Chapter 29
"Sekarang Paduka bersabar dan tenangkan hati dulu. Di sini hamba akan melaksanakan perintah Paduka!" Dayang itu menerima saputangan Cao Cun, pura-pura bersedih, dan bujukan pertamanya berhasil.
Untuk sementara, Cao Cun tidak akan bunuh diri. Dayang itu keluar dan Cao Cun berseri-seri memandangnya. Cao Cun tidak tahu bahwa dayang itu pun hanya bermuslihat.
Ma-yang ini adalah orangnya Mao Taijin!
Dan ketika hari demi hari Cao Cun bertanya bagaimana hasilnya, maka dengan gampang dan manis dayang ini menjawab, "Keponakan hamba belum pulang, Siocia. Sabar dan sabarlah dulu. Hamba juga mati-matian membantu Paduka!" Itulah teknik "apusi wae".
Cao Cun memang memiliki kecerdasan rata-rata. Ia terlampau lugu dan percaya pada dayang ini, masih tidak sadar bahwa saputangannya yang dulu sudah dibuang dayang ini ke tong sampah. Sama sekali tidak ada keponakannya yang mencari Kim-mou-eng.
Dan ketika hari-hari penyerahan kian dekat dan Cao Cun khawatir, maka bujukan berikut adalah teknik "apusi wae" yang kedua yang dijalankan dayang ini.
"Ma-yang, kapan lagi aku harus menunggu? Sri Baginda segera akan menyerahkan aku pada Raja Hu yang liar itu. Aku takut, aku cemas!"
"Ah, bagaimana lagi, Siocia? Hamba sudah berusaha, keponakan hamba belum pulang, dan hamba juga cemas memikirkan keponakan hamba itu."
"Tapi sekarang tinggal lima hari lagi. Aku tidak dapat bersabar dan menunggu serta terus menunggu. Kalau keponakanmu tidak datang juga, maka aku akan meneruskan niatku dulu. Bunuh diri!"
"Aduh, sabar, Siocia... sabar!" dayang itu pura-pura kaget.
"Ingat keluarga Paduka di Chi-cou!" Cao Cun terkejut.
"Kenapa keluargaku di Chi-cou?"
"Ah, masa Paduka tidak tahu, Siocia?" dayang ini mulai menyerang dengan anak panah keduanya. "Bukankah keluarga Paduka dapat terancam oleh kemarahan Kaisar? Paduka boleh bebas dengan bunuh diri, Siocia. Tapi ayah dan saudara-saudara Paduka di Chi-cou tentu mendapat celaka akibat kemurkaan Kaisar. Sri Baginda tentu malu menghadapi Raja Hu, dan keluarga Paduka akan menghadapi bencana kalau Paduka bunuh diri." Cao Cun tertegun.
Kali ini pun ia termakan kata-kata dayang ini. Ma-yang memang pandai. Dan ketika Cao Cun terisak dan pucat membayangkan itu, maka Ma-yang sudah menggandeng lengannya dengan lemah lembut.
"Siocia, bersabarlah. Bagaimanapun, waktu lima hari adalah waktu yang cukup panjang bagi kita. Kim Taihiap tentu datang. Kalau tidak datang pun, Paduka tidak perlu bunuh diri. Ini masalah panjang, Paduka harus ingat budi keluarga di Chi-cou...."
Cao Cun menangis, menutupi mukanya. "Kalau begitu aku harus menyerah pada nasib, Ma-yang?"
"Jangan terburu-buru. Bukankah manusia wajib berusaha, Siocia? Paduka tidak perlu menyerah pada nasib selama kesempatan masih ada."
"Tapi kesempatan ini kian mengecil...."
"Sekecil-kecilnya kesempatan, masih kesempatan juga, Siocia. Tidak perlu putus asa dan patah semangat."
"Dan kalau kekasihku tidak datang juga?"
"Hilangkan pikiran untuk bunuh diri itu. Datang atau tidak datang, Paduka jangan bunuh diri. Paduka harus hidup untuk keluarga di Chi-cou!"
Cao Cun mulai bingung. Pengaruh kata-kata dayang ini mulai termakan di hatinya. Semakin dipikir, semakin dianggap betul. Memang tidak salah. Kalau ia bunuh diri dan Kaisar marah, tentu keluarganya di Chi-cou akan mendapat pembalasan. Kaisar adalah orang yang amat berkuasa. Ayahnya tidak akan mampu berbuat apa-apa kalau Kaisar marah. Dan karena ia mencintai keluarganya dan tentu saja tidak mau keluarganya dibunuh kalau ia bunuh diri, akhirnya Cao Cun goyah dan berada di persimpangan jalan, antara ingin bunuh diri untuk membebaskan dirinya dari terkaman Raja Hu dan harus hidup demi keselamatan keluarganya.
Pilihan yang sama-sama berat. Tapi karena Cao Cun sudah mulai terbiasa hidup menderita dan berkorban, tiba-tiba saja gadis ini semakin cenderung untuk menyelamatkan keluarganya dan hidup menerima kemalangan lagi, menjadi istri Raja Hu yang liar itu kalau Kim-mou-eng tidak menyelamatkannya.
Dan karena hari penyerahan semakin dekat dan Cao Cun semakin putus asa, tiba-tiba gadis ini menggigil ketika Ma-yang untuk ketiga kalinya melakukan bujukan yang paling menikam, saat tinggal dua hari lagi dari hari terakhir.
"Siocia, rupanya kekasihmu itu orang yang buta. Dia buta telinga dan perasaannya. Paduka agaknya harus melihat kenyataan ini dan melupakan Kim-mou-eng!"
Cao Cun memejamkan mata. "Ma-yang, kenapa kau bilang begitu? Tahukah kau kata-katamu ini menusuk perasaanku?"
"Maaf. Hamba terpaksa mengatakan ini demi kesadaran Paduka, Siocia. Kim-mou-eng ternyata laki-laki yang tidak dapat dipegang janjinya. Dia pengingkar, penipu cinta, dan tidak patut mendapat kasih Paduka!"
"Ma-yang....!" Dayang itu menjatuhkan diri berlutut, pura-pura menangis mendengar bentakan Cao Cun. "Siocia, ampunkan hamba. Hamba terbawa kepiluan hamba melihat nasib Paduka. Hamba tidak tahan melihat Paduka terus-terusan mengharap kedatangan kekasih Paduka itu. Hamba memang lancang, Siocia. Tapi kelancangan hamba disebabkan oleh sayang hamba pada Paduka dan kebencian hamba kepada kekasih Paduka itu. Kim-mou-eng telah berhasil ditemukan keponakan hamba, tapi... tapi..." Dayang itu terisak-isak, tidak meneruskan kata-katanya, dan Cao Cun meloncat bangun dari tempat duduknya. Ada girang bercampur kaget mendengar berita itu.
Berita yang penting. Tapi mengapa Ma-yang menangis dan berhenti setengah jalan? Cao Cun sudah mengguncang dayang ini dengan penuh rasa tidak sabar.
"Ma-yang, ceritakan itu. Ceritakan pertemuan dengan Kim-mou-eng itu!"
"Paduka mau mendengarkan?"
"Tentu saja, bukankah ini yang kutunggu?"
"Tapi berita ini menyakitkan, Siocia. Hamba tidak sampai hati..." dayang itu menggigil pura-pura iba, tapi Cao Cun mengeraskan sikapnya. Justru kata-kata dan sikap dayang ini semakin menarik. Ia penasaran.
Dan Cao Cun yang menggeleng dan mengangkat dayang itu sudah berkata, "Tidak, apa pun yang kaukatakan, aku sanggup menerimanya, Ma-yang. Sekarang ceritakan padaku apa isi pertemuan itu!"
"Intinya Kim-mou-eng tidak acuh," dayang itu berkata lirih, menunduk. "Kim Taihiap pura-pura tidak tahu keadaan. Siocia di sini dan keponakan hamba tidak dihiraukan...."
"Hm, apa katanya? Kim-mou-eng tidak berkata apa-apa?" Cao Cun pucat.
"Tidak, dia berkata sesuatu, Siocia. Tapi kata-kata ini menyakitkan...."
"Kaukatakanlah. Aku sanggup menerima!" Dayang itu menangis, mengusap air matanya.
"Ampun, Siocia, Hamba tidak sampai hati...."
"Tapi aku akan semakin sakit kalau tidak kaukatakan!" Cao Cun mulai gemetar, setengah membentak. "Kaukatakan saja dan biar aku mendengarkan!" Dayang itu akhirnya terisak-isak.
"Siocia, kekasihmu itu memang keterlaluan. Dia bilang... ia bilang bahwa biarkan saja dirimu di Istana Dingin. Ia tidak mencintaimu. Ia mencintai sumoinya dan janji dulu itu hanya sekadar untuk menghibur dirimu belaka. Bahwa ia... ia... Siocia!" Dayang itu tiba-tiba menjerit, Cao Cun sudah roboh pingsan, dan gadis itu tidak dapat mendengar kata-katanya lagi.
Cao Cun terpukul terlampau hebat dan gadis ini tidak tahan mendengar kata-kata itu. Kim-mou-eng ternyata hanya menghiburnya saja. Janji dulu itu ternyata palsu.
Dan ketika gadis ini roboh dan Ma-yang terpekik menolong junjungannya, maka Wan Hoa yang berada di situ dan ikut mendengarkan kata-kata ini sudah menangis dan menolong Cao Cun, menyadarkan sahabatnya itu, tapi Cao Cun tidak segera dapat disadarkan. Gadis ini baru siuman tiga jam kemudian. Dan ketika Ma-yang dan Wan Hoa sama-sama menangis memeluk Cao Cun, maka Cao Cun terserang demam dan tidak dapat turun dari pembaringannya.
"Aduh, bagaimana ini, Siocia? Bagaimana ini...?" Cao Cun seperti orang hilang ingatan. Ia melamun saja memandang langit-langit ruangan, mukanya pucat, bibir kering, dan mulut pun menyebut-nyebut nama Kim-mou-eng. Air mata bercucuran, sementara isak tangisnya tidak terdengar. Sungguh mengenaskan sekali gadis ini.
Dan karena saat itu tinggal dua hari lagi Kaisar menyerahkan Cao Cun pada Raja Hu, maka Ma-yang segera memanggil tabib istana dan melapor kejadian ini pada Sam Thaikam, diteruskan pada Mao-Taijin, tetapi kebetulan saat itu pun Mao-Taijin sakit. Menteri ini terkena radang paru-paru hingga tidak boleh banyak bicara, terpaksa Sam Thaikam mengurus sendiri keadaan gadis itu. Kaisar diberi laporan, dan Kaisar terkejut, menyuruh tabib memberi obat paling mujarab untuk menyembuhkan Cao Cun. Dan karena semua orang bekerja keras dan tabib istana meramu obat yang paling istimewa, maka tepat menjelang hari terakhir Cao Cun hilang demamnya.
Tapi gadis ini masih lemah. Pukulan batin yang diderita terlampau berat. Ia mulai menangis dan sedu-sedannya membuat Wan Hoa tidak dapat menahan diri. Selama tiga puluh jam gadis itu pun menemani Cao Cun, kurang tidur, kurang makan, mukanya pun pucat serta lemah tidak bertenaga. Dua gadis ini berangkul-rangkulan.
Dan ketika Cao Cun memandang kehidupannya dengan perasaan hampa dan kosong, maka Ma-yang yang selama ini membujuk dan pura-pura bersedih atas kedukaannya, melancarkan bujukannya lagi, yang terakhir.
"Siocia, nasib Paduka rupanya memang sudah ditentukan Yang Mahakuasa. Paduka tidak dapat menolaknya lagi. Sore nanti Sri Baginda akan ke siai. Sebaiknya Paduka lupakan kenangan lama untuk memulai yang baru. Tugas mulia sedang menanti Paduka, harap renungkan ini dan bantu kami semua dari keganasan bangsa Siung-nu."
"Apa maksudmu, Ma-yang?" Kali ini Wan Hoa bertanya.
Cao Cun tidak acuh.
"Hamba maksudkan tugas negara, Siocia," jawab Ma-yang. "Bahwa teman Paduka itu mendapat tugas negara yang amat penting dan mulia."
"Tugas negara?" "Tugas apa?" Wan Hoa masih tidak mengerti.
"Ah, persoalan dengan bangsa Siung-nu itu, Siocia. Bukankah hubungan dengan bangsa ini harus dijaga? Paduka tahu bahwa bangsa Siung-nu memiliki bala tentara yang kuat, Cu Clangkun telah dibantu dan bangsa Tartar dapat dihancurkan. Bangsa Siung-nu ini kuat. Kalau Raja Hu marah karena janji Kaisar tidak dapat dipenuhi, maka mungkin saja bangsa Siung-nu akan berbalik haluan dan menyerang kita."
"Benar," Sam Thaikam tiba-tiba muncul. "Apa yang dikatakan Ma-yang memang tidak salah, Wan Hoa.