Chapter 26
Dan ketika Hu Han Shien datang menghadap dan Kaisar menyatakan keinginannya, maka dengan gembira dan mata berkilat-kilat raja taklukan ini menyatakan kesediaannya.
"Hamba sanggup, Sri Baginda. Akan hamba pukul mundur dan hancurkan bangsa Tartar itu. Kapankah hamba mulai?"
"Hari ini kau dapat mulai, Raja Hu. Tapi kau tidak bekerja sendiri. Cu Ciangkun akan mendampingimu."
"Baik, mohon restu Paduka dan izinkan hamba berangkat!" Raja tinggi besar itu memberi hormat, membalikkan badan, dan keluar untuk menemui Cu Ciangkun.
Di sana kedua orang itu berbicara panjang lebar. Raja Hu tampak bersemangat dan beberapa pembantunya dipanggil mendekat. Mereka juga orang-orang tinggi besar yang rata-rata penuh semangat, seperti rajanya. Ketika hari itu Raja Hu selesai bicara dan kembali mengumpulkan bala tentaranya, maka keesokan harinya dalam gerak yang begitu cepat, raja ini sudah berangkat diiringi Cu Ciangkun. Mereka membawa empat ribu pasukan menuju kota Sin dan langsung menyerang bangsa Tartar.
Bangsa Siung-nu menyerang dari bagian luar, tidak dari dalam kota Sin yang masih dikepung. Mereka menyerang dari luar dan mengepung bangsa Tartar. Karena serangan ini sangat tiba-tiba, Siga serta pasukannya terkejut diserang bala tentara besar. Seketika itu juga bangsa Tartar kalut dan kocar-kacir.
Pertarungan sengit terjadi di luar kota Sin. Bangsa Siung-nu ternyata merupakan bangsa yang tak kalah beringas dibanding bangsa Tartar. Kekuatan individu mereka pun rata-rata sama; mereka juga bangsa yang biasa ditempa kehidupan keras. Karena bala bantuan itu tak diduga kehadirannya dan Siga serta teman-temannya kecolongan, maka bangsa Tartar terpukul mundur. Mereka membubarkan kepungan saat pasukan Cu Ciangkun dari dalam kota tiba-tiba membuka pintu gerbang, bersorak, dan mengejar bangsa Tartar yang sudah didesak pasukan Raja Hu.
Hari itu merupakan hari yang mendebarkan bagi bangsa Tartar. Semalaman mereka terus dikejar-kejar lawan hingga Siga dan teman-temannya kepayahan. Dua kali Siga bertemu langsung dengan Raja Hu dan dikeroyok, tetapi tetap gagah melawan. Namun, karena hari demi hari pemuda ini mendapat tekanan dan mengalami tekanan batin, hari terakhir itu menjadi hari nahas baginya.
Saat itu bangsa Tartar terus terpukul dan mereka mendapat musuh yang semakin banyak serta kuat. Ketika matahari terbit, bangsa Siung-nu menyerang mereka, dan dari empat penjuru muncul pula pasukan Cu Ciangkun. Siga yang semalam belum beristirahat sudah mengambil senjatanya dan menghadapi musuh yang mengejarnya. Ia berhadapan dengan Raja Hu serta dua pembantunya, sementara di tempat lain Cu Ciangkun menghadapi Bora dan teman-temannya.
"Siga, kau tak dapat melepaskan diri. Hari ini kau mampus!" Gada di tangan Raja Hu menyambar dahsyat menderu. Senjata mengerikan di tangan raja tinggi besar itu terasa lebih mengerikan lagi; kepala Siga menjadi sasaran utama.
Namun Siga mengelak dan menggerakkan senjatanya untuk menangkis. Ia membentak raja itu dan membalas dengan tak kalah seramnya.
"Raja Hu, kau raja taklukan yang tidak kenal malu! Siapa yang mau mampus di tangan laki-laki yang suka menjilat pantat kaisar? Kaulah yang akan kubunuh, raja tengik! Aku akan menghancurkan kepalamu dan memancangnya di ujung tombak!"
*Cring!* Dua senjata beradu. Siga dan lawannya sama-sama terpental mundur, tetapi keduanya maju lagi. Ini adalah ketiga kalinya mereka bertemu. Sebenarnya masing-masing sama kuat dan sama-sama penasaran. Raja Hu kagum akan daya tahan lawannya. Siga adalah pemuda Tartar yang kuat.
Ketika mereka bertempur lagi sementara pasukan mereka bersorak menyerang satu sama lain, tiba-tiba dua pembantu raja ini muncul dengan golok berat dan lebar.
"Sri Baginda, biar hamba bantu!"
Siga terkejut. Dua laki-laki tinggi besar menyerangnya dari samping. Itulah Ceng Kok dan Nu Kiat, dua pembantu Raja Hu Han Shien yang pandai memainkan golok. Mereka terus mengeroyok tanpa sungkan lagi. Siga mengelak tetapi terkejut karena pundak bajunya masih terbabat juga. Ternyata kelelahan selama beberapa hari ini telah mengurangi tenaganya.
Ketika lawan tertawa dan Nu Kiat serta Ceng Kok membantu rajanya, gada di tangan Raja Hu juga menyambar-nyambar dengan amat dahsyat, membuat Siga terdesak.
"Kalian kiranya orang-orang curang, benar-benar tak tahu malu!" Siga memaki. Ia tidak takut, tetapi mulai gelisah. Tiga lawan menjadi terlalu berat baginya, padahal Raja Hu sendiri sebenarnya sudah seimbang dengannya.
Ketika pundaknya yang lain terkena hantaman gada dan Siga terpelanting, dua anak buahnya yang berada dekat di situ tidak tahan melihat pemimpin mereka dikeroyok. Mereka tiba-tiba membentak dan maju membantu.
"Siga, jangan takut. Kami berdua datang!" Dua pembantu Siga ini menolong tuannya, menangkis dan menahan golok yang mengejar Siga yang sedang bergulingan.
Dua pembantu Raja Hu tertawa terbahak-bahak melihat majunya kedua pembantu Siga ini. Golok mereka berkelebat dan tombak di tangan dua pemuda Tartar itu berdentang nyaring, lalu putus terbabat saat menangkis golok di tangan dua laki-laki tinggi besar ini. Ketika mereka terpekik kaget dan terhuyung membelalakkan mata, tahu-tahu golok mencuat dua kali dan sinarnya menembus perut kedua pemuda Tartar yang gagal membantu Siga tersebut.
"Awas!"
Teriakan itu percuma. Siga memperingatkan kedua pembantunya agar membanting tubuh ke belakang, tetapi terlambat karena sinar golok lebih cepat. Ketika kedua pemuda itu menjerit dan roboh terkapar, sinar golok ditarik kembali dari perut yang isinya sudah berhamburan.
*Bles! Bles!* Kedua pemuda itu terguling dan tewas. Musuh di sekeliling bersorak gembira. Kemenangan dua pembantu Raja Hu itu disambut tawa kasar di sana-sini. Siga marah dan melompat bangun. Namun ketika ia menerjang lagi dan musuh menyambut, ternyata kemarahan saja tidak cukup untuk menghadapi musuh yang terlalu berat. Dua kali punggung pemuda ini mendapat bacokan samping, tersayat dan mengeluarkan darah.
Ketika dengan terhuyung-huyung Siga menghadapi lawannya dan Raja Hu terbahak mengayunkan gadanya, tiba-tiba tanpa dapat dielakkan lagi, kepala Siga menerima ayunan tersebut yang membuatnya terjengkang.
*Prakk!* Siga mengeluh dan terbanting roboh. Pemuda ini terguling-guling, masih berusaha bangkit untuk memaki raja itu. Namun ketika golok di tangan Ceng Kok dan Nu Kiat menyobek lambungnya, akhirnya pemuda Tartar yang gagah perkasa ini tewas. Kepalanya terkulai dan pecah, namun senjatanya tetap tergenggam erat di tangan.
Kematian pemuda itu benar-benar ksatria dan Raja Hu mau tidak mau menjadi kagum. Siga memang gagah. Ketika kematian pemuda itu terdengar oleh kawan-kawannya yang lain dan Bora terkejut, bangsa Tartar menjadi kalut dan kacau. Mereka patah semangat karena sebenarnya Sigalah yang paling pandai di antara mereka. Bora yang nomor dua kini tinggal sendirian bersama rekan-rekan yang lain, yang rata-rata lebih lemah dibanding Siga.
Karena Siga telah tewas dan kematiannya mengguncang semangat orang-orang Tartar, akhirnya suku bangsa ini didesak dan cerai-berai keluar dari Tembok Besar. Tiadanya Kim Mou-eng maupun Salima membuktikan lemahnya suku bangsa ini, apalagi dibandingkan masa Gurba, mendiang raksasa yang ditakuti itu.
Setelah Raja Hu memporak-porandakan bangsa Tartar dan mengusir mereka keluar, ia mendapat banyak hadiah dari Kaisar setibanya di kota raja. Ia mendapat sambutan istimewa dan diminta tinggal di istana selama dua bulan. Raja ini bergelimang kesenangan dan kehormatan.
Suatu hari sebelum pulang, raja ini meminta kepada Kaisar untuk dicarikan istri yang cocok. Istana menjadi sibuk ketika Kaisar menyuruh pembantu-pembantunya untuk mencari atau menghadiahkan salah seorang selir kaisar kepada raja bangsa Siung-nu itu. Ini adalah satu kehormatan lagi yang ditunjukkan Kaisar kepada raja tinggi besar ini, sebuah penghargaan yang membuat orang lain iri.
Namun, karena selir-selir istana memiliki kecantikan yang setara, Kaisar maupun pembantu-pembantunya bingung menentukan mana yang paling cocok. Mendadak Kaisar teringat pada gambar Cao Cun yang dulu pernah dilukis Kim Mou-eng. Entah kenapa tiba-tiba ia ingin memberikan putri Wang Taijin itu kepada Raja Hu. Mungkin karena Cao Cun dinyatakan "sial" bagi istana jika Sri Baginda berani mengambil gadis itu sebagai selir.
Ketika Kaisar menyatakan pendapatnya ini dan berita itu meluncur dari mulut ke mulut, tiba-tiba Cao Cun yang dikurung di Istana Dingin menangis. Nasib buruk rupanya bakal tiba; ia akan menjadi istri seorang raja "liar". Saat Cao Cun menerima berita yang semakin santer itu sementara orang yang dicintainya, Kim Mou-eng, ternyata tak kunjung datang, tiba-tiba putri Wang Taijin ini jatuh sakit dan pingsan di dalam kamarnya.
Sebelum keributan masalah pemberontakan Pangeran Muda dan ibunya, telah terjadi semacam perang dingin antara Cao Cun beserta ayahnya melawan Mao Taijin. Pembesar ini adalah menteri yang dipercaya kaisar untuk mencari wanita cantik sesuai mimpi Sri Baginda. Namun karena menteri ini pemeras dan tamak akan harta, Mao Taijin yang berhasil menemukan Cao Cun—yang persis seperti impian Sri Baginda—membawa gadis itu ke kota raja. Wang Taijin, Bupati Wang yang memerintah di Chi-cou, adalah ayah Cao Cun. Bupati ini seorang yang jujur namun keras hati.