Chapter 131
Karena sekali kita terperangkap dan masuk dalam kubangan itu, kita pun menjadi bulan-bulanan pikiran keliru dan tak ada kebahagiaan dalam diri sendiri.
"Sederhana, bukan? Kau dapat mengerti?"
"Ah-ah....!" Hu Beng Kui kagum, berseri-seri. "Aku mengerti, Sian-su. Sekarang aku benar-benar mengerti!"
"Apa yang kau mengerti?"
"Bahwa kita, manusia, tak memiliki hak milik. Yang kita miliki adalah hak manfaat, itu saja."
"Dan mengertikah kau bahwa kepemilikan adalah sesuatu yang semu? Bahwa kepemilikan itu mengikat kita dan memperbodoh kita?"
Hu Beng Kui melengak.
"Lihat, kalau kau tak diperbodoh rasa kepemilikan itu, tentu putramu masih hidup, Hu taihiap. Dan kalau kau tak diperbodoh rasa kepemilikan itu, tentu hidupmu akan tenang-tenang saja di Ce-bu. Kau masih seorang laki-laki gagah, utuh, tidak cacat."
"Ya, aku sadar. Aku salah...!" Hu Beng Kui menunduk, merah mukanya. "Aku sekarang mengerti akan semua kata-katamu, Sian-su. Bahwa sesungguhnya terhadap diri sendiri pun kita sebenarnya tak mempunyai hak milik itu, apalagi terhadap benda-benda atau manusia. Bahwa kepemilikan itu bersifat semu. Bahwa, hm.... anak atau istri pun sebenarnya juga bukan milik kita. Mereka itu milik Sang Pencipta. Aku sadar, aku mengerti!"
"Dan kau dapat membaca tiga bait syair itu dengan lebih baik?"
"Kukira dapat, Sian-su. Sekarang aku benar-benar paham. Kepemilikan memang harus diletakkan dalam proporsinya yang wajar, tidak melambung dan keluar dari relnya. Dan karena aku sudah mengerti, tentunya sepak terjang atau tindak tandukku nanti tak akan keliru dari garisnya ini."
"Cobalah, kuharap begitu," Bu Beng Sian-su bangkit berdiri. "Kau tak ada pertanyaan lagi, bukan?"
"Ah, Sian-su mau ke mana?" Hu Beng Kui terkejut. "Bukankah kau sendiri belum menjelaskan bait ketiga? Tidak, nanti dulu, Sian-su. Aku ingin mendengar suaramu lagi dan jangan buru-buru pergi!"
"Ha-ha, semuanya sudah gamblang, taihiap. Untuk apa ditanya? Baiklah, kuulang pendek. Bait pertama itu sesungguhnya tak ada apa-apa yang istimewa. Kalimat itu hanya hendak menunjukkan bahwa Sam-kong-kiam adalah sebuah benda mati yang dingin dan kaku, tak ada ulasan lebih jauh. Benda itu meskipun hebat tetaplah benda mati, kalah berharga dengan kita ini, yang masih hidup. Dan bait kedua, hmm, bukankah sudah kuberitahu? Yang amat berarti itu adalah hidup kita ini, dirimu, hidupmu, nyawamu. Dan karena sudah jelas kutulis di situ bahwa hidup ini bukanlah 'milik' kita, maka meskipun yang paling berarti itu ada di dalam kita, kita tak mempunyai hak milik. Kita hanya mempunyai hak manfaat, itu saja. Sedangkan bait ketiga, ah..... bukankah jelas sekali, taihiap? Itu pun juga tak ada rahasianya. Semuanya gamblang kusebut. Kepemilikan adalah sesuatu yang semu, tak langgeng. Dan orang yang terikat kepemilikan ini berarti telah diperbodoh oleh jalan pikirannya sendiri, pengertiannya sendiri. Dan semakin dia terkungkung dan tersesat menumpuk dosa, maka celakalah bagiannya. Tak ada apa-apa, semua orang bisa membuktikan ini. Kau mengerti, bukan?"
"Ya."
"Nah, selesailah sudah. Kau sudah jelas dan cukup mengerti. Ingat bahwa kita tak mempunyai hak milik. Kita hanya memiliki hak manfaat. Sedang hak milik yang terjadi antarmanusia adalah hak yang timbul dalam hubungan sosial dan kemasyarakatan. Tentunya kau mengerti ini dan tak perlu kuterangkan. Begitu, bukan?"
Hu Beng Kui mengangguk. Bu Beng Sian-su tiba-tiba mundur sambil tersenyum dan menjauh. Bagai kapas tertiup angin, mendadak kakek dewa itu terdorong. Dan ketika ia mengebutkan lengannya dan tertawa, mendadak kakek itu lenyap. Hilang begitu saja!
"Sian-su....!"
Tak ada jawaban. Hu Beng Kui mengejar, tapi Kim-mou-eng tiba-tiba berkelebat. Tertegunlah pendekar ini. Dan ketika Hu Beng Kui terhenyak dan teringat sesuatu, mendadak pendekar ini bertanya, "Kim-mou-eng! Ke mana gurumu? Dan bagaimana sebenarnya dengan orang yang kubunuh itu?"
"Hm, suhu ke mana aku sendiri juga tak tahu, taihiap. Tapi kalau tentang orang yang kau bunuh itu, aku tahu. Dia adalah Bu-hiong, nama sebenarnya Yu Bing, anak angkat atau murid dari mendiang pamanku yang sesat, Cheng-bin Yu-lo."
"Cheng-bin Yu-lo? Tokoh yang tewas dan seorang dari Jit-mo Kang-ouw (Tujuh Iblis Dunia)?"
"Ya, dialah muridnya, Hu taihiap. Dan Bu-hiong atau Yu Bing inilah yang mencemarkan namaku. Kau telah membunuhnya, mengira itulah diriku. Maaf, tak ada lain-lain lagi yang perlu kita bicarakan. Izinkan aku pergi!"
Kim-mou-eng menjura, melihat berkelebatnya bayangan Swat Lian dan tentu saja dia tak enak. Dia harus segera pergi. Dan begitu Hu Beng Kui tertegun dan terbelalak memandangnya, tiba-tiba Pendekar Rambut Emas memutar tubuhnya dan berkelebat lenyap.
"Kim-mou-eng...!"
Kim-mou-eng tak menjawab. Dia hanya melambaikan tangan dan tubuhnya pun telah menghilang di luar tembok. Hu Beng Kui melesat dan mengejar. Dan ketika jago pedang itu melihat bayangan Kim-mou-eng di luar sana, tiba-tiba pendekar ini berseru, "Kim-mou-eng, tiga tahun lagi kita bertemu. Aku ingin mengalahkanmu, membalas penasaranku...."
"Baik, kuterima, taihiap. Dan maaf atas semua perbuatanku yang mengecewakan hatimu!"
Kim-mou-eng lenyap, Hu taihiap tak mengejar lagi dan Swat Lian muncul. Puterinya ini heran kenapa ayahnya di belakang saja, tak tahu bahwa ayahnya baru kedatangan tamu. Tapi ketika ia mendengar seruan ayahnya dan tertegun melihat bayangan Pendekar Rambut Emas, tiba-tiba gadis itu terisak dan menggigit bibir.
"Ada apa dia kemari, Yah? Mau apa?"
"Hm, dia mengantar Bu Beng Sian-su, Lian-ji. Kakek dewa itu baru saja membuka kesadaranku!"
"Ah, Bu-beng Sian-su?"
"Ya."
"Apa yang dikatakannya?"
"Banyak, mari kuperlihatkan."
Hu Beng Kui memasuki rumahnya lagi dan menunjuk bait-bait di tembok, lalu ganti menerangkan pada putrinya apa yang diwejangkan kakek dewa tadi. Bahwa kepemilikan sering menyeleweng dari porsinya yang benar. Bahwa kepemilikan membuat orang mabuk dan tenggelam dalam nafsu pribadi. Dan ketika jago pedang itu berkata bahwa kepemilikan yang sudah tidak terkontrol ini hanya akan menjerumuskan manusia pada kesengsaraan lahir batin, akhirnya pendekar itu menutup, "Aku sekarang sadar akan apa yang dimaksudkan kakek dewa itu, Lian-ji. Kepemilikan memang mengikat dan memperbodoh kita. Aku menyesal. Kalau dulu kuturut nasihat kakek itu dan tidak ingin memiliki Sam-kong-kiam yang sebenarnya juga bukan milikku, tentu hidupku tak diguncang gempa kedukaan seperti ini. Sekarang kakakmu menjadi korban, lenganku juga buntung. Sudahlah, kita harus meletakkan rasa kepemilikan itu pada batas-batas yang benar. Selama kita tak ingat akan ini dan lupa daratan serta mabuk akan kepemilikan, tentu kita celaka. Mari bersamadhi, besok kau dan dua suhengmu harus mempelajari semua ilmu pedangku guna dipakai mengalahkan Kim-mou-eng. Tiga tahun lagi aku berjanji menemuinya. Kalian semua harus belajar baik-baik dan ilmu pedang kita tak seharusnya kalah dengan ilmu-ilmu yang dimiliki Kim-mou-eng itu!"
Swat Lian termangu. "Apa yang kau pikir?"
Swat Lian terisak. "Pendekar Rambut Emas itu, Yah. Aku, ah.... aku tak dapat melupakannya. Dia hebat. Kepandaiannya benar-benar tinggi."
"Tentu saja, dia murid Bu-beng Sian-su. Tapi kekalahanku tidak memuaskan, dia hanya menghadapi sebelah lenganku dan itu pun aku masih belum sembuh benar. Kalau aku memiliki kedua lengan dan dia tidak mengincar kelemahanku pada lengan yang buntung ini, belum tentu dia sanggup merobohkan aku!"
"Benar, tapi..... hm, dia juga belum mengeluarkan semua ilmunya, Yah. Ada satu ilmu yang tidak dikeluarkan!"
"Apa itu?" Hu Beng Kui terkejut.
"Pek-sian-ciang!"
"Ah!" Jago pedang ini terbelalak, kaget. "Kau benar, Lian-ji. Jadi kalau begitu....."
"Dia pun masih menyimpan ilmunya. Jadi kalau Ayah bertempur dengan sebelah lengan dan belum sembuh, maka dia pun masih memiliki Pek-sian-ciang dan mungkin kalian berimbang atau...." putrinya memotong, "Dia menang selangkah dan Ayah harus mengakui itu karena Kim-mou-eng telah mengetahui ilmu pedang kita!"
"Tidak." Hu Beng Kui pucat. "Aku tak mau kalah, Lian-ji. Betapapun aku penasaran dan ingin menebus kekalahanku itu. Aku akan menggembleng kalian, kalau perlu kuciptakan sebuah ilmu baru yang lawanku itu tidak tahu!"
"Tentu, aku juga penasaran akan kekalahanmu itu, Yah. Aku akan memperdalam ilmuku dan menebus kekalahanmu!"
"Mari, kalau begitu bersiaplah. Kita bersamadhi dan besok kumpulkan dua suhengmu itu!"
Begitu Hu Beng Kui berkelebat masuk, puterinya mengangguk dan Swat Lian pun mengikuti, tak banyak bicara. Hari itu Hu Beng Kui bersemangat. Dia ingin mendidik dan menggembleng murid-muridnya ini, tak mau kalah dengan Kim-mou-eng. Putrinya juga bersemangat, barangkali lebih bersemangat dari sang ayah. Swat Lian menyimpan kekecewaan dan patah hati yang besar; gadis ini sering menangis. Tapi begitu mengepal tinju dan menggigit bibir, semua kekecewaan ditekan dan sinar yang aneh pun mencorong di matanya. Tak tahu apa yang bergolak, namun mudah kita duga; semacam sakit hati mengguncang perasaan gadis ini. Swat Lian ingin suatu ketika berhadapan dengan Salima, di tempat yang sepi, di tempat yang sunyi. Dan karena pengakuan Kim-mou-eng terhadap sumoinya dirasa terlalu menyakitkan dan memukul perasaannya, maka gadis ini belajar lebih tekun daripada yang lain. Hari demi hari mulai dilalap dengan pelajaran ilmu silat. Di bawah gemblengan ayahnya, gadis ini belajar tak henti-hentinya. Bulan demi bulan dilalui cepat dan akhirnya setahun pun lewat tanpa terasa.
Karena kisah ini hendak ditutup dan "Pedang Tiga Dimensi" selesai sampai di sini, biarlah kita tunda perjumpaan kita dalam kisah berikut: SEPASANG CERMIN NAGA. Di situ, kita akan kembali berjumpa dengan tokoh-tokoh cerita ini, termasuk tentu saja Kim-mou-eng dan sumoinya, yang kini telah menjadi suami istri dan hidup di luar tembok besar, di tengah-tengah perkampungan besar bangsa Tartar.