Chapter 124
"Tuhan tak akan mengabulkan permintaanmu itu."
"Tapi aku tak tahan, Suheng. Aku merasa ingin bunuh diri."
"Ah, tak baik, Nona. Perbuatanmu menerima cinta Hu-kongcu (Tuan Muda Hu) sudah membuatmu berdosa. Kau menipu orang yang mau mati. Kau harus menebus ini dengan jalan yang benar, bukan berpura-pura!"
"Tapi..."
"Sudahlah, kau masih mencintai Suheng-mu, bukan? Menjadi nikouw harus bebas dari semua masalah seperti ini, Nona. Kalau hatimu masih lekat kepada Suheng-mu itu, maka pinni (aku) tak dapat menerima. Kau tak berbakat menjadi nikouw!"
Salima menangis. Tiba-tiba gadis itu menubruk nikouw tua itu dan tersedu-sedu, gunting di tangannya diambil alih. Dia tak tahu kedatangan Kim-mou-eng karena seluruh pikirannya tercurah pada persoalan pribadi, juga barangkali tak mengira bahwa Suheng-nya akan menemukannya di situ. Maka, begitu percakapan ini selesai dan Kim-mou-eng tak tahan lagi, tiba-tiba Pendekar Rambut Emas itu berseru memanggil Sumoi-nya.
"Sumoi!"
Salima terkejut. Kedatangan dan seruan Suheng-nya ini membuat gadis itu terkesiap. Lengannya dipegang dan tahu-tahu ia telah berhadapan dengan Suheng-nya itu. Suheng-nya gemetar, matanya berkaca-kaca, dan tubuhnya menggigil. Namun, begitu sadar dan kaget serta marah, tiba-tiba Salima melengking dan mengebas lengannya.
"Jangan sentuh aku!"
Kim-mou-eng terhuyung. Nikouw tua yang terkejut serta mengerutkan kening itu terdorong. Lalu ia mengucap puji-pujian dan merangkapkan kedua tangannya. Salima beringas, keadaan dinilai tidak baik. Ketika Kim-mou-eng mengeluh dan Salima siap menyerang, tiba-tiba nikouw ini maju menghalangi dengan sapaan lembut.
"Kau Kim-mou-eng, Taihiap? Suheng Nona ini? Ah, pinni telah mendengar tentang kalian. Tak perlu menyerang dan tekan semua kemarahan di hati. Kalau ingin bicara, silakan bicara baik-baik. Pinni tak suka keributan. Ini rumah pinni. Biarlah pinni siapkan minuman dingin untuk kalian dan kalian bicaralah."
Nikouw itu membungkuk, memberi isyarat halus, dan segera mundur memberi kesempatan pada dua muda-mudi itu. Salima sadar dan menekan kemarahannya, bagaimanapun dia bukan di rumah sendiri. Ketika Suheng-nya menggigil dan matanya sendu, gadis ini membentak karena tidak dapat menahan kemarahannya.
"Kau mau apa? Ada apa datang ke sini?"
Kim-mou-eng memegang lengan Sumoi-nya, nekat. "Aku datang untuk menemuimu, Sumoi. Kenapa kau menyembunyikan diri dan melakukan semuanya itu?"
"Apa yang kulakukan? Apa pedulimu?"
"Ah, tentu saja aku peduli, Sumoi. Aku penasaran. Aku ingin bertanya kenapa kau menerima cinta Hu-kongcu itu dan meninggalkan aku?"
"Hm!" Salima mengibaskan lengannya kembali, matanya dingin menusuk tajam. "Itu bukan urusanmu, Suheng. Itu urusanku pribadi!"
"Tidak, urusanmu berarti urusanku juga, Sumoi. Kau mengkhianati cinta kita dan berpaling. Aku tak mengerti kenapa kau mencium pemuda itu dan berani berkata cinta!"
Kim-mou-eng panas, lepas kendali, dan dia geram memandang Sumoi-nya ini. Memang, teringat adegan itu hatinya terbakar bukan main. Coba, Sumoi-nya mencium mesra pemuda lain di depan hidungnya, bahkan mendekap dan berpelukan. Siapa yang tidak panas? Ketika Kim-mou-eng yang marah menegur Sumoi-nya, ia justru disambut ketawa aneh oleh Salima yang menjengek.
"Suheng, di antara kita barangkali apa yang kulakukan itu tidak seberapa. Lihat dirimu, tengok dirimu. Berapa kali kau melakukan adegan lebih seram dengan Cao Cun atau wanita lain? Berapa kali kau berkumpul intim dengan Hu-siocia yang cantik manis itu? Hm, jangan buru-buru menuduh aku berpaling, Suheng. Justru kaulah yang berkhianat dan tidak memedulikan aku. Kau mempermainkan aku, kau menyakiti aku. Jadi kalau aku menerima cinta pemuda lain dan menciumnya, itu adalah hakku. Kau tak usah marah!"
Kim-mou-eng menggigil. "Tapi kau menipu, Sumoi. Kau berpura-pura!"
"Apa maksudmu?" Salima terkejut.
"Hm!" Kim-mou-eng menyambar lagi lengan Sumoi-nya, mencengkeramnya erat, tak mau melepasnya. "Kau masih mencintaiku, Sumoi. Dan aku pun mencintaimu. Kalau kau menyatakan semua tuduhan itu kepadaku, maka kau keliru. Kau salah. Aku tak pernah mempermainkanmu dan sama sekali tak ada niat mempermainkanmu. Aku telah mendengar apa yang dibicarakan nikouw tadi dan cintamu terhadap Beng An adalah pura-pura. Bohong!"
Salima gemetar, terpekik, meronta dan mau melepaskan diri, tapi Suheng-nya tak mau melepaskan gadis itu. Kim-mou-eng merah padam dan berkata lagi bahwa ikatan batin di antara mereka tak mungkin putus, hubungan cinta di antara mereka tetap terpatri. Salima mengeluh. Ketika Kim-mou-eng memberi tahu bahwa percakapan Sumoi-nya dengan nikouw tadi telah didengar semua dan kenyataan bahwa gadis itu hendak mencukur rambut sebagai tanda patah hati, Kim-mou-eng menyambar dan memeluk Sumoi-nya ini, menggigil.
"Sumoi, tuduhan apalagi yang hendak kau berikan kepadaku? Perkiraan apalagi yang mengotori benakmu? Kau boleh tanya asal mula hubunganku dengan Cao Cun, Sumoi. Tanyalah Wang Taijin itu kenapa dia mula-mula hendak menjodohkan aku dengan puterinya tapi kutolak. Kenapa aku masih terikat dengan Cao Cun? Karena semata tanggung jawabku yang ingin menyelamatkan gadis itu dari kekejaman Mao-taijin. Tapi semuanya gagal, Cao Cun akhirnya menjadi istri seorang bangsa liar dan aku dituduh sana-sini, difitnah sana-sini, dan Cao Cun sendiri tidak kurang-kurangnya menyangka aku jelek. Tak kusangkal bahwa Cao Cun mencintaiku, tapi aku tak dapat menerimanya karena aku mencintaimu, Sumoi. Dan aku berkali-kali meninggalkan gadis itu semata teringat dirimu. Sekarang kau bicara yang tidak-tidak, lalu penjelasan apalagi yang harus kuterangkan?"
Pendekar Rambut Emas menceritakan semuanya, mulai dari perkenalannya dengan Cao Cun sampai berpisahnya dia dengan puteri Wang Taijin itu, saat Cao Cun diambil oleh pemimpin bangsa liar di utara sana, dan betapa Cao Cun menderita. Sesungguhnya dia tak dapat menerima puteri Wang Taijin itu karena dia mencintai Sumoi-nya. Salima terbelalak dan masih ragu, ada bayang ketidakpercayaan. Kim-mou-eng meneruskan bahwa semua hubungannya dengan Cao Cun dulu semata hubungan biasa. Cao Cun memang mencintainya dan terpaksa dia harus bersikap luwes; berkali-kali gadis itu hendak bunuh diri dan dia menyelamatkan, satu di antaranya adalah terpaksa berbohong dengan mengaku cinta pula kepada gadis itu, hampir mirip dengan apa yang dilakukan Sumoi-nya terhadap Beng An, meskipun dasar dari dua perbuatan itu berbeda. Salima melakukan itu karena dendam, sedangkan Kim-mou-eng tidak.
Ketika satu demi satu dia menceritakan segala keruwetannya dan betapa dia mencintai Sumoi-nya, Salima mengguguk namun masih menuding Swat Lian, puteri Hu Taihiap itu.
"Baiklah, tapi bagaimana sekarang dengan puteri Hu Taihiap itu, Suheng? Bukankah kau mengaku cinta di depan kakaknya?"
"Maksudmu?"
"Kau menyatakan telah mempunyai tambatan hati, Suheng. Dan yang kaumaksud tentulah puteri Hu Taihiap itu, karena gadis itu memang ada di dekatmu. Nah, apa keteranganmu untuk ini?"
"Salah, kau lagi-lagi keliru, Sumoi. Dalam pengakuanku terhadap Beng An, sama sekali tak kusebut nama gadis yang kucinta. Beng An paham kalau mengira gadis yang kumaksud adalah adiknya, karena kau pun saat itu ada di sana. Dan karena pemuda itu keburu menanyakan dirimu dan gembira mengira aku mencintai adiknya, maka aku diam saja ketika dia tidak mendesak."
"Jadi kau berbohong?"
"Aku tidak berbohong, Sumoi. Hanya aku tidak menyatakan terus terang siapa gadis yang kucinta karena pemuda itu memang tidak mendesak. Nah, sekarang kuulangi kepadamu bahwa aku tetap mencintaimu. Hubunganku dengan Hu-siocia itu biasa-biasa saja karena aku sendiri memang tidak ada hati kepadanya."
"Kalau dia yang ada hati kepadamu?"
"Aku tak mungkin menerimanya, Sumoi. Aku telah memilih dirimu dan ikatan kita pun cukup lama. Aku berani sumpah hanya kaulah yang kucintai, bukan Cao Cun atau Swat Lian. Apalagi Cao Cun telah menjadi istri orang lain dan tak mungkin aku bersikap gila dengan mencintai wanita yang telah menjadi ibu!"
"Ooh!" Kim-mou-eng terkejut.
Sumoi-nya mengeluarkan keluhan itu berbarengan dengan sebuah keluhan lain di samping mereka. Sesosok bayangan berkelebat dan Kim-mou-eng kaget. Cepat dia melepaskan Sumoi-nya dan menengok. Salima juga begitu. Begitu mereka melihat siapa bayangan itu, Kim-mou-eng tertegun berseru tertahan, "Lian-moi!"
Salima tersentak. Lagi-lagi dalam kelengahan diri sendiri yang terlampau terlibat dalam urusan pribadi, mereka sama-sama tak mendengar gerakan orang lain. Swat Lian, puteri Hu Beng Kui itu, mengintai. Apa yang dikatakan Kim-mou-eng dalam ucapannya yang terakhir tadi membuat Swat Lian terhuyung, nyaris menjerit, dan gadis ini limbung. Baru sekarang dia tahu bahwa "Kim Siucai" yang dicintainya itu adalah Pendekar Rambut Emas, pemuda yang telah memiliki pilihan hati sendiri dan orang yang dipilih itu bukan lain adalah Sumoi-nya sendiri, Tiat Ciang Sian Li Salima.
Karena Swat Lian tak tahan dan cerita demi cerita yang dibeberkan Kim-mou-eng itu membuat kesadarannya akan orang yang ia cintai mendadak hancur, gadis ini mengeluh dan berkelebat keluar. Tak dapat menahan kehancurannya dan kebetulan juga keluhannya berbarengan dengan keluhan Salima. Karena keluhan Salima adalah keluhan bahagia sementara keluhan puteri Hu Taihiap ini adalah keluhan hati yang hancur, Swat Lian tak dapat menyembunyikan tangisnya dan tersedu meninggalkan kelenteng itu. Kim-mou-eng ingin mengejar, tapi ia tertegun. Dia teringat Sumoi-nya di situ. Salima membiarkan dan seolah menguji Suheng-nya ini apakah kata-katanya benar atau tidak. Karena Kim-mou-eng tercekat hatinya dan tentu saja dia tak berani mengejar, akhirnya pendekar ini menggigil menangkap Sumoi-nya.
"Nah, kau lihat, Sumoi? Lagi-lagi seorang menjadi korban!"
Salima percaya. Sekarang dia pun tertegun seperti Suheng-nya itu, memandang kepergian Swat Lian dan terisak. Betapapun, dia dapat merasakan kehancuran hati puteri Hu Beng Kui itu dan mengangguk. Suheng-nya benar, dia tetap merupakan pilihan Suheng-nya.