Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 18

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 18

"Karena itu serahkan pedang dan biar kami melindungi dirimu dari orang-orang sesat ini!" Hwa-paicu sekarang membuka suara, diam-diam khawatir dan semakin kagum pada Pendekar Rambut Emas ini.

Kalau tidak ada rombongan Hek-bong Siang Lo-mo dan teman-temannya, rasanya ia ingin memberikan bantuan secara diam-diam; mencarikan jalan keluar umpamanya, atau apa saja yang dapat ia lakukan.

Tetapi Hek-bong Siang Lo-mo yang tertawa mengejek tiba-tiba mengibaskan lengannya ke belakang. "Kalian jaga baik-baik, orang-orang dari Hwa-i-pang dan Pek-tung Pang itu rupanya mau berbalik haluan!"

Wajah Hwa-i-paicu memerah. Dia dilirik teman-temannya yang lain. Ucapannya tadi memang tidak salah, tetapi getaran perasaannya tertangkap. Koang-san Tojin sudah memandangnya dengan alis berkerut.

Namun, belum lagi wanita baju kembang itu bicara, tiba-tiba Sai-mo-ong sudah menggosok kakinya dan menggoyangkan kipas dua kali. "Kim-mou-eng, kau tak mau menyerahkan Sam-kong-kiam?"

"Hm, kalian rupanya tak percaya, Mo-ong. Kalau pedang itu ada di tanganku, tentu sudah kucabut sekarang!"

"Bagus, kalau begitu mari maju. Ayo serang! Siapa dapat membunuhnya, dialah yang memiliki pedang!" Dan Sai-mo-ong yang terkekeh mencelat ke depan, tiba-tiba mengajak dua temannya melakukan pukulan dahsyat.

Tangan dan kaki sudah bergerak disusul oleh yang lainnya pula. Ratusan orang itu berteriak membuat suasana gaduh; mereka sebelumnya sudah tidak sabar oleh banyak bicara yang dianggap kosong. Itulah orang-orang yang berhasil dikumpulkan Sai-mo-ong dan Hek-bong Siang Lo-mo. Lima puluh di antaranya adalah orang-orang pertama yang dulu disewa Kapak Hitam. Kapak Hitam sendiri tampak di situ bersama Seng Cui, si pongah yang dibuat jatuh bangun dalam segebrakan itu.

Dan ketika semua orang meluruk serta pukulan dan hantaman menghujani tubuh pendekar ini, Kim-mou-eng marah oleh kecurangan mereka. Tiba-tiba Pek-tung Lokai dan teman-temannya yang khawatir mendengar seruan Mo-ong tadi juga menerjang karena tidak mau kehilangan Sam-kong-kiam ke tangan orang-orang sesat. Mereka cemas dan gelisah karena Mo-ong tadi berkata bahwa siapa yang dapat membunuh Kim-mou-eng, dialah yang berhak atas Sam-kong-kiam.

Maka begitu mendengar aba-aba dan melihat bahwa ini pun kesempatan baik bagi pihaknya untuk menyerang Kim-mou-eng, tiba-tiba Pendekar Rambut Emas itu sudah diterjang dari segala penjuru diiringi bentakan dan teriakan di sana-sini.

"Plak plak dess!" Kim-mou-eng berseru keras, berkelebat melompat tinggi menghadapi hujan serangan yang begitu banyak, menangkis dan tentu saja membalas dengan mengeluarkan Tiat-lui-kang-nya.

Lima lawan memekik ngeri karena mereka roboh terjungkal dan muntah darah disambar Pukulan Petir. Dahsyat pukulan pendekar itu, ia tak dapat lagi menahan tenaganya karena musuh seperti setan kelaparan. Mereka menyerbu sambil berkaok-kaok. Pendekar Rambut Emas dijadikan kelinci sasaran manusia-manusia haus darah; korban pertama roboh dan tewas.

Tetapi karena musuh begitu banyak dan pukulan Sai-mo-ong serta Hek-bong Siang Lo-mo paling berbahaya di antara semua hujan serangan, maka Pendekar Rambut Emas lebih mencurahkan perhatiannya ke sini, mengelak dan menangkis. Sementara itu, rombongan Pek-tung Lokai juga sudah mulai bergerak. Mereka itu tak tahu diri, membuat Kim-mou-eng benar-benar marah.

Dan ketika musuh di depan tunggang-langgang tersapu angin pukulannya, tetapi kipas dan pukulan di tangan Sai-mo-ong serta Sepasang Iblis Kuburan menyambar dahsyat, maka Kim-mou-eng menghadapi serangan tiga orang itu dengan bentakan melengking.

"Des-dess!" Empat orang itu tergetar. Hek-bong Siang Lo-mo dan Mo-ong terpental; mereka masih kalah tenaga. Geram dan kagum bukan main ketiga kakek iblis itu. Tetapi karena mereka sudah berkali-kali bertemu muka dan kehebatan Pendekar Rambut Emas sudah mereka ketahui dengan baik, maka ketiga iblis ini tertawa bergelak dan maju kembali, menyuruh orang-orangnya menerjang tanpa gentar.

"Ayo, bunuh dia. Maju...!" Kim-mou-eng dikeroyok.

Pendekar sakti itu menghadapi terjangan lawan dari segala penjuru. Kini dengan amat licik dan curang Mo-ong maupun Lo-mo menyerang dari belakang sambil tertawa-tawa. Karena ratusan orang mengeroyok sementara Kim-mou-eng seorang diri, maka pendekar ini kewalahan menghadapi sekian banyak orang yang dipimpin tiga iblis licik itu.

Ia menampar dan melindungi dirinya dengan pukulan-pukulan Tiat-lui-kang, terpaksa mencabut pit-nya, dan belasan orang roboh terpelanting oleh totokan maupun pukulannya. Sebentar kemudian tubuh-tubuh bergelimpangan dan pendekar itu membentak menyuruh lawan-lawannya mundur. Orang-orang tolol itu seperti laron yang mendekati api; tak ada jalan lain bagi pendekar ini kecuali merobohkan mereka.

Sebentar kemudian tiga puluh tubuh terbanting kesakitan di atas tanah. Cukup mengerikan keadaan mereka itu; ada yang gosong kulitnya dan ada pula yang patah-patah tulangnya. Pendekar ini dikepung dan berusaha membuka jalan darah.

Tetapi karena yang roboh itu adalah orang kelas rendahan dan mereka masih terus didorong-dorong Hek-bong Siang Lo-mo maupun Mo-ong yang terus bergerak di belakang serta melancarkan serangan curang, maka kipas maupun pukulan tiga kakek iblis itu mendarat di tubuh Pendekar Rambut Emas. Kian lama serangan itu kian banyak, dan Hek-bong Siang Lo-mo bahkan mengeluarkan sabitnya, senjata melengkung yang amat mengerikan itu.

Dan ketika rombongan Pek-tung Lokai juga melakukan pengeroyokan dan satu-dua pukulan berat menghantam pendekar ini, akhirnya Kim-mou-eng terhuyung-huyung dan mulai jatuh bangun.

"Lo-mo, kalian pengecut-pengecut busuk. Kalian tak tahu malu!"

"Ha ha, malu atau tidak itu bukan urusanmu, Kim-mou-eng. Sekarang keluarkan saja Pedang Tiga Sinarmu dan kau serahkan baik-baik kepada kami!" Hek-bong Siang Lo-mo tak peduli. Mereka bahkan dapat membalas dendam atas kekalahan beberapa waktu yang lalu. Ini merupakan kesempatan baik bagi mereka kalau ingin membunuh Kim-mou-eng.

Karena Kim-mou-eng kewalahan dan sedikit banyak pertahanan tubuhnya mulai guncang oleh serangan-serangan tiga kakek iblis ini, akhirnya Pendekar Rambut Emas pucat mukanya menerima pukulan bertubi-tubi. Hal itu bahkan menyenangkan Mo-ong dan dua iblis cebol ini.

Rombongan Pek-tung Lokai mengerutkan alis. Mereka melihat kegagahan Pendekar Rambut Emas itu; betapapun mereka tak dapat menyembunyikan kekaguman, dan Hwa-i-paicu bahkan terisak. Ketua Hwa-i-pai ini rupanya malu mengerubut, kegagahannya tersinggung. Tetapi karena teman-temannya terus bergerak dan ia juga khawatir Pedang Tiga Sinar itu jatuh di tangan orang-orang sesat, maka ketua Hwa-i-pai yang cantik ini tiba-tiba berseru, "Kim-mou-eng, serahkan saja pedang keramat itu kepada rombongan kami. Biar kami yang mengambil alih tanggung jawabmu!"

Kim-mou-eng menahan sakit. "Aku tak membawa pedang itu, Nona. Kenapa menuduh saja tanpa percaya? Kalau benar kubawa tentu sudah kukeluarkan. Kalian orang-orang tolol!"

"Ha-ha, ada yang jatuh hati rupanya. Bagaimana, Kim-mou-eng? Kau mau menerima bujukan ketua Hwa-i-pai yang cantik ini?"

Hwa-i-paicu marah. Yang mengeluarkan kata-kata itu adalah Sai-mo-ong. Dia telah mendengar kehebatan iblis tua ini namun tidak takut. Mereka memang baru pertama kali itu bertemu. Maka mendengar ejekan ini dan sikap Mo-ong yang dianggap menghinanya, tiba-tiba wanita ini memekik menggerakkan pedangnya menusuk kakek iblis itu.

"Mo-ong, jaga mulutmu. Jangan kira aku takut!"

"Wah? Kau membela Kim-mou-eng? Bagus, semakin tampak belangnya..."

"Plak!" Dan Sai-mo-ong yang mengelak dan menangkis tusukan pedang itu tiba-tiba diserang lagi dengan pekik tinggi menandakan kemarahan ketua Hwa-i-pai ini.

Dua orang itu sejenak baku hantam sendiri. Kim-mou-eng secara tidak langsung berkurang dua lawannya yang tangguh, terutama si kakek iblis. Dan ketika Sai-mo-ong harus berlompatan dan terbelalak memandang lawannya, maka Kim-mou-eng mendapat jalan keluar.

Saat itu tujuh puluh lima orang sudah menggelimpang mengaduh-aduh. Kim-mou-eng terkoyak pakaiannya dan lelah. Berlari semalam suntuk dikejar rombongan Koang-san Tojin membuat dia letih, kini ditambah lagi pengeroyokan Hek-bong Siang Lo-mo dan antek-anteknya itu. Betapapun hebat dirinya, tetap saja tak mungkin menghadapi lawan sekian banyak.

Kini Mo-ong diserang Hwa-i-paicu dan kesempatan itu tak boleh disia-siakan. Ketika dua orang itu menarik diri untuk berkelahi di luar, maka Pendekar Rambut Emas mengeluarkan bentakan tinggi mengibas sabit di tangan Hek-bong Siang Lo-mo. Dua senjata iblis cebol itu terlalu berbahaya; yang lain dia biarkan menimpa tubuhnya yang dilindungi sinkang.

Begitu sabit tertolak dan tubuhnya menjadi bulan-bulanan pukulan yang lain, maka pendekar ini terpelanting sekaligus menggulingkan tubuh menyerampangkan kaki. Dari bawah dia membabat lawan-lawannya yang berteriak kaget. Begitu lawan menjerit dan tujuh di antaranya terlempar ke belakang, maka Kim-mou-eng melompat bangun dan melarikan diri.

"Heii...!" Orang-orang terkejut.

Mereka yang terlempar tak dapat bangun kembali, tetapi rombongan Koang-san Tojin dan Hek-bong Siang Lo-mo yang terkejut oleh lolosnya Kim-mou-eng tiba-tiba berteriak. Mereka marah mengejar Kim-mou-eng. Hek-bong Siang Lo-mo bahkan menimpukkan sabitnya dari jauh; senjata ini menyambar punggung Kim-mou-eng, namun berhasil ditangkis dan Kim-mou-eng sudah melarikan diri lagi.

Dan ketika pendekar itu lolos dan Hek-bong Siang Lo-mo mencak-mencak, maka dua iblis cebol itu memungut sabit mereka kembali sambil memaki Mo-ong dan Hwa-i-paicu.

"Mo-ong, dia lolos. Kau bodoh sekali meninggalkan pertempuran!"

"Ya, dan Hwa-i-paicu ini menjadi gara-garanya, Toa-heng. Kalau beres urusan ini sebaiknya dibunuh saja dia itu!"

Ji-lo-mo, orang kedua, juga mencak-mencak. Mereka memaki dan mendorong Hwa-i-paicu. Tentu saja ketua Hwa-i-pai ini terpental dan perkelahiannya bersama Mo-ong terputus. Teman-temannya juga menegur agar dia tidak melayani kakek iblis itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment