Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 126

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 126

Karena lawan adalah seorang jago dan jelas menghendaki lawan bertangan kosong—yang sama saja dengan menghendaki "kemurahan" yang lebih jauh lagi—Kim-mou-eng mengangguk dan menghela napas.

Bahwa lawan tak mempergunakan sam-kong-kiam saja sudah termasuk sebuah kemurahan baginya, itu lebih dari cukup, apalagi lawan sebenarnya masih menderita dengan buntungnya lengan itu.

Maka, begitu mencabut pit-nya dan menyuruh lawan menyerang, tiba-tiba secepat kilat, tanpa gerakan pendahuluan, lawannya sudah berkelebat dan lenyap dalam satu tusukan luar biasa yang menuju tenggorokannya.

"Aku mulai!" Bentakan itu kalah cepat dengan gerakan pedang.

Hu Beng Kui sendiri sudah mencelat ke arahnya dengan tusukan lurus. Hanya tampak sinar putih dan ujung pedang pun tahu-tahu sudah berada di kulit leher.

Bukan main hebatnya.

Kim-mou-eng terkejut dan nyaris lengah. Dia memang belum tahu kelihaian lawan dalam gebrak sesungguhnya; kini mendapat serangan begitu cepat dan ujung pedang tahu-tahu sudah serambut saja di tenggorokannya.

Kecepatan dan kekuatan jago pedang itu saat melakukan jurus pertamanya sungguh maut. Kim-mou-eng terkesiap dan melempar kepalanya.

Namun, ketika lawan berteriak dan kaki maju satu langkah, tiba-tiba Hu Beng Kui telah membelokkan pedangnya. Kini, mata pedang yang tajam siap mengiris atau menggorok dari samping, tetap membayangi!

"Trang!" Kim-mou-eng berkeringat dingin.

Dia sudah menangkis dan berseru keras menggerakkan pit-nya. Dua senjata beradu dan mereka sama-sama terpental.

Apa yang terjadi tadi sungguh luar biasa, juga mengerikan.

Lehernya nyaris disembelih Hu Beng Kui!

Ketika jago pedang itu menggeram dan maju lagi dengan pedangnya yang berputar cepat serta menusuk atau membacok, jago pedang ini menghujani lawan dengan serangannya yang gencar. Kim-mou-eng mulai berlompatan, mengelak, atau menangkis. Beberapa kali bunga api berpijar; pedang maupun pit terpental. Dari adu tenaga ini, kedua pihak maklum bahwa masing-masing memiliki tenaga berimbang.

Hu Beng Kui kagum sementara Kim-mou-eng berhati-hati.

Ketika pendekar itu mulai bergerak kian cepat dan tusukan atau bacokan pedangnya mulai tak kelihatan lagi karena berubah menjadi sinar yang berkelebatan menyambar-nyambar, Kim-mou-eng dipaksa mempertahankan diri dan inisiatif serangan berada pada si jago pedang itu.

"Trang-trang!" Orang-orang silau.

Benturan senjata yang kembali beradu membuat kembang api warna-warni meletik dan muncrat menyambar wajah mereka.

Cu-ciangkun dan kawan-kawannya terpaksa mundur semakin jauh; tempat pertempuran ini agaknya kurang luas bagi dua jago yang sedang bertanding.

Ketika Hu Beng Kui kembali membentak dan berkelebat menghilang, tiba-tiba jago pedang itu sudah naik-turun mengelilingi lawan dengan pedangnya yang menukik serta beterbangan.

"Ah, hebat. Indah sekali!" Cu-ciangkun tak tahan, memuji dan menonton sambil geleng-geleng kepala.

Kim-mou-eng juga mengeluarkan seruan keras dan tubuhnya pun lenyap mengimbangi lawannya. Kini, dua orang itu bergerak dalam rupa bayangan saja; mereka mulai kabur dan Cu-ciangkun serta Bu-ciangkun tak dapat mengikuti lagi.

Hanya Salima serta Gwan Beng atau Hauw Kam yang dapat mengikuti, itu pun tak lama karena Hauw Kam segera menjadi pusing.

Gwan Beng masih bertahan, dan akhirnya dengan Salima sajalah dua orang itu dapat mengikuti jalannya pertandingan.

Bu-ciangkun dan Cu-ciangkun ternyata sudah roboh memegangi kepala. Mereka serasa melihat dua kunang-kunang berkelebatan dan menari-nari di depan mata. Angin bertiup menderu dan mereka pun tak tahan; Bu-ciangkun sudah berteriak memejamkan mata.

Kilauan pedang dan letikan bunga api sudah membuat panglima tinggi besar ini pusing, jauh lebih dahulu daripada Hauw Kam.

Ketika pertempuran terus berjalan dan tiga panglima itu tak dapat mengikuti serta mulai pekak mendengar benturan-benturan senjata, akhirnya mereka bertanya pada Salima, setengah berteriak, nyaris kalah oleh gaung pedang atau benturan senjata yang kian dahsyat itu.

"Nona, mana yang menang di antara mereka itu? Siapakah yang terdesak?"

Salima tak menjawab, hanyut dalam pertandingan yang mencekam itu.

"Heei!" Salima terkejut.

Gadis ini mendesis: "Diamlah, mereka belum ada yang kalah atau menang, Bu-ciangkun. Hu-taihiap masih menyerang, tapi suhengku bertahan!"

"Dan kau tidak pusing mengikuti jalannya pertandingan itu?"

"Ah, kau cerewet. Diamlah!" Salima yang jengkel diganggu panglima ini akhirnya melompat dan menyingkir ke kiri, melihat dari situ dan bola matanya tak pernah berkedip.

Sekarang tahulah dia bahwa Hu-taihiap ini betul-betul hebat.

Pedangnya bergerak begitu cepat hingga nyaris tak kelihatan, berkali-kali hampir mengenai suhengnya, dan suhengnya sering berseri kaget. Tak ada jalan lain kecuali menangkis, dan akibatnya benturan demi benturan membuat keduanya terdorong. Sebentar saja mereka sama-sama berkeringat dan Hu Beng Kui penasaran.

Dia kagum benar akan kelihaian lawannya ini. Pedangnya berkali-kali terpental tapi sudah menyerang lagi, menusuk dan menyambar bagai petir di angkasa.

Ketika pertempuran berjalan seratus jurus dan jago pedang ini melengking tinggi, tiba-tiba gerak pedangnya berubah dan kini mulai lambat namun bertenaga penuh, mengaung dan menderu. Kim-mou-eng tampak susah payah menyelamatkan diri.

Ada semacam tenaga dahsyat muncul di situ, menahan gerakan pit-nya dan Kim-mou-eng terperanjat.

Sekarang sambaran pedang Hu Beng Kui ini diselingi hawa dingin menyeramkan; bukan main hebatnya. Kim-mou-eng tertekan dan terdesak.

Ketika dua-tiga kali gerakan pedang menuju tempat berbahaya dan dia menangkis namun tenaga dahsyat itu menghambat perjalanan pit-nya, tiba-tiba pundak Kim-mou-eng tertusuk dan robek.

"Brett!" Gerak dan tusukan pedang ini mengejutkan semua orang.

Sekarang Cu-ciangkun dapat mengikuti jalannya pertandingan lagi, berseru tertahan karena dia pun disambar hawa dingin yang menyertai gerakan pedang Hu Beng Kui, mundur tapi masih kesampok juga, terhuyung dan nyaris terpelanting.

Panglima ini dan dua temannya ternganga melihat kejadian itu. Mereka mendengar angin yang menderu-deru itu, mundur lagi dan baru pada jarak sepuluh tombak merasa aman, terbelalak tapi sayangnya pertempuran tak dapat dilihat dalam jarak dekat.

Salima dan Gwan Beng sendiri mundur beberapa langkah menghindari deru angin dahsyat itu; pakaian mereka berkibar.

Ketika Kim-mou-eng mengeluh dan suara memberebet itu membuat Cu-ciangkun dan lainnya tertegun, tiba-tiba untuk kedua kali pangkal lengan Pendekar Rambut Emas menjadi sasaran.

"Brett!" Tiga panglima itu merasa aneh.

Mereka melihat Kim-mou-eng terhuyung; pundak dan pangkal lengannya terluka. Padahal menurut mereka, begitu perasaan mereka bicara, seharusnya Kim-mou-eng dapat menghindar dan tidak terkena pedang. Jadi, sungguh dirasa aneh kenapa gerakan pedang yang begitu lambat tak mampu dikelit, atau mungkin ditangkis.

Ketika suara "brat-bret" kembali terdengar dan empat luka menghiasi tubuh Kim-mou-eng, akhirnya panglima Bu menjadi khawatir dan berteriak, "Kim-taihiap, jangan lamban! Elak atau tangkis senjata lawanmu itu!"

"Hm!" Sebuah dengus tiba-tiba terdengar.

"Suhu mengeluarkan tenaga dalamnya, ciangkun. Mana mungkin dikelit atau ditangkis? Menggerakkan pit saja susah bagi Kim-mou-eng, apalagi menangkis. Itulah Giam-lo Kiam-sut dalam gabungan tenaga sakti; suhu mengeluarkan ilmu pedangnya yang paling tinggi untuk mengalahkan lawannya!"

Bu-ciangkun melotot. Yang bicara itu adalah Gwan Beng, murid tertua si jago pedang ini. Dia mengejek dan tampak berseri-seri melihat suhunya mendesak lawan.

Hu-taihiap memang mengeluarkan gabungan tenaga saktinya untuk mendesak Kim-mou-eng, mengeluarkan silat pedang yang dinamakan Sinkiam (Pedang Maut Hawa Sakti), dua gabungan tenaga sekaligus gerakan pedang, dahsyat dan mengerikan karena Kim-mou-eng susah menggerakkan pit-nya.

Senjatanya itu selalu tertekan dan terdorong hawa dingin yang keluar bersama gerakan pedang. Kaget dan pucat muka pendekar ini; dia dihimpit dan terus ditekan. Karena pit di tangannya seolah ditekan hawa dingin yang keluar dari badan pedang—yang tentu saja menghalangi gerakan—akhirnya Kim-mou-eng tak tahan dan berseru keras.

"Hu-taihiap, ilmu pedangmu betul-betul hebat! Tangguh sekali, awas!"

Tak mau didesak dan terus menderita, tiba-tiba Pendekar Rambut Emas melengking, menggerakkan tangan kirinya, dan apa boleh buat, pukulan Tiat-lui-kang mulai menyambar.

Sinar merah berkelebat dan bunyi ledakan hebat terjadi. Hawa dingin di pedang Hu Beng Kui bertemu hawa panas yang keluar dari pukulan Petir. Kim-mou-eng memang belum mengeluarkan ilmunya ini dan Hu Beng Kui terkejut.

Ketika benturan menggelegar mengguncangkan tempat itu dan lawan terhuyung, tiba-tiba Kim-mou-eng berkelebat, memindah pit di tangan kirinya ke tangan kanan, lalu menotok.

"Crang!" Hu Beng Kui sekarang menangkis.

Tadi dia terdorong dan terhuyung, kaget melihat lawannya lolos dari himpitan tenaga dinginnya. Tenaga panas dari pukulan Tiat-lui-kang rupanya mampu dan cocok dihadapkan dengan tenaga dingin dari Sinkiam-nya.

Ketika pedang terpental dan pit kembali berpindah ke tangan kanan, sekonyong-konyong Kim-mou-eng melejit dan berkelebatan menyerang bagian kiri dari tubuh lawannya itu—bagian kosong di mana lengan kiri Hu-taihiap buntung.

"Ah!" Hu-taihiap berseru keras, membentak dan marah melihat lawannya menyerang gencar.

Kiranya ketika didesak tadi, Kim-mou-eng tak tinggal diam; pikirannya bekerja keras mencari kelemahan lawan, hingga ketemu bahwa bagian kiri itulah yang kosong.

Hu-taihiap selalu terhuyung bila bagian ini diserang. Maklum, lengannya yang buntung itu membuat hilangnya keseimbangan, dan pit berkali-kali menyerang daerah ini. Hu-taihiap pucat karena kelemahannya diketahui; Kim-mou-eng cerdik dan mulai mengincar bagian ini.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment