Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 119

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 119

Salima mendengus dan mengebutkan bendera, lalu tiba-tiba menangkap sabit lawannya. Ia menggulung sekaligus mengelak ke kiri, membuat tubrukan lawannya luput dan hanya mengenai angin kosong.

Lo-mo terhuyung. Ketika iblis cebol itu nyaris tersungkur dan terbelalak melihat dua serangannya gagal total, mendadak angin dingin berdesir di punggungnya. Salima mengembalikan sabit dengan bentakan pelan, "Lo-mo, robohlah!" Twa-lo-mo tak dapat menghindar lagi.

Dia sedang terhuyung, tak dapat membalik atau menangkis. Begitu Salima membuka gulungan benderanya dan sabit meluncur ke punggungnya, kakek itu menjerit tinggi saat sabit mengenai tubuhnya.

"Crep... augh!" Lo-mo terbanting. Seketika dia roboh terjerembap dengan ujung sabit amblas separuh di punggungnya. Kakek itu berkelojotan dan darah pun muncrat. Namun, begitu keluhan pendek meluncur dari mulutnya, kakek ini menggeliat dan diam untuk selama-lamanya. Tak ada lagi suara atau keributan di situ. Salima menarik bibirnya, mengejek.

Ketika kakek itu menyusul adiknya dan Hek-bong Siang Lo-mo menemui ajal di tangan gadis Tartar ini, di lain tempat, Ma Tung dan Bong Kak juga nyaris mengalami hal yang sama. Mereka memang melarikan diri saat Lo-mo kakak beradik menghadapi Salima. Namun, karena Kim-mou-eng tidak mau melepas mereka, dua kakek tinggi besar itu gentar. Ketika lawan menyuruh mereka berhenti, mereka tidak mau patuh dan terus melarikan diri sambil mengumpat. Mereka sebenarnya juga terluka, memaksakan diri berlari menjauhi lawan.

Karena Kim-mou-eng terus mengejar dan tidak memberi ampun, tiba-tiba Bong Kak berseru pada temannya agar berpencar saat tiba di sebuah perempatan. "Kau ke kiri, aku ke kanan. Biar salah satu di antara kita lolos!" Ma Tung mengangguk. Dia segera ke kiri mengikuti petunjuk temannya, sementara Bong Kak ke kanan.

Namun, ketika mereka berdua berpencar dan Kim-mou-eng bingung melihat lawan ke kiri dan ke kanan, mendadak Hauw Kam muncul menghadang Ma Tung. "Kakek siluman, kau harus membereskan dulu perhitungan di antara kita!"

Ma Tung tertegun. Dia melihat pemuda itu memandangnya dengan penuh amarah. Dari belakang, tiba-tiba muncul dua bayangan lain, Siu Cing dan Siu Loan. Pucatlah kakek ini. Ketika dia terkejut dan melotot memandang murid Hu Beng Kui itu, tiba-tiba Hauw Kam menerjangnya dengan pedang. Meski sempat dielak dan ditangkis, kakek tinggi besar ini mengeluh. Tangannya terluka, sinkangnya sudah merosot jauh, sehingga tidak dapat melindungi diri lagi.

Ketika dia menghindar ke sana kemari dan marah namun tak dapat berbuat apa-apa, mendadak kedua gadis itu menerjangnya pula dengan bentakan nyaring. Tentu saja hal itu membuat kakek ini kewalahan. Sebuah bacokan tidak dapat dielaknya lagi, pundaknya terbabat dan kakek ini jatuh terguling.

Di lain pihak, Bong Kak sendiri kecut mukanya menghadapi Kim-mou-eng. "Kau tak dapat lari, kau harus menebus dosa teman-temanmu!"

"Keparat, kalau begitu boleh kaubunuh aku, Pendekar Rambut Emas. Biar aku mengadu jiwa denganmu!"

"Plak! Duk!" Bong Kak menangkis, menggeram, namun terpental dan mendekap dadanya yang kian sakit. Dia batuk-batuk dan muntah darah. Serangan Kim-mou-eng tadi ditangkisnya tapi kalah kuat. Jangankan dia sendiri, berempat dengan temannya pun dia tak mampu merobohkan lawannya itu.

Ketika Kim-mou-eng mengejar dan kembali menekan kakek ini dengan serangan demi serangan, Bong Kak merasa putus asa. Sebuah pukulan mendarat di telinganya dan dia pun terbanting. Dia sempat melompat bangun, tapi sebuah tendangan mengenai pinggangnya lagi hingga mencelat dan roboh. Saat Kim-mou-eng menyuruh dia menyerah, tiba-tiba Bong Kak berteriak dan menghantam ubun-ubun kepalanya sendiri.

"Kim-mou-eng, biar aku mampus membunuh diri!"

"Praakk!" Kakek itu menghabisi nyawanya sendiri; dia terjengkang dan roboh mandi darah. Kepalanya pecah dihantam oleh dorongan keputusasaan yang besar.

Melihat temannya bunuh diri, Ma Tung terkejut. Kakek ini pun menjerit ketika pedang di tangan Hauw Kam kembali mengenai lengannya. Luka memanjang membuat kakek itu terhuyung. Dia meleng karena tercekat oleh robohnya Bong Kak tadi, sehingga dua-tiga tusukan kembali melukai dirinya. Kakek ini mulai berlumuran darah.

Namun, ketika Hauw Kam menyerang dan tak lama lagi kakek ini tentu roboh, tiba-tiba Kim-mou-eng berkelebat menyuruh semua orang berhenti. "Saudara Hauw, biarkan yang ini pergi. Sudah cukup kiranya darah mengalir di sini!"

Kim-mou-eng menangkis, menyelamatkan kakek itu, dan Ma Tung terbelalak. Dia tertegun oleh kata-kata Pendekar Rambut Emas ini. Namun, Hauw Kam yang teringat kematian adik-adiknya tentu saja tidak mau berhenti. "Tidak, kakek ini mengacau di tempatku, Kim-taihiap. Biar dia kubunuh dan jangan halangi kami!"

"Benar, dua kekasih kami tewas, Kim-mou-eng. Kami hendak menuntut balas dan jangan biarkan dia selamat!"

"Hmm, sabar!" Kim-mou-eng tampak bingung. "Kakek ini sebenarnya ikut-ikutan saja, Nona. Yang tak boleh diampuni dan berbahaya adalah Siauw Bin-kwi dan Mo-ong, juga muridnya. Mereka itulah yang harus dicari dan dibunuh. Kakek ini hanya ikut-ikutan, biarlah semua ini menjadi pelajaran baginya untuk tidak mengulang kekeliruannya."

"Tapi suhu akan memarahi kami dan lagi..."

"Benar!" Salima berkelebat muncul. "Tak ada yang boleh diampuni di sini, Hauw Kam. Bunuh dia, habisi kakek itu. Biar kubantu kalian!"

"Wuut!" Salima langsung menyerang Ma Tung yang ada di belakang suhengnya dengan tamparan maut. Bendera di tangan kirinya pun berkelebat. Kim-mou-eng terkejut. Kehadiran sekaligus kata-kata sumoinya membuat dia mengeluh; tidak mungkin dia melindungi kakek tinggi besar itu karena pukulan sumoinya menuju ke arah dirinya sebelum menghantam Ma Tung.

Karena harus mengelak, Ma Tung menerima tamparan itu yang tidak dapat dihindari. "Dess!" Kakek ini terpelanting. Salima berseru lagi mengulang serangannya. Hauw Kam, Siu Cing, dan Siu Loan menjadi gembira dan hendak menerjang maju, tapi Salima mencegahnya. Biarlah lawan dibunuh dengan tangannya sendiri karena Salima teringat perbuatan kakek ini yang dulu merobohkannya bersama Bong Kak dan Bin-kwi sebelum ditolong Bu-hiong.

Ma Tung pucat. Dia menangkis tapi terpental menjerit. Luka-lukanya sudah tidak memungkinkan kakek ini bertahan. Ketika serangan demi serangan membuat Ma Tung jatuh bangun dan kebutan bendera gadis itu menyambar gencar, tiba-tiba kakek ini terbanting saat pukulan petir mengenai tengkuknya dan kibasan bendera menghantam pelipisnya.

"Plak-des!" Ma Tung kembali terguling-guling. Kakek itu mencoba bangun lagi tapi mencelat saat tendangan penuh kebencian menghantam dagunya. Saat dia mengeluh dan satu demi satu pukulan serta tamparan Salima mengenai tubuhnya, akhirnya kebutan bendera menyambar mukanya. Kakek itu menjerit, roboh terlempar, dan Salima mengejar.

Kakek ini pucat dan menggeram. Karena tidak mau mati di tangan lawan dan teringat perbuatan Bong Kak yang menghabisi nyawanya sendiri, tiba-tiba kakek ini menggerakkan tangan kiri dan menusuk batok kepalanya dengan dua jari terbuka.

"Tiat-ciang Sian-li, aku boleh mati, tapi aku tak mau mati di tanganmu!"

"Crep!" Kakek itu menggelimpang. Dua jarinya telah menusuk tembus ubun-ubun kepalanya sendiri, darah muncrat dan dia pun terguling.

Ketika Salima tertegun dan mendengus melihat lawan membunuh diri, Kim-mou-eng yang tidak tahan melihat semuanya itu sudah menghilang entah ke mana. "Sumoi, kau telengas!" Hanya itulah suara Kim-mou-eng tadi. Pendekar Rambut Emas memang tidak dapat menahan kegundahan hatinya. Ia tidak mungkin mendebat sumoinya yang sedang beringas, namun membiarkan lawan menjadi korban juga terasa berat.

Kim-mou-eng meninggalkan tempat itu bukan ke mana-mana, melainkan mencari Siauw Bin-kwi yang dikejar Hu taihiap, juga Mo-ong. Dia ingin tahu bagaimana hasil pengejaran Hu taihiap itu.

Sementara pendekar ini meninggalkan sumoinya dan Ma Tung tewas membunuh diri, di lain tempat, pengejaran seru yang dilakukan Hu taihiap memang tidak sia-sia. Saat itu, Hu Beng Kui melihat bayangan Bin-kwi bersama Mo-ong si iblis buntung melarikan diri jauh di depan. Karena Hu Beng Kui amat marah melihat kelicikan lawan-lawannya dan tidak membiarkan musuh-musuhnya melarikan diri, jago pedang ini mengerahkan ginkang untuk menyusul. Ia membentak dan menyuruh mereka berhenti.

Bin-kwi dan Mo-ong terkejut. Mereka terkesiap melihat ilmu lari cepat pendekar itu. Sebentar kemudian, jarak mereka semakin dekat. Mo-ong dan Bin-kwi terbelalak. Ketika pendekar itu semakin dekat dan suaranya seakan sudah berada di belakang telinga, mendadak Bin-kwi membelok ke utara saat tiba di persimpangan jalan.

"Mo-ong, kita berpisah saja. Kau teruskan larimu dan biar aku ke sini."

"Eh, ke mana Bin-kwi? Tidak berdua saja?"

"Tidak, tidak! Kauteruskan larimu, Mo-ong. Kita berpencar biar lawan kita itu bingung."

"Tapi kau membawa beban, serahkan putra Hu-taihiap itu kepadaku!"

Bin-kwi mengangguk. Dalam keadaan gelisah dan gentar, tiba-tiba dia melempar tubuh Beng An yang langsung disambut oleh Mo-ong. Rekannya itu menyeringai dan meneruskan larinya ke arah timur, sementara Bin-kwi ke utara. Namun, ketika beberapa langkah, Bin-kwi tertegun seolah teringat akan sesuatu. "Eh, tunggu, Mo-ong!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment