Chapter 24
"Tuhan Yang Mahamulia, iblis menghasut suku bangsaku!" Ternyata bangsa Tar-tar sudah tidak ada lagi di tempat asalnya.
Kim Mou-eng hanya melihat sisa-sisa kayu takar berserakan bersama kotoran kambing dan kuda.
Kim-mou-eng tahu bahwa suku bangsanya melakukan serangan besar-besaran ke kota raja.
Bangsa Tar-tar memang bangsa yang keras dan kaku.
Ketika Kim-mou-eng terduduk dan pucat mengusap dadanya yang terengah, tiba-tiba bayangan darah dan tubuh-tubuh yang bergelimpangan seolah terlihat di depan matanya melalui padang rumput itu.
"Tidak, jangan!
Kalian harus kucegah.
Ini salah paham!" Kim-mou-eng yang seperti gila melompat bangun, tiba-tiba membalik dan meluncur lagi memasuki tembok besar, memekik dan melepas seruan keras mirip dengus seekor bison.
Kim-mou-eng ngeri dan pucat.
Karena dia tidak dapat menemukan lagi suku bangsanya di situ dan maklum apa yang terjadi, tiba-tiba pendekar ini berkelebat memanggil-manggil sumoi-nya.
Tentu saja tidak ada karena suku bangsa Tar-tar dan Salima memang telah pergi dari tempat itu.
Ketika Kim-mou-eng lenyap meninggalkan padang rumput dengan cemas dan gemetar membayangkan apa yang dilakukan bangsanya, maka jauh di timur dan barat orang-orang Tar-tar ini memang melakukan serbuan besar dengan cara memecah diri menjadi beberapa kelompok bagai harimau-harimau haus darah yang ingin membalas dendam.
Dan karena urusan ini berbuntut panjang dan satu sama lain tampaknya saling tabrak, marilah kita ikuti apa yang terjadi pada bangsa Tar-tar ini.
Hari itu, hari terakhir batas perjanjian Kim-mou-eng dengan bangsa Tar-tar diliputi mendung tebal.
Semalam hujan turun, lapangan rumput yang amat luas itu basah, di sana-sini becek.
Salima, yang mewakili suhengnya sebagai pemimpin tertinggi di situ, sudah sejak malam tadi tidak pernah tersenyum.
Gadis ini pun seperti mendung di atas. Gelap. Tidak ada senyum bersahabat di wajah yang sudah dingin itu.
Ketika hari terakhir itu tiba dan Bora serta Siga mondar-mandir di depan kamarnya, tiba-tiba Salima yang marah dan tersinggung oleh sikap dua pemuda itu membentak mereka agar masuk ke dalam.
"Tidak usah mondar-mandir.
Kalau ingin masuk, segera masuk saja!" Bentakan itu disambut muka kecut oleh kedua pembantu ini.
Memang mereka mau ke dalam, tetapi sungkan dan berpura mondar-mandir agar diperhatikan. Itulah satu-satunya yang mereka kerjakan sebagai isyarat pendahuluan, betapapun mereka gugup dan tidak enak menghadapi gadis yang lihai ini.
Mereka tahu kepandaian Salima. Ketika Salima membentak mereka, itu satu kesempatan bagi mereka untuk menyatakan "uneg-uneg". Akhirnya, dengan tersipu namun mengeraskan hati, mereka mendorong pintu ke dalam.
"Maaf.
Kami memang ingin bicara, lihiap.
Kami ragu dan takut...." "Masuklah, aku sudah tahu.
Kalian ingin bicara tentang Kim-suheng, bukan?" "Benar, kami . . . .." "Duduklah, jangan berdiri.
Tarik kursi itu dan kita boleh mulai!"
Salima kembali memotong. Sikapnya yang ketus dan dingin benar-benar membuat kedua pemuda itu semakin gugup. Siga menarik kursinya dan memberikan kursi yang lain pada temannya. Kini berhadapan dan duduk di depan Salima yang kursinya lebih tinggi.
Gadis Tar-tar itu benar-benar seperti ratu.
Ketika Salima memandang mereka dan mata yang tajam itu menembus tanpa sungkan-sungkan lagi, akhirnya Siga menunduk sementara temannya juga melengos, tidak berani beradu pandang langsung.
"Lihiap, kami telah ditanya oleh orang-orang kami apa yang harus kami lakukan.
Perjanjian dengan Kim-taihiap telah mendekati batas akhir, karena itu sukalah lihiap memberikan keputusan apa yang harus kami lakukan."
Salima memandang Siga. "Kalian boleh lakukan apa saja, itu hak kalian.
Tapi harap diingat bahwa janji suhengku masih ada beberapa saat."
"Maksud lihiap?"
"Hari ini memang batas terakhir janji suhengku pada kalian, Siga.
Tapi batas terakhirnya adalah tengah malam nanti.
Karena itu tunggu sampai tengah malam, di mana setelah itu balas tujuh hari yang dikenakan pada suhengku gugur.
Sebelum itu, meskipun satu atau dua jam, suhengku masih memiliki sisa waktu!"
Siga terkejut. Bora juga memandangnya.
"Apakah itu tidak benar?" Bora buru-buru menggeleng. "Tidak, itu benar, lihiap.
Kami hampir kelupaan.
Tapi bagaimana kalau sampai tengah malam nanti Kim-taihiap tidak datang?"
"Kalian boleh serang kota raja, itu keinginan kalian."
Siga dan Bora tampak girang.
"Kalau begitu kami bersiap-siap, lihiap.
Kami mohon lihiap membantu kami pada pasukan terdepan."
"Tidak, aku tidak ikut.
Kalian lakukan saja itu sendiri!"
"Apa, lihiap tidak ikut?" kedua pemuda itu kaget.
"Ya, aku ingin mencari suhengku sendiri, Siga.
Karena itu urusan serangan kalian lakukan tanpa ikut campurnya diriku!"
"Ah." kedua pemuda itu tertegun, kecewa.
"Bukankah sambil menyerang kita dapat mencari Kim-taihiap, lihiap?
Kenapa kami ditinggalkan sendirian?"
"Mencari sambil memimpin kalian terlalu lama bagiku.
Aku juga tidak sabar.
Jadi kalau sampai tengah malam nanti suhengku tidak datang, maka kalian kupersilakan bergerak dan aku akan pergi!"
"Tapi, lihiap...."
"Berhenti!
Aku sudah bicara, sekarang kalian keluar dan biar aku bersamadhi."
Salima mengangkat kedua lengannya. Bora tidak jadi bicara dan saat itu juga mereka dipersilakan keluar.
Pemuda ini tertegun. Tapi Siga yang menjawil dan mengangguk menyambar temannya lalu memberi hormat dan buru-buru keluar.
"Tidak perlu membantah.
Kita sudah menyelesaikan pokok pembicaraan kita," di luar Siga berbisik, menutup pintu itu dan Bora terbelalak tidak puas.
Mereka sudah disambut beberapa orang lain yang menjadi pembantu mereka.
Ketika Siga mengajak menjauh dan hari itu bangsa Tartar kasak-kusuk mendengar hasil percakapan Salima, tiba-tiba mereka girang sekaligus juga kecewa.
"Ah, kita menyerang tanpa Sian-li-lihiap, Siga."
"Dia hendak meninggalkan kita kalau suhengnya tidak datang juga?"
"Begitu katanya, dan kita tidak dapat menawar-nawar lagi."
"Tapi kita dapat membujuk, kita dapat mencari perhatiannya dan minta agar dia tetap bersama kita!"
"Siapa dapat membujuk Tiat-ciang Sian-li Salima?
Siapa di antara kalian berani melakukan itu?"
Semua diam.
Siga tertawa mengejek memandang pembantu-pembantunya itu. Sekarang tidak ada satu pun yang berani menjawab, mereka rata-rata tahu kekerasan hati Salima, seperti mereka pun tahu kekerasan watak bangsa mereka sendiri.
Orang-orang Tar-tar memang orang yang rata-rata berhati keras, kuat kemauan, dan tidak gampang dibujuk. Karena mereka maklum bahwa Salima pun tidak dapat dibujuk, biar mereka pun menyembah seribu kali, akhirnya mereka mengadakan rapat sendiri dan menjelang tengah malam kesibukan besar terjadi di perkemahan suku bangsa ini.
Bulan di atas sana ditunggu sebagai penunjuk waktu. Kebetulan mendung menyingkir dan bulan kian lama kian di atas kepala, akhirnya tegak dan lurus di atas perkemahan orang-orang Tar-tar ini.
Ketika tepat tengah malam batas perjanjian berakhir dan Kim-mou-eng tidak datang juga, maka Siga dan teman-temannya mendatangi kemah besar di mana Salima tinggal, bermaksud meresmikan perjuangan mereka.
"Lihiap, kami ingin bicara...." Siga mengetuk pintu, tidak mendapat jawaban, dan akhirnya mengetuk lagi. Empat lima kali namun tidak ada suara di dalam.
Tentu saja Siga dan orang-orangnya mengerutkan kening, mereka khawatir. Tapi ketika ketukan berikut juga tidak mendapat sambutan dan Siga memberanikan diri membuka pintu, mendadak mereka melongo melihat ruangan itu kosong, tidak ada seorang pun.
"Ah, dia telah pergi!" Siga sadar, melompat masuk dan teman-temannya juga mengikuti. Diam-diam mereka terkejut karena kepergian Salima tidak diketahui seorang pun, padahal gadis itu berada di tengah-tengah ribuan orang yang mengelilingi kemahnya.
Ketika Siga mendapat sepotong surat yang ditujukan padanya, maka pemuda ini tertegun membaca apa yang ditulis Salima.
"Kalian boleh serbu kota raja.
Tidak perlu ditunda.
Gempur dan bunuh saja lawan-lawan kalian di sana.
Rupanya kaisar orang yang licik.
Aku mendahului kalian dan berhati-hatilah."
Itu saja. Salima tidak memberi tanda tangan pada suratnya, tetapi semua orang mengerti.
Karena surat itu juga bersifat "meresmikan" perjuangan mereka, tiba-tiba saja semua orang mengacungkan tinju berseru lantang, "Hidup bangsa Tar-tar.
Kami akan memulai perjuangan membasmi kaisar yang sombong!"
Ketika yang lain berseru menyambut dan pekik itu keluar di mana-mana, tiba-tiba saja perkemahan bangsa Tar-tar ribut dan guncang oleh teriakan di sana sini.
Mereka sudah dibakar nafsu berperang.
Hampir dua bulan dipendam-pendam tidak tahan, kini Salima mengizinkan mereka, dan mereka seolah harimau buas keluar dari kerangkeng.
Tentu saja kegembiraan orang-orang Tar-tar ini tidak dapat digambarkan lagi. Tapi karena Salima meninggalkan mereka dan Kim-mou-eng juga tidak ada di situ, maka kegembiraan serta nafsu berperang itu agak terganggu juga dengan kepergian dua orang ini.
Ada kekecewaan di hati, ada semacam kekosongan ganjil. Tapi karena mereka sudah bertekad dan rasa persatuan di antara mereka besar, akhirnya meskipun dengan kecewa orang-orang Tartar ini melanjutkan juga apa yang menjadi maksud di hati.
Malam itu juga mereka sibuk.
Siga dan Bora mengadakan rapat kilat siapa yang menjadi pemimpin tunggal, menggantikan Kim-mou-eng dan Salima itu. Debat pendapat terjadi di sana sini, cukup tegang. Sebagian besar memilih Siga, enam puluh persen. Tapi karena sisa empat puluh persen memilih Bora dan Siga tidak mau adanya perpecahan di situ, tiba-tiba pemuda ini mengajukan usul bahwa siapa pun dapat memimpin.
"Pemimpin kita tetap Kim-taihiap, wakil kita adalah Tiat Ciang Sian-li Salima.
Daripada ribut-ribut sendiri mencari pengganti mereka, biarlah pasukan besar kita dipecah saja mengepung kota raja.
Mungkin bisa dipecah lima atau sepuluh, dan masing-masing dipimpin oleh lima atau sepuluh orang yang bertanggung jawab akan pasukannya."