Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 14

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 14

Karena mereka adalah orang-orang sesat dan kelemahan hati pendekar ini salah dipahami oleh orang-orang yang tidak tahu diri, maka mereka akhirnya mencari ke mana saja pendekar itu dapat ditemukan.

Berita di atas bukit itu sudah menyebar dari mulut ke mulut, dan semakin lama semakin santer berita pencurian itu merugikan Kim-mou-eng. Orang-orang menambahinya dan membubuhinya sedemikian rupa, sehingga Kim-mou-eng tidak tahu tentang hal itu. Dia sudah lolos dari kepungan itu dan merasa sedikit aman.

Tapi ketika pada hari ketiga Kim-mou-eng memasuki wilayah Hok-kian dan mencari jejak pencuri, mendadak gangguan baru datang. Dia sedang menyusuri sebuah telaga kecil, pandangan termenung, sementara hati pun gelisah. Batas waktu perjanjiannya dengan bangsanya kian mendekat, begitu pula janji pada sumoi-nya. Dia harus pulang, padahal jejak pencuri belum terungkap.

Dan ketika dia mencari-cari dengan pandangan geram dan harus bermain kucing-kucingan dengan orang-orang pemerintah, tiba-tiba tujuh bayangan berkelebat mengepungnya. "Kim-mou-eng, serahkan Sam-kong-kiam!" Kim-mou-eng tertegun. Dia melihat mereka terdiri dari lima laki-laki dan dua wanita. Yang wanita berbaju kembang dan cantik. Mata mereka tajam dan pedang berselinap di belakang punggung, gagah mereka itu.

Dan ketika Kim-mou-eng terheran memandang yang lain karena lima laki-laki itu juga berpakaian aneh, tiga di antaranya mengenakan pakaian tambalan meskipun bersih dan rapi, maka dua yang terakhir merupakan dua orang tosu yang rambutnya digelung ke atas. Sekilas, mereka orang baik-baik. Maka Kim-mou-eng yang tertegun dan terheran tak mengenal mereka tiba-tiba menjura dan coba tersenyum dengan sapaan manis, "Cuwi enghiong, siapakah kalian dan bagaimana datang-datang mengepung diriku? Apakah kesalahanku?"

"Hm, kau tak perlu berpura-pura, Kim-mou-eng. Aku datang diutus pemimpinku untuk meminta Sam-kong-kiam," seorang di antara tiga yang bertambalan membentak. "Sam wi, siapakah?" "Kami dari Pek-tung-pang. Pangcu kami meminta agar kau menyerahkan pedang keramat itu." "Hmm, dan si-wi yang lain ini?" "Kami tosu dari Koang-san, kami berdua wakil-wakil yang diutus untuk mencarimu!" "Dan kami dari Hwa-i-pai. Kim-mou-eng, meskipun kita belum pernah jumpa, tapi perbuatanmu di kota raja telah terdengar di mana-mana. Pangcu kami menyuruh agar kau menyerahkan kembali Sam-kong-kiam. Atau kalau tidak, terpaksa kami menyeretmu ke Hwa-i-pai dengan paksaan!"

Kim-mou-eng tiba-tiba tertawa lebar. "Nona, adakah kalian lihat aku membawa-bawa pedang? Justeru kalian yang membawa pedang, aku tak tahu apa-apa tentang Sam-kong-kiam dan sesungguhnya aku telah difitnah. Kalian keliru. Sebaiknya kalian bantu aku karena akupun sedang mencari pencuri sialan itu!" "Jangan bohong!" wanita cantik di sebelah kiri menghardik. "Kau tak perlu mempermainkan kami, Kim-mou-eng. Sekarang hanya dua pilihan bagimu, serahkan Sam-kong-kiam baik-baik atau kami akan memaksamu mengeluarkan pedang itu!"

"Baiklah," Kim-mou-eng tertawa getir. "Kalau benar itu ada padaku dan kini kuserahkan pada kalian, lalu hendak kalian kemanakan pedang itu? Apa maksud kalian menyuruhku menyerahkan Sam-kong-kiam?" Dua wanita cantik itu tertegun. "Kami akan menyerahkannya kepada ketua kami di Hwa-i-pai." "Tidak," pengemis dari Pek-tung-pang membantah. "Pedang itu harus diserahkan dulu pada pangcu kami, Kim-mou-eng. Baru setelah itu yang lain berhak melihatnya!" "Oh, kalian ingin memilikinya sendiri?" Tiga pengemis itu tertegun.

Tapi belum mereka ribut-ribut sendiri dengan sesama teman, maka tosu dari Koang-san sudah memalangkan toyanya. "Ngo wi enghiong, jangan terjebak oleh pertanyaan-pertanyaan Kim-mou-eng ini. Sekarang kita semua ditugaskan merampas pedang itu, sebaiknya tak perlu kita bertengkar dan hati-hati dengan omongannya. Tak ada satu pun di antara kita yang ingin memiliki pedang secara pribadi, kita masing-masing diperintah ketua kita untuk mengambil Sam-kong-kiam. Nah, hindari pertikaian sendiri sebelum pedang itu tampak di depan mata!"

"Ha-ha!" Kim-mou-eng tertawa geli. "Kau cerdik, totiang. Tapi rupanya sekarang dapat kutangkap maksud ketua-ketua kalian itu. Rupanya mereka ada ambisi pribadi, kalian tak ingin tapi ketua kalian yang bakal berebut. Ah, kalian pun rupanya sama saja dengan orang-orang sesat itu. Ingin merampas Sam-kong-kiam tapi demi kemilikan pribadi. Baiklah, itu urusan kalian, tapi kukatakan terus terang bahwa aku tak membawa-bawa atau mencuri Sam-kong-kiam!"

Kim-mou-eng tiba-tiba kecewa, teringat orang-orang sesat yang ditinggalkannya itu, dan kini melihat bahwa urusan ini mulai berkembang sebagai urusan "hak milik". Orang-orang itu menghadangnya dan ingin merampas Sam-kong-kiam bukan untuk dikembalikan ke istana, melainkan ingin dimiliki sendiri. Jadi mereka mulai keluar dari rel kebenaran, padahal dia sendiri mencari Sam-kong-kiam untuk dikembalikan pada kaisar, bukannya dikangkangi untuk diri sendiri.

Maka begitu kekecewaan mengusik hatinya, dan sikapnya mulai tidak ramah, maka dua wanita cantik dari Hwa-i-pai dan tiga pengemis dari Pek-tung-pang mulai beringas, sementara tosu dari Koang-san rupanya masih tenang-tenang saja, meskipun pandangan mata mereka mulai berkilat. Agaknya dua orang tosu ini memiliki kepandaian paling tinggi di antara kawan-kawannya.

"Kau tak mau menyerahkan Sam-kong-kiam?" seorang di antara dua wanita cantik itu membentak. "Apa yang harus kuserahkan?" Kim-mou-eng tersenyum pahit. "Aku tak membawa Sam-kong-kiam atau memiliki pedang itu!" "Kalau begitu kami harus memaksamu, rupanya nama besarmu membuat dirimu sombong...." "Srat!" Dan dua wanita cantik dari Hwa-i-pai yang mencabut pedangnya itu tiba-tiba bersiap-siap dengan satu kaki di depan, mata mereka bersinar-sinar, sementara tiga pengemis dari Pek-tung-pang juga mencabut tongkat mereka, tongkat putih yang bergetar di jari-jari yang kokoh, dan Kim-mou-eng tahu pertandingan tak mungkin dielakkan lagi.

Dia jadi tak senang, tapi tiba-tiba timbul keinginannya untuk mengetahui kepandaian dari orang-orang itu. Mereka merupakan tokoh-tokoh baru baginya, memang baru kali ini dia menginjakkan kakinya di kota Hok-kian. Dan ketika dua tosu dari Koang-san mengusap-usap toya mereka, dan toya itu mengebulkan asap, maka Kim-mou-eng gembira dan tahu dugaannya kiranya betul. Dua tosu itu rupanya harus mendapat perhatian istimewa.

"Ha-ha, kalian akan mengeroyokku, cuwi enghiong. Bagus, aku tak ingin bertanding, tapi kalian yang rupanya memaksa. Baiklah, majulah!" Kim-mou-eng menggosok-gosok tangannya, sinar kemerahan menyala karena dia mengerahkan Tiat-lui-kangnya, semua lawan terkejut dan terbelalak. Mereka sudah mendengar kelihaian Tiat-lui-kang. Tapi karena belum bertempur, memang belum mengenal, maka wakil dari Hwa-i-pai tiba-tiba melengking dan mulai melancarkan serangannya.

Jilid: III "HAIITT....!" pekik tinggi itu sudah disusuli loncatan tubuh ke depan, pedang berkelebat, dan ujungnya pun sudah menusuk tenggorokan, cepat dan kuat menandakan wanita ini memiliki kepandaian cukup hebat. Ujung pedang bergetar menjadi belasan, jadi sekali terang seolah-olah tenggorokan diancam belasan mata pedang yang amat cepat.

Kim-mou-eng memuji serangan lawan. Tapi karena pendekar ini tak mengelak maupun menggeser kepalanya dari serangan maut itu, maka yang dilakukan adalah sampokan lengan kiri yang bergerak dari bawah ke atas. "Plak!" Suara ini perlahan tapi mengejutkan. Wanita cantik itu terpekik, pedangnya mental, dan lengan yang memegang pun terasa pedas, hampir saja terpelanting, tapi temannya yang satu sudah maju membantu, pedang kedua berkelebat dari samping menyambar pinggang.

Kim-mou-eng memutar tubuhnya, dan kali ini mengelak. Dan ketika tiga pengemis Pek-tung-pang juga membantu dan maju menyerang, maka lima tubuh tiba-tiba berkelebatan susul-menyusul di sekeliling tubuh Pendekar Rambut Emas ini, membuat sang pendekar sibuk, tapi mulai melindungi diri dengan sin-kangnya. Tangan dan kaki mulai bergerak-gerak menyampok atau menangkis senjata lawan.

Dua tosu dari Koang-san belum maju menyerang. Rupanya mereka ini cerdik, ingin melihat dulu kehebatan Pendekar Rambut Emas itu sebelum membantu. Terkejut dan membelalakkan mata karena dengan tangan telanjang pendekar itu mampu menolak senjata tajam maupun tongkat, pedang, dan senjata di tangan pengemis-pengemis Pek-tung-pang itu selalu terpental bertemu tangkisan lawan, dua tosu ini saling pandang.

Dan ketika gebrakan-gebrakan berikut semakin mengejutkan mereka, karena pengemis-pengemis Pek-tung-pang itu maupun wakil-wakil dari Hwa-i-pai mulai berseru kaget karena mereka mulai terpelanting dan roboh menerima tamparan Tiat-lui-kang, akhirnya dua tosu ini berseru keras menggerakkan toya mereka. "Hong-te, maju....!" Dua tosu ini mendadak melengking tinggi. Mereka sudah bergerak cepat memutar toya. Senjata panjang itu berkelebat mengemplang dengan kecepatan tinggi. Ayunannya dahsyat dan hampir berbareng mengeluarkan deru angin bagai tiupan topan.

Kim-mou-eng terkejut, tapi gembira karena semua lawan sudah tak ada lagi yang diam, dia tertawa dan tiba-tiba mendorong, kedua lengan mengembang menolak dua serangan toya itu. Dan ketika toya tergetar, tapi tidak terpental seperti yang lain, maka Kim-mou-eng terbahak memuji lawan. "Bagus, kalian orang-orang lihai, ji-wi totiang. Sekarang mari kita adu cepat siapa yang menang!" Kim-mou-eng tiba-tiba berseru perlahan, tubuh berkelebat, dan tahu-tahu sudah bergerak naik turun seperti sambaran rajawali, menyelinap, dan beterbangan di antara tujuh senjata lawan.

Kian lama kian tinggi, hingga akhirnya tubuh pendekar ini berada di luar lingkaran. Lawan-lawannya terkejut karena mereka justru "terkepung" bayangan Kim-mou-eng. Begitu cepat gerak Pendekar Rambut Emas itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment