Chapter 120
"Nanti dulu!" Bin-kwi kembali berseru dan mengejar kawannya itu.
Mo-ong menoleh dengan terheran-heran, namun tidak berhenti dan terus melanjutkan larinya. Ketika Mo-ong bertanya mengapa ia memanggil dan kembali, Bin-kwi berkata agar Beng An diserahkan saja kepadanya.
"Eh, untuk apa? Bukankah itu memberi beban padamu?"
"Tidak, aku justru merasa tenang dengan tawanan itu, Mo-ong. Aku..."
"Ha-ha, kau ingin memaksa Hu-taihiap menyerahkan Sam-kong-kiam?"
"Bodoh, justru kau akan diincar kalau membawa pemuda ini, Bin-kwi. Tarik dan buang saja niatmu itu. Lihat, jago pedang itu mendekati kita. Kau pergilah dan biarkan pemuda ini menjadi tawananku!"
Bin-kwi bingung. Ternyata Mo-ong mengetahui maksudnya. Memang benar, ia hendak memaksa Hu Beng Kui menyerahkan Sam-kong-kiam sebagai ganti puteranya jika Beng An ada di tangannya. Mo-ong ternyata cerdik dan tahu maksud tersebut. Namun, ketika Mo-ong menyatakan bahwa beradanya pemuda itu di tangan Mo-ong justru akan membuat Mo-ong diincar oleh Hu-taihiap, kakek buntung itu mulai ragu-ragu. Mendengar bentakan Hu-taihiap di belakang, ia menjadi gugup dan bingung, sementara Mo-ong terus menyuruhnya pergi.
Mo-ong setuju mereka berpencar. Hal itu memang baik. Ketika suara Hu-taihiap semakin dekat dan bayangan pendekar itu hanya beberapa tombak di belakang mereka, tiba-tiba Bin-kwi mengangguk dan berkata, "Baiklah, aku pergi, Mo-ong. Kau rupanya benar, biar aku menyingkir..."
"Dar! Dar!"
Bin-kwi meledakkan beberapa granatnya. Asap mengepul menghalangi pandangan Hu Beng Kui, memaksa pendekar itu berjungkir balik. Sudah beberapa kali Hu Beng Kui mengumpat geram bila Bin-kwi menggunakan granat tangannya; hal itu membuat pendekar tersebut semakin marah. Bin-kwi membelok, mereka pun berpencar.
Namun, ketika dipikir panjang, mengapa Mo-ong mau membawa Beng An dengan menanggung risiko berhadapan dengan jago pedang yang lihai itu sementara ia tidak? Tiba-tiba Bin-kwi terkejut dan sadar bahwa keselamatan pemuda itu justru lebih berharga daripada keselamatan diri sendiri. Hu Beng Kui tentu akan menyerahkan apa saja yang diminta asal puteranya dikembalikan. Mo-ong berani menghadapi risiko karena posisinya lebih baik; dengan pemuda itu di tangan, ia akan lebih selamat daripada yang tidak membawa apa-apa.
Bin-kwi mengumpat, sadar, dan segera menghentikan larinya. Ia berbalik dan mengejar temannya lagi. Ia menyuruh Mo-ong berhenti. Mo-ong yang terheran karena Bin-kwi kembali dan berteriak ribut segera bertanya sambil tetap melarikan diri, "Apa yang kau maui, Bin-kwi? Ada apa lagi datang ke sini?"
"Aku mau meminta tawananku itu. Biarkan dia bersamaku dan kau pergilah bersama muridmu!"
"Eh, kenapa begitu? Apa yang membuatmu berubah pikiran? Bukankah kau dapat melarikan diri tanpa beban?"
"Tidak, dengan beban atau tanpa beban Hu-taihiap tetap akan mencari aku, Mo-ong. Karena itu, serahkan puteranya dan biar dia kuurus!"
"Wah, tidak bisa, Bin-kwi. Kau telah menyerahkannya kepadaku dan tidak dapat kau tarik kembali!"
"Tapi dia tawananku semula, kau tak berhak!"
"Ah, itu tadi, Bin-kwi, sekarang lain. Kau telah memberikannya kepadaku dan aku menerima. Sekarang pemuda ini menjadi tawananku, kau pergilah dan menyingkir saja baik-baik."
"Kau mau mencari enak?"
"Enak bagaimana?"
"Kau dapat menyelamatkan dirimu dengan pemuda itu di tangan, Mo-ong. Sedang aku tak memiliki apa-apa sebagai pegangan!"
"Ha-ha, kau salah. Justru dengan adanya pemuda ini aku menanggung risiko lebih berat, aku dapat terancam dan dibunuh Hu-taihiap itu!"
"Tak mungkin, justru kau akan selamat kalau mengancam mau membunuh pemuda itu lebih dulu. Tidak, serahkan dia kepadaku, Mo-ong. Biar aku yang mengurus dan kau larilah!"
Bin-kwi menyambar, mencoba merampas Beng An yang pingsan, tapi Mo-ong mengelak. Iblis itu marah dan memaki temannya. Ketika Bin-kwi terbelalak dan hendak menyambar kembali, tiba-tiba Mo-ong menangkis dan membentak, "BIN-KWI, jangan gila. Pergilah..."
"Dukk!"
Dua iblis itu terpental, masing-masing terhuyung. Hu-taihiap di belakang berseru lagi dengan suara geram. Bin-kwi tidak peduli dan ganti membentak kawannya. Jari menotok, ia menyerang Mo-ong secara terang-terangan. Beng An harus dirampas, ia tak membiarkan temannya pergi sebelum pemuda itu diserahkan. Karena Beng An dianggap sebagai sandera yang amat berharga, Bin-kwi akan mati-matian merebutnya dan menyesal telah menyerahkan tawanannya tadi. Iblis buntung itu menyerang temannya dengan cepat dan bertubi-tubi sambil berseru agar Mo-ong tidak keras kepala. Dua iblis itu pun bertempur.
Hu Beng Kui kian dekat. Terpaksa Mo-ong melanjutkan larinya sambil memaki Bin-kwi dan menangkis serangan lawan. Ketika Bin-kwi tetap mengejar dan suara Hu-taihiap tinggal beberapa meter di belakangnya, Mo-ong menjadi gusar. Ia berhenti melarikan diri dan memandang lawannya dengan beringas.
"Bin-kwi, kau tak tahu diri. Kalau begitu baik, aku akan membuatmu mampus..."
"Des! Dess!"
Mo-ong yang berhenti dan menangkis pukulan lawan tiba-tiba terjungkal karena ia hanya memakai sebelah tangan, sementara tangan lainnya digunakan untuk memanggul Beng An. Muridnya terkejut melihat sang guru berkelahi dengan sesama teman sendiri karena memperebutkan tawanan.
Mo-ong bergulingan, melompat bangun, lalu menerjang dengan mengeluarkan kipasnya untuk menghantam bekas kawan itu. Keduanya bertempur hebat. Bin-kwi menggunakan tongkat bambunya untuk menotok, menyodok, bahkan menghajar lawan dengan angin pukulan yang menderu keras. Mo-ong naik pitam dan segera berkelebatan lenyap. Karena sama-sama marah dan tidak mau mengalah, keduanya bertanding memperebutkan Beng An yang nyaris terkena pukulan berbahaya.
"Hei, berhenti!"
Bentakan itu adalah suara si jago pedang. Hu Beng Kui telah tiba dan terbelalak melihat pertempuran itu. Ia berkali-kali terkesiap melihat puteranya nyaris kena pukulan tongkat atau totokan jari. Pertandingan ini berbahaya sekali. Jago pedang itu tertegun, namun ketika ia marah dan Bin-kwi terus mendesak Mo-ong, pendekar ini berkelebat dan menyerang Mo-ong yang menawan puteranya.
"Siutt-sing!"
Sinar Sam-kong-kiam berkelebat hebat, menyambar kipas di tangan Mo-ong. Kakek iblis itu terkejut dan berteriak, melemparkan tubuh ke kiri, tapi tongkat bambu di tangan Bin-kwi mengemplang. Tak ada kesempatan menangkis, Mo-ong menjerit. Pundaknya terhajar, sebagian punggung Beng An juga terkena hingga pemuda itu mengeluh dan siuman.
Bin-kwi tertawa, sementara Hu-taihiap menggeram. Tiba-tiba Sam-kong-kiam kembali bergerak, melancarkan tusukan dan tikaman ke sembilan jalan darah di tubuh Mo-ong. Mo-ong mengeluh dan terhuyung mendekap lukanya. Tiga tusukan cepat mengenai tubuhnya, kakek iblis itu pucat pasi. Saat Bin-kwi menyerang kembali, Mo-ong yang marah terhadap bekas kawannya itu berteriak sambil melempar Beng An ke arah kakek buntung tersebut.
"Bin-kwi, terimalah!"
Bin-kwi melengak. Ia tidak menyangka Beng An akan dilempar kepadanya. Ia tentu saja menangkap dan gembira menerima pemuda itu. Namun, Hu-taihiap membentak dan menyerangnya, ganti menusuk dan menikam delapan kali dengan sangat cepat. Bin-kwi gugup. Ia melempar tubuh, namun empat serangan mengenai dirinya, merobek baju dan melukai kulit daging. Kakek itu berteriak.
Ketika ia bergulingan menjauh, Mo-ong terbahak. Tiba-tiba kakek itu menggerakkan kipasnya dan menyerang Bin-kwi. "Ha-ha, sekarang kau tahu rasa, Bin-kwi. Hu-taihiap akan membantuku dan kau mampus!"
"Plak! Brett!"
Kipas ditangkis tongkat, terpental tapi menyerempet leher lawan. Bin-kwi terbelalak. Kiranya Mo-ong memberikan tawanannya hanya untuk melepas sasaran. Ia harus menghadapi serangan Mo-ong, sementara pedang jago pedang itu juga terus mengejar. Bin-kwi semakin gugup.
Saat Mo-ong berkata bahwa Hu-taihiap membantunya, mendadak Sam-kong-kiam membelok dan menebas pinggangnya. "Mo-ong, kalian semua iblis busuk. Aku tidak membantu dirimu atau Bin-kwi!"
"Bret! Crat!"
Pundak Mo-ong terkuak, dagingnya tercongkel, dan ia menjerit. Serangan itu sama sekali tidak disangkanya. Mo-ong meraung dan bergulingan. Bin-kwi tertawa mengejek bekas temannya itu, namun tiba-tiba Hu Beng Kui berkelebat dan meneruskan serangan kepadanya.
"Kau pun diamlah, Bin-kwi. Aku pun akan membunuhmu..."
"Sing! Crat!"
Pedang mengena sasaran, membabat tubuh si buntung itu. Bin-kwi berteriak kaget, marah, melotot, dan bingung oleh semua gebrakan ini. Mereka bertempur dalam formasi segitiga. Bin-kwi gentar. Saat ia bergulingan menjauh dan Mo-ong melompat bangun, kakek iblis itu berseru gusar menyerang Hu Beng Kui.
"Hu-taihiap, kau tak tahu dibantu. Baiklah, Bin-kwi akan membantuku dan kau akan kami bunuh!"
"Wir! Crat!"
Kipas yang disambut pedang putus menjadi dua. Mo-ong memekik keras, berjungkir balik menghindari sambaran pedang yang terus membabat hingga jari-jarinya terpapas semua. Iblis itu pucat pasi memaki lawannya. Ketika ia melayang turun dan mengharap bantuan Bin-kwi, rekannya itu justru tertawa dan melompat pergi melarikan diri.
"Mo-ong, maaf."