Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 15

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 15

Saat mereka terbelalak, heran, dan kaget oleh kejadian ini, tiba-tiba mereka tersedot ke dalam pusaran tenaga dari gerakan Kimmou-eng yang beterbangan mengelilingi mereka. "Hei, awas...!" seru seorang tosu dari Koangsan lebih dulu, menyadari keadaan yang tidak beres. Pasalnya, mereka tiba-tiba saling menyerang satu sama lain, terjebak di tengah, sementara lawan mengendalikan mereka dari luar.

Tamparan dan dorongan Tiat-lui-kang yang berhawa panas membuat mereka pucat, keringat bercucuran membasahi tubuh, dan karenanya tenaga mereka menurun cepat.

Saat pedang, tongkat, serta toya berbenturan sendiri, menyerang, dan menangkis, ketujuh orang ini mendadak mengeluh bingung dan kaget karena mereka terseret arus putaran Kimmou-eng yang mengelilingi tubuh mereka, seakan laba-laba yang mengeluarkan tali jaringnya untuk membungkus korban.

"Kimmou-eng, kau curang...!" "Ini ilmu siluman...!" Kimmou-eng hanya tertawa di luar.

Dia terus bergerak tanpa henti mengandalkan gingkang-nya yang luar biasa, ilmu meringankan tubuh yang membuat pendekar ini seakan capung yang beterbangan.

Ia terus mendorong dan menampar agar lawan yang ada di tengah menggerakkan senjatanya tanpa sadar. Siku atau pundak mereka seakan didorong oleh kekuatan aneh. Tentu saja senjata menyambar tanpa arah yang dikehendaki, menyerang teman sendiri.

Karena mereka bercucuran peluh dan banyak tenaga hilang karena panasnya sinkang Pendekar Rambut Emas, serta tidak dapat membebaskan diri dari pengaruh pusaran itu, maka satu demi satu ketujuh orang ini roboh terkulai bagai kain basah.

Yang mula-mula roboh adalah dua wanita cantik dari Hwa-i-pai.

Mereka kelelahan dikuras tenaganya, pedang di antara keduanya berbenturan sendiri dan terlepas dari tangan.

Masing-masing terpelanting. Kimmou-eng telah menotok mereka hingga mereka tidak dapat bangun berdiri. Kedua wanita ini pucat.

Saat tiga pengemis dari Pektungpang juga berteriak keras karena tongkat di tangan mereka terpental dan mencelat entah ke mana, Kimmou-eng pun menggerakkan jarinya, menotok mereka. Disusul kemudian dengan terampasnya toya dari tangan kedua tosu Koangsan. Mereka berusaha mempertahankan senjata, tetapi malah didorong terjengkang.

Kedua tosu itu kaget dan mencoba bergulingan, tetapi toya di tangan Kimmou-eng telah menyentuh titik darah di pundak mereka. Tentu saja keduanya roboh tak berkutik dengan seruan tertahan, melotot menyaksikan senjata mereka terampas lawan.

Saat Kimmou-eng tertawa dan pertempuran berhenti karena ketujuh orang itu telah roboh tergeletak tak beraturan di atas tanah, Kimmou-eng melompat mundur menancapkan toya rampasan itu ke tanah.

"Nah, bagaimana, Cuwi Enghiong, kalian masih mau meneruskan pertempuran?" Ketujuh orang itu terbelalak.

"Aku tidak akan membunuh kalian. Karena itu, jika kalian sadar diri, sebaiknya kalian kembali dan laporkan bahwa aku betul-betul tidak tahu-menahu tentang Samkongkiam!" Pendekar Rambut Emas menggerakkan jarinya, dari jauh dia menotok bebas ketujuh orang lawannya.

Mereka semua melompat bangun dengan muka merah padam.

Saat Kimmou-eng tersenyum dan melempar toya rampasan pada dua tosu Koangsan, tiba-tiba pendekar ini membalik dan berkelebat lenyap.

"Cuwi Enghiong, sekarang kita berpisah. Sampai ketemu lagi." Ketujuh orang itu tiba-tiba sadar.

Mereka tadi diselimuti kebingungan dan kekagetan yang amat mencekam. Kini Pendekar Rambut Emas pergi, dan mereka pun menyambar senjata masing-masing.

Saat pendekar itu jauh meninggalkan telaga, pengemis dari Pektungpang merasa penasaran. Tiba-tiba pengemis ini berteriak, "Kimmou-eng, kau memang dapat merobohkan kami. Tetapi para ketua kami tentu akan mencarimu dan tidak akan membiarkanmu pergi." "Baiklah, kalian boleh laporkan kegagalan kalian pada ketua kalian, sobat-sobat. Tetapi betapapun aku bukan pencurinya!" Kimmou-eng ternyata menjawab dari jauh. Sebentar kemudian dia lenyap, dan ketujuh orang itu termangu.

Mereka harus mengakui kehebatan lawan. Begitu lawan meninggalkan mereka, rasa malu yang besar menyelimuti orang-orang ini. Akhirnya, ketujuh wakil dari masing-masing partai itu memutar badan dan kembali ke tempatnya masing-masing.

Mereka merasa tidak ada gunanya melakukan pengejaran. Betapapun mereka harus mengakui kelihaian lawan, apalagi Kimmou-eng tidak membunuh mereka.

Ini menandakan bahwa pendekar itu bukan seorang yang berwatak kejam dan bengis.

Tetapi karena tugas telah dibebankan di atas pundak mereka dan kini tugas itu terasa gagal dilaksanakan, akhirnya ketujuh orang ini meninggalkan telaga itu untuk melapor pada ketua masing-masing.

Kimmou-eng sendiri telah jauh meninggalkan telaga kecil itu.

Dia tersenyum pahit, kejadian itu terasa tak enak baginya.

Kecemasannya pada sang pencuri pedang semakin bertambah.

Dia semakin berhati-hati melakukan perjalanannya, kini banyak bersembunyi untuk menghindarkan diri dari bentrokan langsung dengan orang-orang kangouw.

Tetapi pada malam itu, memasuki hari keempat, ia termenung di sebuah hutan sambil membuat api unggun. Mendadak, belasan orang mendatanginya dengan gerakan cepat.

Mula-mula Kimmou-eng mendengar desir seperti hembusan angin malam. Telinganya seketika bergerak dan tegak seperti telinga kelinci.

Desir angin itu agak mencurigakan, api unggun tertiup dan hampir padam.

Saat Kimmou-eng terkejut dan melihat dua sinar berkerlip menyambar tenggorokannya, serta belasan bayangan orang melompat mengepungnya di tengah, tiba-tiba dua sinar putih itu sudah mendekati lehernya, disusul bentakan seseorang yang parau dan menyeramkan, "Kimmou-eng, serahkan Samkongkiam!" Kimmou-eng cepat menyampok.

Dia memukul runtuh kedua sinar putih itu. Ternyata, dua bola baja yang meluncur ditepis oleh tangannya.

Pendekar itu terkejut karena telapak tangannya perih.

Pelontar itu seorang ahli lwe-keh yang kuat.

Saat dia tertegun dan membelalakkan matanya memandang ke segala penjuru, tujuh belas orang telah mengepungnya dalam barisan yang rapi, diiringi oleh tujuh orang tosu, pengemis, serta wanita-wanita cantik dari Hwa-i-pai itu.

"Ah, kalian kiranya?" Kimmou-eng mengerutkan kening, tiba-tiba jantungnya berdebar karena lawan-lawan yang mengepung kali ini tampaknya bukan orang-orang sembarangan.

Tiga di antara mereka mencolok sebagai orang-orang seperti tosu, pengemis, serta wanita dari Hwaipai.

Seorang tosu dengan sanggul tinggi berbaju longgar, seorang kakek bermuka pucat yang pakaiannya bertambal-tambal, di punggungnya terselip buli-buli berisi air, atau mungkin arak. Sementara orang ketiga adalah wanita berbaju kembang-kembang yang usianya sekitar tiga puluh enam tahun, cantik dan berseri-seri, namun pandangan matanya ganas.

Di punggungnya terselip sebatang pedang berhiaskan rangkaian bunga melati.

Mereka ini tentu orang-orang dari Koangsan, Pektungpang, serta Hwaipai, mungkin para ketua mereka.

Ketujuh orang pertama di belakang tiga orang ini bersikap hormat. Mungkin saja!

Saat Kimmou-eng tersenyum pahit dan bertanya apa maksud orang-orang itu mengepungnya, kedua wanita cantik dari Hwaipai yang dirobohkan pendekar itu berseru menjawab, "Mereka ini adalah para ketua kami, Kimmou-eng. Sekarang mereka datang untuk menuntut pertanggungjawabanmu!" "Aha, begitukah? Pertanggungjawaban tentang apa?" Kimmou-eng terperanjat, dugaannya tepat.

Saat ketiga orang itu maju selangkah dan wanita tiga puluh enam tahun itu tampil dengan suaranya yang nyaring merdu, Pendekar Rambut Emas tertegun, menenangkan detak jantungnya.

"Kimmou-eng, dua anggota kami telah mendapat hinaan darimu. Aku, Ketua Hwa-i-pai, datang untuk menuntut pertanggungjawabanmu ini. Kata mereka kau sombong dan menantangku, dan karena itu aku datang!" "Benar, dan aku Pektung Lo-kai, Kimmou-eng. Tiga anggotaku melapor bahwa kau pun menghina mereka. Karena itu aku datang untuk meminta pertanggungjawabanmu!" "Dan pinni adalah Koangsan Tojin. Datang untuk memenuhi tantanganmu lewat dua anggota Koangsan!"

Saat semuanya sudah menyatakan suaranya sendiri-sendiri, sementara Samkongkiam tidak disebut-sebut, seorang laki-laki tinggi besar berdagu segi empat maju melompat, menyusul dengan suaranya yang parau. Kiranya dia inilah yang tadi melempar dua bola baja. "Dan aku Sin-houw Yak Gu Bang, Kimmou-eng. Datang bersama teman-teman karena ingin mencari Samkongkiam."

"Bagus, sekarang kalian semua sudah bicara," Kimmou-eng tertawa getir. "Tetapi semua dari kalian kuanggap mencari-cari alasan. Sam-wi Pangcu (tiga ketua), yang pertama, tidak benar jika menuntut pertanggungjawaban tentang murid-muridnya. Aku tidak menghina mereka. Aku tidak mengganggu mereka. Kenapa harus dicari dan diajak ribut? Kalau aku telah merobohkan mereka dan kini kalian penasaran untuk membalas kekalahan, tentu ini bisa kuterima. Tetapi itu pun harus berdasar kenyataan yang benar. Mereka yang mulai dulu mengganggu, mereka menyerang dan kurobohkan, salahkah aku? Dan masalah Samkongkiam sudah kuberitahukan pada murid-murid ketiga partai bahwa aku tidak tahu-menahu dan sungguh tidak memilikinya!"

"Hmm, tidak bisa dipercaya!" Sin-houw Yak Gu Bang membentak. "Semua orang tahu kau pencurinya, Kimmou-eng. Sekarang berani kau mengelak dan tidak mengaku? Kau pencuri hina yang tidak segan-segan pula memungkiri! Keparat!" Wajah Kimmou-eng memerah.

"Aku memang tidak tahu tentang pedang itu, sobat. Kalau kau tidak percaya, itu terserah dirimu. Tetapi aku juga tidak takut pada segala macam Sin-houw (Harimau Sakti) maupun Sin-ci (Tikus)!" Yak Gu Bang mendelik.

"Kau memaki aku?" "Siapa memaki? Aku hanya mengatakan isi hatiku saja. Aku memang tidak takut pada Sin-houw maupun Sin-ci atau Sin-yo (kambing)!"

Saat Kimmou-eng yang tertawa membalas makian orang itu, tiba-tiba melihat si tinggi besar itu menggeram, melompat marah dan mengayun kedua lengannya yang sebesar batang bambu. Angin pukulannya sudah mendahului tiba. Tetapi Kimmou-eng tidak takut, menggerakkan lengan kanan dan cepat mengerahkan Tiat-lui-kang-nya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment