Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 20

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 20

Mereka bertiga sudah tiba di bagian dinding yang bercelah. Jurang itu dalam dan dasarnya masih belum kelihatan.

Dari gaung suara yang menegur itu, dapat diukur betapa dalamnya jurang itu. Mungkin ratusan tombak.

Namun, karena Lo-mo dan Mo-ong bukan orang-orang penakut dan mereka merupakan tokoh-tokoh sesat yang hanya terkejut sesaat oleh teguran itu, mendadak mereka berbalik memandang sebuah lubang di celah-celah jurang.

"Kau siapa? Siluman dari mana ini berani bicara pada kami?" Tak ada jawaban.

Gema suara Ji-lo-mo memantul balik. Kakek iblis itu dan dua temannya penasaran, terbeliak dan waswas karena mereka baru tahu bahwa di tengah jurang ternyata terdapat manusia lain.

Mereka tak percaya pada setan dan hantu.

Maka, sambil membentak dan melompat ke mulut lubang itu, tiba-tiba Ji-lo-mo melepas pukulan.

"Hei, kau tak bisa bicara? Kalau begitu terimalah, mampuslah di dalam...!" "Wut!" Pukulan Ji-lo-mo menderu dahsyat, langsung menghantam dan memenuhi lubang itu.

Iblis ini jelas merasa bahwa seseorang ada di dalam sana.

Namun, ketika terdengar desis keras dan tiga ekor ular keluar menyambut pukulan Ji-lo-mo, mendadak ketiga binatang melata itu menyerang dan memagut iblis cebol itu.

"Wah, keparat...!" Ji-lo-mo terkejut, mundur selangkah, dan tangannya bergerak menangkis.

Ular yang paling depan ditangkap kepalanya, menggelepar, tetapi kalah cepat oleh gerakan kakek itu.

Dan ketika ular di depan tertangkap dan menggeliat kuat, tiba-tiba Ji-lo-mo tertawa meremas kepala ular.

"Kres!" Ular itu hancur, besarnya sepaha orang dewasa, tetapi dua temannya yang lain menyerang lagi, meluncur ke bawah, dan memagut kaki kakek itu.

Namun, ketika Ji-lo-mo menendang dan ular besar itu bertemu kakinya, tiba-tiba mereka terlempar dan jatuh tersungsang di bawah jurang, di mana sebatang pohon besar melintang sepuluh tombak di bawah kaki Ji-lo-mo.

"Ha-ha, kita mendapat daging segar, Toa-heng. Bisa buat sarapan di atas nanti!" Ji-lo-mo terkekeh, melempar bangkai ular di tangannya, dan memandang bersinar-sinar pada dua ular di bawah pohon. Mereka menggeliat-geliat dan tersungsang di sana, setengah tubuh mereka menggantung, tidak dapat naik maupun turun.

Namun, Mo-ong yang terbelalak ke depan sambil menuding kaget, tiba-tiba berseru, "Hei, awas...!"

Ji-lo-mo juga merasa sesuatu yang tidak beres itu.

Dia merasakan kesiur angin dingin. Di dalam lubang ternyata tak ada apa-apanya, kecuali tiga ekor ular besar itu.

Dia sudah menghilangkan kewaspadaan pada lubang itu.

Maka, ketika temannya menuding dan dari celah-celah itu muncul sesosok bayangan, Ji-lo-mo menoleh. Mendadak iblis itu hampir terjungkal karena sesosok bayangan putih yang wujudnya tidak jelas telah berdiri di hadapannya dengan kaki tidak menginjak tanah.

"Setan...!" Tanpa terasa Ji-lo-mo memekik. Tentu saja tangannya bergerak menampar sesosok tubuh yang mirip hantu itu.

Pukulannya menghantam, dan ia ngeri karena bayangan itu mengambang di atas tanah.

Telapak kakinya menggantung.

Namun, muka bayangan itu terpukul, dan pukulan Ji-lo-mo meluncur begitu saja seolah "menembus" bayangan itu. Mendadak, pukulan itu membalik, dan Ji-lo-mo terbanting menerima daya tolak angin pukulannya sendiri!

Sendiri!

"Waooo...!" Ji-lo-mo kaget, berseru keras, dan berjungkir balik menghindari angin pukulannya sendiri.

Namun, karena dia berada di tengah jurang dan lupa bahwa saat itu dia bukan di atas tanah, tiba-tiba iblis itu terjeblos dan jatuh ke dasar jurang. Tentu saja dia terkejut dan segera sadar bahwa dia dalam bahaya.

Namun, kakaknya yang sudah merenggut tali di tangan Mo-ong dan melecut ke bawah, tiba-tiba berseru, "Tangkap!" Toa-lo-mo mengeletarkan talinya, ujungnya meledak di samping tubuh adiknya, dan Ji-lo-mo menangkapnya dalam saat-saat kritis, begitu iblis cebol itu bergerak cepat.

Pertolongan kakaknya disambut. Ji-lo-mo menyambar tali itu dan tubuhnya tertahan, berputar sesaat bagai kera bermain roda.

Dan ketika Ji-lo-mo berseru keras dan kakaknya menyentak, maka iblis cebol itu berjungkir balik dan telah hinggap di pohon tempat dua ekor ular besar masih tersungsang dengan tubuh setengah menggantung.

"Keparat! Jahanam bedebah...!" Ji-lo-mo memaki-maki tidak jelas.

Entah siapa yang dimaki, bayangan yang mirip hantu itu ataukah Mo-ong yang hanya menyeringai melihat kejadian tadi, sama sekali tidak berniat menolong, dan malah agaknya senang kalau Ji-lo-mo terbanting di dasar jurang sana.

Mungkin ia mengharap iblis kedua dari Hek-bong Siang-lo-mo itu tewas.

Dan ketika Lo-mo menggeram dan bayangan itu masih berdiri di mulut lubang, maka suara pertama tadi menegur mereka kembali, "Lo-mo, kalian tak juga naik ke atas? Mau apa berkeliaran di sini?" Hek-bong Siang-lo-mo dan Mo-ong kini memperhatikan bayangan itu.

Mereka berdesir, diam-diam terkejut dan ngeri karena bayangan itu tidak kelihatan wujudnya.

Hanya sepasang kaki menggantung, sementara badan dan bagian atas yang lain tidak jelas.

Mereka jadi teringat pada cerita-cerita hantu, tentu saja gentar, dan ada rasa takut di hati mereka.

Namun, karena mereka bertiga dan Ji-lo-mo paling marah gara-gara robohnya tadi, maka iblis itu meloncat naik berdampingan dengan kakaknya, membentak, "Kau siapa? Siluman jadi-jadian dari mana?" Mendadak, sedikit menguak tabir, sekonyong-konyong sepasang mata terlihat.

Hek-bong Siang-lo-mo terkejut bukan main karena sepasang sinar tiba-tiba menyorot bagai api yang terang. Dua iblis itu berseru tertahan dan mereka mundur selangkah.

Mo-ong juga tersentak karena cahaya terang yang amat luar biasa tajam itu menusuk matanya.

Sekilas, dan kemudian lenyap lagi, terdengar tawa yang aneh.

Bayangan itu tidak menjawab.

Dan ketika Ji-lo-mo gusar dan merasa dipermainkan, tiba-tiba iblis itu mencelat menghantam bayangan itu.

"Kau rupanya iblis. Mampuslah!" Bayangan itu tidak mengelak.

Pukulan Ji-lo-mo mendarat di tubuhnya. Ji-lo-mo menghantam sekuat tenaga, tetapi lagi-lagi pukulannya itu menembus keluar seolah dia menghadapi kapas. Kini, kapas itu terdorong, membalik lagi, dan pukulan Ji-lo-mo menyerang tuannya. Entah bagaimana, Ji-lo-mo seolah menghadapi bayangan hampa.

Kakek iblis itu kaget.

Dan karena pengalaman pertama tadi menunjukkan kepadanya akan tolakan tenaga sendiri, tiba-tiba iblis itu berseru keras menghindari angin pukulannya sendiri.

"Bress!" Dinding di belakang Ji-lo-mo ambrol. Pukulan Ji-lo-mo jelas bukan main-main, dan kakek itu terjungkir balik turun ke bawah, menghantam lagi, dan kini mengarah ke bagian tengah, sambil berteriak agar kakaknya membantu.

Dan ketika Toa-lo-mo juga bergerak dan menyerang bayangan itu, tiba-tiba, seperti tersedot benda aneh.

Toa-lo-mo dan Ji-lo-mo saling tumbuk di udara.

"Hei, awas... Plak-bluk!" Dua iblis cebol itu tidak dapat menghindari tumbukan. Tetap saja saling bentur, dan mereka mencelat keluar, jatuh tunggang-langgang dan tersungsang ke bawah pohon itu.

Mereka memaki-maki. Ular yang ada di dekat mereka menyerang. Toa-lo-mo serta adiknya geram, ular itu disambar dan seketika ditarik.

Dan ketika mereka meloncat lagi dan ular sudah diputar, maka ekor ular itu dibalikkan, dan mereka menyerang bayangan aneh itu membabi-buta.

"Mo-ong, bantu kami. Atau kau akan kami tarik ke sini dengan paksa!" Mo-ong terbelalak.

Sebenarnya dia sendiri kaget melihat dua kali pukulan Ji-lo-mo lenyap tanpa bekas.

Bayangan itu tidak dapat diserang, dan semua pukulan seolah tembus begitu saja, seolah mereka menyerang roh.

Mengerikan!

Dan ketika Toa-lo-mo membentak dan marah-marah kepadanya agar menyerang bayangan itu, akhirnya Mo-ong berkelebat mencabut kipasnya.

"Baik, ini barangkali arwah Kim-mou-eng, Lo-mo. Bebaskan dia dan basmi agar lenyap ke dasar neraka!" Tiga kakek iblis itu melepas pukulan-pukulan berbahaya.

Mereka sudah menyerang gencar tanpa perhitungan lagi.

Dua ekor ular yang dipakai Siang-lo-mo sebagai senjata dipergunakan dengan baik. Ular itu mendesis-desis dan tampak ketakutan menghadapi bayangan ini. Bayangan itu tidak mengelak.

Semua pukulan Siang-lo-mo maupun Mo-ong mengenai tubuhnya. Namun, ketika setiap pukulan maupun kebutan selalu amblas dan "menembus" bayangan ini, tiba-tiba saja Lo-mo maupun Mo-ong berteriak gentar.

Ular yang dipakai pun tidak mau memagut.

Ular itu bahkan melingkar-lingkar dan membalik menyerang Siang-lo-mo sendiri, mungkin karena kesakitan ekor mereka dipergunakan Siang-lo-mo, dihentak, dan ditarik.

Dan ketika kipas di tangan Mo-ong juga satu per satu patah ruji-rujinya, dan semakin keras Siang-lo-mo menyerang, semakin keras pula angin pukulan mereka membalik, mendadak dua iblis itu mulai pucat berseru pada Mo-ong.

"Kita menghadapi sukma gentayangan. Ini bukan manusia!" Mo-ong menggigil.

Dia juga mulai ketakutan melihat lawan yang luar biasa itu, padahal bayangan seperti roh itu belum membalas.

Seruan Ji-lo-mo membuat kakek itu pucat.

Mo-ong pun gentar.

Dan ketika dua iblis itu melompat dan ular di tangan mereka memagut, sekonyong-konyong Ji-lo-mo maupun kakaknya gemas menggigit dua ular itu, tepat di tengah-tengah leher hingga ular itu putus. Kepalanya dimakan Siang-lo-mo.

Dua kakak beradik itu tampaknya kalap. Dan ketika kepala ular diremas dan Mo-ong terbelalak ngeri, mendadak bayangan itu menampar perlahan ke arah mereka.

"Pergilah, kalian tidak perlu lagi ada di sini!" Mo-ong dan Siang-lo-mo terpekik.

Mereka itu seakan dihempas tenaga yang kuat bukan main. Ji-lo-mo mencelat sementara kakaknya juga terangkat naik.

Mo-ong sudah berteriak karena dia dihempas seperti gumpalan kapas ringan. Dan ketika mereka jatuh bangun menabrak dinding, tiba-tiba Toa-lo-mo melarikan diri merayap ke atas, disusul adiknya yang berkaok-kaok karena mengira menyerang hantu.

Tak ayal, Mo-ong pun mengikuti dan bergegas mendaki jurang.

Dan ketika rombongan Koang-san Tojin terheran-heran oleh teriakan mereka, maka seperti diketahui di depan, ketiga iblis itu melarikan diri dengan terbirit-birit meninggalkan jurang, tidak peduli lagi pada Sim-kong-kiam maupun Kim-mou-eng.

Kejadian itu terlampau mengerikan bagi mereka. Belum pernah seumur hidup ada lawan yang tidak dapat dipukul. Pukulan-pukulan mereka amblas dan lenyap begitu saja.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment