Chapter 128
"Kita nantikan saja dan biar kita tunggu undangannya." Begitulah, kaisar telah menerima Sam-kong-kiam. Ia ingin menyatakan rasa terima kasihnya dengan menghadiri perkawinan Kim-mou-eng, suatu kehormatan besar yang tak mungkin orang lain terima.
Ketika hari itu tiba, kaisar bergembira dan Sam-kong-kiam disembunyikan di tempat lain, maka urusan pedang telah selesai dan Cu-ciangkun serta Bu-ciangkun pun lega. Tak ada masalah bagi mereka dan hati pun terasa ringan. Istana kelihatan riang dan penuh sukacita.
Namun, sementara di tempat ini terjadi kegembiraan, di Ce-bu, di tempat Hu Beng Kui, terjadi hal sebaliknya. Selama berminggu-minggu pendekar pedang itu kelihatan murung. Tiga bulan kemudian, Hu-taihiap tetap tak bergembira. Sehari-hari ia hanya tepekur dan termenung.
Ketika pagi itu jago pedang ini duduk di taman dan sebagaimana biasa bersunyi diri, tiba-tiba seakan tersentak, ia melihat ukiran di dinding yang ditulis Bu-beng Sian-su itu. Matanya melebar, ia bangkit berdiri dan mendekati kalimat-kalimat itu. Dengan mata tajam bersinar, tangannya tiba-tiba bergerak, menyentuh tulisan halus tersebut. Hati pun tiba-tiba tergerak. Ada semacam dorongan yang menggugah perasaannya. Hu Beng Kui mengerutkan kening dan berpikir keras.
Bayangan manusia dewa itu muncul. Teringatlah dia akan perjumpaannya semula, ketika manusia dewa itu datang, menyalaminya, diserang tapi menghilang, dipukul tapi tak ada apa-apa di sekitarnya—bukti kesaktian luar biasa yang membuat dia bergidik. Manusia dewa itu sungguh tidak lumrah sebagai manusia.
Dan ketika dia teringat ucapan kakek dewa itu bahwa dia akan kehilangan seorang anaknya jika Sam-kong-kiam tetap di tangannya, tiba-tiba pendekar ini menutupi muka dan menangis. Sedu sedan tertahan di tenggorokannya; sakit sekali rasa hati pendekar ini dan nyaris dia mengguguk. Kata-kata manusia dewa itu terbukti; bahkan, bukan anaknya saja yang hilang, melainkan sebuah lengannya pun menjadi korban. Dia buntung!
Namun, menyadari bahwa sesal kemudian tiada guna, jago pedang ini kembali tepekur dan merenung. Tiga bait syair di depan matanya itu dibacanya berulang kali. Bait pertama melulu bicara tentang Pedang Tiga Dimensi, tak ada yang aneh rupanya. Dan ketika dia membaca bait kedua dan ketiga, tiba-tiba pendekar ini berpikir keras, mengotak-atik, dan teringat bahwa manusia dewa itu pernah bilang jawaban syair ini ada di bait kedua. Ia berhenti di situ dan pikirannya bekerja cepat, mencoba menelusur namun gagal. Dia tak mengerti apa yang dimaksud.
Ketika seharian itu pendekar pedang ini mencoba membuka tabir namun tetap gagal, hari kedua dan hari-hari berikutnya mulai menyeret pendekar ini untuk menemukan jawabannya. Ajaib, renungannya terpusat di sini. Ada semacam daya tarik pada bait-bait itu. Hu Beng Kui mencoba menganalisis dan pikirannya mulai membayangkan manusia dewa itu. Tanpa terasa, dia mengadakan kontak batin.
Ketika tujuh hari berturut-turut dia merasa gagal, pucat, dan lemah, mendadak pada hari kedelapan, persis seperti dulu di pagi hari yang masih segar, Bu-beng Sian-su muncul.
"Selamat pagi, Hu-taihiap. Kau memanggilku?"
Hu Beng Kui kaget. "Ah, kau, Sian-su! Selamat pagi, silakan duduk. Benar, aku menggetarkan batinku untuk menghubungimu. Aku..." Jago pedang ini melongo, tertegun, dan menghentikan kata-katanya karena manusia dewa itu dilihatnya tak menginjak tanah; ia mengambang dan seolah melayang di atas permukaan tanah. Wajah yang berkabut itu pun tiba-tiba mengeluarkan sinar, dua sorot berkelebat, dan Hu-taihiap mengeluh, terhuyung, dan jatuh terduduk.
Ketika dia bengong dan sorot mata itu kembali lenyap, tiba-tiba kakek dewa ini tertawa dan menempel di dinding, mengusap tiga bait syair yang dulu dibuatnya itu. "Kau tak mempersalahkan muridku?"
Jago pedang ini terkesiap. Di belakang kakek dewa itu tiba-tiba muncul Kim-mou-eng, menjura dan memberi hormat padanya. Hu Beng Kui seperti melihat hantu karena Kim-mou-eng tadi tidak terlihat. Barangkali Pendekar Rambut Emas itu bersembunyi atau "disembunyikan" Bu-beng Sian-su. Dia mencelos.
Ketika dia bangkit berdiri dan terhuyung, dia mendengar Kim-mou-eng menyapa lembut. "Hu-taihiap, maafkan aku. Suhu membawa aku ke mari, katanya disuruh mendengar apa yang hendak dibicarakan. Selamat pagi."
"Ah, kalian.... Eh, di mana kau tadi, Kim-mou-eng? Kenapa baru sekarang kulihat?"
"Suhu menggulungku dalam lengan bajunya, Taihiap. Baru sekarang aku dikeluarkan agar tak mengganggu keasyikanmu membaca syair itu."
"Digulung dalam lengan baju? Seperti siluman saja! Ah, kau benar-benar luar biasa, Sian-su. Sungguh tinggi kesaktianmu ini hingga kedatanganmu tak kudengar. Pantas, kalau Kim-mou-eng saja tentu kutangkap langkahnya. Kau benar-benar hebat dan sakti. Benar, aku penasaran oleh isi syair ini dan teringat janjimu untuk menerangkan. Aku gagal dan mohon petunjuk, harap Sian-su memberi tahu!"
Hu Beng Kui terbelalak, tak habis pikir bagaimana seorang manusia bisa "digulung" dalam lengan baju dan disembunyikan—mirip kisah dongeng yang tak masuk akal. Namun, Bu-beng Sian-su sendiri yang tersenyum tak menghiraukan pujian itu, sudah bersinar-sinar memandang jago pedang ini, sambil menepuk-nepuk dinding tembok tersebut.
"Kau tak berhasil?" Pertanyaan ini lembut diajukan. Dijawab gelengan, dan Bu-beng Sian-su melepaskan tangannya. Ukiran halus di dinding itu tiba-tiba mencorong, aneh sekali, mengeluarkan cahaya. Hu Beng Kui melongo. Ajaib bin aneh, tiba-tiba bait teratas "copot", tanggal, dan kini menempel di telapak kakek dewa itu. Ketika manusia dewa ini tersenyum dan membuka telapaknya, sebait syair itu melekat dan berkeredep mengeluarkan cahaya warna-warni.
"Apa ini, Taihiap?"
"Bait pertama dari syair yang kaubuat, Sian-su."
"Bagus, kau dapat mengerti maksudnya?"
"Ya, tentang Sam-kong-kiam itu. Kukira tentang Pedang Tiga Dimensi itu."
"Hm, kau dapat menjelaskan lebih jauh?"
Hu Beng Kui bingung. "Tidak, kukira tak ada penjelasan lebih jauh, Sian-su. Syair itu kukira jelas dan cukup dimengerti bahwa Sam-kong-kiam hendak kaumaksudkan sebagai benda yang mati dan dingin!"
"Bagus, dan ini?" Kakek itu mengusap bait kedua, tiba-tiba "copot" dan tanggal melekat di telapaknya—lagi-lagi perbuatan aneh yang tidak dimengerti Hu Beng Kui. Karena bait kedua ini yang justru membingungkan, jago pedang itu menggeleng, tak mengerti. "Maaf, aku dapat membaca namun tak dapat menangkap isinya, Sian-su. Justru ini yang ingin kutanyakan kepadamu."
"Ha-ha, dan ini?" Bu-beng Sian-su menunjuk bait ketiga, kini berturut-turut menempelkannya dan menyusunnya rapi di telapak tangannya. Tiga bait itu berkeredep berwarna-warni. Hu Beng Kui menggeleng. Ketika pendekar itu menyatakan sebaiknya kakek itu menerangkannya, Bu-beng Sian-su tersenyum dan tertawa lembut.
"Baiklah, aku datang memang untuk memenuhi keingintahumu, Taihiap. Semoga pikiranmu dapat hidup seperti bait ini!" Bu-beng Sian-su mendorong bait-bait itu; tiba-tiba lepas dari telapaknya dan kembali menempel di dinding, rapi, dan tak ada yang bergeser dari kedudukannya semula.
Hu Beng Kui berdebar. Ketika manusia dewa itu menghela napas dan duduk bersila, tiba-tiba kakek ini tak menyentuhkan tubuhnya sedikit pun di atas tanah; ia duduk dalam keadaan mengambang.
"Hu-taihiap, mari kita bicarakan ini dalam dialog terbuka, lihatlah!"
Hu Beng Kui ternganga. Dia terkejut melihat manusia dewa itu duduk dengan caranya yang aneh. Ia teringat sebuah ilmu yang disebut Mengapung Tanpa Bobot, sebuah ilmu meringankan tubuh yang luar biasa. Itu baru merupakan cerita dari mulut ke mulut dan belum ada yang mampu memiliki ilmu tersebut. Mengapung Tanpa Bobot adalah semacam ilmu ginkang yang luar biasa tingginya; orang yang memiliki ilmu ini akan sama dengan udara. Tulang, otot, serta dagingnya bukan merupakan milik manusia biasa. Sepenuhnya ilmu itu memang hanya dimiliki dewa-dewi berkepandaian tinggi yang hidup di alam halus, dan konon katanya ilmu itu tak memiliki gaya berat. Bu-beng Sian-su telah menunjukkan ini dan Hu-taihiap kagum. Bukan main takjubnya dia.
Ketika Bu-beng Sian-su mengulapkan tangan dan menepuk pundaknya, tiba-tiba pendekar ini gelagapan dan sadar. "Oh, oh.... Apa.... apa, Sian-su?"
Kakek dewa itu tertawa. "Aku bilang mari pusatkan perhatianmu pada syair ini, Taihiap. Jangan melihat yang lain dan mari kita mulai!"
"Baik," jago pedang ini menelan ludah, mukanya segera menjadi merah. "Aku akan memusatkan perhatianku pada kata-katamu, Sian-su. Mulailah dan beri petunjuk kepadaku apa yang harus kulakukan."
Hu Beng Kui menenangkan guncangan jantungnya, duduk, dan sudah bersila berhadapan dengan kakek dewa itu. Betapapun, dia tak dapat tenang dan selalu takjub akan kesaktian kakek ini. Seumur hidup, baru kali itu dia melihat manusia begitu hebat; mampu mengambang, seperti roh atau makhluk halus lainnya. Ketika dia menggigil berkeringat dingin, kakek dewa itu mulai bicara dengan sungguh-sungguh.
"Taihiap, ingatan apakah yang dapat kau ingat ketika perjumpaan kita dulu?"
"Hm, yang kuingat adalah ramalanmu tentang kematian seorang anakku, Sian-su. Dan itu ternyata benar!"
"Maaf, agaknya itu melukai hatimu. Bukan, bukan itu. Yang lain lagi. Adakah sesuatu yang kauingat? Dulu pernah kukatakan bahwa inti jawaban syair ini berada pada bait kedua. Benar, bukan?"
"Ya."
"Nah, kau belum sedikit pun dapat menangkap intisarinya?"
"Kalau sudah, tentu sudah kukatakan, Sian-su. Dan aku menyesal kenapa diriku demikian bodoh!"
"Jangan menyesali diri sendiri, mari kutuntun. Dan sebaiknya kita mulai dari bait pertama. Bacalah!"
Hu-taihiap membaca. Bait pertama itu terdiri dari lima baris.