Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 130

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 130

"Kalau seandainya kau tahu pula bahwa lenganmu akan buntung, salahkah bila kukatakan bahwa kau akan melepas pedang itu dan lebih menghargai lenganmu sendiri?"

"Tidak."

"Cocok, pembicaraan mulai lancar. Sekarang kau menangkap bahwa Sam-kong-kiam, betapapun hebat dan berharganya, tetap tak lebih berharga daripada lenganmu sendiri atau puteramu, darah dagingmu itu. Karena kau telah mengakui ini, maka kau tentu sepakat jika kukatakan bahwa benda-benda di luar diri masih kalah berharga dibanding dengan yang ada di dalam. Seperti Pedang Tiga Dimensi dengan lenganmu atau anggota tubuhmu yang lain."

"Dan karena kau telah melihat ini, tentunya sekarang kau mengerti bahwa dibanding dengan apa pun, diri sendiri atau tubuh sendiri tetap lebih berharga. Begitu, bukan?"

"Ya."

"Nah, apa kelanjutannya? Kenapa orang masih mengejar-ngejar itu?"

"Karena mereka tak tahu, Sian-su. Karena mereka mabuk dan ingin memiliki itu."

"Cocok, tepat sekali. Itulah sumber kecelakaan manusia: nafsu memiliki! Ha ha, kau mulai menyentuh, Hu-taihiap. Sekarang pembicaraan akan beres dan semakin lancar!"

Hu Beng Kui tertegun. Kakek dewa itu tiba-tiba tertawa bergelak dengan suara nyaring, mengejutkan namun lembut. Dia tadi sebetulnya kebetulan saja menyebut itu—rasa kepemilikan, rasa yang membuat manusia mabuk untuk memiliki sesuatu. Hal yang rasanya manusiawi dan lumrah. Hu Beng Kui tercekat, heran mengapa Bu-beng Sian-su tiba-tiba tertawa begitu gembira.

Ketika kakek itu menghentikan tawanya dan berseri-seri memandangnya, kakek ini mengangkat lengan.

"Nah, sekarang pembicaraan semakin jelas, Hu-taihiap. Bahwa sumber dari semua kejadian ini adalah karena hak milik, hak ingin memiliki, dan rasa kepemilikan itu. Dan karena semua peristiwa yang menimpamu bersumber pada rasa ingin memiliki ini, maka enak tidak enaknya telah kaurasakan, termasuk peristiwa pahit dari rasa yang tidak benar itu!"

"Tidak benar?" Hu Beng Kui penasaran. "Apakah tidak benar rasa kepemilikan itu, Sian-su? Apakah salah kalau setiap manusia dihinggapi perasaan ingin memiliki sesuatu?"

"Hm, dalam batas-batas tertentu rasa itu tidak salah, Taihiap. Tapi begitu perasaan itu melejit dan melangkah terlalu jauh, maka rasa ingin memiliki itu salah!"

"Sian-su dapat membuktikannya?"

"Tentu, lihat ini. Dengarkan!" Kakek itu membetulkan letak duduknya, masih berseri-seri dan bersinar-sinar memandang lawan bicaranya. Hu-taihiap berdebar dan ingin tahu; pembicaraan ini telah menyeretnya dalam satu daya tarik yang besar.

Ketika Bu-beng Sian-su tertawa dan menggosok-gosok telapak tangannya, ia segera menuding, "Hu-taihiap, pengertian apa yang sekarang kautangkap dalam pembicaraan sampai di sini?"

"Bahwa diriku lebih berharga daripada Sam-kong-kiam?"

"Bagus. Jadi kau tak mau ditukar pedang itu bila kau harus kehilangan sebuah kaki atau lengan, umpamanya?"

"Tidak."

"Kenapa?"

"Karena diriku lebih berharga dibanding pedang itu, betapapun hebatnya Sam-kong-kiam!"

"Meskipun dengan janji pedang itu dapat memberimu kekuasaan, kekayaan, dan kesenangan?"

"Ya, aku tak mau, Sian-su. Karena ternyata apa yang diberikan itu hanya merupakan 'baju' belaka, sesuatu yang bersifat lahiriah!"

"Mengagumkan, kau benar-benar sehat dan waras. Dan sekarang, bagaimana pengertianmu tentang diri sendiri? Bagaimana kau memperhatikan dirimu itu?"

"Aku akan menjaganya lebih dari apa pun, karena itulah milikku yang paling berharga!"

"Ha-ha, cocok, tapi salah! Kau boleh menjaganya lebih dari apa pun, Hu-taihiap. Tapi sesungguhnya kau tak memiliki 'hak milik' atas dirimu itu!"

"Eh!" Hu Beng Kui melengak. "Apa kata-katamu ini, Sian-su? Bagaimana ini?"

"Dengar," kakek dewa itu berseri-seri. "Kau mulai benar tapi juga salah, Taihiap. Untuk itu perhatikan baik-baik. Sekarang kau mulai mengerti bahwa yang paling berharga dan paling penting adalah diri kita sendiri, tubuh kita sendiri. Lihat kata-kata itu, sesuatu yang amat berarti. Itulah yang kumaksud. Bahwa di antara semua yang di luar, sesungguhnya yang kita miliki ialah yang amat berharga. Sam-kong-kiam dan benda-benda lain boleh berharga, boleh penting. Tapi apa gunanya kalau kita harus kehilangan sebagian atau bahkan seluruh tubuh kita? Apa gunanya memiliki pedang kalau lengan atau kaki harus buntung?"

"Nah, ini menunjukkan diri kita lebih penting dari segala-galanya, Taihiap. Karena biar pun segala kemewahan atau pun kesenangan mengelilingi kita, namun tak ada gunanya kalau kita harus kehilangan anggota tubuh. Karena kita menyadari bahwa diri kita adalah sesuatu yang paling berharga, maka kita akan menjaganya dan merawatnya sebaik mungkin, luar dalam, lahir batin. Kau setuju, bukan?"

"Ya."

"Nah, sampai di sini kau harus berhati-hati. Coba kuulang pertanyaan tadi, kenapa kau menjaga dirimu lebih dari apa pun?"

"Karena inilah milikku, Sian-su. Milik satu-satunya dan amat penting."

"Bagus, tapi kuberitahukan padamu, Taihiap, bahwa sesungguhnya kau TAK MEMILIKI apa pun atas dirimu itu. Bahwa hak milik dalam hubungannya dengan pembicaraan ini sama sekali tak kau punyai. Bahwa manusia tak memiliki apa-apa atas hidupnya. Bahwa kau dan orang-orang lainnya sama sekali tak memiliki 'hak milik' atas dirinya, apalagi terhadap yang lain!"

Hu Beng Kui terkejut. "Bagaimana itu, Sian-su?"

"Tidakkah kau lihat jelas? Hmm, coba sebutkan padaku apa yang penting dalam dirimu, Taihiap. Coba kutuntun lebih jauh lagi."

"Aku merasa penting atas diriku, tubuhku."

"Hanya itu saja?"

"Ya, adakah yang lainnya lagi?"

"Baik, kutanya kau, tanpa nyawa bisakah kau hidup?"

"Ah!" Hu Beng Kui terkejut, sadar. "Tentu saja tidak, Sian-su. Jadi inikah yang kaumaksud?"

"Jangan bertanya, kau hanya menjawab. Ulangi sekarang jawabanmu itu. Apakah yang kau rasa penting dan amat penting dalam dirimu itu?"

"Kehidupanku, rohku, nyawaku!"

"Kenapa begitu?"

"Karena tanpa itu wadahku adalah mayat!"

"Bagus, jadi bagaimana?"

"Bahwa kehidupanku, rohku, nyawaku adalah sesuatu yang paling penting dan paling berharga. Karena tanpa itu, aku bukanlah manusia hidup!"

"Benar. Sekarang, dapatkah kau katakan bahwa kehidupanmu itu, rohmu, nyawamu, adalah milikmu?"

"Tentu saja! Ini milikku, Sian-su. Dia menempel dan melekat di tubuhku!"

"Kalau begitu, dapatkah kau katakan kepada Malaikat Maut jika kelak dia menghampirimu bahwa milikmu itu tak boleh diganggu gugat?"

Hu Beng Kui tertegun, terkesiap.

"Ayo, kenapa diam, Taihiap? Bisakah kau katakan kepada Malaikat Maut bahwa dia tak boleh mengambil nyawamu? Bahwa itu milikmu dan seharusnya kau hidup abadi? Ayo jawab, Hu-taihiap. Ini persoalan penting yang akan kita kupas bersama!"

Hu Beng Kui tiba-tiba menggigil hebat. "Tidak... tidak, Sian-su. Tapi... tapi... ah, aku bingung..."

"Biarkan kebingungan ini, nanti kau akan mengerti sendiri. Sekarang kau tahu, meskipun belum mengerti, bahwa milikmu yang paling berharga itu—kehidupanmu, nyawamu—bukanlah milik dalam arti yang sesungguhnya. Kau tak dapat berkata apabila ajal menjemput tiba, 'Hei, Malaikat Maut, ini milikku. Jangan ambil, pergilah!' Dan karena kau tak dapat berkata begitu, maka jelaslah bahwa sesungguhnya terhadap milikmu yang satu itu kau tak menguasai dan memilikinya. Bahwa kita sesungguhnya memang tak memiliki apa-apa karena pemilik aslinya, yang tunggal, semata-mata adalah Sang Pencipta. Itulah yang hendak kumaksud. Paham?"

Hu Beng Kui bengong, tertegun.

"Kau mengerti, bukan?"

"Ya." Hu Beng Kui masih setengah mengerti, menggigil. "Kalau begitu kita ini tak memiliki hak milik, Sian-su? Jadi kita ini manusia kosong yang tidak memiliki hak atas sesuatu?"

"Tidak, kita memiliki hak, tapi bukan hak milik. Dan karena kita sudah akan melanjutkan ke sana, tentu saja aku akan menerangkan bahwa kita, manusia, tak perlu berkecil hati. Semua kataku tadi bukanlah hendak mengecilkan keberadaan kita. Karena meskipun kita tidak mempunyai hak milik atas diri kita sendiri, namun kita memiliki hak lain yang tak kalah agungnya!"

"Hak apakah itu?"

"Mestikah kujawab cepat? Tidak, coba kau dulu, Taihiap. Barangkali kau dapat menangkap dan mengerti ini."

"Aku bingung, kepalaku pening. Lebih baik kau saja yang bicara dan biar kudengar!"

"Baiklah, dengarkan ini, Hu-taihiap. Bahwa meskipun kita tidak memiliki 'hak milik' atas diri dan kehidupan kita, sesungguhnya kita mendapat penukar hak lain yang patut disyukuri. Dan hak itu adalah HAK MANFAAT. Ya, inilah yang patut disyukuri manusia. Karena biarpun kita tak memiliki hak milik atas hidup atau kehidupan kita, maka hak manfaat ini sesungguhnya merupakan karunia besar yang amat agung dan sepatutnya diterima dengan penuh kebahagiaan murni. Karena meskipun kita tak memiliki hak milik, namun hak manfaat itu akan membuat kita seolah memiliki hak milik; serupa tapi tak sama, tampaknya mirip tapi dasar keduanya berbeda. Kau mengerti?"

"Ooh...!" Hu Beng Kui mengangguk-angguk, mulai mengerti. "Ya, ya, aku mulai paham, Sian-su. Tapi coba teruskan wejanganmu ini. Kurasa masih ada sesuatu yang penting yang harus kuketahui."

"Tentu, dan yang penting itu adalah kesadaran akan ini, Taihiap: bahwa kalau terhadap diri sendiri kita tak mempunyai 'hak milik', lalu bagaimana kita akan serakah dan memiliki yang lain-lain yang ada di luar kita? Jangankan yang di luar, yang di dalam saja, yang melekat sehari-hari, masih bukan milik kita. Apalagi Sam-kong-kiam ataupun kedudukan dan kekayaan, bukankah kita ini hanya memiliki hak manfaat? Nah, sadar akan ini berarti mengerem loba dan tamak kita, Taihiap."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment