Chapter 123
Suheng-nya berkali-kali mempermainkannya, dan semacam dendam tiba-tiba muncul di hati. Salima merasa suheng-nya tidak jujur. Ia merasa disakiti berkali-kali hingga gadis itu tiba-tiba terisak. Beng An terkejut dan heran. Ia tidak tahu mengapa gadis ini malah menangis. Ketika pemuda itu mengerutkan kening dan bertanya, ia mengendurkan cengkeramannya lalu menggeliat.
"Nona, salahkah pernyataanku tadi? Tersinggungkah kau dengan ucapanku?"
"Tidak," Salima balas mencengkeram pemuda itu sambil tersedu. "Aku... aku tak marah, Beng An. Hanya, ah...!"
Salima tidak melanjutkan kata-katanya. Perasaannya serasa diremas. Ia tiba-tiba menubruk dan memeluk Beng An, lalu menangis tersedu-sedu di dada pemuda itu. Tentu saja Beng An terkejut, sekaligus girang. Adegan ini sengaja dilakukan Salima untuk membalas sakit hatinya kepada sang suheng. Kim Mou-eng tersentak dan mengerutkan kening melihat perbuatan sumoi-nya itu.
Ketika Beng An menggigil dan bertanya apakah cintanya diterima, mendadak Salima mengangguk dan berkata lantang, "Ya, aku menerima cintamu!"
Beng An menggeliat dan merintih. "Kau tidak bohong?"
"Aku tidak bohong, Beng An. Aku menerima cintamu!"
"Sungguh?" Beng An seakan tidak percaya. "Kalau begitu, ah... coba cium aku, moi-moi (dinda)... cium aku dua kali...!"
Memenuhi permintaan itu, Salima tiba-tiba mencium Beng An dua kali di pipi kiri dan kanan dengan mesra. Entah mengapa, ia ingin berontak terhadap perlakuan tidak adil suheng-nya. Ketika ciuman itu mendarat, Beng An tertawa tergelak dan berseru, "Ayah, aku puas... oh, aku puas...!"
Namun, saat Beng An membalas memeluk dan mencium pipi Salima, pemuda itu tiba-tiba mengerang dan mengejang dua kali. Ia hendak menangkap bibir gadis itu, tetapi tiba-tiba mengaduh. Beng An tidak kuat lagi menahan luapan kebahagiaan di saat-saat terakhir hidupnya. Pemuda itu mengeluh, terguling roboh, dan menghembuskan napas terakhir. Swat Lian serta ayahnya memekik, "Beng An!"
Beng An telah tiada. Hu Beng Kui tertegun melihat putranya tewas. Pemuda itu meninggalkan dunia dengan senyum yang begitu bahagia, seolah tampak masih hidup. Namun, begitu Swat Lian menubruk dan melihat jantung kakaknya telah berhenti, gadis itu menangis menjerit hingga semua orang terharu. Rata-rata orang di sana diliputi keharuan mendalam, kecuali Kim Mou-eng yang tertegun dengan wajah memerah melihat sikap sumoi-nya.
Pendekar Rambut Emas ini terpukul. Ia merasa terguncang melihat sikap sumoi-nya yang di luar dugaan. Ketika Swat Lian menangis dan semua orang bersedih, Kim Mou-eng tiba-tiba berkelebat dan lenyap dari tempat itu tanpa menghiraukan Sam-kong-kiam maupun orang-orang lain. Ia merasa terpukul dan menjauh, sementara di tempat lain ia menangis sendirian sambil mengepalkan tinju, tidak menyadari bahwa bayangan sumoi-nya menyusul dengan sebuah ejekan di bibir yang manis itu.
Hu Beng Kui dan yang lainnya sibuk mengurusi jenazah Beng An. Ketika semuanya kembali dan Hu-ciangkun hendak mengambil Sam-kong-kiam, pedang itu cepat direbut oleh Hu Beng Kui. Pendekar itu menyatakan bahwa pedang masih menjadi miliknya karena pibu belum berakhir; Pendekar Rambut Emas belum menyelesaikan urusannya. Hu Beng Kui tahu bahwa istana menggunakan Kim Mou-eng sebagai wakil, sehingga pendekar itu harus datang dan menyelesaikan semuanya dengan tuntas.
Bu-ciangkun dan Cu-ciangkun tertegun, tetapi karena pernyataan itu benar, mereka setuju untuk mencari Kim Mou-eng seminggu lagi. Urusan di tempat itu selesai untuk sementara karena pertandingan antara Hu Beng Kui dan Kim Mou-eng harus dilanjutkan. Mo-ong dan kawan-kawannya semua tewas dalam pertempuran hebat tersebut. Setelah tujuh hari tujuh malam berkabung, Pendekar Rambut Emas duduk termenung di luar kota Ce-bu dengan muka pucat dan kurus.
"Taihiap, ah, apa ini? Ke mana saja kau pergi? Susah payah kami mencarimu, tak tahunya kau melamun di sini!" Bu-ciangkun berkelebat girang menemukan pendekar itu. Kim Mou-eng acuh tak acuh dan bersikap sinis.
Cu-ciangkun juga muncul dan berkata, "Taihiap, pertolonganmu kepada kami belum habis. Hu-taihiap tidak mau menyerahkan pedang. Kau diminta ke sana dan melanjutkan pertandingan."
"Aku malas," jawab Pendekar Rambut Emas. "Aku tidak bergairah, ciangkun. Lebih baik kalian saja ke sana atau pulang kembali ke istana."
"Ah, mana bisa, Taihiap? Ini berarti kegagalan, Sri Baginda tentu kecewa!"
"Memangnya kaisar harus selalu hidup dalam kesenangan? Dia bukan seperti kita yang dapat susah dan berduka?"
Cu-ciangkun tertegun. "Taihiap, ada apa ini? Kenapa kau marah-marah?"
"Sudahlah, aku tidak suka kalian mengganggu. Pulang dan katakan saja pada Sri Baginda bahwa tugasku gagal."
"Tapi kau belum bertanding dengan Hu-taihiap! Kau ditunggu di sana!"
"Aku mundur, aku menyatakan kalah!"
Ketiga panglima itu terkejut. "Kau mundur sebelum bertanding? Ha-ha, kau melucu, Taihiap. Aku baru saja menemui sumoi-mu, katanya kau harus datang dan menghadapi Hu-taihiap!"
Kim Mou-eng tiba-tiba bangkit berdiri. "Mana dia?"
"Siapa yang kau maksud?"
"Sumoi-ku itu, siapa lagi?"
Cu-ciangkun mengangguk-angguk sambil tersenyum. Mereka mengerti kemurungan Pendekar Rambut Emas dan merasa heran akan sikap Salima terhadap mendiang putra Hu-taihiap. Mereka tahu bahwa Kim Mou-eng dan Salima saling mencinta, sehingga tindakan Salima yang menerima cinta Beng An dianggap aneh. Setelah mendengar alasan Salima yang ingin membalas dendam karena merasa dipermainkan oleh suheng-nya, para panglima itu maklum.
Cu Hak, yang mewakili teman-temannya, berkata, "Taihiap, agaknya beberapa hari ini kau ingin menemui sumoi-mu tapi tak berhasil. Kau mau kami bantu?"
"Tentu saja!"
"Di mana sumoi-mu itu, ciangkun?"
"Kau yang meninggalkannya dulu, masa sumoi-mu sudi dilihat? Sudahlah, sumoi-mu pun sebenarnya marah padamu. Ada hal-hal pribadi yang harus kau selesaikan sendiri. Kami akan memberitahu lokasinya, asal Taihiap membantu kami dalam soal Sam-kong-kiam."
"Beritahulah, aku berjanji! Aku memang ingin menuntut pertanggungjawaban sumoi-ku itu. Aku penasaran dan terluka oleh sikapnya!"
Setelah diberi tahu, Kim Mou-eng berkelebat lenyap. Ia segera memasuki Ce-bu dan menuju sebuah kelenteng tua. Di sana, ia melihat sumoi-nya sedang berhadapan dengan seorang nikouw tua, dan sumoi-nya tampak memegang sebuah gunting.
"Tidak, tidak baik, Nona. Menjadi nikouw karena patah hati bukanlah perbuatan benar. Kalau kau masih mencintai suheng-mu itu dan semata sakit hati kepadanya karena merasa dipermainkan, sebaiknya masalah itu ditanyakan baik-baik. Jangan begini, aku tidak dapat menerima."