Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 21

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 21

Dan karena Koang-san Tojin juga bertemu bayangan ini yang wujudnya seperti kepala dewa bertangan enam, akhirnya Koang-san Tojin dan teman-temannya pun menyingkir cepat menjauhi makhluk yang luar biasa ini, melarikan diri dan meninggalkan pertempuran tanpa ingat kanan kiri lagi.

Mereka pun gentar.

Dan ketika bayangan itu masuk kembali ke dalam jurang dan lenyap tanpa meninggalkan jejak-jejaknya di luar, maka Kim-mou-eng sendiri yang terlempar ke dalam jurang dianggap tewas oleh orang-orang yang mengeroyoknya.

Tapi betulkah begitu? Ternyata tidak.

Pendekar Rambut Emas saat itu menggeletak di dalam lubang di celah-celah dinding jurang ini.

Saat dia terlempar ke dasar jurang, tiba-tiba seseorang menolongnya, menangkap dan membawanya ke celah-celah dinding jurang itu.

Itulah si bayangan sakti yang disangka hantu oleh Siang-lo-mo.

Bayangan itulah yang menyelamatkan pendekar ini.

Dan ketika Mo-ong dan teman-temannya pergi dan bayangan itu kembali ke bawah jurang, maka seperempat jam kemudian Kim-mou-eng sadar.

Yang terasa mula-mula adalah rasa dingin di atas kepala.

Kim-mou-eng serasa mimpi.

Dia belum membuka mata sepenuhnya dan pikirannya melayang-layang.

Ada perasaan pening sedikit.

Tapi ketika pening itu hilang dan rasa yang segar memasuki tubuhnya, tiba-tiba Kim-mou-eng terkejut karena baru merasa bahwa sebuah telapak yang lunak menempel di dahinya yang menyalurkan hawa yang membuat dia segar tadi.

"Bangunlah, kau sekarang sehat!" Kim-mou-eng tersentak.

Dia melompat bangun dengan kaget, telapak yang menempel sekonyong-konyong lepas, dan dia mendengar suara yang dekat sekali di pinggir telinganya.

Tapi ketika dia bangun berdiri dan tidak melihat siapa-siapa, mendadak pendekar ini tertegun, dan lagi-lagi pikirannya mengira dia di alam lain.

"Ah, masih hidupkah aku ini?" Kim-mou-eng teringat pertempurannya dengan Mo-ong dan teman-temannya, menggigit jari dan merasa jari itu sakit.

Jelas dia masih hidup.

Dan ketika dia tertegun dan heran memandang sekeliling, tiba-tiba suara yang didengar pertama kali tadi berbicara lagi.

"Kau masih hidup. Kau berada di Jurang Malaikat!"

"Aaaah!" tiba-tiba Kim-mou-eng sadar.

Sekarang dia mengenal suara itu, suara yang tidak asing.

Cepat menoleh dan melihat sesosok bayangan berdiri di sudut.

Bayangan seorang kakek yang wajahnya tertutup halimun.

Itulah gurunya, Bu-beng Sian-su!

Dan ketika Kim-mou-eng berseru tertahan dan menjatuhkan dirinya berlutut, maka tawa yang lembut menggugah perhatiannya pada alam yang nyata.

"Suhu...!" Kim-mou-eng girang bukan main, membenturkan dahinya pada lantai yang dingin sementara wajah berseri-seri penuh kegembiraan.

Tidak dia sangka bahwa dia tiba di Jurang Malaikat, satu dari beberapa tempat yang menjadi "sarang" gurunya.

Bu-beng Sian-su memang memiliki berbagai tempat bersunyi diri.

Satu di antaranya adalah Jurang Malaikat itu.

Dan ketika Kim-mou-eng menjatuhkan diri berseru girang dan Bu-beng Sian-su tersenyum, maka kakek dewa itu mengangkat lengannya.

"Bangunlah, kita berada di tempat yang aman, Kim-mou-eng. Sekarang ceritakan bagaimana kau dikejar-kejar begitu banyak lawan!" Kim-mou-eng bangkit duduk.

Sekarang dia gembira sekali bertemu gurunya itu, teringat lawan-lawan di luar jurang.

Orang-orang yang memusuhinya karena Sam-kong-kiam.

Maka begitu sang guru menyuruh dia bercerita dan Kim-mou-eng merasa gemas, maka pendekar ini segera menceritakan pada gurunya apa yang sesungguhnya terjadi.

Bahwa di kota raja dia dianggap mencuri Sam-kong-kiam, berita ini menyebar dari mulut ke mulut, dan dia dianggap maling hina, padahal sama sekali wujud pedang itu pun dia tak tahu.

Dan ketika urusan tiba pada penghadangan orang-orang kangouw yang ingin merebut pedang itu dari tangannya, Kim-mou-eng berseru mengepal tinju.

"Teecu tak tahu sama sekali di mana pedang ini berada, Suhu. Maka melihat orang-orang menganggap Teecu membawa Sam-kong-kiam sungguh menyebalkan sekali. Teecu berjanji pada kaisar mencari pencuri ini, tapi karena batas waktu sudah habis dan Teecu tak berhasil, maka Teecu bingung apa yang harus Teecu lakukan."

"Jadi Sam-kong-kiam yang hilang dari istana?"

"Benar, Suhu. Apakah Suhu dapat memberi petunjuk?"

"Hm, cukup berbahaya. Coba kulihat sebentar..." Kakek dewa itu memejamkan mata sejenak dan kemudian menghela napas.

Dan ketika sang murid berdebar dan menunggu jawabannya, tiba-tiba kakek ini mengucap puja-puji.

"Thian Yang Maha Agung, sesuatu akan terjadi. Darah dan darah mengalir di mana-mana. Hm, pedang ini berada di timur, Kim-mou-eng. Yang membawanya adalah sahabatmu sendiri. Untuk sementara cukup kuberi tahu padamu bahwa sesuatu yang hebat akan terjadi. Kau harus berhati-hati dan sebaiknya pulang ke suku bangsamu. Pedang ini masih akan berkeliaran dan terjadi penumpahan darah yang mengerikan. Waspadalah. Aku melihat tubuh-tubuh yang bergelimpangan karena ulah seseorang!" Kim-mou-eng membelalakkan mata.

"Siapa orang itu, Suhu?"

"Bekas sahabatmu sendiri, jangan bertanya lebih jauh dan lihat apa yang kugambarkan ini," Bu-beng Sian-su tiba-tiba menggurat dinding, jarinya bergerak-gerak dan dengan cepat tiga bait syair diguratnya indah.

Begitu halus namun jelas dan dapat terbaca terang.

Dan ketika Kim-mou-eng tertegun dan mengamati tiga bait syair itu, maka matanya terbelalak mengikuti tulisan gurunya:

Mengguncang langit menggetarkan bumi

Terhunjam pongah sepotong besi

Tiada peduli kanan dan kiri

Itulah Pedang Tiga Dimensi

Kaku, dingin dan mati!

Sekarang apa artinya ini? Kenapa dikejar dan dicari, bukankah yang amat berarti masih bukan milik sendiri?" Karena itu, sungguh bodoh si manusia buta yang terkidung nafsu dan loba, kian tersesat menumpuk dosa sampai ajal merenggut tiba!

Kim-mou-eng menahan napas.

"Suhu, apa artinya ini?"

"Artinya ini berhubungan dengan pedang Sam-kong-kiam itu, muridku. Bahwa syair ini mengungkapkan apa yang sedang dan akan terjadi. Pedang Sam-kong-kiam adalah Pedang Tiga Dimensi itu juga, pedang yang menjadi simbol jatuh bangunnya kerajaan!"

"Suhu tahu tentang pedang ini?"

"Ya, pedang yang ampuh, berasal dari Mahadewa Sin Seng (Dewa Bintang) menurut catatan kitab-kitab kuno di perpustakaan kaisar. Kau belum tahu?"

"Belum."

"Kalau begitu dengarlah sebentar." Dan Bu-beng Sian-su yang lalu menghela napas memandang keluar tiba-tiba bercerita, memulai semacam dongeng yang menarik. "Dulu, beberapa ratus tahun yang lalu, Kaisar Cung-ho yang menjadi nenek moyang kaisar sekarang menghadapi seorang musuh yang amat luar biasa kuat.

Musuh ini bernama Hek Bin, memiliki kesaktian tinggi dan amat angkara murka.

Seluruh raja-raja di daratan Tiongkok disapu habis, tinggal Kaisar Cung-ho yang dikepung dari segala penjuru, tak mau menyerah dan menyatakan siap melawan sampai titik darah terakhir.

Dan ketika kota raja dikepung oleh Hek Bin yang sakti ini meluruk bersama pasukannya, tiba-tiba seorang gagah perkasa muncul membantu Kaisar Cung-ho."

"Siapa orang ini, Suhu?" Kim-mou-eng memotong.

"Sabar, tak ada yang tahu siapa orang ini pada mulanya. Dia seorang laki-laki muda yang dapat menandingi kesaktian Hek Bin. Pertarungan mereka diceritakan luar biasa dahsyat karena mereka dapat bertempur di atas air dan di udara. Hek Bin dan lawannya dapat mengeluarkan apa yang tidak bisa dikeluarkan orang lain. Hujan, api, guntur, serta angin taufan yang membuat mereka bertempur tujuh hari tujuh malam. Matahari gelap dan terang ketika pertempuran itu terjadi, banyak yang ternganga ketika menyaksikan pertarungan yang amat luar biasa itu. Tapi ketika pada hari kedelapan laki-laki muda yang gagah perkasa ini mulai kelelahan menghadapi lawannya yang hebat, tiba-tiba orang muda itu melarikan diri di puncak mega yang paling atas.

Hek Bin mengejar, si angkara itu juga kelelahan tapi tak mau kehilangan lawan, mereka sebenarnya sama-sama terluka.

Dan ketika Hek Bin mencari-cari lawannya di mega yang tebal, tiba-tiba lawannya itu muncul dalam bentuk sebatang pedang yang memiliki tiga macam sinar."

"Sam-kong-kiam?"

"Benar, itulah pemuda yang menjelma dalam bentuk pedang itu. Hek Bin terkejut karena sinar di tubuh pedang ini menyilaukan matanya. Pedang bergerak dan menyerang di atas mega, sinarnya berkali-kali mencuat, dan orang di bumi mendengar ledakannya yang dahsyat. Dan karena roh pemuda itu bersembunyi di balik pedang ini dan terus bergerak serta menyerang lawannya, akhirnya Hek Bin kewalahan dan terdesak hebat..."

"Dan akhirnya si angkara terbunuh, Suhu?" Kim-mou-eng kembali tak sabar memotong.

"Tidak, Hek Bin memang terdesak dan kewalahan. Tapi karena si angkara ini memiliki kesaktian yang disebut Seribu Nyawa Rangkap, maka dia tak dapat dibunuh karena setiap kali dibunuh, maka setiap kali itu pula dia bangkit lagi dengan nyawa yang baru!"

"Ah, demikian hebat?" Kim-mou-eng terbelalak.

"Ya, begitu menurut dongeng dalam kitab-kitab di perpustakaan itu, Kim-mou-eng. Dan karena Hek Bin tidak dapat dibunuh berkat kesaktiannya memiliki Seribu Nyawa Rangkap itu, akhirnya pemuda gagah perkasa dalam bentuk badan pedang itu mendapat sebuah akal dengan cara membelit-belit tubuh Hek Bin dengan sinar pedangnya.

Hek Bin akhirnya dililit, terus dililit, dan akhirnya tak dapat bergerak. Dan ketika si angkara itu roboh dan pemuda ini mencapai kemenangan, maka si angkara lalu diikat pada sebongkah mega yang luar biasa berat dan besar di angkasa!"

"Fantastis!" Kim-mou-eng berseru.

"Apakah sampai sekarang si angkara itu masih hidup, Suhu?"

"Entahlah, ini memang cerita dalam dongeng Sam-kong-kiam itu, muridku. Tapi satu hal yang dipercaya jelas adalah Sam-kong-kiam memiliki keampuhan luar biasa hingga matahari pun akan meredup sinarnya bila bertemu Sam-kong-kiam!"

"Begitu hebat?"

"Ya, begitu hebat. Karena itu lampu-lampu dan semua penerangan lain akan padam bila bertemu Pedang Tiga Sinar ini!" Kim-mou-eng mengeluarkan suara decak berkali-kali. Dia kaget dan kagum bukan main mendengar ampuhnya pedang sakti ini, hampir tak percaya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment