Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 121

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 121

"Biarlah kauhadapi sendiri Hu Taihiap itu!" Mo-ong tertegun.

"Kau...?" Namun, kata-katanya terhenti.

Hu Beng Kui menusuknya dengan cepat. Pedang berkelebat dan iblis ini memaki Bin-kwi sembari meloncat tinggi. Bin-kwi merasa girang karena Mo-ong bakal menghadapi Hu Taihiap sendirian. Ia tidak menyadari gerak selanjutnya dari pedang di tangan pendekar itu karena Hu Taihiap tiba-tiba melemparnya.

Pedang yang luput mengenai Mo-ong itu menyambar punggung Bin-kwi tanpa suara. Senjata itu dilemparkan dengan kecepatan dan tenaga istimewa, sedemikian rupa hingga Siauw-bin-kwi tidak mendengar desiran anginnya. Tahu-tahu, pedang tersebut mengenai punggung dan amblas ke dalam tubuh si buntung itu.

Siauw-bin-kwi menjerit lalu roboh. Sam-kong-kiam menancap di tubuhnya hingga ke gagang. Lemparan ini menunjukkan tenaga luar biasa sekaligus kemarahan besar dari Hu Taihiap. Iblis buntung itu langsung terjungkal dan tewas.

Namun, saat Bin-kwi ambruk dan kehilangan nyawanya, tiba-tiba terdengar keluhan lain. Beng An, yang dibawa kakek itu, ternyata juga menerima akibat buruk karena pedang yang menembus dada Siauw-bin-kwi turut mengenai dirinya.

"Augh...!" Hu Beng Kui terkejut.

Dia melemparkan Sam-kong-kiam karena ingin menyelamatkan anaknya, namun tak disangka Beng An justru menjadi korban dan roboh di bawah tindihan Bin-kwi. Jago pedang ini berseru kaget melihat dada anaknya juga terluka. Ujung Sam-kong-kiam yang mencuat dari dada Bin-kwi menusuk dada Beng An cukup dalam hingga pemuda itu mengeluh. Dia baru tersadar tetapi tidak berdaya karena masih tertotok. Kini ia terkena lemparan ayahnya sendiri, dan Hu Beng Kui terkesiap karena hal itu sungguh di luar dugaan.

Ketika pendekar ini mendorong mayat Bin-kwi dan menyambar puteranya sambil berseru keras, Mo-ong melihat Sam-kong-kiam masih menancap di punggung Bin-kwi dan belum diambil oleh pendekar itu. Mo-ong tiba-tiba tertawa bergelak dan menyambar pedang tersebut. Ia menyadari bahwa Hu Taihiap lebih memedulikan puteranya daripada Sam-kong-kiam.

"Haha, sekarang aku berhasil! Bu Ham, lihatlah gurumu akan membunuh Hu Taihiap...!"

"Siiing!" Pedang menyambar, menusuk punggung Hu Beng Kui. Jago pedang itu terkejut dan segera menjatuhkan tubuhnya lalu bergulingan. Mo-ong terbahak-bahak memegang Sam-kong-kiam, lalu menyerang kembali dengan penuh beringas. Hu Taihiap tersentak karena menyadari pedang tadi belum sempat dicabutnya. Kini Mo-ong menerjang, dan kakek iblis itu bagaikan harimau yang tumbuh sayap. Ia menusuk dan membacok; ketajaman pedang pusaka itu mampu menjangkau lawan dalam jarak dua meter.

Saat ia harus melompat berulang kali dengan baju yang robek tersambar angin pedang, Bu Ham tiba-tiba menyeringai dan terkekeh sambil menyambar Beng An. "Bagus! Aku akan memaksa Hu Taihiap untuk menyerahkan puterinya, Suhu. Sekarang pemuda ini menjadi milikku untuk ditukar dengan adiknya!"

Wajah Hu Taihiap pucat sekali. Dia melengking melihat kegilaan itu; guru dan murid sedang mempermainkannya dengan hebat. Puteranya disandera, sementara dirinya diserang pedang keramat di tangan kakek yang tidak waras. Mo-ong terus mengejar dan memburunya ke mana pun ia pergi. Hu Beng Kui mengelak ke sana kemari hingga berkali-kali mengeluarkan keringat dingin. Sam-kong-kiam yang biasanya ia elus-elus kini berbalik arah menyerangnya. Karena tahu ketajaman pedang di tangan lawan, ia tidak berani menangkis atau bersentuhan langsung. Hu Beng Kui terus bergulingan dan menghindar, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia menyesali kebodohannya yang lupa mengamankan pedang tersebut.

Mo-ong semakin ganas memburu dengan pedang di tangan. Saat lawan menusuk dan mengejar, Hu Beng Kui hanya bisa memaki sambil bergulingan. Akhirnya, dua tusukan mengenai tubuh jago pedang ini saat ia mulai kewalahan.

"Bret-bret!" Hu Beng Kui menggeram.

Beruntung Mo-ong bukanlah seorang ahli pedang. Kakek iblis itu lebih terbiasa menggunakan kipas daripada senjata lain. Namun, sebagai ahli silat tingkat tinggi, Mo-ong dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan senjata apa pun. Hu Beng Kui menjadi korban dan tampak pucat menghadapi ancaman bahaya itu. Ia harus bersusah payah menyelamatkan diri karena pedang itu terlalu ampuh untuk dihadapi dengan tangan kosong. Bahkan dengan senjata pun, sulit ada yang menandingi Sam-kong-kiam.

Ketika kembali dikejar, jago pedang ini kebingungan menghadapi lawan yang tengah kalap. Dua tusukan kembali mengenai tubuhnya, ditambah sebuah bacokan yang membuat Hu Beng Kui melengking. Ia marah besar tetapi tidak tahu harus berbuat apa. Jalan satu-satunya adalah melarikan diri, namun sebagai seorang pendekar, Hu Beng Kui tidak sudi melakukannya, apalagi ada puteranya yang belum tentu masih hidup.

Saat lawan mendesaknya hingga tersudut, jago pedang yang pucat dan putus asa ini mengambil jalan nekat. Ia menyambut Sam-kong-kiam yang menyambar ke arahnya dengan mengerahkan *sinkang* untuk melindungi seluruh tangan, mulai dari pundak hingga ke jari-jari. Inilah satu-satunya cara untuk menyelesaikan pertempuran, meski ia harus menjadi korban.

Ketika pedang menyambar, Hu Beng Kui menutup segala kemungkinan buruk yang dapat terjadi. Ia menggereng bagaikan harimau dan menyambut bacokan Sam-kong-kiam yang mengarah ke lehernya dengan tangan kiri. Ia memiringkan kepala dan sedikit merendahkan tubuh untuk menangkap pedang. Itu adalah perbuatan nekat yang dianggap gila karena Sam-kong-kiam bisa memutuskan jari-jarinya meski sudah dilindungi *sinkang*. Begitu lawan membacok dan Hu Beng Kui menangkapnya, secepat kilat jago pedang ini menggerakkan tangan kanannya untuk menghantam wajah lawan yang sudah sangat dekat.

"Hei...! Crak-dess!"

Mo-ong tidak sempat berpikir banyak. Ia sudah telanjur menyerang dan tidak mungkin menarik diri. Begitu lawan menyambut pedang dengan tangan kiri sementara tangan kanan melepaskan pukulan dahsyat, jeritan ngeri terdengar dan kakek iblis itu terbanting. Sebuah potongan tangan melayang; kelima jari Hu Taihiap putus terbabat. Pendekar itu mengeluh saat darah bercucuran dari lukanya.

Hu Beng Kui tampak pucat. Saat ia terhuyung menahan sakit, Bu Ham yang terkejut melihat robohnya sang guru dan lepasnya Sam-kong-kiam segera berkelebat. Sambil membentak, ia menyambar pedang keramat itu dan membacok Hu Beng Kui. Jago pedang ini terkesiap; pergelangan tangannya sudah buntung sehingga tidak mungkin menangkis. Saat ia mengelak dan pedang nyaris mengenai pundaknya, Bu Ham yang kalap menerjang lagi. Hu Beng Kui bersusah payah berkelit.

Karena sudah terluka dan terus diburu, pendekar ini membentak sambil mengayunkan tendangan dari bawah. "Bocah siluman, susullah gurumu!"

Bu Ham terpental dan memekik, namun ia berhasil berjungkir balik dan menyerang kembali. Sekali lagi, sebuah tendangan membuat pemuda itu terlempar. Bu Ham penasaran karena belum bisa merobohkan pendekar itu meski telah memegang pedang pusaka. Hu Beng Kui betul-betul hebat. Saat lawan kembali selamat dari tusukannya, pemuda ini merogoh saku dan melemparkan granat ke arah Hu Beng Kui. Pendekar itu melompat tinggi dengan wajah pucat, tak menyangka lawan masih memiliki senjata peledak.

"Keparat!"

Ketika Hu Beng Kui melayang turun dalam kepulan asap tebal, Bu Ham menubruknya. Terjadi benturan keras di dalam asap. Bu Ham meraung dan Sam-kong-kiam terpental. Pemuda itu roboh terbanting dengan dada hancur terkena tendangan. Ternyata dalam keadaan kritis tadi, Hu Taihiap sempat menggerakkan kakinya. Bu Ham menjerit dan tewas.

Saat asap menipis, terlihat Hu Beng Kui juga roboh terkapar. Lengannya yang semula putus jarinya, kini sudah buntung hingga ke pundak! Rupanya dalam gebrakan penentuan tadi, Hu Taihiap sudah tidak sanggup menahan sakit. Darah yang mengucur belum sempat ditotok, menimbulkan luka yang amat pedih. Pertempuran beruntun melawan musuh-musuh berat telah menguras tenaganya.

Saat Bu Ham menubruk dan membacoknya tadi, Hu Beng Kui menggeram dan sengaja menggunakan lengannya yang sudah terluka untuk menangkis pedang. Ia lebih memilih mengorbankan lengan daripada kakinya saat menyambut Sam-kong-kiam. Begitu lengannya terbabat dan darah muncrat, kakinya yang menyentuh tanah langsung menendang dada lawan dengan kecepatan kilat.

Setelah lawan tewas, Hu Beng Kui terhuyung dan jatuh terduduk. Lengannya kini buntung hingga sebatas pundak, dengan potongan tangannya tergeletak mengerikan tidak jauh dari sana. Tepat saat ia menyelesaikan pertempuran, beberapa bayangan berkelebat di tempat itu.

"Ayah...!"

Swat Lian, Gwan Beng, dan Hauw Kam tiba di lokasi. Mereka sebelumnya tertinggal saat mengejar sang pendekar. Swat Lian yang sudah sadar dari pingsannya dibawa oleh suhengnya, dan kini mereka semua menyaksikan bekas-bekas pertempuran yang mengerikan itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment