Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 27

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 27

Ia terbujuk memberikan putrinya ke istana, tanpa menyadari bahwa ia dipermainkan oleh Mao-taijin.

Ketika putrinya telah dibawa ke ibu kota dan seharusnya dipertemukan dengan kaisar, Mao-taijin justru mengulur-ulur waktu dan menahannya. Menteri itu meminta imbalan 500 ons emas jika Cao Cun ingin segera dipertemukan dengan kaisar.

Dengan terang-terangan menteri ini meminta imbalannya. Wang-taijin marah dan akhirnya memaki-maki menteri itu.

Karena bupati ini bersikeras tidak mau menyogok dan suasana di antara mereka memanas, Mao-taijin yang jengkel dan geram lalu membawa Cao Cun ke Istana Dingin.

Istana ini, secara resmi, adalah istana penampungan. Artinya, calon selir yang belum dipertemukan dengan kaisar untuk menerima takdirnya, akan menunggu di sana. Lama penantian tergantung pada kaisar.

Namun, karena istana ini dikepalai oleh Sam-thaikam, dan sebagaimana lazimnya orang-orang istana yang memiliki kekuasaan, mereka selalu memanfaatkan kekuasaan itu untuk keuntungan pribadi, maka tempat penampungan itu berubah fungsi menjadi tempat penahanan.

Orang yang ditampung di sini sama artinya dengan ditahan; tidak boleh keluar dan tidak akan melihat dunia luar tanpa izin Sam-thaikam.

Dan karena Sam-thaikam juga sahabat baik menteri she Mao, dan menteri itu juga sering bersekongkol dengan Sam-thaikam, maka menteri ini memiliki, sedikit atau banyak, kekuasaan atas penghuni Istana Dingin.

Dengan demikian, menteri ini menunjukkan pengaruhnya. Ayah Cao Cun yang menolak memberi suap, diberi pelajaran. Cao Cun dipindahkan dan disekap di Istana Dingin.

Secara resmi, menteri itu memberitahukan bahwa Cao Cun sedang menunggu panggilan kaisar. Padahal, jika Cao Cun sudah dinyatakan membawa sial bagi istana, mana mungkin kaisar akan memanggil gadis itu. Melalui Kun-lojin, peramal istana, menteri she Mao ini telah bertindak semaunya, menyuruh peramal istana itu membuat pernyataan di hadapan kaisar bahwa tahi lalat yang ada di wajah Cao Cun berarti sial bagi kerajaan. Sri baginda tidak perlu mengambil gadis itu sebagai pujaan hatinya.

Karena pernyataan peramal itu dipercaya kaisar, dan kedudukan peramal di masa itu memang cukup berpengaruh, kaisar membatalkan niatnya untuk mengambil gadis itu. Cao Cun pun ditolak, dan oleh Mao-taijin akhirnya dimasukkan ke Istana Dingin. Semua ini telah kita ketahui dalam cerita Pendekar Rambut Emas.

Namun, Wang-taijin, yang tentu saja tidak mengetahui campur tangan Kun-lojin, peramal istana itu, tidak menduga permainan lawan-lawannya. Ia mengira Cao Cun benar-benar masih diharapkan oleh kaisar dan masih menunggu panggilan kaisar. Oleh karena itu, dengan sabar namun pasrah, orang tua itu menunggu kepulangan putrinya dari Istana Dingin. Padahal, jika ia tahu kenyataannya, mana mungkin Cao Cun akan keluar dari istana itu. Jika 500 ons emas tetap tidak diberikan kepada Mao-taijin, jangan harap gadis itu akan bebas dari Istana Dingin.

Inilah celakanya. Kekuasaan, dari zaman dahulu hingga sekarang, tampaknya juga merupakan sesuatu yang berbahaya bagi manusia. Dapat menjadi "penyakit" bagi mereka yang tidak selalu waspada. Memiliki kecenderungan untuk menyimpang jika dipegang oleh orang-orang seperti Mao-taijin. Dan karena Mao-taijin memang dikenal sebagai menteri yang suka mempergunakan kekuasaannya untuk menyimpang, maka nasib Cao Cun di Istana Dingin tidak ubahnya seperti di penjara.

Namun, ada sedikit keberuntungan karena ada seorang gadis lain yang menemani putri Wang-taijin ini. Namanya Wan Hoa, seorang gadis yang bernasib sama dengan Cao Cun karena ayah Wan Hoa juga tidak mau menuruti pemerasan Mao-taijin.

Di dalam Istana Dingin ini, Cao Cun ditemani Wan Hoa. Karena mereka senasib dan sependeritaan, Wan Hoa dan Cao Cun bagai saudara kandung yang saling menghibur dan menemani. Tapi kali ini, Wan Hoa lebih banyak menghibur temannya daripada dihibur. Cao Cun merasa penderitaannya lebih berat daripada dirinya.

Wan Hoa setia menemani temannya ini, dan tidak ada rahasia Cao Cun yang tidak diketahui Wan Hoa. Dan karena mereka bagai saudara kandung, cinta Cao Cun terhadap Kim-mou-eng pun tidak perlu disembunyikan. Wan Hoa mengikuti gerak-gerik temannya ini, mendengar pula janji Kim-mou-eng untuk menjemput Cao Cun.

Maka ketika Kim-mou-eng tidak kunjung datang dan janjinya hanya tinggal janji, Cao Cun mulai sedih dan sering menangis di kamarnya.

"Sudahlah, kau bersabar dulu, Cao Cun. Mungkin kekasihmu itu masih sibuk. Bukankah dia banyak urusan dan memimpin bangsanya pula?" demikian sering kali Wan Hoa menghibur temannya, ikut menangis dan meneteskan air mata karena diam-diam ia pun cemas. Cemas kalau Kim-mou-eng melupakan Cao Cun dan sahabatnya itu akan menjadi nenek-nenek di Istana Dingin. Ia tidak ingat bahwa dirinya pun bisa begitu, menjadi perawan tua dan akhirnya menjadi nenek-nenek kering yang tidak laku lagi. Tidak ada pria yang akan mengawini mereka.

Dan ketika Cao Cun meratap dan menangis memeluk temannya, Wan Hoa ikut bergetar pula memeluk temannya ini. "Cao Cun, orang sabar mendapat berkah. Bukankah begitu kata orang tua kepada kita? Kau tunggu kedatangan kekasihmu itu, Cao Cun. Kalau dia tidak datang juga, tidak perlu cemas, aku setia menunggumu sampai kita mati bersama di tempat ini!"

"Ah...!" Cao Cun meratap. "Kau selalu menghiburku, Wan Hoa. Kau selalu begitu baik kepadaku. Kenapa aku harus menyeretmu dalam urusan ini? Aku tidak ingin kau mati di sini, Wan Hoa. Aku ingin kau dipanggil kaisar dan hidup senang di sampingnya!"

"Tapi aku tidak ingin begitu. Lagi pula, siapa yang dapat keluar dari Istana Dingin kalau musuh kita tidak menghendaki, Cao Cun? Tidak, aku tidak mengharap begitu. Yang kuharap saat ini adalah kebebasanmu dengan datangnya Kim-mou-eng."

Cao Cun meratap lagi. Ia meremas-remas pundak temannya. Cinta Wan Hoa sebagai sahabat benar-benar luar biasa. Dan ketika mereka melewati hari demi hari sambil menanti kedatangan Kim-mou-eng, tiba-tiba mereka mendengar berita pencurian Sam-kong-kiam itu. Cao Cun terduduk saking kagetnya.

"Tidak masuk akal, aku tidak percaya!" gadis itu membelalakkan mata, tidak berkedip memandang temannya. Wan Hoa pun mengangguk. Mereka memang tidak percaya. Dan ketika berita santer itu menyebar dari mulut ke mulut, Cao Cun kembali menangis karena ia merasa pilu kekasihnya dituduh mencuri.

"Wan Hoa, mungkinkah Kim-mou-eng mencuri Sam-kong-kiam? Dan mungkinkah pula dia membunuh pengawal begitu kejam?"

"Tidak, aku tidak percaya, Cao Cun. Ini tentu fitnah. Kim-taihiap bukan seorang hina dan kita tahu betul wataknya!"

"Ya, tapi orang menyebutnya begitu. Seluruh ibu kota telah menuduh kekasihku mencuri pedang. Dan dia tidak datang juga kepada kita. Aih, apa artinya ini, Wan Hoa? Apa artinya ini?" Cao Cun menangis lagi, perasaannya mudah terluka. Wan Hoa menunduk, merangkul sahabatnya itu.

Dan ketika Cao Cun menangis dan ia mengeluarkan saputangan, gadis ini mengusap air mata Cao Cun dengan lembut. "Cao Cun, sebaiknya lupakan dulu berita pencurian itu. Kita tidak dapat bersedih dan hanya bersedih saja. Kita harus melakukan sesuatu, duka ini harus kita singkirkan."

"Singkirkan bagaimana? Aku tidak dapat melupakan dia, Wan Hoa. Seluruh hidup dan pikiranku hanya tercurah untuk Kim-mou-eng. Aku tidak dapat menghilangkan duka ini sampai dia datang!"

"Benar, dan waktu kosong kita hanya kita sia-siakan begitu saja. Tidak, aku tidak setuju, Cao Cun. Semalam aku telah menyiapkan dua buah alat untuk kita. Ayo masuk ke dalam, lihat apa yang kupunyai itu!"

Wan Hoa yang mengajak sahabatnya ke kamar sendiri sambil menuntun Cao Cun akhirnya membuat Cao Cun tertegun melihat sebuah yang-khim (sejenis alat musik) dan suling di sudut kamar. "Kau tahu itu?" Wan Hoa tersenyum. "Ya, tentu saja."

"Nah, sekarang kita menghibur diri. Kita berdua memainkan lagu-lagu cinta dengan suling dan yang-khim itu. Ayo!" Wan Hoa yang menyambar suling menempelkannya di mulut lalu mulai menyuling dan meniupkan sebuah lagu indah untuk temannya. Cao Cun termangu, mendengarkan dendang lagu bernada cinta, naik turun meliuk-liuk menunjukkan rindu seorang kekasih yang mengharap kedatangan seseorang, sangat pas lagu itu untuknya.

Dan ketika nada mulai naik dan turun menyentuh perasaan, tiba-tiba Wan Hoa mengubahnya menjadi lagu gembira yang lincah menari-nari. Kali ini Cao Cun tersenyum karena irama suling membawanya ke alam gembira. Wan Hoa mengajaknya bercanda. Dan ketika lagu selesai dimainkan dan Wan Hoa tertawa, Cao Cun tersenyum lebar memuji temannya. "Wan Hoa, kau pintar. Kau berhasil menghanyutkan perasaanku."

"Sudahlah, kau boleh pilih salah satu, Cao Cun. Kau meniup suling ini atau memainkan yang-khim. Ayo, kita mulai!" Wan Hoa yang mengajak temannya melupakan kedukaan itu memberikan suling, tapi ditolak Cao Cun. Putri Wang-taijin ini memilih yang-khim. Petikan senar mulai berdenting, merdu tapi nyaring mengusir kesepian. Dan ketika suling mengiringi dengan lincah dan yang-khim dipetik halus, akhirnya sebuah lagu asmara didendangkan bersama di dalam kamar itu. Cao Cun mulai tersenyum, dan sinar kedukaan lenyap dari wajahnya. Wan Hoa pandai membujuk.

Dan ketika lagu demi lagu habis dimainkan mereka, dan hari-hari dilewatkan dengan cara begini, Cao Cun benar-benar terhibur dan berhasil melupakan kesedihannya. Itulah jasa Wan Hoa. Gadis ini memang luar biasa cintanya kepada Cao Cun. Apa saja akan dilakukan Wan Hoa demi kegembiraan temannya.

Dan ketika minggu demi minggu berlalu dan mereka berdua mengusir kesunyian dengan memainkan yang-khim dan suling, suatu hari, saat serbuan bangsa Tartar mengguncangkan kaisar, secara kebetulan kaisar berkunjung ke Istana Dingin ini. Kaisar ingin mengusir kekhawatirannya dengan hiburan di situ. Sam-thaikam mengiringi kaisar dengan beberapa dayang lain. Kebetulan sekali lagu yang dimainkan Cao Cun berdua terdengar oleh kaisar. Lagu indah namun sendu. Dan ketika kaisar tertegun dan bertanya siapa yang pandai memainkan lagu itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment