Chapter 30
Kebijaksanaan Kaisar memberikan Cao Cun pun karena dorongan itu.
"Kerajaan kita harus aman tenteram. Rakyat tak boleh gelisah akibat serangan bangsa-bangsa liar." Dan ketika Tai-kam itu tersenyum dan masuk menimpali pembicaraan, maka Tai-kam itu langsung mendekati Cao Cun.
"Bagaimana keadaanmu, Cao Cun? Sudah benar-benar sehat?" Cao Cun dan Wan Hoa terkejut. Mereka merasa mendapat perhatian besar dengan kunjungan kepala Istana Dingin ini; jarang Sam Tai-kam masuk ke kamar mereka kalau tidak penting sekali.
Ma Yang cepat-cepat menjatuhkan diri berlutut. Dan Cao Cun yang mengangguk mendengar pertanyaan pembesar itu hanya menjawab lirih, "Ya, aku sehat-sehat saja."
Kini pembesar itu duduk. "Cao Cun, dan kau, Wan Hoa. Dengarkan apa yang hendak kukatakan ini. Sore nanti Sri Baginda akan ke sini. Kalian harus mampu membawa diri. Aku hendak meneruskan apa yang telah dikatakan Ma Yang, bahwa kalian, terutama Cao Cun, mengemban tugas negara dengan adanya permintaan Raja Hu itu. Cao Cun harus baik-baik menerima raja ini sebagai suaminya. Kau harus menjadi istri raja itu demi keselamatan rakyat. Betapapun tak sukanya kau kepada raja itu, tapi perasaan ini harus ditekan dan ditindas karena menyangkut masalah orang banyak. Rakyat tak boleh dikorbankan gara-gara penolakanmu. Sebab sekali raja itu marah dan menyerang kita, tentu kita semua celaka. Peperangan menghancurkan begitu banyak kehidupan rakyat, karena itu kuharap Cao Cun sadar akan kewajibannya dan menjadi warga negara yang baik dengan jalan menerima raja itu sebagai suaminya dan sering membujuk kalau bangsa Siung-nu mau berbalik haluan."
Cao Cun mengangguk, masih tak acuh.
"Kau mengerti, Cao Cun? Kau dapat menyadari arti pentingnya tugasmu mendampingi raja itu?"
"Ya, Tai-jin, aku mengerti."
"Kalau begitu bersiap-siaplah, sore nanti Sri Baginda akan menjenguk keadaanmu."
Sam Tai-kam pergi. Dia telah memberi isyarat pada Ma Yang; dayang itu mengangguk dan dua pasang mata telah saling bicara dari jauh. Ma Yang mendapat tugas untuk menekankan lagi kata-kata pembesar itu. Dan ketika Sam Tai-kam pergi dan Cao Cun serta Wan Hoa kembali saling peluk, maka dayang ini membujuk panjang lebar dan menekankan selalu akan tugas Cao Cun itu. Bahwa kini kewajiban baru menanti Cao Cun. Bahwa tugas mulia sedang diletakkan di atas pundak gadis itu.
Cao Cun harus baik-baik menerima Raja Hu, tak boleh menolak karena sekali menolak tentu akibatnya bakal lebih jauh; raja bisa marah dan bangsa Siung-nu bisa menyerang kelak, berarti rakyat akan menjadi korban dan nasib ribuan orang di tangan gadis itu, tidak sekadar keluarga Cao Cun di Chi-cou saja, ayah-ibu serta saudara-saudaranya itu.
Dan ketika Cao Cun mulai terpengaruh karena alis yang menyelirit itu berkerut-kerut, maka dayang ini menutup ceritanya dengan manis. "Sekarang kenangan lama tak selayaknya lagi dikunyah-kunyah, Siocia. Kekasih Paduka telah meninggalkan Paduka dan calon suami baru sudah di ambang mata. Paduka harus ingat keselamatan rakyat; nasib ribuan bahkan laksaan rakyat ada di tangan Paduka. Kalau Paduka tak mementingkan diri sendiri, tentu Paduka akan selalu ingat itu dan bahkan mengucap syukur karena Paduka mendapat tugas mulia ini. Jarang wanita Han mendapat kehormatan tugas yang seperti ini!"
Cao Cun mengangguk. "Baik, aku mengerti, Ma Yang. Sekarang tinggalkan kami dan biarkan aku berdua dengan Wan Hoa."
Ma Yang gembira. Telah ia lihat perubahan pada sikap Cao Cun itu. Gadis ini menarik napas dan rupanya sedikit atau banyak Cao Cun berusaha melupakan Kim Mou-eng. Usahanya berhasil. Dan karena tanda-tanda itu telah ia lihat dan Cao Cun lebih tenang daripada tadi, akhirnya dayang ini pergi dan meninggalkan Cao Cun berdua dengan Wan Hoa.
"Kau mau meninggalkan aku, Cao Cun?" Wan Hoa terisak.
"Hai, tugas negara menantiku, Wan Hoa. Agaknya kita memang harus berpisah tapi batin dan hati kita tetap satu. Aku mulai dapat menerima kata-kata Ma Yang dan Sam Tai-jin tadi."
"Berani kau melupakan Kim Mou-eng?"
Cao Cun memejamkan mata. "Wan Hoa, sebaiknya jangan sebut-sebut lagi nama itu. Hatiku hancur. Dia... dia ternyata tak menepati janji...!"
"Maaf," Wan Hoa buru-buru memeluk temannya. "Aku ikut kecewa atas semua yang menimpa dirimu, Cao Cun. Tapi aku berjanji untuk kelak memaki-maki dan mendamprat Pendekar Rambut Emas itu. Kuharap kehidupanmu lebih beruntung dengan Raja Hu."
"Sudahlah, aku... aku ingin kautemani sampai kaisar datang. Kau tahu apa yang kuinginkan di saat-saat begini, bukan?"
Wan Hoa mengangguk. Dia tahu apa yang dikehendaki sahabatnya. Cao Cun ingin melepas duka dan kecewa dengan caranya sendiri. Maka ketika ia mengambil suling dan yang-khim, maka kembali seperti hari-hari yang lalu dia bersama Cao Cun mengalunkan lagu-lagu yang disukai putri Wang Tai-jin ini. Lagu kerinduan dan penantian. Sama seperti dulu ketika Cao Cun mengharapkan kedatangan Kim Mou-eng, kini sedikit diubah pada nada terakhir. Di situ Cao Cun memberikan irama menurun seperti halnya orang yang pasrah pada nasib. Wan Hoa mencucurkan air mata memainkan lagu ini.
Dan ketika mereka terus-menerus meniup suling dan memainkan yang-khim sampai melupakan makan-minum, tiba-tiba tepat sore hari seperti yang dijanjikan, mendadak kaisar muncul di situ!
"Aih, kau yang memainkan lagu ini, Cao Cun?"
Cao Cun dan Wan Hoa kaget. Di kamar mereka tiba-tiba muncul Sam Tai-kam dan lain-lain. Kaisar di depan tertegun memandang Cao Cun. Seketika Cao Cun menghentikan permainannya dan Wan Hoa pun terkesiap; mereka sudah meletakkan suling dan yang-khim lalu menjatuhkan diri berlutut menghadap kaisar.
Baru pertama ini Cao Cun saling berhadapan langsung dengan kaisar. Baru pertama kali itu, sejak berbulan-bulan. Dan Cao Cun yang terkejut serta gembira tapi juga kecewa tiba-tiba menangis mengguguk di hadapan kaisar!
"Eh, kalian semua keluar!" Kaisar tertegun, tiba-tiba terpana dan terguncang oleh wajah Cao Cun yang mengharukan; cantik tapi mengharukan. Dan ketika semua orang menutup pintu kamar dan kaisar melangkah masuk, maka kaisar langsung menyentuh pundak gadis ini, membangunkannya.
"Cao Cun, bangunlah. Lihat aku...!" Kaisar gemetar, entah kenapa tiba-tiba jantungnya berdenyut tak keruan melihat gadis itu. Itulah gadis yang dia impikan. Gadis yang sayangnya dinyatakan sial bagi kerajaan.
Dan ketika Cao Cun bangun berdiri dan disuruh menatap kaisar, tiba-tiba kaisar mengeluh dan mendekap tubuh yang hangat itu. "Thian Yang Maha Agung, berapa lama kau di sini, Cao Cun? Gadis secantik ini dinyatakan kena kusta?"
Cao Cun terkejut, membelalakkan mata. "Sri Baginda, apa... apa kata Paduka? Kusta?"
"Ya, aku ditipu pembantu-pembantuku, Cao Cun. Katanya kau kena kusta dan tak boleh didekati. Tapi, hm... tubuh yang semulus ini, wajah yang secantik ini, mana mungkin dihinggapi penyakit menjijikkan itu? Aih, katakan padaku berapa lama kau dikurung di sini, Cao Cun? Berapa lama kau tinggal?"
Cao Cun tersedu-sedu, teringat segala penderitaannya. "Hampir setahun, Sri Baginda, sepuluh bulan lebih sedikit..."
"Dan selama ini kau tak ada niatan untuk menemuiku?"
Cao Cun menghentikan tangisnya, tiba-tiba mundur. "Sri Baginda, siapa tak ada niatan itu? Hamba tak dapat karena dihalangi orang-orang Paduka!"
Kaisar tersentak, ganti mundur. "Apa?" kening kaisar berkerut. "Kau dihalangi orang-orangku? Apa maksudmu?"
"Ampun..." Wan Hoa kini menyela. Cao Cun kembali menangis dan tak dapat menjawab. "Mao Tai-jin yang dimaksud Cao Cun, Sri Baginda. Bahwa dia banyak menderita gara-gara perbuatan menteri itu. Pembantu Paduka bersikap sewenang-wenang mengandalkan kekuasaannya!"
Kaisar menoleh pada gadis ini, terkejut. "Kau siapa?"
"Hamba Wan Hoa, Sri Baginda. Lie Wan Hoa. Cao Cun adalah sahabat hamba dan kami senasib sependeritaan."
"Hm, coba ceritakan apa yang terjadi. Kenapa Cao Cun ada di sini dan baru sekarang aku tahu tentang kalian."
Wan Hoa lalu bercerita panjang lebar. Cao Cun sendiri tak sanggup karena setiap teringat penderitaannya tentu menangis tersedu-sedu; tak habis-habisnya air mata gadis itu mengalir. Dan ketika Wan Hoa mewakili gadis ini dan menceritakan semuanya tanpa ditutup-tutupi lagi, maka kaisar terbelalak dan terhenyak dengan muka merah padam.
Betapa Mao Tai-jin coba memeras Cao Cun melalui ayahnya agar dapat menjumpai kaisar. Betapa ayah Cao Cun menolak dan hampir dibunuh menteri she Mao itu lewat pembantu-pembantunya. Dan ketika Wan Hoa menyelesaikan ceritanya pada bagian di mana Mao Tai-jin melempar Cao Cun ke Istana Dingin dan kini ayah atau ibu gadis itu tak dapat menengok lagi karena kebengisan Mao Tai-jin, maka gadis ini berapi-api mengepalkan tinju mengakhiri kata-katanya.
"Cao Cun tak dapat hidup tenang lagi, Sri Baginda. Dan ini semua gara-gara Mao Tai-jin itu. Kalau Paduka tahu penderitaan Cao Cun, sudah sepatutnya Paduka hukum menteri Paduka itu. Penggal saja kepalanya!"
Kaisar terbelalak marah. "Begitukah, Cao Cun?"
"Benar," Cao Cun mengangguk, air matanya masih deras bercucuran. "Tapi hamba telah menerima nasib, Sri Baginda. Tak apa hamba dijadikan istri raja liar itu demi rakyat banyak!"
"Dewa Yang Maha Agung...!" kaisar kembali berseru. "Kau telah jatuh tertimpa tangga, Cao Cun. Kalau saja aku tahu semuanya ini dari awal, tentu tak akan begini jadinya. Aih, aku menyesal. Mao Tai-jin memang patut menerima hukuman. Aku akan menghukum dia, kuturunkan jabatannya dan tak boleh menjadi menteri lagi!"
"Dan tolong hukum pula Kim Mou-eng, Sri Baginda. Tangkap dan cabut saja lidahnya yang tak bertulang!" Wan Hoa berteriak.
"Apa, Kim Mou-eng?" kaisar malah tertegun. "Ada apa dengan Pendekar Rambut Emas itu? Kenapa namanya dibawa-bawa?"
Wan Hoa bangkit berdiri, mengedikkan kepala. "Dia telah menipu Cao Cun, Sri Baginda. Telah mempermainkan sahabat hamba ini dan tidak dapat dipercaya. Hamba minta pada Paduka agar lidahnya yang tak bertanggung jawab itu dipotong!"
"Wan Hoa...!" Wan Hoa tak memedulikan teriakan Cao Cun. "Biar, biar Cao Cun. Biar kukatakan sekalian sepak terjang Pendekar Rambut Emas itu."