Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 16

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 16

Dan ketika dua lengan beradu dan benturan keras mengguncangkan tempat itu, maka Harimau Sakti ini terpental, sementara Kim-mou-eng sendiri tergetar.

"Dess!" Kim-mou-eng memuji lawan.

Harimau Sakti sudah berjungkir balik, turun, lalu kembali menggeram dengan mata melotot lebar. Ia hendak menerjang lagi.

Tapi empat bayangan lain yang berkelebat ke depan menahan laki-laki ini, tiba-tiba berseru, "Sin-houw, tahan! Kita datang bukan untuk main-main. Kalau Kim-mou-eng tidak mau menyerahkan pedang, maka kita semua akan menangkapnya!"

"Hmm, kalian hendak mengeroyok?" Kim-mou-eng tertawa mengejek. "Kalau begitu, majulah, tuan-tuan yang gagah. Aku selamanya tidak takut menghadapi siapa pun!"

"Tidak!" Koang-san Tojin tiba-tiba mengebutkan bajunya yang longgar. "Kami datang bukan untuk melakukan keroyokan. Pendekar Rambut Emas, kalau kau jujur dan tidak melarikan diri, tentu kami akan menghadapimu baik-baik. Sekarang penuhi saja tuntutan kami!"

"Tuntutan apa?"

"Kau ikut kami ke Bangsal Agung. Di sana kami akan memeriksa salah tidaknya dirimu!"

"Ha-ha," Pendekar Rambut Emas tidak dapat menahan tawa. "Kau licin, Koang-san Tojin. Buat apa aku harus ikut kalian ke Bangsal Agung atau tidak agung? Salah benarnya diriku, akulah yang menentukannya. Tidak ada yang berhak menghakimi aku karena aku tidak melakukan sesuatu terhadap kalian!"

"Tapi kau telah menghina murid-murid tiga partai!"

"Dan juga mencuri Sam-kong-kiam!" Sin-houw menyambung, suaranya marah.

Dan Kim-mou-eng yang tidak dapat menahan senyumnya, kembali tertawa terbahak-bahak, lalu tiba-tiba batuk-batuk, merasa geli oleh tingkah laku orang-orang ini. Bagaimanapun juga, yang diincar mereka adalah Sam-kong-kiam. Dia tahu itu. Usaha mengelak dari Koang-san Tojin yang menonjolkan masalah murid-muridnya maupun yang lain hanyalah kedok belaka, tentu saja dia mengetahui hal itu.

Dan ketika orang mengepungnya rapat dan gerakan-gerakan di antara mereka menunjukkan sikap mencurigakan, akhirnya pendekar ini berkata mengejek dengan suara hambar, "Sin-houw, dan kau juga, Koang-san Tojin. Untuk terakhir kalinya aku tidak merasa bermusuhan dengan kalian. Urusan Sam-kong-kiam sebenarnya aku pun tidak tahu-menahu, bahkan aku mencari-cari pencuri ini. Aku terfitnah. Karena itu, jika kalian percaya, sebaiknya kalian pergi dan biarkan aku beristirahat!"

"Sraaaaat!" Pedang beronci melati itu terhunus dari sarungnya.

"Kita tidak perlu berpantang lebar lagi, Koang-san Tojin. Kalau Kim-mou-eng tidak mau jujur kepada kita dan tidak mau ikut ke Bangsal Agung, sebaiknya kita ringkus dan geledah dia."

"Kim-bi, mundur!" Ketua Hwa-i-pai itu membentak dua muridnya, dua wanita cantik yang ada di belakang.

Gerakannya ini disusul oleh berkelebatnya tongkat di tangan Pek-tung Lo-kai. Rupanya kakek itu setuju serta sependapat dengan rekannya, sementara Koang-san Tojin tertegun. Tapi ketika Sin-houw Yak Gu Bang juga mengangguk dan orang-orang lain di sekelilingnya mencabut senjata mengitari Kim-mou-eng, tiba-tiba sang tosu berbaju longgar ini menarik napas panjang.

"Siancai, rupanya teman-teman menghendaki lain. Pendekar Rambut Emas, Pinto tidak dapat membantumu jika kau keras kepala!"

"Tidak ada yang perlu disesalkan. Hinaan terhadap murid-murid Pek-tung-pang juga harus segera dibayar lunas sebelum urusan Sam-kong-kiam dimulai!"

"Benar, dan kami akan membantumu, Pek-tung Lo-kai. Kudengar Pendekar Rambut Emas memiliki Tiat-lui-kang yang ampuh. Kita harus berhati-hati!"

Dan ketika semua setuju dan dua murid Hwa-i-pai mundur disusul murid-murid Koang-san dan Pek-tung-pang, maka sepuluh orang yang mengelilingi pendekar ini mulai bersiap-siap.

"Kau tetap dengan pendirianmu, Kim-mou-eng?"

Kim-mou-eng menghela napas, sorot matanya mulai tajam. "Aku tidak akan menyerang kalau kalian tidak menyerang. Pergilah, aku tidak ingin merobohkan kalian sebelum semuanya terlanjur hebat."

"Sombong! Kalau begitu, ingin kulihat seberapa kepandaianmu!" Dan Ketua Hwa-i-pai yang tidak sabar menutup kata-katanya ini, tiba-tiba membentak dan maju menggerakkan pedangnya. Tubuhnya berkelebat dan sinar putih menyambar, tanpa desing dan suara, tahu-tahu mata pedang sudah menusuk tenggorokan lawan.

Kim-mou-eng terkejut karena dalam waktu yang hampir serempak pula, yang lain-lain maju menubruk. Tongkat di tangan Pek-tung Lo-kai menderu menyambar punggungnya, Sin-houw Yak Gu Bang juga melompat dengan cengkeraman kesepuluh jarinya. Hebat orang-orang ini. Dan ketika Koang-san Tojin juga menampar dan angin bersiut dari kedua lengannya yang terkembang, tiba-tiba sepuluh orang itu susul-menyusul menyerang pendekar ini.

"Plak-plak-dess!" Kim-mou-eng terpaksa bergerak, lengannya menangkis dan kakinya pun bergerak dengan cepat. Sepuluh serangan yang bertubi-tubi itu dihadapinya dengan pengerahan Tiat-lui-kang. Pedang di tangan Ketua Hwa-i-pai terpental, tapi wanita cantik itu sudah melengking, membalik, lalu tiba-tiba berkelebat lenyap menghujani serangan deras. Sambaran pedangnya berubah menjadi gulungan sinar putih yang naik-turun bagaikan pelangi perak, mencoba membungkus dan sebentar kemudian membelit Pendekar Rambut Emas. Dan ketika Pek-tung Lo-kai juga tertolak tongkatnya, tapi membalik dan memainkan silat aneh dengan tongkat mendengung-dengung mengelilingi tubuhnya, tiba-tiba pendekar ini menjadi repot dan satu-dua pukulan lawan menghantam tubuhnya.

"Des dess!" Kim-mou-eng tergetar. Pendekar ini dengan cepat melindungi dirinya dengan Sinkang. Tubuhnya menjadi kebal menerima gebukan tongkat bahkan bacokan pedang. Lawan terkejut karena senjata di tangan tetap mental saat mengenai kulitnya yang liat. Tapi karena serangan bertubi-tubi dari lawan yang begitu banyak membuat Kim-mou-eng kewalahan, dan mereka mulai mengarahkan tusukan maupun sodokan pada tempat-tempat yang berbahaya seperti mata dan ulu hati, akhirnya pendekar ini berseru keras membentak lawan-lawannya itu.

"Cuyi Enghiong, sekarang terpaksa aku membalas....!"

Sepuluh lawan terbelalak. Tubuh Kim-mou-eng tiba-tiba mencelat. Kedua lengan mendorong sana-sini sementara kaki menendang derasnya hujan senjata. Suara "das-des" berulang mengguncangkan tempat itu. Dan ketika Kim-mou-eng melengking dan mengerahkan Ginkangnya (ilmu meringankan tubuh) pula menghadapi bacokan pedang maupun tongkat yang bertubi-tubi menghujani tubuhnya, mendadak tubuh pendekar ini lenyap beterbangan menyelinap di antara hujan pukulan maupun tusukan pedang.

"Awas...!" Seruan ini diucapkan dua tosu di luar kepungan. Itulah tosu Koang-san yang telah dirobohkan Kim-mou-eng, melihat bahwa Kim-mou-eng mengulang perbuatannya, yakni keluar dari kepungan, mencoba menerobos agar akhirnya dapat berkelebat di luar. Sekali pendekar ini berhasil, tentu lawan di dalam akan dikendalikan, seperti yang terjadi pada mereka. Disetir dan diserang dari luar untuk saling menyerang sesama teman. Ia khawatir, dan seruannya itu lebih ditujukan kepada ketuanya, Koang-san Tojin.

Tapi karena Koang-san Tojin dan teman-temannya adalah orang-orang lihai dan mereka itu setingkat dua tingkat di atas kepandaian tosu di luar kepungan, maka Koang-san Tojin tertawa, menyambut seruan dua anggotanya itu. "Hong-sute, tidak perlu khawatir. Kami dapat menjaga diri agar ia tetap di dalam!"

Benar juga. Kali ini Kim-mou-eng mendapat kesulitan. Tubuhnya yang mencoba menerobos ternyata gagal. Pukulan maupun gebukan tongkat di tangan Pek-tung Lo-kai dan teman-temannya cukup hebat. Mereka itu dapat bekerja sama untuk tidak kebobolan. Sekali yang di depan didorong, maka yang di belakang menyerbu melakukan serangan. Pendekar ini cukup sibuk dibuatnya. Perhatian dan Sinkangnya terpaksa dipecah, ini menyulitkan. Dan ketika Tiat-lui-kang harus dibagi untuk bertahan melindungi tubuh dan menyerang atau menangkis lawan, maka akibatnya tamparan maupun tolakan pendekar itu dapat dihadapi sepuluh lawannya yang benar-benar merupakan orang-orang kosen. Mereka itu seolah menghadapi sepersepuluh bagian saja dari tenaga Kim-mou-eng. Hal itu tentu saja menguntungkan mereka dan merugikan pendekar ini. Kim-mou-eng kian banyak menerima pukulan sementara dinding serangan lawan tidak dapat diterobos. Dan ketika ia kebingungan dan lawan tertawa mengejek, maka sebuah babatan pedang mengenai pundaknya.

"Bret!" Baju pendekar ini menjadi korban. Tubuhnya memang tidak apa-apa. Sinkangnya melindungi tubuh pendekar itu hingga pedang memantul kembali. Diam-diam Ketua Hwa-i-pai kagum dan pucat melihat kekebalan lawan. Sudah sekian kalinya pula Kim-mou-eng dibacok, tapi kesekian kalinya itu pula senjatanya memantul. Matanya bersinar-sinar, di samping kagum, juga penasaran. Kini kulit tubuh pendekar itu tampak, halus dan bersih namun kuat. Betapa indahnya kulit tubuh itu. Wanita ini tiba-tiba jengah dan hati pun berdebar. Entah kenapa kekaguman di hatinya berubah menjadi perasaan yang aneh. Wanita ini belum menikah meskipun usianya sudah tiga puluh tahun lebih. Dan ketika tongkat di tangan Pek-tung Lo-kai juga menyambar dan kurang cepat dielak hingga menggebuk pendekar ini, maka baju di bagian itu robek pula.

"Dess!" Kim-mou-eng tergetar. Baju di bagian ini terkoyak lebar. Punggung yang putih dan halus kembali membuat pipi Ketua Hwa-i-pai ini memerah. Serangan pedangnya mulai kacau, tapi serangan kawan-kawannya yang lain semakin ganas. Cengkeraman Sin-houw Yak Gu Bang pun membuat Pendekar Rambut Emas mengeluh. Jika bukan ia yang menerima cengkeraman itu, tentu kulit dan dagingnya akan hancur. Harimau Sakti ini pun kagum di samping penasaran. Dan ketika Kim-mou-eng mulai terhuyung-huyung dan beberapa pukulan serta gebukan menimpa tubuhnya, maka empat laki-laki di belakang tertawa padanya.

"Kim-mou-eng, menyerahlah saja. Kami akan mengampunimu baik-baik jika Sam-kong-kiam kau berikan kepada kami!"

"Atau kau cabut Sam-kong-kiam itu, Kim-mou-eng. Ingin kami lihat seberapa hebat keampuhannya yang disohorkan orang!"

"Atau kau mampus, dan kami akan merampas pedang itu dari mayatmu!" Yang berkata begini adalah Sin-houw Yak Gu Bang. Ia paling beringas dibandingkan yang lain-lain.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment