Chapter 23
Padang ini jelmaan seorang dewa, begitu menurut kitab kuno di perpustakaan kaisar. Karena putera Mahadewa Sin Seng ini seorang pemuda yang selama hidup belum pernah kawin, maka dia amat takut sekali bersentuhan dengan wanita. Itulah sebabnya pedang ini diperuntukkan bagi kaum lelaki, bukannya wanita, karena sesungguhnya tak ada faedahnya bagi wanita untuk memiliki pedang ini bila yang diinginkan adalah daya kegaibannya itu. Tetapi kelak kalau pedang ini sampai jatuh pula ke tangan wanita, maka selama empat puluh hari empat puluh malam cahaya gaib yang memancar di badan pedang itu akan lenyap, dan Pedang Tiga Dimensi akan menjadi pedang biasa sampai seorang laki-laki akan mampu menghidupkannya lagi dengan jalan bertapa selama empat puluh hari empat puluh malam pula.
"Ah, begitu berat?"
"Ya, begitu menurut kitab dongeng itu. Tetapi selama ini kebetulan pula pedang itu belum pernah jatuh ke tangan seorang wanita. Ada hal yang tak kalah pentingnya lagi, yakni bila pedang itu jatuh ke tangan orang jahat." Kim-mou-eng terbelalak, tertarik hatinya.
"Bagaimana itu, suhu?"
"Dan tentunya orang jahat yang dimaksudkan di sini adalah laki-laki, bukan?"
"Benar. Apa yang dilakukan bila pedang ini jatuh ke tangan penjahat, muridku?"
"Mana teecu tahu?"
"Kau harus tahu. Sekarang kuberi tahu. Begini, meskipun aku sendiri belum membuktikan, tetapi menurut catatan kitab kuno itu, Pedang Tiga Dimensi atau Pedang Tiga Sinar ini akan hilang keampuhannya bila terkena air kencing bayi perempuan. Memang hilangnya keampuhan itu tidak selamanya, karena begitu dibersihkan dan direndam air suci yang berasal dari Pegunungan Himalaya, keampuhannya bangkit lagi. Air ini tidak sembarang air. Di dunia ini yang memiliki air suci yang dimaksud hanya dua orang saja: satu adalah kaisar, dan yang lain adalah Hu Lai Lama yang ada di Tibet. Aku tidak tahu di mana persisnya Hu Lai Lama ini tinggal, sedang air suci yang disimpan kaisar tentu hanya kaisar sendiri yang tahu."
"Maaf," Kim-mou-eng memotong. "Kenapa air itu disebut air suci, suhu?"
"Karena air itu berasal dari sumber di puncak Himalaya yang selamanya belum pernah disentuh wanita."
"Jadi, karena air itu belum pernah disentuh wanita, lalu dinyatakan sebagai air suci?"
"Ya, khusus dalam hubungannya untuk memulihkan lagi kesaktian Pedang Tiga Dimensi ini, apabila karena satu dan lain sebab pedang itu terkena kencing bayi perempuan."
"Hm...!" Kim-mou-eng mengangguk-angguk. "Lalu apa maksud suhu memberitahukan teecu semuanya ini? Apakah teecu akan mengalami celaka gara-gara pedang itu?"
Bu-beng Sian-su tersenyum aneh. "Kim-mou-eng, adakah kau tidak merasa celaka gara-gara pedang itu? Adakah kau merasa biasa-biasa saja sejak pedang itu dinyatakan diambil olehmu?"
Kim-mou-eng terkejut. "Maksud suhu?"
"Jelas, aku memberitahukan ini karena ada sangkut-pautnya. Aku melihat kau bakal dibuat repot oleh Pedang Tiga Dimensi itu. Belum mendapatkannya saja sudah dibuat jatuh bangun seperti ini, apalagi kalau kau sudah memenuhi janjimu pada kaisar dan pedang itu dapat kaurampas kembali!"
"Ah," Kim-mou-eng sadar. "Teecu memang akan mencari pencuri itu, suhu. Tetapi berhasilkah teecu menurut pandangan suhu?"
"Kenapa ingin tahu lebih cepat? Bukankah sebaiknya kau jalani saja? Orang yang ingin buru-buru selesai menandakan kecerobohannya. Karena keterburu-buruan tanpa kebati-hatian hanya akan merugikan diri sendiri belaka. Sebaiknya kau perhatikan tiga bait syair yang kubuat ini, lihat dan renungkan apa yang menjadi isi dari semuanya itu!"
Kim-mou-eng tertegun. "Apa yang hendak suhu tunjukkan pada teecu?"
"Lihat dan amati, jangan tergesa bertanya!"
"Teecu belum menangkap, kecuali melihatnya sebagai syair yang bagus namun mengerikan!"
"Begitulah barangkali kau terperangkap oleh bait pertama. Tetapi inti jawaban berada pada bait kedua!"
"Hm, tentang apa, suhu?"
"Sebuah pelajaran baru, tentang kehidupan dan fakta hidup yang nyata!"
"Teecu masih bingung," Kim-mou-eng mengerutkan kening. "Teecu masih...."
"Masih tidak mengerti?" gurunya memotong. "Apa yang tidak dimengerti memang harus dipelajari, muridku. Tetapi perlu kuberitahukan di sini bahwa pangkal semua kejadian ini bertolak dari kisah pedang ini. Manusia terjebak, kau dan anak cucu generasi-generasi mendatang bisa saja ikut terjebak. Karena itu waspada dan hati-hatilah. Sekarang amati lagi tiga bait syair itu. Baca dan lihat. Renungkan dalam-dalam. Jangan bertanya dulu!"
Kim-mou-eng dag-dig-dug. Biasanya, kalau gurunya sudah mulai memasang syair begini, pasti sesuatu yang serius terjadi. Tak pernah gurunya main-main untuk hal yang percuma. Kim-mou-eng mulai mengerti kebiasaan gurunya ini. Tetapi ketika dia mulai mengamati dan membaca syair itu, ternyata Kim-mou-eng masih belum menangkap inti sarinya. Jawaban ada di tengah, begitu kata gurunya. Tetapi jawaban yang bagaimana? Dan tentang apa?
Karena dia tak boleh tergesa bertanya dan kembali coba menelusuri syair itu bait demi bait, tiba-tiba Kim-mou-eng mulai berseri mendapatkan sesuatu yang dirasa cocok. "Suhu, agaknya kau hendak berbicara masalah pengejaran cita-cita atau apa saja yang dirasa manusia amat berharga!"
"Barangkali."
"Atau suhu hendak membicarakan ke-aku-an manusia."
"Barangkali."
"Eh, kenapa barangkali, suhu? Apakah teecu salah!" Kim-mou-eng tertegun, memandang gurunya dan melihat gurunya tersenyum. Ketika dia penasaran kenapa berturut-turut dua kali gurunya menjawab "barangkali," tiba-tiba gurunya itu tertawa lembut padanya.
"Kim-mou-eng, haruskah kujawab semuanya itu sekarang? Haruskah kuberi penjelasan sebelum kau mengalami semuanya itu? Memberi jawaban sebelum ada penghayatan tak bakal menarik, muridku. Karena itu renungkan dan ingat dulu baik-baik apa yang kutulis ini. Aku telah melihat sesuatu akan terjadi, tetapi karena itu belum terjadi dan masih akan terjadi, maka biarlah kau cari jawabannya sambil berjalan."
"Kalau begitu suhu memberikan kepala menyembunyikan ekor?"
"Bagaimana menurut pikiranmu?"
"Teecu penasaran, teecu ingin segera mendapatkan jawaban!"
"Ha-ha. Jawaban tanpa kejadian ibarat air tanpa gelas, Kim-mou-eng. Tak dapat diminum dan tak akan kenyang. Kau tak akan puas dan mengerti!"
"Jadi teecu harus masuk dalam kejadian itu?"
"Ya."
"Harus terlibat?"
"Benar, bahkan langsung. Jadi setelah itu kau akan mengerti dan paham apa yang kutulis di sini. Sekarang kuulangi lagi, baca dan amati itu. Renungkan dan coba cari jawabannya."
Kim-mou-eng agak gemas. Dia semakin penasaran karena gurunya memberi teka-teki tanpa jawaban. Dia membaca dan membaca lagi. Tetapi ketika itu-itu saja yang dia dapatkan dan hasilnya masih nihil juga, tiba-tiba Kim-mou-eng menyatakan tak mampu dan menyerah, membalik dan mohon petunjuk agar gurunya membantu. Tetapi ketika dia melihat gurunya tak ada di situ lagi dan dia tak tahu kapan gurunya itu pergi, mendadak pendekar ini terkesiap dan kaget membelalakkan mata.
"Suhu...!"
Tak ada jawaban.
"Suhu...!"
Lagi-lagi tak ada jawaban. Ketika tiga kali Kim-mou-eng memanggil namun tiga kali itu pula gurunya tak menyahut, mendadak sayup-sayup tanpa entah darimana asalnya, pendekar itu mendengar tawa gurunya dari jauh. "Kim-mou-eng, jawaban yang buru-buru diberikan hanya memuaskan nafsu belaka. Ini urusan akal budi, redam dulu nafsu keinginan itu dan pasang mata serta telinga baik-baik. Kalau kau tak dapat menemukan juga dalam perjalanan hidupmu nanti, maka jawabannya akan kuberikan dalam saat yang tepat. Bersabarlah, cepat pulang dan tengok kembali suku bangsamu di padang rumput itu!"
Kim-mou-eng kaget. Dia jadi bengong dan terperangah mendengar asal suara gurunya itu. Gurunya sudah di atas jurang, padahal satu-satunya tempat untuk keluar dari tempat itu hanyalah melalui lubang di sisi tubuhnya. Dia tak mendengar sama sekali desir gerakan tubuh gurunya. Gurunya seolah bayangan tanpa asap, atau sukma tanpa raga, lolos tanpa sepengetahuannya.
Tetapi sadar bahwa gurunya adalah orang sakti luar biasa dan manusia dewa yang kepandaiannya seperti malaikat saja, tiba-tiba Kim-mou-eng menyesal tetapi cepat menjatuhkan diri berlutut ke arah dari mana asal suara gurunya tadi berada, kecewa kenapa demikian cepat mereka harus berpisah. Pertemuan dengan gurunya itu sukar sekali!
"Suhu, kenapa buru-buru meninggalkan teecu? Tetapi kalau suhu menghendaki begitu, baiklah, teecu akan pulang dan melaksanakan petunjuk suhu. Teecu harap suhu menyertai teecu lahir batin. Mohon peringatan setiap kali teecu keliru!"
Dan Kim-mou-eng yang cepat bangkit kembali melompat keluar lubang segera mengetahui bahwa dia berada di tengah-tengah jurang yang amat dalam. Sekejap tertegun, tetapi cepat bergerak. Karena Kim-mou-eng adalah murid Bu-beng Sian-su dan Pendekar Rambut Emas ini adalah tokoh yang tak diragukan kepandaiannya lagi, tiba-tiba dia sudah berjungkir balik mengayun tubuh, dan dinding demi dinding tahu-tahu sudah dilewati pemuda ini dengan amat cepat, tanpa tali dan bantuan apapun, hanya telapak tangan dan kakinya itu. Kim-mou-eng memang telah pulih kekuatannya dan sembuh berkat usapan gurunya.
Ketika sekejap kemudian pendekar itu tiba di atas jurang dan muncul seperti iblis dari dalam kubur saja, tiba-tiba pendekar ini tancap gas dan "terbang" menuju ke utara! "Aku harus mencegah suku bangsaku berperang. Aku harus mencegah sumoiku mengamuk!" Kim-mou-eng teringat perjanjian batas waktunya dengan bangsa Tar-tar, juga dengan sumoinya, karena itu sudah lewat hari ketujuh. Peringatan suhunya memang benar. Dia harus segera kembali ke suku bangsanya di luar tembok besar sana, diam-diam menyesali dan mengumpat gangguan-gangguan di tengah jalan yang membuat hari-harinya lewat terhalang.
Tanpa kenal lelah dan mati-matian dia memburu waktu. Tetapi ketika Kim-mou-eng tiba di tempat suku bangsanya dan melihat padang rumput itu kosong tanpa penghuni, tiba-tiba Kim-mou-eng jatuh terduduk dan mengeluh pucat.