Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 22

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 22

Tapi karena yang bicara itu adalah suhunya sendiri dan tidak mungkin suhunya berbohong, tiba-tiba pendekar ini teringat kisah tadi yang belum berakhir secara tuntas.

"Suhu, lalu bagaimana Kaisar Cung-ho dan lain-lain itu mengetahui siapa pemuda penolongnya ini? Dan bagaimana pula Sam-kong-kiam jatuh ke tangan kaisar itu?"

"Hm, pemuda itu sebenarnya bukan lain adalah putra Mahadewa Sin Seng sendiri, muridku. Dia diutus ayahnya untuk menghadapi Hek Bin yang sebenarnya jelmaan roh Dewa Naga Hitam. Dewa Naga ini membuat onar di mana-mana; di langit dan di bumi dia selalu membuat kerusuhan. Karena itu, untuk menghadapi si angkara Hek Bin yang sebenarnya jelmaan dari Dewa Naga Hitam ini, Mahadewa Sin Seng mengutus putranya untuk membekuk pengacau itu, menangkap dan mengikatnya hingga Hek Bin atau roh dari Dewa Naga itu tidak dapat berkutik lagi."

"Dengan demikian, kerusuhan tidak akan ada lagi di muka bumi?"

"Secara teoretis memang begitu," gurunya tersenyum aneh. "Tapi kitab kuno di perpustakaan kaisar itu menerangkan lain."

"Menerangkan bagaimana, Suhu?"

"Bahwa kerusuhan tidak dapat dihapus secara total di muka bumi ini. Hek Bin yang marah dan dendam pada lawannya setiap saat menggeram-geram, air liurnya menetes-netes, dan tetesan air liurnya inilah yang membawa bibit penyakit di muka bumi. Siapa yang kejatuhan air liur ini bakal mewarisi kejahatan Hek Bin dan dialah yang akan melanjutkan sepak terjang si angkara itu sampai bumi terguncang lagi!"

Kim-mou-eng terkejut. "Suhu percaya itu?"

Suhunya tertawa. "Siapa harus percaya dongeng yang bisa dibuat-buat, muridku? Tapi kalau dimaksudkan di sini bahwa kejahatan tidak mungkin lenyap secara total, memang aku memercayai itu! Bumi sudah dipenuhi dua unsur: baik dan buruk, indah dan jelek. Bukankah ini saja sudah menunjukkan apa yang terjadi? Bumi yang menjadi tempat tinggal manusia memang bukan tempat yang selalu tenang, muridku. Karena itu, dengan melihat ini saja kita sudah tahu apa yang sebenarnya akan dan harus terjadi."

Kim-mou-eng mengangguk-angguk. "Lalu kembali pada masalah Sam-kong-kiam tadi," dia bicara. "Apakah pedang ini diwariskan pada Kaisar Cung-ho, Suhu?"

"Begitu menurut kitab kuno itu," jawab gurunya. "Pemuda yang telah menjadi badan pedang ini ingin menjaga ketenteraman di muka bumi. Dia melanjutkan tugas yang diberikan ayahnya untuk melindungi manusia-manusia di bumi lewat perantaraan Kaisar Cung-ho. Kaisar ini memang dikenal sebagai kaisar yang bijak dan adil, banyak disukai dan dicintai rakyatnya. Maka ketika Hek Bin tidak dapat melepaskan diri lagi dari ikatannya dan putra Mahadewa Sin Seng ini menyelesaikan tugasnya, maka dia menjatuhkan diri ke pangkuan Kaisar Cung-ho dalam bentuk pedang Sam-kong-kiam itu, berseru agar kaisar menyimpan dia baik-baik. Dengan begitu, kaisar ini memiliki kewibawaan besar. Pamor dari kesaktian Sam-kong-kiam membuat wibawa Kaisar Cung-ho naik; banyak lawan menjadi kawan. Tapi karena Hek Bin yang terikat di angkasa sana selalu meneteskan liurnya dan mencari jalan untuk membalas dendam, maka seperti yang dikatakan tadi, kerusuhan bakal selalu ada dan mengguncang permukaan bumi ini."

"Dan Kaisar Cung-ho merupakan kaisar pertama yang memiliki Sam-kong-kiam ini, Suhu?"

"Benar, begitu menurut kitab-kitab di perpustakaan sana. Nenek moyang kaisar sekarang mengakuinya, tapi karena cerita dongeng bisa saja ditambahi sana-sini, maka aku hendak memberitahukan apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan pedang ini."

Kim-mou-eng tertarik. "Suhu mengetahui itu?"

"Ya, cobalah dengarkan sebentar." Kakek itu menarik napas. "Pedang Tiga Dimensi atau Pedang Tiga Sinar ini sebenarnya merupakan simbol kejayaan bagi pemiliknya, Kim-mou-eng. Karena warna atau masing-masing sinar dari tubuh pedang itu memiliki arti. Pertama adalah warna hijau. Warna ini memberi jaminan akan harta, artinya selama hidup orang itu tidak mengenal artinya miskin karena harta dunia akan selalu bergelimang memandikan tubuhnya. Lalu warna kuning. Warna ini menunjukkan kejantanan. Laki-laki yang dilindungi warna ini akan memiliki kekuatan seks luar biasa. Dia sanggup melayani puluhan bahkan ratusan wanita. Tapi karena warna kuning juga merupakan warna yang mengisyaratkan kehati-hatian, maka seyogianya laki-laki yang dilindungi warna ini tidak menghambur-hamburkan kejantanannya dalam urusan wanita!"

Kim-mou-eng menahan napas. "Wah, begitu hebat, Suhu! Agaknya hanya kaisar saja yang dapat menjadi orang seperti itu!"

"Ya, karena itu Sam-kong-kiam memang milik kaisar. Tapi jangan potong dulu keteranganku. Perhatikan baik-baik untuk warna terakhir ini, warna merah. Kau tahu apa yang menjadi tanda bagi warna merah ini?"

"Tidak," Kim-mou-eng tentu saja menggeleng.

"Warna merah ini menunjukkan warna kekuasaan, muridku. Siapa yang dilindungi warna ini berarti dia memiliki kekuasaan yang amat besar di muka bumi. Karena itu, lagi-lagi hanya kaisar atau maharaja yang mampu memiliki hal seperti itu!"

"Kekuasaan?"

"Ya, kekuasaan. Jadi lengkaplah sudah apa yang menjadi arti dari masing-masing warna yang ada di tubuh Pedang Tiga Dimensi itu: hijau, kuning, dan merah. Dengan kata lain: Harta, Kejantanan, dan Kekuasaan. Tapi karena kekuasaan ini juga merupakan sesuatu yang amat besar risikonya, maka warna merah juga dimaksudkan sebagai warna bahaya. Artinya, orang yang dilindungi warna ini harus melipatgandakan kehati-hatiannya agar tidak celaka oleh warna itu juga. Karena sekali dia lengah dan salah melangkah, maka warna merah akan menghantarkannya ke penderitaan kekal di dunia dan akhirat!"

Kim-mou-eng tertegun, tanpa terasa dahinya pun tiba-tiba berkeringat. "Suhu, berat sekali arti dari tiga warna pada Pedang Tiga Dimensi itu. Kekayaan, Kejantanan, dan Kekuasaan. Orang yang mendapatkan ini berarti menerima kemuliaan yang tiada taranya. Sungguh tidak menyesal hidup sekali di atas bumi; semuanya diperoleh. Tapi, begitu enakkah jaminan yang diberikan oleh pedang yang ampuh itu?"

"Pedang itu memang jelmaan dewa, muridku, begitu menurut catatan di perpustakaan kaisar. Jadi agaknya dapat diterima juga oleh kebanyakan orang karena kehidupan para dewa pada umumnya dianggap jauh lebih baik daripada kehidupan manusia. Tapi masalah enak atau tidak enak tergantung yang bersangkutan juga. Manusia makhluk yang tidak kenal puas; apa yang sesungguhnya enak bisa saja dianggap masih kurang enak. Yang sesungguhnya harus disyukuri ternyata tidak disyukuri. Semuanya tergantung pribadi masing-masing."

"Dan kekurangannya, apa yang menjadi kekurangan dari Pedang Tiga Dimensi ini, Suhu?"

"Tunggu, sudah cukup jelaskah kau akan semua keteranganku tadi?"

"Teecu kira sudah cukup jelas."

"Baik, kalau begitu berikan komentar atau sedikit tanggapan bila kau benar-benar sudah cukup jelas!"

Kim-mou-eng terkejut. "Apa, Suhu? Memberi tanggapan?"

"Ya, tanggapan atau komentar. Bagaimana komentarmu bila sekarang kau mengetahui kelebihan dari Pedang Tiga Dimensi ini!"

Kim-mou-eng bingung.

"Ayo, kenapa diam? Bukankah kau bilang sudah cukup jelas? Kalau kau sudah mengerti atau cukup jelas, tentunya kau akan segera memberi tanggapan tentang apa yang terjadi kalau seseorang sudah mengetahui perihal jaminan-jaminan yang diberikan Pedang Tiga Dimensi ini!"

Kim-mou-eng gugup. "Maaf, Teecu bingung. Teecu tidak mengerti apa yang Suhu kehendaki."

"Hmm, ini artinya keteranganku belum meresap benar di hatimu, Kim-mou. Engkau tergesa-gesa melangkah sebelum langkah pertama kau maklumi benar."

"Suhu barangkali benar. Teecu mohon petunjuk."

"Baiklah, sekarang kutuntun sedikit. Sebenarnya rahasia kelebihan Pedang Tiga Dimensi ini tidak banyak orang tahu. Di dunia ini barangkali hanya beberapa gelintir orang saja, tapi sekarang rupanya terjadi kebocoran. Kalau sekarang orang tahu apa yang menjadi kelebihan pedang ini, apa kira-kira yang akan terjadi pada saat itu? Tidakkah timbul keinginan untuk memiliki pedang yang menjanjikan kenikmatan hidup ini?"

"Ah," Kim-mou-eng sadar. "Memang benar, Suhu. Orang mulai tertarik dan timbul keinginan untuk memiliki pedang itu!"

"Benar, kemudian apa?"

"Kemudian terjadi tindak kekerasan. Orang yang sudah mengetahui kehebatan pedang ini akan merampas dan kemudian berbuat onar!"

"Bagus, itu yang kumaksud. Kalau sudah begini jawabanmu, maka berarti sungguh-sungguh kau sudah mengerti cukup jelas. Ini berarti pengetahuanmu semakin dalam. Kau masih ingat wejanganku beberapa bulan yang lalu? Bukankah orang cenderung mendekati kesenangan dan menjauhi ketidaksenangan? Nah, pencurian pedang ini juga berkecenderungan ke situ, muridku. Bahwa langkah pertama dari pemberontakan jiwa sedang terjadi. Bocornya rahasia pedang ini bakal membawa banyak petaka bagi manusia karena manusia tertutup oleh kebodohannya sendiri!"

Kim-mou-eng tertegun. "Sekarang kau mengerti?"

"Ya, Teecu mengerti. Kiranya kelebihan pedang ini telah bocor keluar. Dan karena sudah bocor keluar, maka manusia-manusia lain akan memperebutkannya seperti apa yang telah Teecu alami. Tapi, Suhu, kenapa kau menyebut-nyebut tentang kebodohan? Bukankah salah kaisar kalau kebocoran ini terjadi?"

"Hai, sebaiknya jangan buru-buru menuduh kaisar, muridku. Di dunia ini hampir tidak ada hal yang tidak diketahui orang lain, biarpun barangkali cuma dua orang saja yang mengetahui sesuatu rahasia di muka bumi. Itu hukum alam. Sebaiknya kembali saja pada masalah kebodohan itu; ini yang menjadi intisari pembicaraan kita. Belumkah kau melihat sesuatu yang penting di sini? Ataukah kau belum menangkapnya?"

Kim-mou-eng mulai berhati-hati. "Suhu, Teecu belum melihat kebodohan manakah yang sebenarnya kau maksud. Tapi sebelum kita ke situ, barangkali tidak ada jeleknya kalau Suhu menerangkan pada Teecu sisi lain dari Pedang Tiga Dimensi itu, sebelum Teecu kelupaan bertanya."

"Kau maksudkan kekurangan pedang ini?"

"Benar, Suhu. Bukankah kau sudah menunjukkan kelebihannya?"

"Baiklah, kuterangkan sedikit. Sebagaimana tadi kuberitahukan padamu bahwa di samping kelebihannya, Pedang Tiga Dimensi ini juga memiliki kekurangan atau kelemahan."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment