Chapter 12
Hamba kira tak ada. Lalu, bagaimana bisa begini? Kenapa kau demikian bodoh? Bi Nio menangis, kaisar malah menyalahkan dirinya.
Dan ketika kaisar melotot dan Bi Nio mengguguk, maka selir yang masih cantik ini tersedu-sedu. Sri Baginda, hamba memang bodoh. Kalau hamba dianggap bersalah, biarlah paduka membunuh hamba! Hm, kau bukan selirku lagi. Sekarang jawab saja, apakah benar sebelum kau kuserahkan pada mendiang suamimu, kau telah mengandung? Bi Nio terbelalak. Apa maksud paduka? Bangsa Tar-tar menuduhku menghina mereka, Bi Nio. Bahwa ada kabar burung yang menganggap dirimu hamil sebelum kuberikan pada pemimpin mereka, mendiang suamimu itu. Sekarang Kim-mou-eng datang, jawablah, anak siapa sebenarnya yang telah kaulahirkan dan tertukar itu. Anak dengan mendiang suamimu ataukah anak dari keturunanku? Bi Nio tiba-tiba menghentikan tangisnya. Anak yang hamba kandung memang benar dari benih suami hamba sendiri. Kalau tuduhan mengatakan begitu, maka itu tidak benar! Nah, kau dengar, Kim-mou-eng. Kau boleh bertanya pula pada wanita ini, apakah selama di sini dia pernah kusentuh! Kim-mou-eng mengerutkan kening. Sri Baginda, apapun yang paduka katakan, terus terang hamba tak puas. Sebenarnya bukti satu-satunya untuk memperkuat omongan paduka adalah anak itu. Sekarang anak itu tertukar, begitu menurut paduka dan Bi Nio. Tapi karena hamba sangsi, karena ini bisa saja diatur, maka maaf jika sementara ini hamba masih tak mempercayai paduka.
Hebat kata-kata itu. Kaisar sampai terbelalak lebar, melotot. Kalau bukan Kim-mou-eng, mungkin kaisar sudah berteriak menyuruh pengawalnya menangkap orang yang berani bicara seperti ini. Kaisar tak dipercaya, bukan main! Dan ketika kaisar terhenyak dan saking marahnya tak dapat bicara, maka Kim-mou-eng sudah berkata lagi, Nah, sekarang hamba minta buktinya, Sri Baginda. Kalau benar anak Bi Nio adalah keturunan suheng hamba dan bukan anak ini, maka hamba minta paduka menunjukkan buktinya. Waktu satu minggu kiranya cukup, paduka tentu dapat menyuruh orang-orang paduka mencari anak yang hilang itu. Tapi, kalau paduka bohong dan tak dapat menunjukkan buktinya, maka hamba, mewakili bangsa Tar-tar, mohon agar paduka berkunjung ke perkemahan kami untuk meminta maaf. Bangsa Tar-tar menuntut ini, hamba sebagai perantara keinginan mereka hanya diminta menyampaikannya pada paduka. Sekian! Kim-mou-eng membungkukkan tubuhnya, memberi hormat, dan tiba-tiba berkelebat pergi. Urusan dianggapnya selesai, dan dia tak mau berpanjang lebar lagi.
Sekarang kaisar dituntut untuk memberi jawaban, dapat memberi bukti atau tidak. Baru kali ini kaisar dituduh orang! Tapi ketika kaisar sadar dan Kim-mou-eng lenyap dari ruangan itu, tiba-tiba kaisar berteriak, Hei, kau sendiri bagaimana dengan persoalan Sam-kong-kiam, Kim-mou-eng? Dari jauh, jelas dan nyaring, ternyata terdengar jawaban Pendekar Rambut Emas, Hamba akan mencarinya dalam waktu satu minggu ini pula, Sri Baginda. Jadi, setelah itu masing-masing dapat memberikan buktinya! Lenyaplah Pendekar Rambut Emas itu. Sekarang istana geger oleh ancaman ini. Kim-taijin sampai pucat melihat semuanya itu. Ternyata persoalan memang benar-benar penting. Kaisar dituduh menghina bangsa Tar-tar, sementara Kim-mou-eng sendiri dituduh mencuri Pedang Tiga Sinar. Pembesar itu yakin benar keduanya tak bersalah. Masing-masing sama terfitnah, dan kini keduanya terjebak dalam perangkap yang membingungkan, juga mendebarkan.
Kaisar dan Kim-mou-eng tiba-tiba harus berhadapan sebagai lawan. Dan ketika malam itu kaisar mencak-mencak menyuruh orang mencari anak Bi Nio karena anak itu dianggap ditukar seseorang, maka di lain pihak Kim-mou-eng sendiri sudah terbang dan meninggalkan kota raja untuk kembali ke tengah-tengah suku bangsanya. Menjelang pagi tiba di sana, langsung mencari sumoi-nya, tak mau diketahui orang lain. Sumoi-nya terkejut tapi girang, suheng-nya ini hanya beberapa saat saja, persis ketika kemarin Bu-ciangkun dan teman-temannya datang. Dan ketika suheng-nya duduk menarik napas dan belum memulai ceritanya, maka Salima sudah mendahului dengan cerita tentang Bu-ciangkun itu. Betapa Bu-ciangkun menuduh suheng-nya mencuri pedang. Betapa orang-orang itu dianggapnya kurang ajar karena melepas tuduhan membabi-buta. Suheng-nya mendengar dengan muka gelap, alis berkerut-kerut, sudah tahu.
Dan ketika Kim-mou-eng ganti bercerita tentang hasil perjalanannya ke kota raja, maka Salima tertegun ketika suheng-nya menutup cerita begini: Sekarang aku harus pergi lagi, sumoi. Waktu satu minggu yang kujanjikan pada kaisar harus kupergunakan baik-baik. Aku akan mencari pencuri itu, menangkap, dan membekuknya, serta menyerahkannya pada kaisar. Sedang kaisar sendiri? Salima bertanya, seluruh kekecewaan dan kemarahannya tak dapat disembunyikan lagi. Apakah kaisar akan datang ke sini, suheng? Aku tak tahu, sumoi. Tapi kaisar telah kuikat janji dengan waktu yang sama pula. Katanya bayinya Bi Nio tertukar, aku tak tahu apakah itu benar ataukah sekedar bohong saja? Hm. kalau begitu kita tunggu. Sekali kabar berita itu tak datang pada kita, maka bangsa Tar-tar akan kulepas kendalinya! Jangan dulu. Janji semingguku pada mereka masih tersisa. Kuharap sisa waktu ini dapat kullesaikan dengan tepat! Kim-mou-eng teringat, dalam waktu yang sesingkat itu dia harus mengerjakan dua hal. Dia kelupaan dengan janji pada suku bangsanya, sedikit menyesal kenapa dia buru-buru berjanji satu minggu pula pada kaisar. Kini sadar dan berkerut-kerut, kiranya urusan itu membuat dia lelah dan berat berpikir.
Tapi ketika sumoi-nya mencibir dan dagu yang runcing itu terangkat, maka Salima tak perduli omongannya. Kau harus kembali dalam batas waktu itu, suheng. Kalau tidak, aku akan mencarimu dan menyusul! Baiklah, baiklah.... Kim-mou-eng penat. Kau jaga dulu di sini, sumoi. Tunggu sampai aku kembali, dan jangan ceritakan kedatanganku pada Siga maupun Bora. Dan Kim-mou-eng yang pagi itu juga meninggalkan sumoi-nya untuk mencari pencuri Sam-kong-kiam, akhirnya dengan geram dan marah berkelebat lenyap kembali ke dalam tembok besar. Tak tahu ancaman lain akan susul-menyusul. Satu kesulitan besar akan menghadang pendekar ini.
Dan begitu pagi itu juga Kim-mou-eng meninggalkan perkemahan suku bangsanya, maka di lain tempat, di dunia persilatan, geger tentang Sam-kong-kiam yang dicuri pendekar itu telah menyebar bagai wabah penyakit. Pertama-tama, pagi itu juga ketika Kim-mou-eng memasuki wilayah Tiong-goan, dia sudah dihadang tiga laki-laki pendek bertubuh kekar. Kim-mou-eng terkejut melihat tiga laki-laki ini, mengenalnya sebagai Sin-to Sam-eng hiong. Cepat menghampiri dan menyapa mereka dengan girang. Barangkali tiga orang ini tahu tentang jejak pencuri. Tapi ketika tiga laki-laki itu tertawa mengejek dan mendengus ke arahnya, maka Beng Kwan, orang tertua dan Sin-to Sam Hiong itu mendamprat, Kim-mou-eng, sungguh tak kukira kalau sekarang kau pun pandai bersandiwara. Siapa tak tahu pencuri itu sekarang ada di depan kami. Kaulah pencurinya, dan sekarang serahkan Pedang Tiga Sinar itu kepada kami! Kim-mou-eng kaget. Kalian gila? Ha ha, yang gila adalah dirimu, Kim-mou-eng. Dari seorang pendekar tiba-tiba kau berobah menjadi seorang penjahat. Serahkan Sam-kong-kiam atau kami akan membunuhmu.... Sing! Golok dicabut, tiga orang itu berdiri gagah dalam tiga sudut. Kim-mou-eng sudah dikepung, dan pendekar ini terbelalak, melihat lawan maju setindak dengan golok bergetar.
Tahulah dia lagi-lagi orang tak main-main dengannya, persis seperti sikap Lauw-ciangkun dulu. Dan ketika Kim-mou-eng menyeringai pahit ke arah orang-orang ini, maka Beng Kwan sudah kembali membentaknya. Kau tak mau menyerahkan Sam-kong-kiam? Hm....! Pendekar ini akhirnya menghela napas. Aku tak tahu di mana pedang itu, saudara Beng Kwan. Kalau kalian menuduh diriku, maka kalian keliru. Aku betul-betul bukan pencurinya, justeru aku sedang mencari pencuri itu untuk kubekuk. Bohong, kalau begitu mampuslah! Dan Beng Kwan yang membentak menerjang ke depan, tiba-tiba memutar tangannya, menggerakkan golok. Senjata itu sudah mendesing di kepala lawan, Kim-mou-eng mengelak, tapi Beng San di sebelah kiri menubruk, golok di tangan orang kedua dari Sin-to Sam Enghiong itu juga berkelebat. Dan ketika Kim-mou-eng melompat, tapi Beng Kwi di sebelah kanan juga membentak, membantu dua kakaknya, tiba-tiba tiga sinar golok sudah saling menyilang, membacok Pendekar Rambut Emas ini. Plak plak plak! Pendekar Rambut Emas terpaksa menangkis, marah tapi juga mendongkol karena dia dituduh mencuri, korban dari kekeliruan yang tidak dapat ditolerir.
Dan ketika tiga kakak beradik Beng itu berseru keras, mengeroyoknya dari segala perjuru, tiba-tiba pendekar ini berseru, Sin-to Sam-enghiong, kalian salah menuduh orang. Minggirlah! Namun tiga kakak beradik itu menggeram. Mereka justeru memperhebat serangan, sekarang tubuh mereka beterbangan dengan melepas golok-golok kecil pula, itulah hui-to yang membantu mereka merobohkan lawan. Pendekar Rambut Emas marah. Dan ketika seruannya kembali tak digubris, dan tiga laki-laki pendek itu tetap menyerangnya dengan semakin buas saja, tiba-tiba dia menggerakkan lengan kirinya, mengerahkan Tiat-lui-kang. Baiklah, sekarang aku terpaksa meminggirkan kalian! Berkata begitu, pendekar ini membentak, golok dipapak dengan tangkisan tangan telanjangnya, sinar merah berkelebat. Itulah Pukulan Petir. Dan ketika tiga golok bertemu keras dengan lengan pendekar ini, mendadak tiga kakak beradik itu berteriak kaget karena senjata mereka patah-patah, sementara hui-to-hui-to yang mereka hamburkan juga runtuh, mengenai tubuh Kim-mou-eng. Tak-tak-tak! Sin-to Sam-enghiong terkejut. Mereka memang bukan tandingan pendekar ini. Kim-mou-eng terlalu lihai bagi mereka.