Chapter 125
Ketika suheng-nya memeluk dan gadis itu menangis, tiba-tiba Salima menubruk suheng-nya dan meminta maaf.
"Suheng, maafkan aku. Kiranya aku terlampau berprasangka!" Kim-mou-eng menggigit bibir.
Dalam saat seperti itu, tak ada lagi kata-kata yang indah selain pandang mata dan sikap yang lembut. Ia cepat membelai sumoi-nya ini dan mengusap rambutnya. Ketika wajah itu diungkap dan Kim-mou-eng menundukkan muka, tiba-tiba Pendekar Rambut Emas itu mencium sumoi-nya.
"Sumoi....!"
"Suheng.....!"
Dua tubuh itu lekat menjadi satu. Bayangan Swat Lian sudah mereka lupakan dengan cepat. Kebahagiaan itu telah menjadi milik mereka dan Salima mengeluh. Lagi-lagi untuk kesekian kalinya, dia meminta maaf pada suheng-nya itu, menyambut, dan segera mencium suheng-nya dengan sedu-sedan yang tertahan di kerongkongan.
Ketika mereka lupa diri dan saling melumat serta menumpahkan kasih sayang, tiba-tiba seruan lembut menyadarkan mereka, "Kim-taihiap, minuman dingin telah tersedia untuk kalian....!"
Kim-mou-eng cepat melepaskan sumoi-nya. Bibir yang basah bekas mencium gugup dibersihkan. Kim-mou-eng merah padam dan melihat nikouw tua itu telah berada di situ. Tentu saja dia kikuk. Namun, Salima yang bahagia serta melangkah maju dengan pipi kemerah-merahan sudah menyambut nikouw ini dan memeluknya penuh haru.
"Suthai, aku telah menemukan kebahagiaanku. Kau benar, maafkan semua kesesatanku dan biarlah kuturuti semua nasihatmu demi kebaikanku juga. Aku sadar."
Menoleh memandang suheng-nya, Salima memperkenalkan, "Suheng, inilah Ui Sim Nikouw. Beberapa hari ini aku tinggal di sini dan dialah yang selalu menasihati aku."
Kim-mou-eng menjura. "Terima kasih, aku gembira kau telah menolong sumoi-ku, Suthai. Semoga Tuhan membalas budimu."
"Ah, kenapa kalian ini? Justru pinni yang merasa bahagia kalian dapat rujuk kembali. Kim-taihiap, pinni tahu bahwa sumoi-mu masih mencintaimu!"
"Ya, dan aku hampir putus asa, Suthai. Untung Cu-ciangkun yang memberitahukan kepadaku di mana sumoi-ku yang nakal ini. Kalau tidak, tentu aku tak dapat menemukannya dan barangkali dia sudah menjadi nikouw!"
"Ah....!" Ui Sim Nikouw tertawa memandang Salima lalu memberikan minuman di tangannya itu, geli, dan menyuruh mereka minum. Salima menunduk dengan muka merah, malu teringat perbuatannya itu.
Ketika mereka tertawa dan Ui Sim Nikouw memberi banyak nasihat, akhirnya nikouw ini menyudahi dengan kata-kata manis. "Sudahlah, sekarang semuanya berakhir, Kim-taihiap. Aku merasa gembira kalian dapat bersatu lagi. Hanya sebelum kalian pergi, barangkali pinni perlu mengingatkan lagi agar kalian bersikap lebih terbuka satu sama lain, tetap jujur, dan tidak gampang menuruti panasnya hati. Bukankah kalian mendambakan kebahagiaan?"
"Ya, terima kasih, Suthai. Kami akan selalu memperhatikan ini."
"Dan kapan kalian meresmikan pernikahan?"
Kim-mou-eng melirik sumoi-nya. "Terserah dia...." katanya menggoda.
"Ih, kenapa aku, Suheng? Kau laki-laki, kaulah yang menentukan!" Salima semburat.
"Sudahlah, pinni harap kalian secepatnya menikah, Taihiap. Dan pinni menyertai kalian dalam doa. Sampaikan salam pinni untuk guru kalian, manusia dewa Bu-beng Sian-su itu. Sekarang kalian akan segera kembali ke suku bangsa kalian?"
"Ya, tapi setelah ke rumah Hu-taihiap dulu, Suthai. Aku akan ke sana mengambil Sam-kong-kiam."
Kening nikouw itu tiba-tiba berkerut. "Belum selesai?"
"Belum."
"Baiklah, hati-hatilah, Taihiap. Aku tak mau bicara tentang ini dan selamat menemukan jalan kebahagiaan!" Nikouw itu merangkapkan tangan, tahu Pendekar Rambut Emas tak mungkin berlama-lama lagi di situ dengan kekasihnya. Urusan mereka telah beres.
Ketika Pendekar Rambut Emas juga menjura dan Salima memeluk nikouw ini, Salima berbisik akan mengundang nikouw itu bila saat pernikahan tiba. Disambut senyum dan anggukan nikouw ini, Salima mengusap dua titik air matanya. Perjumpaan dengan Ui Sim Nikouw memberikan kesan yang dalam, tak mungkin gadis itu melupakannya.
Begitu mereka minta diri dan kembali mengucap terima kasih, Kim-mou-eng berkelebat menyambar sumoi-nya, meninggalkan tempat itu, dipandang penuh haru dan mata berkaca-kaca oleh nikouw tua ini. Ui Sim Nikouw sendiri menitikkan dua titik air matanya yang jatuh tanpa terasa. Tapi begitu keduanya lenyap dan nikouw ini membalikkan tubuh, dia memasuki kamarnya dan berkemak-kemik membaca doa.
"Taihiap, Hu Beng Kui telah menunggumu. Ah, ini sumoi-mu telah datang. Bagus, kami gembira sekali. Mari, Taihiap, kita masuk dan temui si jago pedang itu!" Cu-ciangkun menyambut, berseru girang saat melihat Kim-mou-eng telah berhasil membawa sumoi-nya.
Dua orang muda itu tampak bahagia, Salima tersenyum-senyum. Cu-ciangkun cepat menangkap bahwa persoalan di antara suheng dan sumoi itu telah selesai, tentu saja panglima ini gembira. Ketika bersama dua temannya yang lain dia memasuki rumah Hu-taihiap dan disambut Gwan Beng dan Hauw Kam, ternyata kedatangan mereka memang telah dinanti pendekar tua itu.
"Silakan, Suhu telah menanti kalian. Harap Kim-taihiap masuk dan mari kuantar."
Kim-mou-eng dan teman-temannya diantar. Bersama dua murid tertua Hu Beng Kui yang masih ada, mereka memasuki rumah besar itu. Kim-mou-eng berdebar dan melirik sana-sini, mencari Swat Lian namun tak ketemu. Agak tenang juga dia. Ketika mereka terus ke dalam dan akhirnya disuruh menunggu di sebuah ruangan yang besar dan luas, rombongan itu duduk dan Kauw Kam serta suheng-nya melapor ke belakang. Tak lama kemudian keluar lagi dan Hu Beng Kui muncul.
Jago pedang ini muram, lengan kirinya yang buntung masih tak mengurangi kewibawaannya yang besar, matanya tajam berkilat. Ketika Kim-mou-eng berdiri dan semua orang memberi hormat, jago pedang itu bersinar-sinar memandang Kim-mou-eng. Sam-kong-kiam berada di belakang punggung dan tampak garang.
"Kalian menepati janji. Bagus, aku tak sabar menunggu kedatanganmu, Kim-mou-eng. Dan kebetulan sekali kau datang bersama sumoi-mu!"
Kim-mou-eng berdebar. "Maaf, aku diminta orang-orang ini untuk mengambil Sam-kong-kiam, Hu-taihiap. Sebenarnya alangkah baiknya apabila ini kulakukan tanpa bertempur."
"Tak mungkin, kau telah memasuki pibu. Dan aku memperoleh pedang ini juga dengan keringat. Mari, kita ke belakang, Kim-mou-eng. Aku ingin menyelesaikan urusan ini denganmu."
Hu-taihiap melompat, mengajak tamunya ke belakang. Kim-mou-eng merasa heran karena Swat Lian masih juga tak kelihatan; biasanya gadis itu menyertai ayahnya. Ia melirik sumoi-nya dan kebetulan sumoi-nya pun melirik dirinya. Agaknya sejak tadi Salima memperhatikan suheng-nya ini secara diam-diam. Jantung Kim-mou-eng berdetak dan mereka sudah ada di halaman belakang yang luas dan lega.
Ketika Hu Beng Kui tegak berdiri gagah dan menanti lawan utamanya, semua orang mundur mempersilakan Pendekar Rambut Emas maju, diam-diam dicekam ketegangan besar yang amat menggelisahkan.
"Hu-taihiap, aku datang sekadar memenuhi janjiku belaka. Maaf kalau kiranya aku bersikap kasar."
"Hm, tak ada permusuhan pribadi di antara kita, Kim-mou-eng. Tak perlu sungkan dan sebaiknya bersikap wajar saja. Beruntung dirimu bahwa putriku melarang aku mempergunakan Sam-kong-kiam. Mari mulai dan tak perlu bicara yang lalu-lalu lagi...."
"Sraat!" Hu Beng Kui mencabut pedangnya, Sam-kong-kiam itu, bukan untuk dipergunakan melainkan dilempar kepada muridnya, Gwat Beng, yang cepat menangkap dan menjatuhkan diri berlutut karena wibawa pedang begitu besar. Sinar berkilauan memancar begitu kuat dari tubuh pedang ini.
Ketika Hu Beng Kui melepas sarungnya pula dan menyuruh muridnya menyimpan pedang itu, pendekar ini meminta sebatang pedang biasa kepada muridnya. Diberi, dan Hu Beng Kui sudah memasang kuda-kuda di depan lawannya. Pendekar Rambut Emas tertegun melihat semuanya itu.
Tetap tak melihat di mana Swat Lian, tiba-tiba Kim-mou-eng tak tahan bertanya, "Maaf, mana putrimu, Hu-taihiap? Kenapa tak menyertaimu?"
"Sudah kubilang tak perlu bicara yang lain, Kim-mou-eng. Majulah dan mari kita bertempur!"
Kim-mou-eng terkejut. Sinar mata yang berkilat dan mencorong menggambarkan perasaan bermacam-macam dari jago pedang itu, membuat Pendekar Rambut Emas sulit menerka apa kiranya arti kilatan mata tersebut. Namun, karena lawan telah menghentikan pertanyaannya dan bentakan itu didengar sumoi-nya pula, akhirnya Kim-mou-eng memerah dan cepat menenangkan guncangan hatinya. Ia sedikit merasa heran dan lega kenapa pendekar itu tidak menggunakan Sam-kong-kiam. Sebenarnya dia bingung dan gelisah jika pedang yang ampuh itu dipergunakan pendekar ini, kebetulan sekarang Hu Beng Kui malah menggunakan pedang biasa.
Karena ini merupakan keringanan baginya dan betapapun jago pedang itu masih belum sembuh luka-lukanya, maka dia membalas dengan anggukan simpatik, bertangan kosong, menyuruh pendekar maju, tapi Hu Beng Kui malah marah. Jago pedang itu menyuruh dia mengeluarkan senjatanya, pit hitam yang disembunyikan di balik baju. Lawan telah melihat itu dan ini menunjukkan betapa tajamnya mata pendekar pedang itu.
Ketika Kim-mou-eng bersikeras dan ingin bertangan kosong saja, Hu-taihiap justru semakin gusar dan merasa terhina.
"Aku tak mau menyerang orang yang bertangan kosong dengan pedang di tangan, Kim-mou-eng. Kalau kau bertangan kosong, maka aku juga akan melepaskan pedang ini, tapi kau tak akan merasakan lihainya ilmu pedangku. Nah, pilih. Ingin bertanding sungguh-sungguh dan melihat siapa yang unggul, atau kau mungkin menang tanpa mau mengeluarkan ilmu pedangku karena kebetulan kau lebih lihai bertanding tanpa senjata?"
Terpaksa, Kim-mou-eng mencabut senjatanya. Dia tak mau dianggap merendahkan dan dia tahu keistimewaan lawannya ini. Hu Beng Kui memang terkenal akan ilmu pedangnya, bahkan itulah yang membuatnya dijuluki Si Pedang Maut.