Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 118

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 118

Rupanya Kim-mou-eng ini betul-betul hebat dan kami harus kalian bantu. "Wirr-plakk!" Pecut Ma Tung mengenai pangkal lengan Pendekar Rambut Emas hingga meledak dan pendekar itu terhuyung.

Ketika Bong Kak menerjang disusul Hek-bong Siang-lo-mo yang menyerang dengan babatan sabit tajam, pendekar kita mendapat kesulitan dikeroyok empat orang. Ia memaki dan mencoba mengusir mereka, namun sama sekali tak digubris.

Dua kali Kim-mou-eng menerima babatan sabit; bajunya robek, tetapi kulitnya tidak terluka. Ia telah mengerahkan *sinkang* hingga sabit di tangan *lo-mo* terpental kembali dan mengenai karet.

Ketika mereka menyerang lagi dan *lo-mo* mulai mengarahkan serangannya ke titik berbahaya seperti mata dan lubang telinga, akhirnya Pendekar Rambut Emas terpaksa mengeluarkan *pit*-nya, senjata yang pantas dipakai melukis itu.

"Lo-mo, kalian licik. Tapi jangan kira aku takut!" "Tak-wirr!" Sabit yang meleset ditangkis alat menggambar itu dan menyeleweng ke kanan, tiba-tiba membentur roda di ujung pecut Ma Tung. Keduanya berdencing dan terpental.

Ma Tung kaget, sementara *lo-mo* memaki. Ketika mereka menyerang kembali, Kim-mou-eng mengerahkan segenap kepandaiannya menghadapi empat lawan tangguh ini. Pertempuran berjalan cepat. Kim-mou-eng mengerahkan *ginkang*-nya dan lenyap berkelebatan ke sana kemari. *Pit*-nya menyelinap menangkis serangan lawan, membalas dengan totokan, sementara *tiat-lui-kang*-nya masih bekerja meledak sana-sini.

Namun, karena dikeroyok empat orang lihai, Kim-mou-eng akhirnya kewalahan. Berkali-kali ia harus menerima pukulan lawan hingga tergetar dan terhuyung. Bong Kak serta Ma Tung berseru gembira. Mereka mulai dapat mendesak pendekar itu. Kim-mou-eng harus bekerja keras; *tiat-lui-kang* dan *pit* di tangan kanannya kini lebih sering dipakai untuk bertahan. Serangan bertubi-tubi dari empat penjuru bagai hujan yang membuatnya sibuk.

Saat *lo-mo* menggerakkan sabitnya membacok, pecut dan roda di tangan Ma Tung mengenai tubuhnya. "Plak-bret-bret!" Kim-mou-eng meringis. Ia terhuyung; meski tidak terluka parah, ia merasakan sakit yang luar biasa. Pecut dan roda yang menghantam tubuhnya terasa menyengat, ditambah sabit di tangan *lo-mo* yang menguak bajunya hingga kulit tergores. Pertahanannya mulai goyah.

Ketika pukulan Bong Kak menyambar dan ia terlambat berkelit, pukulan kakek tinggi besar itu mengenai lehernya. "Dess!" Pendekar ini terbanting bergulingan. Lawan terus mengejar dan menghantamkan senjata, sementara tangan kiri mereka melancarkan pukulan jarak jauh. Kim-mou-eng menangkis, namun kurang tepat. *Pit*-nya membentur sabit, tetapi senjata di tangan Ma Tung menyambar pipinya dengan rasa sakit yang luar biasa.

Terdesak tanpa jalan lain, Pendekar Rambut Emas mengeluarkan ilmu simpanan yang ditakuti orang: *Pek-sian-ciang* (Pukulan Dewa Putih). Sambil membentak, ia melompat bangun. Empat serangan dari segala jurusan ditangkis berbarengan dengan bentakan yang menggetarkan jantung. Dari kedua tangan pendekar itu berkelebat cahaya berkeredap yang mengandung hawa panas. Begitu sabit dan pukulan lawan bertemu cahaya putih tersebut, teriakan kesakitan terdengar dari empat lawannya.

"Des-des-dess!" Bong Kak dan teman-temannya terlempar. Mereka bergulingan menjerit kaget karena tangkisan itu begitu dahsyat; mereka seolah ditumbuk palu godam hingga muntah darah. Hek-bong Siang-lo-mo pun terpekik, batuk-batuk, dan mengeluarkan darah dari sudut bibir hingga wajah mereka pucat. Mereka mengenal pukulan itu dan terlambat untuk mengelak.

Bong Kak dan teman-temannya terlalu bersemangat mendesak lawan hingga lupa diri. Kini, Hek-bong Siang-lo-mo bergulingan dengan dada sesak. Kim-mou-eng sendiri pun tampak pucat. Hantaman empat lawan sekaligus yang harus ditangkisnya terlalu berat; ia sempat batuk-batuk, berusaha berdiri, namun jatuh lagi. Dengan kaki gemetar dan menggigit bibir, ia memandang lawan-lawannya sambil tertawa, mengeraskan hati agar tidak menunjukkan penderitaannya.

Hal ini membuat lawan terbelalak dan gentar; mereka seolah melihat Kim-mou-eng tetap tegar. Mereka tidak tahu bahwa Pendekar Rambut Emas ini menahan batuknya dengan susah payah agar tidak muntah darah lagi.

Ketika Hek-bong Siang-lo-mo menatap lawan dengan ngeri, Bong Kak berdiri menggigil. "Setan, itukah *Pek-sian-ciang*? Hebat sekali. Pendekar Rambut Emas ini benar-benar siluman!"

"Kita akan dibunuhnya, Bong Kak. Lari dan selamatkan dirimu!" *Twa-lo-mo* melompat lari, disusul adiknya yang juga gemetar. Mereka memang licik dan akan mundur jika lawan terlalu kuat. Namun, baru melangkah tiga tindak, sesosok bayangan berkelebat di depan mereka.

"Lo-mo, kapan kalian membayar utang kepada suku bangsa Tartar? Jangan lari, perhitungkan dulu semuanya dan lihat benderaku!" "Plak!" *Lo-mo* terguling terkena kibasan bendera. Salima muncul menyerang mereka.

Salima menyerang *ji-lo-mo* hingga kakek itu terlempar dan pucat pasi. Luka dalam akibat *Pek-sian-ciang* membuat mereka terpontang-panting menghadapi serangan gencar Salima. Mereka seharusnya duduk bersila memulihkan tenaga, namun kini malah terus diserang. Karena Salima masih bugar, Sepasang Iblis Kuburan itu kian lelah.

*Ji-lo-mo* yang kepayahan terkena tendangan Salima hingga mencelat tiga tombak. Salima terus membayangi. Ketika *ji-lo-mo* muntah darah, pukulan *Tiat-lui-kang* dari tangan kiri gadis itu menghantam pundaknya. Ia terjungkal dan tak mampu bangkit lagi. Salima mengebutkan benderanya ke wajah iblis itu hingga *ji-lo-mo* roboh dan menjerit dengan wajah hancur. "Plakk!" Iblis cebol itu tewas.

*Twa-lo-mo* ngeri melihat adiknya tewas dan berusaha lari. Namun, karena kehabisan tenaga dan luka di dada, kakinya tersangkut sesuatu dan ia roboh. Saat bangkit, ia tertegun melihat Salima di depannya. Kain bendera membelit kakinya. Salima tidak mungkin mengampuninya.

*Lo-mo* yang putus asa mengayunkan sabitnya, namun Salima mengelak dan mengebutkan bendera ke mata kakek itu. Saat *lo-mo* terkesiap, kaki Salima menghantam perutnya bersamaan dengan kibasan bendera yang mengenai pundak. "Dess!" *Lo-mo* terlempar menjerit. Ia mencari teman-temannya, namun mereka sudah melarikan diri.

"Kau ingin mati cepat atau lambat, *Lo-mo*? Katakanlah, dan sebut pula berapa ratus nyawa yang melayang sia-sia akibat kejahatanmu!"

"Oh, tidak. Jangan, Sian-li... jangan...!" *Lo-mo* melepaskan sabitnya dengan nekat, melompat menerjang gadis itu dalam keputusasaan yang hebat, berharap cara terakhirnya ini berhasil.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment