Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 129

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 129

Bubeng Siansu mengangguk-angguk dan tersenyum, mendengarkan tanpa sedikit pun menyela. Ketika pendekar itu selesai, kakek tersebut tertawa lalu berseru sambil menunjuk bait pertama itu, "Bagus, benar, Taihiap. Mari kuulangi."

Bubeng Siansu membaca bait itu dengan penuh semangat:

*Mengguncang langit menggetarkan bumi*

*Terhujam pongah sepotong besi*

*Tiada peduli kanan dan kiri*

*Itulah Pedang Tiga Dimensi*

*Kaku, dingin, dan mati*

Kakek itu berhenti sejenak lalu bertanya, "Apa yang dapat kautangkap, Taihiap?"

"Tak ada apa-apa, Siansu. Kecuali bicara tentang Pedang Tiga Dimensi itu."

"Betul, tapi tentu tidak sedangkal itu. Ada hal lain yang perlu diketahui, yaitu sebuah perbandingan."

"Sebuah perbandingan?"

"Ya. Sekarang teruskan dulu bait kedua, Taihiap. Coba baca!"

Hu Beng Kui membaca dengan lantang dan penuh semangat, terpengaruh oleh kakek itu:

*Sekarang apa artinya ini*

*Kenapa dikejar dan dicari*

*Bukankah yang amat berarti*

*Masih bukan milik sendiri!*

"Nah," Bubeng Siansu kembali bertanya setelah pendekar itu selesai, "Apa yang dapat kau tangkap? Apa kira-kira yang paling berarti pada bait kedua itu?"

"Hm, justru ini yang kubingungkan, Siansu. Aku tak mengerti apa sebenarnya yang ingin kau maksudkan."

"Ha-ha, kalau begitu mari berhenti sebentar. Kita kupas ini!" Bubeng Siansu bangkit semangatnya, lalu mengacungkan tangan tinggi-tinggi. "Taihiap, lihat. Apakah yang paling berarti dalam hidup ini? Apakah yang kaurasa paling berharga dari hidup ini?"

Hu Beng Kui bingung. "Tak tahu, Siansu, tapi barangkali kehormatan..."

"Ha-ha, adakah kehormatan itu berharga? Paling berharga?"

"Atau kepandaian?"

"Ha, kau boleh sebut satu per satu, Taihiap. Coba ulangi dan sebut apa saja kiranya yang paling berharga menurut jalan pikiranmu!"

Hu-taihiap berkeringat. Ia mulai menyebut bahwa yang paling berharga adalah kehormatan, lalu kepandaian, dan akhirnya harta benda atau apa saja yang ternyata disambut tawa kakek itu. Hu Beng Kui merasa kakek tersebut tidak membenarkan jawabannya, sehingga ia mulai bertubi-tubi menyebut benda-benda yang bersifat lahiriah: uang, kedudukan, dan kesenangan.

Ketika teringat bahwa hidup hanya berisi tiga hal itu—kekuasaan, kekayaan, dan kenikmatan—pendekar itu gemetar, mengusap peluh, dan bertanya, "Adakah yang lebih berharga dari tiga sumber pokok itu, Siansu? Bukankah Pedang Tiga Dimensi sendiri menjanjikan tiga hal itu?"

"Jadi kau tahu? Ha-ha, kalau begitu jelas alasanmu menginginkan pedang pusaka itu, Taihiap. Ternyata kau pun tak berbeda banyak dengan peminat lain yang menginginkan Sam-kong-kiam. Baiklah, aku tak akan menjawab pertanyaan ini secara langsung, nanti kau akan mengerti sendiri. Sekarang coba kita ulas dan renungkan. Kalau benar kekuasaan, kekayaan, serta kenikmatan itu adalah hal yang paling berharga, terbukti banyak manusia mengejar-ngejarnya, lalu apakah mereka mau mengalami seperti yang kau alami? Maukah mereka menukar semuanya itu seperti yang terjadi pada dirimu?"

"Maksud Siansu?"

"Jelas, kau meletakkan tiga hal ini paling atas, Hu-taihiap. Bahwa 'Kekanik' (Kekuasaan, Kekayaan, dan Kenikmatan) kauanggap hal yang paling berharga dan segala-galanya. Dan kalau ini adalah segala-galanya, lalu maukah mereka mengalami seperti yang kualami? Taruh kata kehormatan adalah sesuatu yang paling unggul, lalu maukah kehormatan ini ditukar dengan nyawa seorang anak kita? Taruh kata kekayaan adalah hal yang paling unggul lainnya, maukah ditukar dengan sebagian atau setengah tubuh kita? Atau..."

"Nanti, nanti dulu!" Hu-taihiap pucat, tergesa memotong. "Apakah jawabanku tadi salah, Siansu? Apakah semua kata-kataku tadi tidak benar?"

"Benar atau tidak, justru sedang kita selidiki, Taihiap. Aku hendak mengajakmu untuk membuka tabir rahasia ini."

"Tapi kau bicara tentang anak, tentang nyawa, dan tubuh! Apakah aku... ah!" Jago pedang ini menggigil. "Apakah aku salah, Siansu? Kenapa kau menarik-narikku dalam persoalan berdarah ini? Aku menyesal akan kematian putraku, Siansu. Jangan kau robek-robek hatiku dengan kenangan yang tak dapat kulupakan itu!"

"Bagus, berarti kesadaran mulai tumbuh di hatimu. Tapi jangan menolak pembicaraan ini, Taihiap. Apa yang kukatakan tidak semata mengorek luka lamamu, justru akan menenangkan batinmu yang beberapa waktu lalu gelap."

"Tapi..."

"Kau tak takut menghadapi kebenaran, bukan? Kalau kau takut, berarti pembicaraan kita berhenti, Taihiap. Dan aku akan pergi memutuskan percakapan ini."

"Tidak! Ah, teruskan. Aku mulai menangkap maksudmu, tapi terus terang aku ngeri!"

"Hm, melihat sesuatu sebagaimana adanya tak akan menimbulkan ngeri atau takut, Hu-taihiap, justru akan mendewasakan dan mematangkan batinmu."

"Baiklah, lanjutkan kata-katamu, Siansu. Aku mendengar..." Hu Beng Kui setengah memejamkan mata, menggigit bibir, dan tiba-tiba ia menangkap apa yang hendak dimaksudkan kakek itu. Ia mulai menerima dan mengerti getaran-getaran gaib tersebut, sesuatu yang mulai samar-samar tampak. Ia gemetar, namun berusaha menenangkan dirinya.

Ketika Bubeng Siansu tersenyum dan mengusap wajahnya lembut, kakek ini mulai menyambung, "Nah, kembali kuulang pembicaraan tadi. Kalau sebuah kehormatan umpamanya dinilai paling tinggi dan dianggap segala-galanya, maka maukah manusia yang sadar dan waras menukarkan itu dengan buah hatinya? Kalau kekayaan umpamanya dianggap segala-galanya dan perlu dikejar, maukah manusia yang sadar dan waras menukarkan itu dengan sebagian anggota tubuhnya? Lihat dirimu, Taihiap, ambil contoh yang dekat ini. Kalau seandainya Pedang Tiga Dimensi ditukar dengan nyawa putramu agar kau dapat berkumpul lagi dengannya, maukah kau? Kalau Pedang Tiga Dimensi ditukar dengan lenganmu yang buntung agar kau utuh kembali, maukah kau menerimanya? Maaf, aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu, Taihiap, tapi semata berbicara demi memperlihatkan sebuah kebenaran. Coba kau jawab pertanyaanku tadi; maukah kau menukarkan Pedang Tiga Dimensi asal putramu hidup? Maukah kau menukarkan Pedang Tiga Dimensi asal lenganmu yang buntung dapat kembali lagi?"

Hu Beng Kui mengeluh, menggigil hebat. "Mau... mau, Siansu!"

"Lalu apa artinya ini?"

"Artinya bahwa jawabanku salah, bahwa masih ada yang lebih berharga lagi ketimbang itu."

"Cocok! Tapi coba sebutkan, apakah yang lebih berharga itu? Apakah yang dapat kau mengerti ini?"

"Artinya... ah... anakku masih jauh lebih berharga dibanding Sam-kong-kiam, Siansu. Bahwa buah hatiku masih jauh lebih berharga ketimbang kehormatan atau pedang pusaka itu!"

"Ya, dan kemudian?"

"Bahwa aku tolol. Bahwa sesungguhnya lenganku yang buntung ini juga lebih berharga dibanding Sam-kong-kiam yang membawa celaka."

"Ha-ha, yang membawa celaka bukanlah Sam-kong-kiam atau benda-benda lain, Hu-taihiap, melainkan cara berpikirmu yang tidak sehat dan tak sempurna. Kalau dulu kau sudah menyadari ini dan mengikuti petunjukku, tentu kau tak perlu kehilangan seorang anak ataupun lengan. Sam-kong-kiam adalah sebuah benda mati, kau tak perlu menyalahkannya ataupun mengutuk. Yang salah adalah kau; kau mabuk kehormatan dan gengsi. Inilah!"

"Augh!" Hu Beng Kui mengerang. "Lalu kesalahan apalagi yang kubuat, Siansu? Bagaimana setelah ini?"

"Kau harus mengerti baik-baik dulu tentang ini, baru kesalahan tak akan terjadi."

"Ya, ya. Aku sekarang mengerti. Bahwa kehormatan, kekayaan, ataupun kenikmatan atau kesenangan itu bukanlah sesuatu yang paling berharga. Bahwa masih ada yang lebih berharga lagi ketimbang itu, ialah keluarga atau diri sendiri, bukankah begitu, Siansu?"

"Belum tepat benar. Kau masih belum menuju intinya."

"Lalu bagaimana?"

"Begini, sekarang mulai kausadari bahwa kehormatan atau yang lain-lainnya tadi adalah sesuatu yang bukan 'paling' berharga. Bahwa masih ada yang jauh lebih berharga lagi daripada itu. Terbukti kau mau menukarkan anakmu dengan Pedang Tiga Dimensi, padahal pedang ini adalah pedang yang dipercaya dapat memberikan 3-K kepada manusia. Dan kau pun mau menukarkan lenganmu dengan pedang keramat ini, meskipun hal itu tak mungkin lagi karena semuanya terlambat. Dan melihat semuanya ini, kenyataan ini, apa yang kaulihat dalam bait-bait itu, Taihiap? Bukankah kehormatan, kekayaan, ataupun kenikmatan yang dikejar-kejar manusia hanyalah sekadar 'baju' belaka? Bukankah semuanya itu hanyalah sesuatu yang menempel di luar? Apa yang ada di luar jelas kalah berharga dibanding dengan yang di dalam, Taihiap. Maka untuk yang di dalam inilah kita harus tahu!"

Hu Beng Kui bingung. "Kau tak mengerti, bukan? Nah, lihat ini. Dulu, sewaktu kau berambisi memiliki Sam-kong-kiam, maka kehormatanlah yang kaukejar. Sebagai seorang jago pedang, kau ingin mendapat kehormatan 'lebih'. Ditambah godaan bahwa Sam-kong-kiam dapat memberikan ini dan itu, maka kau mati-matian merebutnya. Itu bagimu, bagi seorang jago silat. Sedang bagi seorang tabib, apa yang dikata paling berharga dalam hidupnya, Taihiap? Tentu kesehatannya. Itu yang akan dikatakan tabib ini. Dan bagi seorang miskin, apa yang akan dikatakan paling berharga bagi hidupnya? Tentu kekayaan, itu jawabnya. Dan karena semua yang dianggap berharga ini adalah sesuatu yang 'di luar' dan kebetulan semuanya itu belum dimiliki, maka orang ramai-ramai memperebutkan ini, mengejar ini, hingga yang ada di dalam, yang amat hakiki, orang lupa dan lengah untuk memperhatikannya. Kau paham?"

"Belum."

"Hm, baik. Sekarang aku menuju sasaran pokok. Jangan tersinggung kalau aku banyak menuju dirimu. Sekarang perhatikan ini. Kalau seandainya dulu kau tahu bahwa putramu akan tewas kalau kau bersikeras mempertahankan Sam-kong-kiam, apakah tindakan yang akan kauambil, Taihiap? Salahkah bila kukatakan bahwa kau akan melepaskan pedang itu dan lebih mementingkan putramu?"

"Tidak."

"Bagus, lagi pertanyaan ini."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment