Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 117

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 117

Orang yang berbicara ini tidak lain adalah Bu-ciangkun, ditemani oleh dua panglima bermarga Cu yang merupakan kakak beradik. Tadi mereka berada di antara penonton yang menyaksikan jalannya pertandingan, sehingga mengetahui semua kejadian, termasuk kecurangan Mo-ong dan kawan-kawannya.

Kata-kata tersebut ditujukan kepada semua orang karena penonton belum meninggalkan tempat meskipun sempat terjadi keributan akibat lemparan granat tangan. Situasi saat itu benar-benar genting. Kim-mou-eng yang dikabarkan tewas ternyata dibunuh oleh Hu Beng Kui—setidaknya itulah dugaan banyak orang karena bukti pedang yang dipegang pendekar itu.

Namun, kemunculan Bu-ciangkun dan pernyataannya yang menggemparkan membuat suasana semakin gaduh. Kim-mou-eng ternyata masih hidup, bahkan tampak segar bugar. Ia tadi meladeni serangan Mo-ong, Bin-kwi, Bong Kak, dan Ma Tung. Pantas saja perlawanannya begitu lihai; ternyata Pendekar Rambut Emas itu masih hidup.

Kenyataan ini membuat Hu Beng Kui terkesima. Sementara itu, Mo-ong dan teman-temannya yang terkejut mendadak menjadi marah sekaligus gentar dengan kehadiran murid Bu Beng Sian-su tersebut. Mo-ong tahu betul kehebatan Pendekar Rambut Emas, bahkan dikeroyok bertiga pun dulu ia tetap mampu bertahan.

Saling memberi isyarat, Bin-kwi yang sedang mencengkeram Beng An tiba-tiba melompat kabur meninggalkan tempat itu tanpa memedulikan Sam-kong-kiam. "Mo-ong, kita rupanya sial. Sebaiknya pergi saja, masih ada Tiat-ciang Sian-li di sana!" seru Bin-kwi.

Mo-ong mengangguk. Keadaan tiba-tiba menjadi tidak menguntungkan bagi mereka karena ada Salima, sumoi dari Kim-mou-eng, di sana. Hu-taihiap sendiri masih bersama dua muridnya, sehingga situasi dinilai berbahaya. Melihat gelagat itu, dua kakek iblis tersebut segera meninggalkan gelanggang karena tahu suasana sudah amat jelek.

Sebelumnya, Hu Beng Kui mampu melayani Bong Kak, Ma Tung, dan Hek-bong Siang-lo-mo sekaligus. Empat orang melawan satu dengan Sam-kong-kiam yang tajam membuat lawan gentar. Namun, dengan munculnya Pendekar Rambut Emas yang kini siap turun tangan bersama Salima dan dua murid Hu Beng Kui, perhitungan para iblis itu menjadi ceroboh.

Saat Bin-kwi berkelebat membawa Beng An dan diikuti oleh Mo-ong, Lo-mo, Bong Kak, serta Ma Tung terbelalak. "Hei, ke mana kalian, Mo-ong?" tanya Bong Kak.

"Lari, lari saja!" jawab Mo-ong.

"Tak jadi merampas Sam-kong-kiam?"

"Ah, tolol kalian, Bong Kak. Kim-mou-eng itu menggagalkan segala-galanya bagi kita. Ayo lari dan menyingkir saja!" Bong Kak menggeram merasa ditinggalkan, namun ketika Hek-bong Siang-lo-mo juga tertawa aneh dan melejit pergi, akhirnya Bong Kak dan Ma Tung ikut menyusul.

"Keparat busuk mereka itu, meninggalkan teman!" umpat Bong Kak.

"Ya, tapi rupanya benar. Mereka benar dan kita harus pergi!" jawab Ma Tung. Mereka sudah merasakan kelihaian Hu Beng Kui dan juga Kim-mou-eng. Tidak ada pilihan lain selain mengikuti rekan-rekan mereka.

Namun, Hu Beng Kui tidak membiarkan musuh kabur begitu saja. Ia membentak, menyerahkan Swat Lian pada seorang muridnya, lalu mengejar Bin-kwi dan Mo-ong. "Iblis curang, kalian kembalilah!" bentaknya. Pedang berkelebat menyambar Bin-kwi. Meskipun sempat mengelak, pundak Bin-kwi robek terbacok dan ia mengaduh.

Karena panik dan masih membawa Beng An, Bin-kwi menjadi sibuk saat pedang kembali menyambar. Ia meloncat jauh dan merogoh senjata peledak. Begitu Hu Beng Kui menyerang, Bin-kwi melemparkan granatnya, memaksa Hu Beng Kui berjungkir balik menghindari ledakan.

"Keparat, kalian benar-benar jahanam!" Hu Beng Kui berputar mencari sosok licik itu di balik asap tebal, namun Bin-kwi dan Mo-ong sudah lari jauh. Hu Beng Kui melengking dan melesat mengejar.

Sementara itu, Kim-mou-eng yang tidak berpangku tangan segera menyusul dan menghadang Bong Kak bersama Ma Tung. Dua kakek Bhutan itu berhenti karena penasaran dan langsung menyerang dengan pukulan hawa dingin yang dahsyat. Kim-mou-eng tersenyum, lalu menyambut serangan itu dengan tenaga *Tiat-lui-kang* (Pukulan Petir).

*Dess!* Bong Kak menjerit saat pukulan dinginnya kalah oleh cahaya merah yang panas, membuatnya terpental dan terbanting. Ma Tung yang marah kemudian ikut menyerang, namun ia pun mencelat saat beradu *sin-kang*. Keduanya akhirnya mengeroyok Kim-mou-eng dengan *Hek-in-ciang* dan *Pek-in-kang*.

Meski pertempuran berlangsung seru, Kim-mou-eng sebagai murid manusia dewa berhasil mempentalkan semua serangan lawan. *Tiat-lui-kang* miliknya mendesak lawan hingga pundak Ma Tung hangus terkena hantaman. Murka, Ma Tung mencabut pecut beroda dan meledakkannya. Namun, Kim-mou-eng tetap tenang.

Saat pecut itu akhirnya terbakar dan putus di tangan Kim-mou-eng, kedua kakek Bhutan itu terbelalak ketakutan. Tiba-tiba, Hek-bong Siang-lo-mo muncul membantu dengan sabit cadangan. "Heh-heh, kalian belum dapat merobohkan si Rambut Emas ini? Kalau begitu, kubantu, biar kutolong dia pergi ke akhirat!"

Sabit itu menyambar ke arah selangkangan Pendekar Rambut Emas. Ia pun melompat tinggi dan berjungkir balik. Melihat kedatangan Sepasang Iblis Kuburan, semangat Bong Kak dan Ma Tung bangkit kembali. "Bagus, terima kasih, Lo-mo!" seru mereka.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment