Chapter 19
Ketika Mo-ong terkekeh dan sadar tengah mengejar Kim-mou-eng, Koang-san Tojin berseru kepada rekannya ini, "Paicu, tunda dulu urusan dengan iblis-iblis ini! Kejar Kim-mou-eng, jangan biarkan dia lolos membawa Sam-kong kiam!" Hwa-i-paicu tertegun, wajahnya memerah.
Dia sudah melihat teman-temannya mengejar. Mo-ong meninggalkannya dan bersama Hek-bong Siang-lo-mo memburu Kim-mou-eng; yang lain juga mengikuti sambil berteriak-teriak marah. Pengeroyok masih berjumlah separuh lebih, sekitar dua ratusan orang. Ketika teman-temannya mengejar dan melihat Kim-mou-eng tertatih-tatih melarikan diri, maka terpaksa ketua Hwa-i-pai ini mengikuti untuk mengejar Pendekar Rambut Emas.
Pendekar Rambut Emas tampak kepayahan. Dia sudah mulai luka-luka; kekebalan tubuhnya kian berkurang menghadapi demikian banyak lawan, terutama setelah menerima hantaman bertubi-tubi dari Hek-bong Siang-lo-mo dan Mo-ong. Karena lawan masih segar dibanding dirinya yang sudah terlalu lelah, pendekar ini akhirnya tersusul di dekat sebuah jurang.
"Haha, kau tidak dapat melarikan diri, Kim-mou-eng! Keluarkan Sam-kong kiam dan serahkan kepada kami!" Hek-bong Siang-lo-mo yang berada di depan segera menubruk. Sai-mo-ong yang juga sudah memburu tiba-tiba melepas pukulan tangan kanannya; angin berbau amis meluncur dari tangan kakek iblis itu.
Kim-mou-eng tidak dapat mengelak dan terpaksa menangkis. Namun, ketika dia menangkis dan harus berhenti, tiga pukulan kakek iblis ini menghantam lengannya hingga ia seketika terpental dan roboh terbanting—tanda bahwa tenaganya benar-benar sudah terkuras.
"Des!" Kim-mou-eng mengeluh pendek. Diejek dan diburu lagi oleh ketiga kakek iblis itu, sang pendekar pun terdesak. Ketika yang lain juga tiba dan melancarkan pukulan, Kim-mou-eng menggigit bibir sambil menggeram marah.
"Mo-ong, kalian manusia-manusia keji! Kalau begitu, terpaksa kubunuh kalian!" Pendekar Rambut Emas menggerakkan pit-nya untuk kembali menangkis. Tiba-tiba tangan kirinya berderit, sinar putih berkedip, membuat Mo-ong serta Hek-bong Siang-lo-mo terbelalak. Ketika tangan kiri itu menyambar dan mereka jatuh terjengkang, ketiga kakek iblis itu berteriak gentar sambil membanting tubuh dan bergulingan.
"Awas, Pek-sian-ciang...!"
Yang lain pun terkejut. Mereka merasakan sambaran angin dahsyat itu; sepuluh orang yang tersambar langsung roboh menjerit ngeri. Mereka tewas bahkan sebelum tubuhnya terbanting!
Ketika yang lain lari tunggang-langgang, Mo-ong serta Lo-mo melompat bangun. Tiba-tiba ketiga kakek iblis ini melontarkan senjata untuk menyerang dari jauh. Setelah serangan itu ditangkis, mereka segera menubruk dengan gerakan cepat sehingga Kim-mou-eng tidak dapat menghindar lagi. Ketiga iblis tua itu menangkap kakinya, mencengkeram, dan menarik hingga Kim-mou-eng kesakitan. Sang pendekar kaget karena lawan hendak merobek tubuhnya menjadi dua.
Saat dia berseru keras dan ketiga kakek itu tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba Lo-mo dan Mo-ong menggerakkan jari untuk menusuk bola matanya.
"Aaah...!" Kim-mou-eng bergerak cepat. Dia melengking tinggi untuk membebaskan tubuhnya, meronta, dan melempar kepala seraya menggerakkan kedua lengannya. Pit di tangan kanannya bahkan berhasil menusuk telapak Ji-lo-mo.
Namun, karena tenaganya sudah berkurang banyak dan seluruh kekuatan dipusatkan untuk membebaskan diri, Kim-mou-eng mengeluh pendek ketika jari-jari Lo-mo dan Mo-ong masih sempat menyambar telinganya dengan hantaman yang sangat dahsyat. Bola matanya memang berhasil diselamatkan, tetapi tamparan di sisi kepala itu serasa dipukul godam.
Kim-mou-eng mencelat dan seketika pingsan. Dia terlempar dan secara kebetulan masuk ke mulut jurang yang ada di belakangnya. Dia tidak sadarkan diri, sementara Lo-mo dan Mo-ong berseru kaget. Mereka tertegun dan tersentak memandang peristiwa itu. Kim-mou-eng terjatuh lalu lenyap dalam waktu yang sangat cepat.
Ketika mereka tersadar dan yang lain berteriak kecewa, Hek-bong Siang-lo-mo membanting kaki dengan kesal. "Keparat, dia lolos! Kita kehilangan Sam-kong kiam...!"
"Tidak, kita masih dapat mencarinya di bawah jurang, Lo-mo. Ayo kita turun!" Mo-ong berseru. Tiba-tiba ia berkelebat, membuat Lo-mo bersaudara terkejut. Kawan mereka itu sudah berjungkir balik di sana, seutas tali diayunkan berkali-kali untuk menggaet batu-batu runcing. Perbuatan itu sangat berbahaya dan membuat semua orang ngeri.
Namun, karena Mo-ong merupakan datuk sesat dengan kepandaian yang sangat tinggi dan ginkang yang hebat, sebentar kemudian kakek bermuka singa itu sudah lenyap ke bawah. Lo-mo bersaudara pun tertegun. Mereka saling pandang sejenak, lalu karena Mo-ong sudah berani turun dan mereka pun merasa mampu, sepasang iblis cebol ini segera berkelebat ke jurang sambil tertawa aneh.
"Toa-heng, kita berpegangan dan saling lontar!"
Semua orang terbelalak. Sepasang iblis cebol ini tidak menuruni jurang menggunakan tali seperti Mo-ong, melainkan saling ayun dan bergantian menempel di dinding jurang seperti cicak. Mereka begitu lincah dan bergerak dengan sangat mengagumkan. Orang-orang pun terpana. Karena tidak mau didahului oleh Mo-ong, kedua iblis cebol ini merayap turun dengan cepat hingga akhirnya menghilang di bawah jurang yang berkabut.
Rombongan Koang-san Tojin saling pandang. Mau tidak mau mereka berdecak melihat kepandaian dua iblis cebol itu, juga Mo-ong yang meluncur turun seperti monyet besar. Ketiganya kini tidak kelihatan lagi dari atas.
Koang-san Tojin dan rombongannya ragu untuk mengikuti jejak ketiga iblis itu. Namun, setelah menunggu selama setengah jam dan kasak-kusuk mulai terdengar, mendadak mereka melihat ketiga kakek iblis itu muncul kembali sambil berteriak-teriak.
"Setan! Di bawah ada setan...!"
"Hiii, itu hantu! Mo-ong, Kim-mou-eng menjadi hantu dan mengejar-ngejar kita...!"
Koang-san Tojin dan rombongannya terkejut. Mereka melihat ketiga kakek iblis itu berteriak dengan wajah penuh keringat dan pakaian yang basah kuyup. Gigi mereka berkatukan dan tampak sangat ketakutan. Sungguh aneh.
Ketika mereka melompat ke atas, rombongan Koang-san Tojin hanya bisa tertegun melihat ketiganya langsung kabur. Ji-lo-mo maupun Toa-lo-mo tidak memedulikan kulit mereka yang baret-baret lagi.
"Setan! Kim-mou-eng menjadi setan...!"
Rombongan Koang-san Tojin melongo. Mereka melihat ketiga kakek iblis itu dibelit ular besar yang sudah tidak berkepala dengan darah yang menetes-netes, namun tampaknya mereka tidak menyadarinya. Entah apa yang telah terjadi.
Saat mereka merasa heran sekaligus bingung oleh sikap Mo-ong dan Lo-mo, mendadak segumpal asap muncul dari dalam jurang dan menyambar mereka. Asap itu berbentuk kepala dewa dengan enam pasang lengan.
"Kalian pergilah, tidak ada apa-apa lagi di sini!"
Koang-san Tojin dan teman-temannya kaget karena asap itu dapat bicara. Serangkum angin dahsyat menghantam mereka dengan lembut namun sangat kuat. Koang-san Tojin terpelanting dan teman-temannya juga terjungkal; mereka menjadi pucat pasi dan berseru keras. Ketika mereka melompat bangun, asap itu bergerak ke sana kemari dan enam pasang lengan itu mendorong mereka. Mendadak mereka semua terlempar dan tidak ada satu pun yang mampu menahan gerakan "asap" aneh ini.
"Setan...!"
"Iblis...!"
Rombongan Koang-san Tojin menjadi kalut. Mereka gentar namun mencoba melawan. Koang-san Tojin memberanikan diri untuk mengelak dan membalas, tetapi ketika pukulannya membalik dan ia tertolak oleh kekuatan angin pukulannya sendiri, ketua Koang-san-pai ini akhirnya terbanting bergulingan dalam keadaan pucat pasi.
Pengikut Lo-mo maupun Mo-ong tidak perlu ditanya lagi; mereka sudah roboh menjerit-jerit ketakutan. Bagai ditiup angin taufan, mereka terguling-guling menjauhi jurang, terlempar hingga puluhan tombak dalam sekejap.
Karena tidak ada yang mampu menahan gerakan asap dewa tersebut, Koang-san Tojin dan teman-temannya akhirnya memutar tubuh dan mengambil langkah seribu. Mereka seolah sedang menghadapi makhluk gaib. Suara di balik asap itu terdengar sangat menakutkan.
Karena Kim-mou-eng dianggap telah tewas dan urusan Sam-kong kiam dianggap selesai, rombongan Koang-san Tojin pun lari tunggang-langgang menjauhi jurang. Sekarang mereka mengerti ketakutan yang dialami Mo-ong dan Lo-mo; betapa makhluk yang mereka anggap setan itu memang luar biasa. Tidak ada pukulan atau serangan yang mampu mengalahkannya, justru mereka sendirilah yang roboh disambar asap tanpa wujud yang jelas tersebut.
Setelah semua orang lari terbirit-birit dan tempat itu kembali sunyi, akhirnya asap ini kembali masuk ke dalam jurang asalnya. Tidak ada yang tahu bahwa seorang kakek keluar dari balik tabir asap tersebut, menggeleng-gelengkan kepala sambil berkali-kali menghela napas. Begitu dia mengembangkan lengan dan menggerakkan kakinya, tahu-tahu kakek ini sudah amblas dan menghilang di bawah jurang!
Siapakah kakek ini? Bagaimana dia bisa muncul dalam bentuk asap yang aneh itu? Untuk mengetahuinya, marilah kita ikuti sejenak apa yang dialami Mo-ong dan Lo-mo ketika mereka mencari Kim-mou-eng di bawah jurang.
Sebagaimana diketahui, Kim-mou-eng jatuh pingsan setelah menerima pukulan keras yang menghantam kedua sisi kepalanya. Pendekar Rambut Emas itu terlalu lelah karena dikeroyok begitu banyak orang, meskipun ia adalah seorang berkepandaian tinggi dengan kesaktian yang hebat. Karena pukulan ketiga kakek iblis itu mengguncang isi kepalanya, Kim-mou-eng pingsan dan tanpa sengaja terlempar ke dalam jurang, yang bagi lawan-lawannya berarti lenyapnya Sam-kong kiam.
Pedang Tiga Sinar ini memiliki daya tarik yang sangat besar, seolah jauh lebih berharga daripada nyawa sendiri. Mo-ong dan Lo-mo nekat mengejar dengan menuruni jurang untuk mencari mayat Kim-mou-eng. Namun, ketika mereka tiba di tengah jurang di mana kabut tebal mengambang, mendadak sebuah suara tanpa wujud menegur mereka.
"Lo-mo, kalian dua orang tua mau apa begitu nekat? Kalian mencari penyakit?"
Lo-mo dan Mo-ong sangat terkejut.