Chapter 28
Sam Thaikam menjawab bahwa itulah calon selir yang menginap di Istana Dingin, tanpa mengetahui bahwa Cao Cun dan Wan Hoa ada di sana. Kaisar memerintahkan agar mereka dipanggil. Sam Thaikam mengangguk dan pergi untuk memerintah pembantunya memanggil Wan Hoa dan Cao Cun. Namun, seorang mata-mata Mao Taijin yang ditempatkan di sana segera mengejar Sam Thaikam dan memberitahunya bahwa hal itu tidak mungkin dilakukan.
Mao Taijin tidak menghendaki kaisar bertemu Cao Cun. Sam Thaikam segera terperanjat dan terkejut. Ketika pengawal menjelaskan bahwa yang menyanyi adalah Cao Cun dan temannya, pembesar itu berhenti mendadak dan membelalakkan mata. "Jadi itu putri Wang Taijin?" tanyanya. "Benar, Taijin. Karena itu, jangan paduka bawa ke sana." "Lalu bagaimana sekarang? Aku sudah berjanji pada Sri Baginda. Celaka!" Namun, sesosok bayangan berkelebat datang dan terbatuk di belakang pembesar ini, lalu berkata sambil menyeringai, "Sam Taijin, tak perlu bingung. Katakan saja pada Sri Baginda bahwa penyanyi itu menderita kusta. Penyakitnya tak memungkinkan dia dibawa menghadap!"
Ketika pembesar itu menoleh dan tertegun melihat siapa yang datang, ia tiba-tiba tersenyum dan tertawa lebar. "Aah, kau, Sin Kee Lo Jin. Bagus, aksimu tepat. Dan biar kukatakan itu pada Sri Baginda. Aku tak tahu kalau yang menyanyi itu adalah Cao Cun." Demikianlah, pembesar ini lalu berbalik lagi. Ia menghadap kaisar dan memohon ampun karena tidak dapat membawa si penyanyi. Cao Cun dinyatakan terkena kusta, dan Sri Baginda kecewa nyanyian begitu merdu tidak dapat ia lihat penyanyinya.
Karena Sam Thaikam adalah orang cerdik, ia segera membujuk Sri Baginda untuk dihibur selir lain, maka kaisar melupakan maksud hatinya. Ini karena selir lain yang cantik dan buru-buru dibawa pembesar ini sudah disodorkan pada kaisar, memijat dan menghibur kaisar, menghilangkan kegundahannya akan serbuan bangsa Tartar itu. Kaisar memang mencari hiburan.
Karena keberuntungan Cao Cun lagi-lagi dihalangi Mao Taijin lewat mata-matanya, dan Sam Thaikam pun termasuk orang yang menjadi sahabat menteri itu, maka bintang terang yang hampir menguak keberuntungan Cao Cun terpaksa kandas di tengah jalan. Cao Cun sendiri tidak tahu kejadian itu. Kaisar telah pergi dan hanya sebentar berada di Istana Dingin, sungguh sial.
Ketika beberapa minggu lagi Cao Cun mendengar serbuan bangsa Tartar dan cemas oleh berita ini, ia heran mendengar tidak adanya Kim Mou Eng di sana. "Bangsa Tartar mengamuk. Kim Mou Eng maupun sumoinya tidak ada di sana. Mereka menyerbu karena katanya mengira Kim Mou Eng menangkap kaisar!" Begitu mula-mula Cao Cun mendengar berita, kaget dan tertegun karena berita itu cukup hebat baginya. Bangsa Tartar sudah dianggap sahabat, kini tiba-tiba menyerang dan Kim Mou Eng tidak ada. Ia bingung.
Wan Hoa, yang lagi-lagi menghibur, mengelus hatinya dan berkata, "Nah, kau lihat, Cao Cun. Di tempat suku bangsanya sendiri Pendekar Rambut Emas itu tidak ada, apalagi di tempat lain. Kekasihmu itu tentu mendapat sesuatu dan rupanya kerepotan besar menghalangi perjalanannya. Pantas dia tidak dapat ke sini!" "Tapi kenapa? Kalau begitu dia mendapat celaka?" "Orang persilatan memang begitu, Cao Cun. Sepanjang waktu mendapat musuh dan selalu terancam. Aku tidak tahu apa kira-kira yang dihadapi kekasihmu, tapi Kim Mou Eng tentu selamat!"
Cao Cun menangis. "Kalau begitu kelak dia akan kusuruh menjadi orang biasa saja. Kelak kami menikah dan biar hidup sebagai petani. Aku tidak mau suamiku mendapat musuh dan hidup tidak tenang." "Tentu," Wan Hoa terharu. "Suamimu memang harus menanggalkan senjata, Cao Cun. Dia harus memegang cangkul dan menanam padi di sawah." "Ya, dan aku akan menyuruh anak-anak mengawasi ayahnya. Suamiku tidak boleh berkelahi." Cao Cun membayangkan kebahagiaan itu.
Wan Hoa lagi-lagi terharu dan gadis ini menghapus dua titik air matanya yang tidak tahan melihat kemesraan Cao Cun, seolah-olah Pendekar Rambut Emas sudah ada di depan mata dan Cao Cun membayangkan pendekar itu sebagai suaminya. Betapa mengiris.
Ketika Cao Cun masuk ke dalam dan Wan Hoa mengikuti, tidak lama kemudian mereka mendengar datangnya bangsa Siung Nu untuk membantu kerajaan. "Bangsa Tartar mendesak pasukan kita, Cao Cuo. Cu Ciangkun kewalahan dan kini kaisar meminta bantuan raja Hu." "Siapa dia? Siapa raja Hu itu?" "Pemimpin bangsa Siung Nu, Cao Cun. Raja tinggi besar tapi setengah liar. Raja itu dan suku bangsanya setali tiga uang dengan bangsa Tartar itu, mereka setengah beradab dan makan minumnya daging kambing serta susu kambing!" "Ih!" Cao Cun ngeri. "Mereka juga bangsa nomaden (pengembara) yang sehari-hari ditempa kehidupan keras?" "Tentu, dan mereka sekarang ke mari, Cao Cun. Kaisar mengundang mereka dan konon katanya bala tentara Siung Nu itu haus dan rakus akan wanita. Sepuluh laki-laki akan mengerubut satu wanita kalau mereka sedang kelaparan!" Cao Cun mengkirik.
Cerita tentang bangsa Siung Nu segera dibumbui macam-macam, biasa tingkah orang. Bangsa itu digambarkan sebagai bangsa biadab yang setengah liar, rakus, dan kasar akan segala sesuatu. Nafsu kelelakiannya tinggi dan ganas terhadap perempuan. Gambaran ini membuat Cao Cun ngeri dan gemetar. Mereka katanya juga suka makan makanan yang kotor, ular atau kadal bahkan tikus yang suka diburu beramai-ramai. Gambaran ini menjijikkan bagi Cao Cun.
Beberapa hari kemudian kabar tentang kemenangan bangsa Siung Nu disiarkan orang, dan Cao Cun mendengar itu tiba-tiba gadis ini mengeluh. "Aih, bagaimana Kim Mou Eng? Kenapa dia tidak hadir juga?" "Tentu sesuatu sedang menyulitkan kekasihmu itu, Cao Cun. Mungkin Kim Taihiap mengalami kesulitan besar." "Ya, tapi apa? Dan kenapa?" Pertanyaan ini tidak dapat dijawab.
Cao Cun tidak tahu bahwa waktu itu Kim Mou Eng sedang dikejar-kejar musuhnya, tunggang-langgang menyelamatkan diri. Nyaris binasa kalau gurunya tidak menolong. Ketika Cao Cun mendengar lagi jamuan kaisar yang diberikan antek raja Hu itu dan raja ini bersenang-senang di istana, maka hari terakhir bagai petir di siang bolong ia mendengar maksud kaisar untuk memberikan dirinya pada raja liar itu. "Celaka, kesulitan besar menimpa dirimu, Cao Cun. Kaisar hendak menghadiahkan dirimu pada raja mengerikan itu. Dia mencari istri, dan Sri Baginda menetapkan dirimu menjadi istri raja liar itu!" "Apa, aku menjadi istri raja liar itu?" Cao Cun kaget. "Ya, dan Sri Baginda telah memutuskan ini, Cao Cun. Kau dan kita semua tidak dapat menolak!" Cao Cun menggigil, tiba-tiba roboh. "Wan Hoa. Benarkah kata-katamu ini? Kau tidak main-main?" "Sumpah! Demi dewa segala dewa aku tidak main-main, Cao Cun. Kau telah ditetapkan menjadi istri raja itu karena raja Hu meminta pada kaisar untuk dicarikan istri!"
(Ooabu-oO) Jilid: V
"Kenapa aku yang dipilih? Kenapa tidak lainnya saja?" Cao Cun gemetar, semakin pucat. "Entahlah, kesialan sedang menimpa dirimu, Cao Cun. Sekarang hanya dua jalan bagimu, menerima atau menolak!" "Bagaimana menolaknya? Kaisar amat berkuasa. Wan Hoa, aku pribadi tentu tidak berdaya..." "Kau dapat lari, kita berdua melarikan diri!" Wan Hoa tiba-tiba menyambar temannya, lupa bahwa mereka berada di istana yang dijaga ketat, menyeret Cao Cun dan mengajak sahabatnya itu lari. Tapi ketika mereka kepergok pengawal dan di mana-mana mereka selalu menemui jalan buntu mendadak, Wan Hoa sadar dan membanting kaki, menangis. "Ah, aku lupa. Kalau begitu kau bunuh diri saja!"
Cao Cun tiba-tiba masuk ke kamar, mengambil pisau dan siap menikam perutnya sendiri dengan pisau itu. Wan Hoa kaget dan menjerit tinggi menyusul. Tapi ketika pisau disambar cepat dan Cao Cun siap membunuh diri mendadak, sesosok bayangan berkelebat menampar gadis ini. "Jangan gila!" bayangan itu membentak, pisau dipukul, dan Cao Cun pun terbanting roboh, mengeluh dan menangis, serta melihat Sin Kee Lo Jin muncul di situ. Pembantu Mao Taijin itu marah dan melotot padanya.
Ketika Cao Cun tersedu-sedu dan masih akan nekat, tiba-tiba gadis ini terguling dan pingsan karena pukulan batin yang diterima terasa berat. "Kau bertanggung jawab atas keselamatan temanmu. Kalau dia mati, seluruh keluargamu akan menerima hukuman!" Wan Hoa ganti menerima ancaman si Ayam Sakti (Sin Kee Lo Jin) itu, mendapat teguran dan bengong, tapi akhirnya menangis menubruk temannya.
Ketika Sin Kee Lo Jin meninggalkan tempat itu dan Dayang Ma datang ke tempat itu, Cao Cun yang segera disadarkan menerima banyak nasihat. "Siocia, menuruti hati sendiri tidak bakal membuahkan kebahagiaan. Kau sadarlah sebentar, kau pikir baik-baik maksud hatimu yang berbahaya ini. Bukankah kaisar akan murka dan marah kepadamu kalau kau bunuh diri? Sadarlah, Siocia, sadarlah...!" emban atau dayang itu membujuk. Dia adalah dayang yang selama ini melayani Wan Hoa dan Cao Cun, dayang ini pun sebenarnya mata-mata Mao Taijin.
Tapi Cao Cun yang tersedu-sedu membuka mata ternyata nekat. "Biarlah, aku ingin mati saja, Ma Yang (Dayang Ma). Aku tidak ingin hidup kalau di samping raja liar itu!" "Ah, siocia tidak ingat Kim Mou Eng? Siocia tidak mengharap kekasihmu itu datang menolong?" Cao Cun tertegun. "Kim Taihiap tentu mendengar kesusahanmu, siocia. Bersabar dan tekunlah berharap bahwa kekasihmu akan datang. Masih ada waktu untuk menghindar dari terkaman raja itu. Hamba pun ngeri kalau membayangkan siocia harus berkumpul dengan raja liar itu!"
Cao Cun bangkit harapannya. "Ma Yang mau menolongku?" "Tentu, menolong bagaimana, siocia? Mencari kekasihmu itu? Hamba sanggup, hamba akan menyuruh seorang keponakan hamba mencari Kim Mou Eng itu. Hamba akan membantu paduka sampai berhasil!" Cao Cun berseri-seri. "Ma Yang, berikan saputangan ini pada keponakanmu. Cari kekasihku itu dan berikan saputangan ini pada Kim Mou Eng. Ini isyarat bagiku agar kekasihku segera datang." "Baik, siocia."