Chapter 25
“Bagaimana menurut pendapat Saudara-saudara?” “Setuju!” tiba-tiba yang lain bersorak. Usul dapat diterima dan malam itu juga bangsa Tar-tar menyusun siasatnya.
Ribuan pasukan dipecah menjadi kelompok yang lebih kecil, masing-masing berjumlah sepuluh orang.
Kini ada sepuluh pemimpin pula di antara mereka, sebagai komandan pasukan.
Ketika malam itu semuanya diatur dan bangsa Tar-tar menyiapkan diri, keesokan paginya, setelah subuh, pasukan besar yang sudah menjadi beberapa kelompok ini berderap meninggalkan tempat mereka melakukan perjalanan panjang menuju kota raja.
Barisan perang ini benar-benar siap tempur.
Mereka mendekati tembok besar bagai naga melingkar-lingkar.
Ketika sasaran sudah dekat dan mereka melakukan serangan tiba-tiba, tak ayal lagi pengawal tapal batas di dalam tembok besar menjadi kalut dan kaget. Serbuan lawan di luar dugaan karena selama ini bangsa Tar-tar dianggap sahabat oleh mereka.
Pertempuran di sini berjalan tak seimbang. Pasukan kerajaan kalah banyak dan mereka terpukul.
Bangsa Tar-tar menyerbu dari mana-mana.
Karena kalah jumlah dan kalah mental, pada hari pertama serbuan mereka, bangsa Tar-tar dapat menguasai perbatasan dan terus maju.
Namun, di sini pasukan kerajaan mulai siap.
Laporan serbuan bangsa Tar-tar membuat orang-orang istana kaget. Mereka cepat datang dan bala bantuan ditambah.
Semangat prajurit mereka dibangkitkan lagi dan Cu-ciangkun sendiri memimpin anak buahnya ini.
Kakak beradik panglima bertombak itu marah menyambut bangsa Tar-tar.
Ketika serbuan demi serbuan mulai dihadapi perlawanan keras, dan Cu-ciangkun serta pembantunya membalas serangan musuh yang beringas, untuk beberapa saat bala tentara Tar-tar tertahan dan hanya merebut sebuah kota saja.
Di sini pertarungan sengit terjadi.
Bentakan dan makian saling meluncur.
Siga dan Bora menghadapi sepasang panglima-panglima terampil itu.
Cu-ciangkun menuduh mereka orang-orang liar yang tidak beradab, sementara dua pemimpin muda dari bangsa Tar-tar ini memaki Cu-ciangkun dan Kaisar sebagai orang-orang yang sombong, merendahkan bangsa lain, dan kini menangkap Kim-mon-eng pula, tentu dengan cara yang licik. Begitulah anggapan dua pemimpin muda Tar-tar ini.
Karena adu mulut berlanjut dengan adu kepandaian, empat orang ini menggerakkan senjata sebagai klimaks percekcokan itu.
Namun, Cu-ciangkun kakak-beradik terkejut.
Dua pemuda Tar-tar itu mampu menghadapi tombak mereka, bahkan permainan silat mereka juga dihadapi permainan yang sama oleh dua pemuda itu.
Meskipun demikian, Siga maupun Bora mendapat didikan mendiang Gurba. Sedikit atau banyak mereka juga mengenal apa artinya Sinkang, Lweekang, maupun Ginkang.
Kepandaian dua pemuda ini cukup untuk menghadapi dua panglima bermarga Cu itu.
Karena Gurba sendiri merupakan tokoh yang hebat luar biasa, dan datuk-datuk sesat seperti Hek-bong Siang-lo-mo maupun Mo-ong masih bukan tandingan raksasa itu, tak heran kalau ilmu yang diberikan pada dua pemuda ini, meskipun sedikit, tetap saja dapat menahan jago tombak seperti Cu-ciangkun itu.
Bahkan Cu-ciangkun merasa kewalahan karena dua lawan mereka memiliki napas yang lebih panjang.
Baik Siga maupun Bora termasuk lawan-lawan yang alot bagi dua panglima ini.
Namun, karena Siga maupun Bora juga tak dapat mendesak kedua lawan mereka, pertandingan berjalan seimbang, dan tiada ketentuan siapa menang atau kalah di antara empat orang yang sedang bertarung ini.
Akibatnya, anak buahlah yang mengambil alih.
Bala tentara Tar-tar ini menyerang bala tentara kerajaan.
Mereka ternyata memiliki ilmu perang perorangan yang lebih unggul, mungkin karena kehidupan keras yang biasa dihadapi sehari-hari oleh bangsa Tar-tar ini, yang membuat mereka lebih tahan dan kuat, mendesak dan terus mendesak anak buah Cu-ciangkun.
Karena secara individu bangsa Tar-tar memiliki kelebihan serta kekuatan dibanding pasukan kerajaan, perlahan tetapi pasti bala tentara Tar-tar ini mendesak dan memukul mundur pasukan kerajaan.
Hal itu membuat Cu-ciangkun pucat pasi, seperti tertampar wajahnya.
Sungguh, dia terpukul.
Ketika dia dan pasukannya terus terdesak, akhirnya di Kota Sin, panglima ini menggali parit untuk menghalangi serbuan bangsa Tar-tar.
Di Kota Sin, Siga dan anak buahnya berhenti.
Seluruh kota dilindungi parit dalam itu. Sementara bangsa Tar-tar mencari akal bagaimana dapat meneruskan serangan mereka, Cu-ciangkun sendiri, melalui jalan yang sukar dan berbahaya di belakang kota, melarikan kudanya menuju kota raja untuk melaporkan desakan bangsa Tar-tar.
Ia malu dan gusar, namun terpaksa kembali.
Ketika Kaisar mendapat laporan dan yang lain-lain juga mendengarkan cerita itu, Kaisar tertegun dan terhenyak, mematung, meremas lengan kursi singgasananya.
“Hamba tak berdaya, Sri Baginda.
Benar-benar tak berdaya!” Cu-ciangkun menunduk, hampir menangis.
“Kekuatan mereka secara individu benar-benar melebihi kekuatan pasukan kita sendiri.
Hamba siap menerima hukuman Paduka.”
“Hm....!” Kaisar termangu-mangu.
“Bagaimana bisa begini? Dan mana Kim-mou-eng yang tidak menepati janji?” “Kami tak melihat Kim-mou-eng di sana, Sri Baginda.
Begitu pula sumoinya.
Bangsa Tar-tar hanya dipimpin oleh sepuluh orang muda seperti Siga dan Bora itu!” “Bekas pembantu Gurba?” “Benar, dan mereka bertempur seperti orang kesetanan.
Mereka menjerit-jerit gila tentang urusan Bi Nio itu!” Kaisar terkejut.
“Apa maksudmu?” Cu-ciangkun kemudian menceritakan perihal itu.
Bahwa bangsa Tar-tar menganggap Kaisar menghina mereka, memberikan Bi Nio yang sudah hamil pada mendiang Gurba, sama seperti tuduhan Kim-mou-eng dulu saat Pendekar Rambut Emas itu tiba di istana.
Ketika Cu-ciangkun menjelaskan bahwa serbuan bangsa Tar-tar itu disebabkan oleh urusan ini, panglima itu dengan tersendat-sendat mengulang kata-kata Bora yang marah kepadanya, “Memangnya bangsa Tar-tar harus memelihara anak asing?! Memangnya bangsa Tar-tar budak bangsa asing hingga harus menerima perlakuan Kaisar?! Tidak, kami masih dapat memelihara anak keturunan kami sendiri, Cu-ciangkun.
Katakan pada Kaisarmu yang sombong itu bahwa anak Bi Nio akan kami butuhkan!” Kaisar membelalakkan matanya.
“Bangsa Tar-tar bilang begitu?!” “Aih, lancang mereka!
Keparat, temukan anak Bi Nio yang hitam itu, dan lihat siapa yang menghina!” Namun, Kim-taijin melipat tubuhnya.
“Maaf, Sri Baginda.
Bukankah anak Bi Nio diculik orang dan diganti anak lain? Lalu, bagaimana kita memberikan anak itu kalau anak yang sekarang ini jelas berdarah Han, bukannya Tar-tar?! Sebaiknya Paduka bersabar, Sri Baginda.
Urusan itu ditunda saja, dan kita bicarakan kegagalan Cu-ciangkun ini.
Hamba mempunyai usul, kalau Paduka setuju mohon hamba diizinkan bicara.” Kaisar menoleh pada penasihatnya ini, sadar.
“Taijin, kau mempunyai usul apa? Kau bicaralah, biar yang lain dengar dan kita lihat usulmu.” “Begini, Sri Baginda.
Berhubung bangsa Tar-tar sudah mendekati Kota Sin dan mereka terhalang sejenak di sana, tentunya kita harus memusatkan perhatian pada masalah ini.
Hamba mengusulkan bagaimana kalau beberapa sahabat Paduka bekas raja-raja taklukan diminta partisipasi mereka, karena mereka juga mempunyai bala tentara yang mungkin sama kuat dengan bangsa Tar-tar itu.” “Maksudmu menarik mundur pasukan sendiri dengan menyuruh maju orang ini?” “Tidak setepatnya begitu, Sri Baginda.
Melainkan meminta mereka bekerja sama dengan kita.
Paduka memilih siapa dulu dan setelah itu Cu-ciangkun maju bersama mereka.
Dengan begitu, beberapa keuntungan dapat ditarik.
Pertama, Cu-ciangkun telah mengenal kekuatan lawan, dan dengan pengenalan ini Cu-ciangkun dapat memberitahukan itu pada sekutunya.
Kedua, kalau tetap jatuh korban juga bukankah orang lain yang merasakan?” “Sebelum kita mengerahkan segenap bala tentara sebaiknya usul ini dicoba dulu, Sri Baginda.
Kalau tetap gagal juga barulah kita kerahkan segenap kekuatan untuk menumpas bangsa liar itu.
Ini semua berpangkal dari salah paham.
Sayang Kim-mou-eng tak datang kepada kita!” “Hm,” Kaisar mengangguk-angguk. “Usulmu boleh juga, Taijin.
Tapi siapa kira-kira yang kita mintai bantuan? Bekas raja-raja taklukan itu banyak, aku tak dapat menentukan siapa yang harus dipilih!” “Bagaimana kalau bekas Raja Hu?” “Hu Han Sien?” “Ya.
Raja Hu dari suku bangsa Siung-nu itu, Sri Baginda.
Selama ini loyalitasnya kepada kita dapat dipercaya!” Ketika Kim-taijin memberitahu bahwa Raja Hu ini dapat diandalkan dan suku bangsa Siung-nu juga termasuk suku bangsa liar yang sederajat dengan bangsa Tar-tar itu, tiba-tiba Kaisar tertegun dan mulai mendengar kata-kata lincah dari penasihatnya ini tentang buah pikirannya bahwa bangsa Siung-nu juga termasuk bangsa yang alot, kuat, dan sudah biasa ditempa kehidupan keras.
Mereka setara dengan bangsa Tar-tar. Karena apa yang dikatakan pembesar ini dapat diterima dan semua orang pun mengangguk-angguk, tiba-tiba Kaisar tertawa berseru nyaring, “Bagus, aku setuju, Kim-taijin.
Besok kita panggil Raja Hu itu dan menyuruhnya menghadap!” “Paduka merasa cocok?” “Ya, aku sependapat.
Aku cocok.
Biar kita coba ini sekaligus menguji lagi kesetiaan Raja Hu!” Ketika Kaisar setuju dan bangsa Tar-tar akan dihadapi bangsa Siung-nu, keesokan harinya Raja yang dimaksud itu dipanggil oleh Kaisar.
Raja Hu adalah raja berkulit hitam kemerahan.
Sudah dua puluh tahun dia menaklukkan, rakyatnya merupakan gerombolan besar yang tadinya liar, menyerah dan tunduk pada ayah Kaisar yang sekarang.
Kaisar lama telah meninggal dunia, namun kesetiaan Raja ini masih dapat dipercaya. Bangsa Siung-nu pun merupakan bangsa yang hidupnya dari ternak, sebagian besar domba. Hampir setiap hari makan daging kambing dan minumnya pun susu kambing.
Tubuh mereka mengeluarkan bau khas, agak prengus, seperti prengusnya kambing benggala yang jarang mandi. Rata-rata tubuh mereka tinggi besar dan kuat.
Itulah sekilas gambaran bangsa ini.