Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 31

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 31

Kim-mou-eng memang tak dapat dipercaya, dia tak patut dijuluki pendekar dan biar Sri Baginda menangkap dan memotong lidahnya!" Wan Hoa menyambung lagi, penuh semangat, "Sri Baginda, tolong balaskan sakit hati Cao Cun ini. Paduka nyatakan perang pada Pendekar Rambut Emas itu dan biar seumur hidupnya dia dikutuk dewa. Hamba tak terima nasib sahabat hamba karena atas perbuatannyalah Cao Cun menderita di sini dan dibiarkan merana!" Kaisar terkejut sekali, kian melebarkan matanya. "Cao Cun, ada apa di antara dirimu dengan Kim-mou-eng?" "Hamba... hamba..." "Dia kekasih Kim-mou-eng, Sri Baginda. Sebelum dibawa kemari oleh Mao-taijin yang jahat itu, Cao Cun adalah kekasih Pendekar Rambut Emas." "Kwan Im Pouwsat," kaisar kini menyebut nama Dewi Kwan Im, setengah berteriak. "Kau dan Kim-mou-eng telah menjalin cinta, Cao Cun." "Kau dan Pendekar Rambut Emas itu..." "Benar!" Wan Hoa lagi-lagi berseru. "Cao Cun dan Kim-mou-eng memang saling mencinta, Sri Baginda. Hamba menjadi saksi atas janji Pendekar Rambut Emas itu bahwa dia akan membawa Cao Cun dari sini. Tapi Kim-mou-eng penipu. Pendekar Rambut Emas itu membohongi sahabat hamba dan dia mengingkari janjinya hingga Cao Cun merana. Terkutuk pendekar sialan itu, semoga dewa memberinya hukuman yang paling berat!" Kaisar tertegun. Mukanya merah dan pucat mendengar semua kata-kata itu. Baru sekarang dia tahu. Ketika kaisar dapat menenangkan guncangan perasaannya dan Cao Cun menutupi muka menangis tersedu-sedu, kaisar menarik bangun gadis ini berkata menggigil, "Cao Cun, maafkan aku. Kiranya pembantu-pembantuku telah membuat nasibmu demikian buruk. Sekarang aku sadar, gadis yang kuimpikan dulu ternyata berbudi luhur. Kau memiliki hati emas, sungguh aku kagum tapi juga menyesal. Aku telah menetapkan dirimu untuk menjadi istri raja Hu itu. Tak mungkin aku menariknya kembali. Aku menyesal, Cao Cun. Sungguh aku menyesal dan kecewa sekali. Orang yang patah hati memang berat, dan aku ternyata telah menyia-nyiakan cintaku seperti ini. Maaf, Cao Cun. Sebagai seorang kaisar aku harus menepati kata-kataku sendiri. Aku terpaksa mengorbankan dirimu dan hatiku yang berdarah setelah mengetahui semuanya ini. Aku bodoh, aku tolol. Semoga dewa mengampuni keteledoranku dan kau mendapat kebahagiaan. Maaf!" Kaisar memeluk erat tubuh gadis itu, menggigil dan memejamkan mata karena sekarang hatinya pun berdarah. Cintanya terhadap bayangan gadis yang dulu diimpikannya itu kambuh, melihat Cao Cun mendadak api asmaranya bergemuruh, apalagi setelah dia mendengar semua kisah gadis itu. Cintanya membakar dan ingin saat itu juga kaisar membawa gadis ini ke pembaringan, bermesraan dan memberinya cinta yang berkobar-kobar. Tapi teringat bahwa dia telah menyerahkan gadis itu pada raja suku bangsa Siung-nu, tiba-tiba kaisar menyesal sekali dan menitikkan dua air mata yang segera dihapusnya. Sedu-sedan Cao Cun begitu mengharukan. Naik keharuan besar di hati kaisar ini. Maka ketika dia memeluk semakin rapat dan Cao Cun mengeluh di dekapan kaisar, tiba-tiba kaisar menundukkan mukanya dan mencium gadis itu. "Cao Cun, maafkan aku!" Cao Cun tersentak. Kaisar menciumnya, gadis ini terbelalak dan menggelinjang. Tapi ketika kaisar melepaskan dirinya dan memutar tubuh, tiba-tiba Cao Cun roboh menjerit memanggil kaisar itu. "Sri Baginda...!" Kaisar menoleh sejenak. Di pintu kamar yang kini dipenuhi orang itu, kaisar memberikan senyumnya yang aneh. Senyum mesra tapi sekaligus sakit. Kaisar harus menggigit bibirnya untuk menahan luka yang ada. Hatinya serasa dirobek-robek. Pilihannya dulu betul, tapi dia teledor. Sekuntum bunga itu malah dia berikan pada orang lain! Dan ketika Cao Cun mengguguk dan kaisar melambaikan tangan, akhirnya kaisar membalik lagi dan meneruskan langkah meninggalkan tempat yang menusuk perasaan itu. "Kita kembali, biarkan Cao Cun bersama sahabatnya!" Semua orang mengangguk. Sam-taijin pucat melihat pandang mata kaisar yang marah kepadanya. Pembesar ini menggigil dan tahu apa yang terjadi. Dia ketemu celaka. Maka ketika kaisar terhuyung meninggalkan tempat itu dan semua orang mengikuti kaisar, maka di dalam kamar Cao Cun terguling pingsan ditolong Wan Hoa. Susah payah gadis ini menyadarkan temannya. Tapi ketika Cao Cun siuman dan Wan Hoa memeluknya, muka dua sahabat ini bertangis-tangisan. "Cao Cun, ingatlah. Semuanya sudah terjadi, aku minta maaf kalau semua keteranganku terhadap Sri Baginda tadi menyakiti hatimu. Kau boleh bunuh aku, Cao Cun. Kau boleh ambil pisau itu dan tikamlah aku!" "Tidak... tidak...!" Cao Cun menangis. "Kau tak bersalah, Wan Hoa. Kau tak bersalah. Semuanya ini memang rupanya sudah nasib. Biarlah aku tabah menerimanya dan kautemani aku berdoa." Cao Cun mengambil perangkat sembahyang, menggigil menyalakan hio (dupa) dan segera berkemak-kemik di meja altar. Air mata masih bercucuran sementara Wan Hoa pun tak dapat menahan runtuhnya hujan air mata itu. Di samping sahabatnya dia meminta agar dewa atau dewi keberuntungan menyertai Cao Cun. Biarlah putri Wang-taijin itu menemui kebahagiaannya dan tidak terus menerus menderita. Dan ketika mereka berdua saling berkemak-kemik memohon pertolongan Yang Maha Kuasa, akhirnya sejam kemudian Cao Cun memperoleh ketenangannya kembali, menghapus air matanya meskipun wajah yang pucat itu tak dapat menyembunyikan adanya duka. Betapa pun Cao Cun harus menutup rapat-rapat luka yang ada di hatinya itu. Dan ketika menjelang malam mereka menerima panggilan bahwa mereka harus menemui kaisar, maka menindas semua kedukaannya Cao Cun dibawa ke istana, sadar bahwa inilah saat perjumpaannya dengan raja Hu. Cao Cun disuruh senyum sementara hari terobek robek berdarah. Hampir gagal tapi berhasil juga menuruti permintaan itu. Memang penampilannya di hadapan raja yang akan menjadi suaminya itu tak boleh dia bermurung. Kaisar akan semakin kecewa padanya. Dan karena itu adalah tugasnya dan Cao Cun menyadari ini, maka seperti boneka bernyawa Cao Cun menghadap kaisar dan menemui calon suaminya itu. Dan raja Hu kagum. Kecantikan Cao Cun memang kecantikan sejati. Meskipun dilanda duka tetap saja kecantikan itu menonjol. Bekas air mata di pipi malah membuat pipi gadis ini kemerah-merahan seperti tomat masak. Cao Cun mula-mula tergetar dan ngeri melirik calon suaminya itu. Seorang raja tinggi besar yang gagah namun menyeramkan. Brewoknya menutupi hampir seluruh wajah tapi raja Hu ternyata seorang laki-laki lembut. Raja ini menyambut Cao Cun dengan halus dan gembira. Memuji terang-terangan kecantikan gadis itu di depan kaisar, kagum akan rambutnya yang panjang dan lembut di belakang punggung. Perias istana memang telah mendandani gadis ini secantik mungkin, termasuk kalung permata yang melilit di leher Cao Cun. Kedukaan Cao Cun memang tertutup habis oleh hiasan dan kecantikannya yang menonjol. Dan ketika raja Hu menyatakan cocok dan dua panglimanya juga kagum oleh pemberian kaisar yang sempurna ini, maka Nu Kiat, panglima nomor dua dari raja Hu itu berseru, "Ah, luar biasa, Sri Baginda. Calon permaisuri Paduka ini tentu akan melahirkan putra yang gagah atau putri yang cantik bagi bangsa Siung-nu!" "Ha-ha, tepat, Nu Kiat. Dan kita harus berterima kasih pada Sri Baginda Kaisar." Raja Hu gembira, girang dan tiba-tiba jatuh cinta pada Cao Cun. Kepribadian gadis ini benar-benar memenuhi seleranya. Kaisar tersenyum dan tanpa diketahui siapa pun dia meringis. Gadis begitu sempurna harus diberikan pada orang lain. Padahal dia memiliki kesempatan besar untuk menikmatinya sendiri! Dan ketika malam itu kaisar mengadakan perjamuan dan perkenalan pertama ini membuat raja Hu tergila-gila, maka keesokan harinya, dengan tak sabar dan amat buru-buru raja Hu mohon pamit. Istana mengiringkan kepergian raja ini dengan pengantaran istimewa. Kaisar sendiri melepas tamunya sampai di gerbang kota raja, bukan di pintu istana. Bukan main. Dan ketika kereta kerajaan melepas raja itu bersama bala tentaranya, maka di dalam kereta Cao Cun menangis tersedu-sedu dan sempat membuat kegemparan ketika Wan Hoa, sahabatnya menjerit dan menyeruak di antara rombongan kaisar untuk menghambur ke arah Cao Cun. "Cao Cun, ingatlah selalu akan aku!" Adegan ini mengiris perasaan semua orang. Cao Cun tersedu-sedu keluar dari keretanya, turun ditubruk sahabatnya ini. Bagi yang sudah mengetahui hubungan dua sahabat ini memang adegan itu menusuk perasaan. Ma-yang sendiri yang sering menipu Cao Cun sempat terisak melihat perpisahan dua sahabat itu. Nasib rupanya kejam. Tapi ketika mereka diperingatkan pengawal dan Cao Cun melepas sahabatnya, maka Wan Hoa roboh pingsan ketika Cao Cun naik di atas keretanya dan menutup tirai kereta yang segera berangkat. Begitulah, dua sahabat sejati ini rupanya harus tunduk pada hukum alam. Ada pertemuan harus ada pula perpisahan. Salah satu di antaranya tak mungkin kekal. Dan ketika kereta berangkat dan Wan Hoa di luar sana pingsan ditolong pengawal, maka Cao Cun sendiri di dalam kereta juga roboh dan pingsan tak kuat menahan kesedihannya. Nasib mempermainkan manusia seenak sendiri. Kadang diberinya kegembiraan tapi kadang disodorkannya pula kedukaan. Dan melihat naga-naganya, manusia mendapat kedukaan lebih besar ketimbang kesukaan. Tidak adil." Ah, entahlah. Mungkin pandangan manusia saja yang keliru tentang ini. Cao Cun sendiri sudah berada di tengah-tengah bangsa Siung-nu. Malam pertama raja Hu hendak menggaulinya, ditolak. Raja kecewa namun dapat mengerti kesedihan yang masih mengganggu gadis itu. Mencoba lagi tapi gagal lagi pada malam-malam berikutnya. Raja mengerutkan kening tapi tidak marah. Rupanya kecintaan raja ini pada Cao Cun memang besar. Dia tak ingin memiliki Cao Cun kalau gadis itu sendiri belum siap, belum hilang dukanya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment