Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 122

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 122

Mo-ong, Bin-kwi, dan Bu-ham telah menjadi mayat. Ayah atau guru mereka terduduk dengan pundak yang berlumuran darah. Swat Lian menjerit melihat lengan ayahnya yang buntung. Ketika gadis itu melihat potongan jari ayahnya yang tergeletak di tanah, tiba-tiba ia terpekik dan terbang menyambar ayahnya.

"Ayah...!" Swat Lian mengguguk. Ia menangis tersedu-sedu melihat keadaan ayahnya.

Hu Beng Kui tersenyum, lalu tiba-tiba tertawa. Aneh sekali. Namun, begitu pendekar ini ditubruk oleh putrinya dan Swat Lian memeluknya, pendekar itu terguling dan pingsan, roboh dalam dekapan putrinya. Swat Lian menjerit lagi karena mengira ayahnya tewas. Karena pukulan demi pukulan mengguncang batinnya, Swat Lian tak kuat lagi; ia pun roboh dan mencengkeram tubuh ayahnya yang berlumuran darah.

"Ah, sumoi pingsan!" Gwan Beng terkejut.

Beberapa bayangan berkelebat, muncullah Kim-mou-eng dan yang lain. Bahkan, Bu Ciangkun dan Cu Ciangkun juga datang. Panglima yang bertubuh tinggi besar itu terbelalak melihat bekas pertempuran yang begitu hebat. Begitu sadar dan mendekati Hu-taihiap, panglima itu sibuk menolong dan berusaha menenangkan tangis Swat Lian yang siuman kembali. Swat Lian tetap menjerit-jerit, menyangka ayahnya telah tewas.

Namun, ketika sebuah tangan lembut menyentuh pundaknya dan Kim-mou-eng mengatakan bahwa ayahnya tidak apa-apa, gadis itu mengeluh dan menubruk Pendekar Rambut Emas itu, memeluknya erat-erat sambil mengguguk.

"Kim-twako, bagaimana aku?"

"Hm, tenanglah. Ayahmu tidak apa-apa, Adik Lian. Dia hanya terluka, tapi tidak membahayakan jiwanya. Aku jamin itu. Kami semua akan menolongnya dan kau tak perlu cemas."

"Dan An-ko, mana An-ko?"

"Dia di sana..."

Begitu Kim-mou-eng menunjuk, Swat Lian menjerit kembali dan melepas pelukannya. Ia melompat dan melihat kakaknya, Beng An, yang ternyata terluka parah. Hanya berkat kekuatan fisiknya saja pemuda ini masih hidup, meski ia pun pingsan. Melihat keadaannya, mustahil pemuda itu diselamatkan. Saat Swat Lian terguncang-guncang di tubuh kakaknya sambil menangis, tiba-tiba Beng An sadar dan membuka mata.

"Oohh...!" Swat Lian mengguguk. "Bagaimana kau, An-ko? Bagaimana sampai begini? Siapa keparat yang membuatmu begini?"

Beng An tersenyum merintih. "Siauw-bin-kwi, sumoi. Mana iblis itu?"

"Dia tewas, tapi akan kupenggal kepalanya agar kau puas!" Swat Lian beringas dan hendak melakukan ancamannya.

Namun, Beng An yang merintih segera menggapai lengan adiknya. "Tidak... tidak... jangan, Lian-moi. Bagaimana ayah? Mana dia?"

"Ayah pingsan, Koko. Kim-twako menolongnya dan kedua suheng ada di sini pula." Swat Lian mengguguk. "Tapi Ayah tidak apa-apa, bukan?"

"Tidak, kecuali... buntung. Lengan kirinya buntung dan ayah cacat!"

"Ah...!" Beng An menggeliat, terkejut. "Ayah terluka, Lian-moi? Lengannya buntung?"

"Ya, sudahlah. Ayah telah ditolong yang lain, Koko. Kau jangan banyak bergerak, biar kutolong dirimu." Swat Lian menangis, merobek baju kakaknya, dan membalut luka-lukanya.

Namun, karena luka di bagian dada amat dalam, Swat Lian kembali mengguguk. Tiba-tiba kakaknya mengerang dan merintih. Muncul beberapa orang, dan ternyata Hu Beng Kui sudah dipapah oleh dua muridnya. Jago pedang itu mendekati Beng An. Ketika Swat Lian menangis dan pandangan mata Beng An mulai meredup, tiba-tiba pendekar itu berlutut dengan air mata bercucuran—setelah sebelumnya ditolong oleh Hauw Kam dan yang lain saat ia pingsan.

"An-ji, kau dapat mendengar suara ayahmu?" Beng An membuka kelopak matanya, terkejut. "Kau di mana, Yah...?"

"Aku di sini, Beng An. Lihatlah...!" Semua orang tak dapat menahan keharuan melihat jago pedang itu mencium muka anaknya dengan air mata yang mengalir deras. Hu Beng Kui mengguguk memeluk anaknya, lupa pada penderitaan lengan kirinya yang buntung. Ia menggigit bibir kuat-kuat.

Ketika Beng An tersenyum dan dapat melihat ayahnya, tiba-tiba pemuda ini tertawa. "Yah, kau menangis?"

"Ah!" Hu Beng Kui justru tersedu-sedu. "Aku menangis melihat penderitaanmu, An-ji. Aku berdosa dan telah mencelakakan putraku sendiri!"

"Tapi Ayah, seorang gagah pantang menangis. Jangan, Yah. Aku tak mau menangisi semuanya ini. Kau telah menghendaki semuanya begitu. Aku anakmu. Aku harus tunduk dan patuh pada semua perintahmu..."

"Ah, aku salah, An-ji. Sekarang aku menyesal!" Hu Beng Kui semakin mengguguk. "Aku siap menukarkan jiwaku denganmu, Beng An. Biar kutemui Dewa Maut dan kunyatakan ini!"

"Tidak..." Beng An mengeluh. "Aku sudah ditakdirkan mati, Yah... aku, augh..." Beng An menggelinjang. "Aku mau pergi, Yah... aku tak mau pergi diantar tangismu. Keluarga Hu adalah keluarga yang gagah...!"

"Ohh!" Jago pedang itu semakin tak dapat menahan diri. "Aku menyesal, Beng An... aku menyesal. Biar kutemui Dewa Maut dan kutukar nyawamu dengan nyawaku!" Jago pedang itu menggereng dan berteriak seperti orang gila agar Dewa Maut tidak mengambil jiwa anaknya. Semua orang merinding mendengar geraman dan teriakan jago pedang itu yang seperti orang tidak waras.

Swat Lian tersedu-sedu. Ketika Hu Beng Kui memekik dan memukul-mukul kepalanya, Beng An yang pandangan matanya kembali meredup merintih, "Yah, jangan iringi kepergianku dengan tangis. Diamlah!"

"Tidak!" Hu Beng Kui mengguncang anaknya. "Kau tak boleh mati, Beng An. Kau harus hidup!"

"Tapi aku tak kuat lagi, Yah. Masihkah kau menyiksaku dengan kekerasan kepalamu ini?" Hu Beng Kui tertegun, air matanya membanjir. "Tidak, jangan, Yah. Masih ada Lian-moi di sana... masih ada anakmu yang lain di sana. Dialah mutiaramu. Kuharap kalian semua diam dan jangan iringi kepergianku dengan tangis... aku tak dapat pergi..."

Hu Beng Kui menjambak rambutnya sendiri bagai orang gila. Ia melihat putranya dalam sakratul maut, hendak pergi tapi kembali lagi berulang-ulang, hingga jago pedang itu menangis dan nyaris menghantam kepalanya sendiri. Namun, ketika Beng An meminta semuanya diam, pemuda itu tiba-tiba menjadi tenang meski sedikit gemetar.

"Yah, kau tentu mau menjaga Lian-moi baik-baik, bukan?"

"Tentu, Beng An."

"Dan tidak memaksakan kehendak sendiri untuk menuruti kemauanmu?"

"Ah, aku sadar, Beng An. Aku tak akan mengulang itu pada adikmu!"

"Terima kasih. Aku percaya padamu, Yah. Sekarang aku ingin bertanya, di mana Kim-twako?"

"Aku di sini," Kim-mou-eng tiba-tiba muncul, menggenggam lengan pemuda itu dengan haru. "Ada apa, Saudara Beng An?"

"Aku... ah... aku ingin bertanya apakah kau sudah memiliki tambatan hati, Kim-twako? Maaf, kau jawab jujur saja pertanyaanku ini... aku tak lama lagi di dunia..."

Kim-mou-eng tertegun. "Hm..." suaranya berat, segera maklum apa yang dituju. "Aku, hmm... aku telah memiliki apa yang kau maksud, Beng An. Aku telah memiliki tambatan hati."

"Orangnya ada di sini atau tidak?"

"Ada di sini." Kim-mou-eng melihat berkelebatnya bayangan sang sumoi. Melihat Beng An tersenyum dan berkata "bagus", pemuda itu tertawa girang.

Ketika Kim-mou-eng dilepasnya dan Swat Lian memerah saat kebetulan bertemu pandang dengan Pendekar Rambut Emas, tiba-tiba pemuda itu mengerang dan bertanya pada ayahnya, "Yah, adakah Tiat-ciang Sian-li di sini? Mana dia? Aku ingin bertemu..."

Hu Beng Kui mengerutkan kening. Tiba-tiba keadaan menjadi begitu khusyuk; apa yang diminta pemuda ini seolah harus dipenuhi. Ketika ia kebetulan melihat Salima berdiri di sana di belakang Bu Ciangkun, tiba-tiba pendekar itu bangkit berdiri dan meminta gadis itu menemui putranya. Agak canggung juga karena sebelumnya mereka bermusuhan, berat dan kelu rasanya lidah memenuhi panggilan itu. Namun, karena Beng An mengulang pertanyaannya dan memanggil namanya, tiba-tiba Salima berkelebat dan berdiri di samping pemuda ini.

"Aku di sini!" Suara ketus dan dingin itu agak tak menyenangkan.

Beng An tampak tertegun. Sikap dan kata-kata itu memang sudah dikenalnya. Namun, begitu orang itu datang dan berdiri kaku, tiba-tiba Beng An tersenyum menyeringai dan menggapai.

"Sian-li, bagaimana harus kusebut dirimu? Memanggil julukanmu atau nona seperti dulu?"

"Aku boleh kaupanggil dengan sebutan apa saja, Beng An. Katakan apa perlumu memanggil aku."

"Ah, kau masih seperti dulu, galak dan ketus!" Beng An tertawa, tapi tiba-tiba mengaduh lagi menahan sakit dan menggigil. "Nona, tak dapatkah kau bersikap lunak kepada orang yang tak lama lagi berada di dunia ini? Aku ingin menyatakan sesuatu, mendekatlah... aku ingin meraba lenganmu..."

Salima terpaksa berlutut. Saat lengannya digenggam, ia melihat Beng An berseri-seri.

"Terima kasih, kau mengabulkan permintaan orang yang mau mati, Nona. Aku ingin menyatakan, hm... rasa kagum dan sukaku kepadamu. Kau gadis hebat, aku... hm..." Beng An menggigil. "Apakah aku harus berterus terang, Nona? Bolehkah aku berterus terang?"

Salima mengangguk, betapapun mukanya mulai merah, melirik sang suheng sambil mengejek, "Berterus teranglah!"

"Baik, aku ingin menyatakan isi hatiku, Nona. Bahwa, hm... aku... aku mencintaimu!"

Salima terkejut. Lengannya tiba-tiba dicengkeram kuat oleh Beng An, dan pemuda itu memejamkan mata. Segenap kekuatan rupanya dikerahkan pemuda ini; suaranya lantang dan nyaring. Aneh bahwa dalam keadaan sakratul maut, pemuda ini dapat memiliki suara yang jernih. Kejernihannya merasuk menyentuh setiap pendengar, tentu saja semua orang tak dapat menahan perasaan dan diguncang oleh keharuan ini. Salima pun tiba-tiba lumer, tanpa terasa ia terisak dan teringatlah segala sakit hatinya terhadap sang suheng.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment