Hu-taihiap tidak menuruti kehendakmu dan gadis itu harus kau kembalikan baik-baik kepadanya!"

"Hah!" Mo-ong melotot. "Kau tak usah ikut campur, siucai tengik. Nanti kau akan mendapat giliran. Pergilah atau kubunuh kau!"

"Aku tak takut. Manusia hidup memang harus mati. Tapi serahkan dulu gadis itu!"

Sambil menantang bahaya, siucai itu menubruk penuh keberanian, menyerang Mo-ong yang membawa Swat Lian. Tentu saja ia digebah dan terpental. Saat ia berguling-guling, kebetulan posisinya mendekati Bin-kwi yang menyangga tubuh dengan tongkat. Bin-kwi, yang menganggap siucai ini manusia rendahan, tertawa lalu menggerakkan tongkatnya untuk menyodok siucai itu.

Namun, sesuatu yang tak diduga terjadi. Begitu Bin-kwi menggerakkan tongkatnya, siucai itu menangkap, membetot, dan menariknya dengan kuat. Bin-kwi terpekik. Ia merasa tenaga dahsyat menariknya dari bawah. Tongkatnya berkeretak dan Bin-kwi tiba-tiba terguling. Ia kalah kuat hingga tongkatnya terampas. Saat iblis itu terjerembab dan pucat karena terkejut, tiba-tiba Kim-siucai meloncat dan terbang seperti orang memakai galah, menumbuk Mo-ong!

"Dukk!" Mo-ong terkesiap. Tak ada yang menyangka siucai yang dianggap tengik itu mampu menjatuhkan Bin-kwi. Kini, dengan kaki yang luar biasa cepat, siucai itu menumbuk dada kakek iblis tersebut. Mo-ong terjengkang dan Swat Lian terlepas dari cengkeramannya. Saat Mo-ong berteriak marah, siucai itu sudah menyambar tubuh Swat Lian dan melemparkannya kepada Hu Beng Kui.

"Hu-taihiap, tangkap!"

Hu Beng Kui menangkapnya dengan mata terbelalak. Kim-siucai telah merampaskan seorang anaknya. Jago pedang ini sampai tertegun tidak bisa bicara. Namun, saat ia masih heran, Mo-ong yang sudah melompat bangun menerjang siucai itu, disusul Bin-kwi yang marah karena kehilangan tongkatnya. Mereka melepas pukulan jarak jauh sambil membentak gusar.

Kejadian ini dirasa sangat memalukan bagi kedua iblis itu. Namun, setiap kali mereka menyerang, siucai itu tertawa, mengelak, dan meloncat menjauh. Mo-ong mengebutkan kipasnya, melakukan totokan dari jarak jauh. Karena Bin-kwi juga melengking marah, siucai itu terjepit oleh dua pukulan dari kiri dan kanan.

Hu Beng Kui bersiap meloncat menolong, mengira siucai itu akan celaka. Namun, siucai itu membanting diri ke bawah, melewati dua pukulan itu dengan cara berguling, lalu tertawa berseru, "Hu-taihiap, tolong! Dua iblis ini mengeroyok tak tahu malu!"

Hu Beng Kui kembali tertegun. Ia tidak melihat keistimewaan pada diri siucai itu; gerakannya tampak biasa, takut-takut, bahkan lucu. Ia hanya menghindar ke sana-kemari. Sangat aneh bagaimana dua datuk sesat itu bisa terkecoh.

Mo-ong menggeram dan mengejar lagi. Namun, ketika kakek iblis itu mengayunkan tubuh, mendadak Ma Tung dan Bong Kak yang berada dekat di sana berkelebat tanpa suara. Mereka menyergap siucai itu dan mencengkeram tengkuknya.

Kim-siucai kaget. Karena tak mungkin mengelak, sambil berteriak seperti orang tolol, ia menggerakkan lengannya ke kanan dan ke kiri menangkis cengkeraman dua kakek Bhutan itu. Siucai itu terpental, namun Hu Beng Kui terkejut. Tangkisan siucai itu menimbulkan getaran keras hingga tanah tempat ia berdiri bergetar hebat. Jelaslah itu benturan *sinkang* yang amat hebat.

Ketika siucai itu bergulingan setelah diserang dua kakek itu, Mo-ong dan Bin-kwi menyambar tiba. Keadaan siucai itu kalut. Tak sempat melompat bangun, ia terpaksa menggerakkan kakinya menendang dua serangan itu. Sebuah jurus ilmu tendangan lihai dikeluarkan; kipas dan tongkat terpental. Bin-kwi dan Mo-ong berseru kaget dan terdorong.

Begitu siucai itu melompat bangun dengan muka berkeringat, Ma Tung dan Bong Kak maju menubruk. Bong Kak berhasil mencengkeram kopiah di kepala siucai itu. Seketika, rambut keemasan terurai dari kepala siucai tersebut.

Begitu semua orang melihat siapa "siucai" ini, teriakan tertahan terdengar dari sana-sini.

"Kim-mou-eng!"

"Pendekar Rambut Emas!"

Semua orang tertegun. Kim-mou-eng tak dapat menyembunyikan diri lagi. Ia tersenyum kecut, mengusap keringat, dan tertawa memandang lawan-lawannya.

Di tengah kegemparan tersebut, tiga bayangan berkelebat di samping pendekar itu dan berseru, "Hu-taihiap, dia memang Pendekar Rambut Emas. Sekarang ternyatalah bahwa Pendekar Rambut Emas tak bersalah!"

Salah satu dari mereka maju menghadapi Hu Beng Kui dan menyatakan, "Cuwi enghiong, kami dari istana ingin menyatakan maaf sebesar-besarnya kepada Kim-mou-eng. Dulu kami menuduh dialah yang mencuri Sam-kong-kiam. Setelah tahu bukan dia pelakunya, atas nama kaisar kami menarik tuduhan itu. Pedang itu telah berada di tangan Hu-taihiap, dan karena Kim-mou-eng ternyata masih hidup, jelaslah bahwa yang dulu dibunuh dan disangka Kim-mou-eng oleh Hu-taihiap bukanlah beliau, melainkan orang lain yang mencuri Sam-kong-kiam. Kami dari istana sekali lagi menyatakan maaf yang sebesar-besarnya terhadap Kim-mou-eng!"

Suasana di tempat itu pun kembali geger.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment