Chapter 17
Terkamannya berkali-kali meleset seolah Kim-mou-eng adalah seekor belut. Di samping kebal, ternyata ia juga licin, entah karena keringat atau karena kepandaiannya yang tinggi.
Dan ketika Harimau Sakti itu terbahak-bahak dan Kim-mou-eng terbelalak marah, pendekar ini berseru menimpali lawan-lawannya, "Cuwi enghiong, sebaiknya kalian tak perlu mendesak. Aku tak mau ada pertumpahan darah di sini."
"Wah, kau bicara sombong! Sudah terdesak masih juga bermulut besar! Ha-ha, kau benar-benar tidak tahu malu, Kim-mou-eng. Kalau kami dapat kaurobohkan, biarlah sedikit tumpahan darah tidak apa-apa. Aku boleh menjadi korban pertama!" Si Harimau Sakti kembali tertawa bergelak, merasa omongan pendekar ini sombong dan menggelikan.
Kim-mou-eng sesungguhnya tidak bicara besar karena dia dapat membuktikannya. Pit-nya yang ampuh itu belum dicabut dan dia pun belum mengeluarkan Pek Sin-ciang (Pukulan Hawa Putih) yang teramat dahsyat itu. Semua ini belum dilakukan Kim-mou-eng karena pendekar itu ragu-ragu. Dia memang terdesak tapi belum payah benar, mencoba memperingatkan lawan agar mundur mengalah.
Tapi ketika lawan tertawa dan ejekan serta cemoohan terlontar di sana-sini, tiba-tiba pendekar ini bangkit kemarahannya melihat lawan semakin ganas saja. "Baiklah, aku telah memperingatkan, cuwi enghiong. Kalau kalian tidak tahu diri dan terus mendesak, maka maafkan jika satu-dua di antara kalian harus roboh."
Kim-mou-eng tiba-tiba mengeluarkan pit-nya. Senjata itu berkelebat membentuk sinar hitam, langsung mencuat dan menangkis tongkat di tangan Pek-tung Lo-kai. Kali ini tiga perempat bagian dari tenaga Tiat-lui-kang dikerahkan; yang lain-lain sedetik dibiarkan karena Kim-mou-eng harus membuka jalan darah. Hal itu terpaksa dilakukan kalau dia ingin keluar dari kepungan.
Dan ketika tongkat bertemu alat tulis (pit) dan getaran Tiat-lui-kang tersalur langsung menyengat pergelangan Pek-tung Lo-kai yang memegang senjata, mendadak kakek ini berteriak tinggi karena tongkatnya patah. "Hei... pletak!" Pek-tung Lo-kai melempar tubuh bergulingan. Pit di tangan Kim-mou-eng terus menyambar dadanya. Tentu saja dia kaget bukan main karena serangan itu terlampau berbahaya.
Sin-houw Yak Gu Bang yang ada di sebelah kanan kakek ini otomatis menggantikan kedudukan ketika Pek-tung Lo-kai bergulingan. Tiba-tiba ia memapak sambaran pit dengan cengkeraman tangannya sembari tertawa bergelak karena sambaran pit itu tampak perlahan saja. Begitu tampaknya, sehingga ia heran kenapa Pek-tung Lo-kai harus ketakutan.
Tapi begitu pit di tangan Kim-mou-eng tercengkeram dan arus yang luar biasa panas menyengat telapaknya hingga menembus ke tulang sumsum, tiba-tiba si tinggi besar ini menjerit dan melepas senjata lawan. Namun terlambat. Kim-mou-eng telah membuat lawan terkejut; telapak Harimau Sakti melepuh dan bengkak. Dan ketika orang itu terhuyung mundur dan terbelalak kepadanya, tahu-tahu sinar hitam berkelebat dan leher si tinggi besar menjadi sasaran.
"Awas!" Sin-houw Yak Gu Bang kaget bukan main. Saat itu dia sedang menahan sakit dan tertegun. Pit yang menyambar lehernya tak dapat dielak. Seruan Koang-san Tojin di belakang membuat dia terkesiap. Delapan temannya yang lain berteriak memperingatkan dan semua menghantam Kim-mou-eng.
Tapi karena Kim-mou-eng bertekad untuk merobohkan satu-dua orang di antara lawan-lawannya dan mengerahkan tenaga menahan bacokan maupun pukulan, senjata di tangannya tetap meluncur dan mengenai leher Sin-houw. "Tuk!" Harimau Sakti itu mengeluh. Dia terbanting dengan luka di urat leher; jalan darahnya pecah karena Kim-mou-eng tidak dapat berbuat lain. Ia menyesal, tapi saat itu juga dia menerima pukulan dan bacokan dari belakang.
Dan ketika Harimau Sakti itu terguling dan Kim-mou-eng terguncang menerima pukulan bertubi-tubi di belakang tubuhnya, pendekar ini pun terpelanting namun segera bergulingan melompat bangun. Ia tidak terluka, kecuali tergetar saja oleh kerasnya pukulan-pukulan tersebut. Semua lawan terbelalak karena pendekar itu benar-benar hebat. Dan ketika Sin-houw tak bangun lagi—entah pingsan entah tewas—mendadak Kim-mou-eng berkelebat pergi karena telah lolos dari kepungan.
"Cuwi enghiong, maaf. Sekarang harus kita akhiri...!" Koang-san Tojin dan teman-temannya terkejut. Mereka sadar, tiba-tiba marah dan mengejar. Kim-mou-eng telah berada jauh di depan dan mereka kaget karena lolosnya pendekar itu berarti lolosnya pedang Sam-kong-kiam. Tentu saja mereka tidak membiarkannya.
Dan ketika Kim-mou-eng berlari keluar hutan, malam yang gelap membantunya untuk melarikan diri. Pek-tung Lo-kai membentak dan menyambar senjata baru di tangan seorang muridnya, mengejar disusul yang lain. "Kim-mou-eng, berhenti! Atau serahkan pedang keramat itu dulu!"
Kim-mou-eng gemas. Gerakan pit-nya telah menumbangkan seorang musuh; sungguh dia menyesal karena korban pertama harus jatuh. Kini orang tak tahu diri dan belasan musuh mengejar di belakang. Dia mengerahkan ginkang, tapi orang-orang itu tidak mau melepaskannya.
Dan ketika menjelang fajar dia tiba di sebuah lapangan berumput yang mengingatkannya pada tempat suku bangsanya sendiri, mendadak dari mana-mana muncul orang beraneka ragam membentaknya untuk menyerahkan Sam-kong-kiam, sama seperti pengejar di belakang pada rombongan Koang-san Tojin dan teman-temannya.
"Kim-mou-eng, serahkan Sam-kong-kiam!" Pendekar ini pucat. Di depannya menghadang tiga ratus lebih orang bersenjata. Mereka dipimpin dua kakek cebol yang tertawa bergelak. Di sampingnya berdiri pula seorang kakek yang bertelanjang kaki. Tubuhnya sedang tapi seluruh mukanya hampir tertutup oleh rambut kasar bagai rambut singa, sorot matanya buas, kipas bulu di tangan kirinya dikebut-kebutkan sambil menyeringai. Tiga orang di depan ini mengejutkan Kim-mou-eng.
Karena di belakang sudah tertutup oleh rombongan Koang-san Tojin sementara di depan muncul ratusan orang dipimpin dua kakek cebol bersama si kakek bermuka singa, maka Kim-mou-eng berhenti bagai disentak jantungnya. "Hek-bong Siang-lo-mo...!" serunya tertahan.
"Ha-ha, kau masih mengenal kami, Kim-mou-eng? Bagus, kami memang Hek-bong Siang-lo-mo (Sepasang Iblis Kuburan). Kami telah menunggumu dan tentunya kau tak lupa pada sahabat kami ini!" Iblis cebol itu menunjuk teman di sebelahnya. Kim-mou-eng tertegun karena dia pun mengenal kakek bermuka singa itu, yang tak lain adalah Sai-mo-ong, iblis yang tak kalah mengerikan dengan sepasang iblis cebol tadi.
Dan ketika Kim-mou-eng terkejut dan berhenti menghadapi orang-orang ini, rombongan di belakang telah tiba dan langsung mengepung. "Kim-mou-eng, sekarang kau tak dapat lari lagi!" Pendekar ini terbelalak. Seluruh penjuru sudah dipagar rapat, tak mungkin dia lolos lagi.
Tapi Kim-mou-eng yang marah mengepal tinju, tiba-tiba membalik menghadapi rombongan Koang-san Tojin. "Koang-san Tojin, apakah kalian akan mengeroyokku bersama iblis-iblis ini? Kalian mengepung bersama orang-orang sesat itu?"
"Ha-ha!" Hek-bong Siang-lo-mo terbahak memotong. "Kali ini tak ada yang sesat atau tidak sesat, Kim-mou-eng. Kami kebetulan saja bertemu untuk maksud yang sama. Kau mencuri Sam-kong-kiam, karena itu, keluarkan pedang itu dan biar kami urus bagaimana baiknya!"
"Benar, dan kami tidak akan membunuhmu, Kim-mou-eng. Kau dapat lolos kalau pedang itu kau berikan kepada kami. Keluarkanlah!" Yang berkata demikian adalah kakek bermuka singa itu, matanya berkilat sementara bibirnya ditarik menyeringai. Inilah hinaan bagi Kim-mou-eng.
Tapi Koang-san Tojin dan teman-temannya ternyata tidak rela pedang itu diserahkan pada Hek-bong Siang-lo-mo dan kawan-kawan. Tiba-tiba mereka membentak, "Tidak! Pedang harus kau serahkan kepadaku, Kim-mou-eng. Sam-kong-kiam tak boleh jatuh pada orang sesat karena mereka tidak berhak!"
"Hm, kau siapa?" Toa-lo-mo, orang tertua dari Hek-bong Siang-lo-mo mengejek bertanya pada tosu ini, melihat Koang-san Tojin mewakili teman-temannya bicara tentang pedang. Tapi Sai-mo-ong yang rupanya mengenal tosu itu tiba-tiba tertawa. "Dia Koang-san Tojin, Lo-mo. Ketua Koang-san-pai bersama teman-temannya. Mereka itu Pek-tung Lo-kai dan Hwa-i-paicu!"
"Hm, bagus! Lalu kalian mau mengangkangi pedang?" "Ah," Sai-mo-ong lagi-lagi bicara. "Sebaiknya masalah itu jangan diributkan dulu, Lo-mo. Kita hadapi saja Kim-mou-eng ini dan urusan lain belakangan. Urusan itu bisa diatur, jangan kehilangan ikan kalau harus berebut tulang!"
Toa-lo-mo tiba-tiba sadar. Memang yang menjaring ikan adalah Kim-mou-eng ini; mereka tidak perlu ribut-ribut kalau Kim-mou-eng belum mengeluarkan pedang. Dia tidak takut pada rombongan Koang-san Tojin itu, tapi harus menghemat tenaga kalau tidak mau kehilangan Sam-kong-kiam. Pendekar Rambut Emas itulah yang harus dihadapi lebih dulu.
Maka terbahak membenarkan omongan teman sendiri, akhirnya iblis cebol ini menghadapi Kim-mou-eng. "Kim-mou-eng, keluarkan Sam-kong-kiam itu untuk kami lihat!"
"Tidak, kau harus mengeluarkannya untuk kami, Kim-mou-eng. Jangan serahkan pedang itu pada orang-orang sesat!" Pek-tung Lo-kai kali ini bicara. Hwa-i-paicu dan lain-lain juga melompat. Mereka khawatir Kim-mou-eng memberikan pedang pada lawan. Hek-bong Siang-lo-mo melotot, pihak Koang-san Tojin mencari ribut!
Tapi Kim-mou-eng yang mengangkat lengannya tinggi-tinggi ke atas tiba-tiba berseru, "Hek-bong Siang-lo-mo, dan kalian, Pek-tung Lo-kai! Sekali lagi kuberitahukan pada kalian bahwa aku tidak memiliki pedang itu. Sam-kong-kiam tidak ada padaku, pedang itu dicuri orang lain!"
"Heh... heh..." Ji-lo-mo (iblis kedua) kali ini terkekeh. "Kau masih menipu kami, Kim-mou-eng? Memangnya kami anak-anak kecil? Kalau kau tidak mau mengeluarkan pedang, terpaksa kami akan mencarinya di mayatmu!"
"Benar, dan kau mencelakai seorang rekan kami, Kim-mou-eng."