Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 13

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 13

Ketika golok patah dan mereka pun roboh terpelanting, Pendekar Rambut Emas sudah berseru melompat tinggi keluar dari kepungan, berjungkir balik, dan tiba-tiba sudah berada jauh di depan.

Ketika pendekar itu mengembangkan lengannya dan lari dengan lompatan-lompatan panjang, tiba-tiba pendekar itu sudah meluncur meninggalkan mereka. "Sin-to Sam-enghiong, kalian orang-orang bodoh. Kalau aku penjahatnya, tentu kalian sudah kubunuh!" Tiga laki-laki gagah ini bengong. Mereka melompat bangun, lawan sudah jauh dan lenyap di sana.

Ketika Kim-mou-eng mengeluarkan kata-katanya itu dan mereka memang tak diapa-apakan, mendadak ketiganya terkesima dan tertegun di tempat. Beng Kwan sadar lebih dulu, patahan golok di tangannya dibuang. Tapi begitu lawan menghilang di depan, tiba-tiba dia mengejar. "Kejar, tangkap dia!" Dua adiknya tersentak mengikuti.

Mereka tahu memang bukan tandingan Kim-mou-eng, meskipun begitu, toh tetap tiga kakak beradik ini mengejar. Ada kesan tak tahu diri. Tapi karena Kim-mou-eng telah lenyap dan kepandaian tiga kakak beradik itu jauh bila dibanding Pendekar Rambut Emas, maka ke manapun mereka mengejar, tetap saja bayangan lawan tak kelihatan.

Kim-mou-eng sudah jauh dari tempat itu, berlari cepat menggaruk-garuk telinga sendiri. Ada perasaan gatal di situ, bukan di telinganya melainkan di hatinya. Dia menjadi gemas oleh perbuatan pencuri Sam-kong-kiam itu.

Ketika hari itu dia melanjutkan perjalanannya dan mendongkol oleh tuduhan mencuri, maka hari kedua tiba-tiba dia dikepung lima puluh orang lebih di atas sebuah bukit. "Kim-mou-eng, serahkan Sam-kong-kiam kepada kami!" Kim-mou-eng tertegun. Dia terkejut melihat begitu banyaknya orang, bermacam-macam mereka itu.

Ada yang tinggi besar dan ada yang kurus ceking. Semuanya membawa senjata, sebagian besar tak dikenal. Tapi mudah diduga mereka adalah orang-orang kang ouw. Ketika Kim-mou-eng menjublak dengan kening berkerut-kerut, maka pembentak yang berewokan itu melompat maju berseru kembali, "Kim-mou-eng, serahkan Sam-kong-kiam kepada kami!" Kim-mou-eng tiba-tiba teringat.

Dia sekarang tahu siapa gerangan si brewok ini, bukan lain Si Kapak Hitam, seorang bajak sungai yang dulu pernah dirobohkannya ketika bajak itu mengganggu seorang hartawan, kini dapat mengetahui pula rombongan apa yang ada di belakang Si Kapak Hitam ini, orang-orang hek-to (golongan sesat).

Kim-mou-eng tiba-tiba tersenyum dan tawar memandang lawannya itu. Ketika Si Kapak Hitam mengacungkan senjatanya dan tertegun melihat senyum Pendekar Rambut Emas, maka Pendekar Rambut Emas berkata kepadanya, "Kapak Hitam, sudah lama kita tidak bertemu. Sekarang bertemu, datang-datang kau meminta Sam-kong-kiam. Apa kalian mau merampok?" Aku tak membawa pedang. Barang yang kau sebut-sebut itu justeru aku sendiri belum pernah melihatnya."

"Bohong!" bentakan nyaring di belakang Si Kapak Hitam melengking mengejutkan. "Kau tak perlu banyak bicara lagi. Kapak Hitam, ayunkan senjatamu dan kita bunuh si Rambut Emas ini!" "Benar!" yang lain tiba-tiba berteriak. "Serang dia, Kapak Hitam. Ayunkan senjatamu dan bunuh si Tar-tar ini!" Kapak Hitam terkejut. Kawan-kawan di belakangnya menyuruh dia menyerang, padahal mereka sendiri berkaok-kaok tak ada yang maju.

Orang-orang sesat itu menunggu yang lain untuk menyerang di belakang, betapapun mereka mengetahui benar kelihaian Kim-mou-eng ini. Kim-mou-eng tersenyum lebar. Kapak Hitam ragu, terang tak berani menyerang pendekar itu. Ketika kawan-kawan di belakang mendorong-dorong Si Kapak Hitam ini dan mereka mulai memaki laki-laki itu pengecut, mendadak Kapak Hitam membalik menghadapi pemakinya itu.

"Seng Cui, coba kau dulu yang maju ke sana. Ingin kulihat apakah kau berani atau tidak. Jangan cuap cuap saja!" "Kenapa tidak berani?" Aku bukan pengecut macam dirimu, lihat!" dan Seng Cui yang marah ditantang begitu dan belum mengenal sendiri kepandaian Kim-mou-eng tiba-tiba dengan galak dan sombong melompat ke depan, senjatanya sebatang golok pipih yang luar biasa tajam, tajamnya melebihi silet!

Ketika dia membentak dan teman-temannya menyoraki, tiba-tiba Seng Cui sudah menubruk dan menyabet kepala lawan. "Ciitt.....!" suara golok seperti tikus mencicit, tipis namun tajam didahului angin dinginnya yang meluncur ke depan. Agaknya angin suaranya saja cukup menabas buntung leher seseorang. Kim-mou-eng tenang tidak mengelak, tubuh pun tidak bergerak kecuali lengan kiri diangkat, menangkis pukulan itu.

Orang-orang lain terbelalak melihat kelihaian Pendekar Rambut Emas. Tapi begitu Seng Cui meringis kesakitan dan melompat bangun sambil mendesis-desis, mendadak semuanya tertawa melepas ejekan. "Seng Cui, golokmu terlalu rapuh. Agaknya terbuat dari plastik hingga tidak mempan membacok orang!" "Ha ha, barangkali dia kelelahan, Lam-twa ko. Semalam dari rumah bunga menikmati pacarnya!" "Benar, barangkali dia kelelahan. Atau memang tidak becus, ha ha....!" dan ejekan sana sini yang membuat laki-laki itu merah padam akhirnya dihentikan seseorang yang berkumis melintang dengan bentakannya yang parau, "Kawan-kawan, tak ada guna mengejek teman sendiri. Pendekar Rambut Emas ini tak boleh dihadapi satu lawan satu, kita semua harus maju bersama!"

Orang-orang terkejut. Mereka seketika sadar, berkurangnya seorang dari mereka memang berarti berkurangnya tenaga, seberapa lemah pun tenaga itu. Maka begitu si kumis melintang ini berseru dan ejekan terhadap Seng Cui hilang dengan sendirinya, maka laki-laki itu sudah menggerakkan kedua lengannya, lengan yang hitam dan kokoh, maka berkerotok terdengar dari situ. "Bagaimana, kawan-kawan? Kalian siap?" "Kami siap!" "Kalau begitu mari maju, serang dan bunuh Kim-mou-eng ini!" dan si lengan hitam yang sudah berputar dan menubruk dari belakang tiba-tiba diikuti semua temannya yang bersorak menggegap gempita.

Kim-mou-eng seolah seekor harimau di antara kerumunan srigala-srigala buas. Senjata dan pukulan pun terayun. Si Kapak Hitam sendiri sudah menggerakkan kapaknya itu dengan ayunan keras, juga dan belakang, tak berani berdepan karena gentar menghadapi pendekar itu. Ketika yang lain berteriak dan Kim-mou-eng diserang dari segala penjuru, maka Pendekar Rambut Emas sudah dihujani bermacam pukulan dan senjata yang meluncur bagaikan hujan deras.

Pendekar ini terbelalak. Orang-orang itu seperti iblis-iblis haus darah saja, tentu saja dia tak mau menjadi korban. Maka begitu lawan menerjang dan si lengan hitam serta si Kapak Hitam juga menyerangnya dari belakang, mendadak pendekar ini berseru keras menjejakkan kakinya, mumbul, dan mencelat ke atas tinggi sekali. Lawan-lawannya terkejut karena sasaran di tengah hilang, Kim-mou-eng mendadak lenyap.

Ketika mereka berseru kaget karena senjata dan pukulan beradu sesama teman sendiri, mendadak Kim-mou-eng meluncur turun menyapukan kakinya. "Kalian tikus-tikus busuk!" "Des des dess!" Orang-orang itu berteriak. Mereka kaget mendapat sapuan keras dan atas ke bawah, semuanya menjerit dan separuh dari pengeroyok terlempar bergulingan.

Tentu saja mereka terkesiap. Ketika yang separuh lagi terbelalak dan melotot dengan mata tak percaya, sekonyong-konyong pendekar ini telah berkelebatan dan menyapu mereka pula dengan dorongan lengannya yang mengeluarkan angin dahsyat, mereka terjungkal dan berteriak menyusul teman-temannya yang terdahulu, tubuh-tubuh berpelantingan, dan kepungan itu pun hancur total.

Tak ada yang sanggup menahan. Ketika mereka menjerit tunggang-langgang oleh balasan Pendekar Rambut Emas, sekonyong-konyong pendekar itu telah lolos dan turun bukit meluncur jauh di sana. "Heii.....!" "Aaah...!" Orang-orang terkesima. Gebrakan cepat yang berlangsung tak lebih sepuluh detik itu membuat mereka bengong, kaget, dan gentar, tapi juga kagum kepada pendekar sakti itu.

Kim-mou-eng betul-betul hebat. Tapi begitu mereka sadar dan bayangan badan Kim-mou-eng di pelupuk mata, mendadak si lengan hitam yang menemani Kapak Hitam dan tadi terjungkal oleh tendangan Kim-mou-eng berteriak. Dia pun sudah mendahului orang-orang ini, rupanya penasaran dan marah oleh gebrakan yang cepat itu.

Sekarang mengejar dan mengajak teman-temannya menuruni buku, yang lain mengangguk dan timbul keberanian karena mereka ternyata tak apa-apa. Sama sekali tak ada luka atau cidera, mereka menganggap Kim-mou-eng kurang kuat merobohkan mereka, padahal sebenarnya Pendekar Rambut Emas itu memang tak suka menurunkan tangan besi, lain dengan sumoi-nya yang tentu sekali pukul akan membunuh atau melukai lawan, pendekar ini memang amat lemah hati.

Ketika si lengan hitam itu sudah mengejar dan lain-lainnya berteriak-teriak menuruni bukit pula, maka bagai seekor tawon dikejar puluhan kumbang, pendekar ini sudah disusul dan diteriaki dari belakang. Kim-mou-eng gemas. Sebenarnya kalau dia mau, orang-orang itu dapat dibunuhnya dengan pukulan sinkangnya yang ampuh.

Dia tak mau melakukan itu karena dia memang bukan tipe pembunuh. Pendekar ini terlampau welas asih untuk menurunkan tangan maut. Maka melihat lawannya mengejar tak tahu diri dan teriakan mereka itu membuat dia mendongkol, tiba-tiba pendekar ini mengerahkan ginkang dan terbang dengan luar biasa cepat.

Sebentar saja dia sudah merupakan titik kecil di kejauhan sana. Lawan-lawannya sudah tertinggal. Ketika lawan melongo berseru "ah-eh", maka pendekar ini telah lenyap tak nampak bayangannya lagi. Orang-orang itu bingung. Mereka tak tahu kemana harus mengejar. Pendekar Rambut Emas tak diketahui ke barat atau ke timur.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment