Chapter 32
Dan ketika dengan lembut namun penuh kasih, raja ini berharap Cao Cun melepaskan kedukaannya, maka raja bertanya apa kira-kira yang bisa diperbuat agar gadis itu dapat melayaninya baik-baik, apakah Wan Hoa perlu dibawa ke sana untuk menemaninya?
Cao Cun terkejut, membelalakkan mata.
Memang hal inilah, antara lain, yang menghimpit perasaannya.
Perpisahan dengan Wan Hoa ternyata tidak kalah berat dibandingkan kehancuran cintanya dengan Kim Mou-eng.
Maka ketika raja meminta apakah Wan Hoa perlu dibawa ke sana, tiba-tiba saja Cao Cun mengangguk dan berharap suaminya dapat membawa gadis itu ke suku Siung-nu.
"Gampang, kalau begini saja bukankah dari dulu kau dapat memintanya, Cao Cun? Aku akan meminta kepada Sri Baginda Kaisar agar temanmu itu dibawa serta."
"Tentu kaisar tidak akan menolak!" Dan memang benar.
Sang Kaisar mengabulkan permintaan Raja Hu ini, terlalu besar jasa raja itu di mata sang kaisar.
Apalagi, sang kaisar tidak mencintai Wan Hoa, melainkan Cao Cun.
Dan karena kesedihan Cao Cun merupakan kesedihan sang kaisar pula, maka permintaan Cao Cun segera dikabulkan dan Wan Hoa pun berangkat.
Hampir Wan Hoa tidak percaya.
Tadinya, dia menganggap bahwa nasibnya sudah putus di Istana Dingin.
Dia pribadi memang tidak begitu menghiraukan diri sendiri asalkan Cao Cun selamat.
Begitu besarnya cinta kasih dan perhatian gadis ini. Maka ketika Cao Cun membalasnya dan meminta dia dikeluarkan dari Istana Dingin untuk menemani sahabatnya itu, Wan Hoa bersorak dengan begitu bahagia.
Perjumpaan dua sahabat sejati ini kembali terjadi.
Cao Cun dan Wan Hoa saling berpelukan, masing-masing terisak, namun isak mereka adalah isak bahagia.
Tangis bahagia.
Dan ketika selama seminggu Cao Cun bercakap-cakap terus-menerus dengan sahabatnya ini dan Raja Hu sebagai suaminya hampir tidak dilayani, maka suatu malam Wan Hoa menegur temannya itu.
"Cao Cun, kau telah menjadi istri orang.
Tidak sepatutnya selama tujuh hari tujuh malam seperti ini kau selalu berkumpul denganku dan tidak mendekati suamimu itu." "Ah, aku tidak bisa.
Wan Hoa, aku ngeri dan masih takut kepada suamiku itu." "Tapi dia raja yang baik, dia laki-laki yang baik, hingga selama ini tidak pernah menegurmu.
Masa untuk itu kau membalasnya begini?" "Jadi bagaimana?"
"Kau harus menemaninya, kau harus tidur bersamanya." "Hm...!" Wajah Cao Cun tiba-tiba memerah.
"Aku malu.
Wan Hoa.
Aku ngeri!" "Eh, bukankah malam pertama itu...?" "Tidak!" Cao Cun memotong.
"Aku sama sekali belum dijamahnya.
Wan Hoa.
Aku tidak mau disentuh karena terbawa kesedihanku itu." "Aah, kau...?"
"Ya, aku masih suci.
Wan Hoa.
Aku masih perawan karena selama ini aku memang menghindarinya." "Aduh, tidak boleh begitu, Cao Cun.
Kau melanggar kewajibanmu.
Kau seorang istri, suamimu resmi menikahimu, masa begini caramu?" "Tidak, tidak boleh begitu, Cao Cun.
Malam nanti kau harus mendekati suamimu itu dan meminta maaf." "Aku ngeri wajahnya.
Brewoknya itu menyeramkan!" "Kau bisa meminta dia mencukur, itu mudah!" "Ah, tapi...." "Tidak! Kau tidak boleh membantah, Cao Cun.
Ini tugas kewajibanmu.
Ingat tugasmu menyelamatkan kaisar, menyelamatkan rakyat banyak.
Bagaimana kalau Raja Hu kecewa dan mulai membuat onar mengacaukan Bangsa Han? Bangsa Tatar sudah cukup membuat pusing, Cao Cun.
Justru ini kesempatan baik bagimu untuk menundukkan raja itu luar dan dalam!" Wan Hoa memotong, pucat memperingatkan temannya itu karena sungguh tidak dikira kalau Cao Cun ini belum dijamah Raja Hu.
Cao Cun masih perawan dan belum melaksanakan kewajibannya sebagai istri.
Dan ketika Cao Cun tertegun dan merasa bersalah, maka Wan Hoa menasihati lagi, "Cao Cun, tidak sembarang wanita dapat menjadi pahlawan.
Kau telah mengorbankan segala-galanya untuk bangsa dan dirimu pribadi.
Semuanya kepalang basah, sebaiknya malam nanti kau dekati suamimu itu dan ikat dia dengan janji sumpah agar tetap setia kepada kerajaan dan kaisar!"
Cao Cun mengangguk, menghela napas.
"Baiklah, aku ikut nasihatmu, Wan Hoa.
Kalau bukan kau yang bicara belum tentu aku mau.
Memang benar, semuanya kepalang basah.
Nanti aku dekati suamiku itu dan mengikatnya dengan janji sumpah!" "Bagus, dan sekarang kau dapat memulai, Cao Cun.
Sebentar lagi Raja Hu kemari dan kau tidak boleh menolak ajakannya!" Benar saja.
Menjelang tengah malam, raja itu datang, seperti biasa mendekati perkemahan Wan Hoa dan masuk dengan senyum terkulum.
Sudah seminggu ini Wan Hoa melihat raja itu tidak pernah menunjukkan muka masam.
Satu hal yang mengherankan dia, tetapi sekaligus menggirangkan hati karena cinta raja itu terhadap Cao Cun ternyata besar. Demikian sabar dan sangat kalem.
Dan ketika basa-basi percakapan di dalam kamar selesai dan seperti kemarin raja ini mengajak Cao Cun ke kemah pribadinya, maka tidak seperti kemarin, Cao Cun kali ini menurut, berkat dorongan Wan Hoa.
"Kau pergilah, Sri Baginda tentu ingin bercakap-cakap berdua denganmu, Cao Cun.
Laksanakan tugasmu dan besok kita bertemu lagi."
Cao Cun tersipu merah.
Raja Hu menggandeng tangannya, lembut dan mesra, sementara matanya mengerling penuh terima kasih kepada Wan Hoa.
Itulah jasa gadis ini.
Dan ketika Wan Hoa tersenyum dan Cao Cun diajak ke kemah lain, maka malam itu, hari kesekian dari hari-hari yang seharusnya menjadi kewajiban gadis ini, Cao Cun bersikap manis pada raja bertubuh tinggi besar itu.
Hal yang menggirangkan raja ini, dan diam-diam kembali rasa terima kasih yang besar tercurah kepada Wan Hoa.
Cao Cun membalas kemesraannya pula.
Namun ketika Raja Hu mencium dan hendak menikmati istrinya, Cao Cun sempat menunda dengan sebuah tuntutan.
"Sri Baginda, apakah paduka mencintai hamba?" "Ah, tentu, Cao Cun.
Masa aku main-main? Apakah selama ini sikapku kepadamu tidak menunjukkan tanda-tanda tersebut?" "Hamba belum yakin, hamba ingin menuntut sebuah janji dari paduka!" "Janji apa?" Raja itu melengak.
"Apakah kurang semua harta kesenangan di tempat ini?" "Tidak, bukan harta, Sri Baginda.
Melainkan janji Paduka untuk tetap setia pada junjungan Paduka di kota raja, Sri Baginda Kaisar!" "Ha-ha, kau aneh, Cao Cun!" Raja Hu tertawa tergelak.
"Bukankah selama ini aku tetap setia kepada junjunganmu itu? Apakah bangsa Siung-nu mau memberontak? Lihat, aku menyatakan janjiku dengan sumpah!"
Raja itu mengambil sebatang anak panah di dinding, memperlihatkannya kepada Cao Cun dan tiba-tiba mematahkannya menjadi dua.
Dan ketika anak panah itu mengeluarkan suara "krek" dan patah menjadi dua di tangan raja ini, maka Cao Cun tersenyum dan malu-malu mencium brewok di pipi raja bertubuh tinggi besar itu.
"Sri Baginda, hamba mengucapkan terima kasih!" "Ah, aku yang berterima kasih, Cao Cun.
Kau segala-galanya bagiku, tapi ciumanmu keliru, harusnya di sini.
Ha-ha....!" Dan sang raja yang segera "membetulkan" ciuman Cao Cun dengan mulut ke mulut akhirnya membuat Cao Cun menggeliat dan memejamkan matanya. Ada perasaan gemetar di hatinya, perasaan takut.
Bagaimanapun, baru kali itu dia melayani pria dalam arti sesungguhnya.
Raja Hu kemudian merebahkannya di pembaringan yang beralaskan kulit harimau, malam itu Cao Cun pasrah dan merintih.
Dan ketika Raja Hu membelai dan merayunya dengan lembut, maka "operasi" raja bertubuh tinggi besar ini berhasil dan Cao Cun menyerahkan segala-galanya kepada suami yang dikenal sebagai raja suku yang liar itu.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia mengenal apa yang disebut "tugas" istri.
Semula ia membiarkan saja sang suami yang aktif.
Namun ketika beberapa hari kemudian Cao Cun mulai belajar dan tahu apa yang harus ia perbuat, maka hari-hari berikutnya Raja Hu gembira bukan main melihat istrinya membalas tidak kalah mesra perbuatan-perbuatan mereka di atas ranjang.
"Ha-ha, kau pandai, Cao Cun.
Kau cerdas dan pintar!" Cao Cun tersenyum saja menghadapi pujian suami.
Dia memang mulai dapat melayani suaminya ini.
Kelembutan dan cinta sang suami yang sangat sabar dan menyayanginya membuat dia hilang ketakutan, sedikit demi sedikit, tetapi pasti, dia mulai melihat bahwa suaminya ini, meskipun tampak menyeramkan penampilan fisiknya, tetapi Raja Hu adalah seorang laki-laki yang penuh perhatian kepadanya.
Kemesraan dan cintanya begitu besar.
Maka ketika hari demi hari dilewatkan Cao Cun sementara Wan Hoa juga menemaninya di sana, maka lama-kelamaan bayangan Kim Mou-eng lenyap.
Cao Cun mulai merasakan kebahagiaannya tinggal di tengah-tengah suku Siung-nu.
Dan karena bangsa ini juga menghormatinya dan memberikan kasih sayang yang besar sebagaimana Raja Hu, maka setahun kemudian Cao Cun merasa betah dan seolah-olah tinggal di rumah sendiri.
Luar biasa!
Itulah berkat Wan Hoa pula.
Gadis yang satu ini tidak pernah habis-habisnya menasihati Cao Cun, membujuk dan menghibur, serta segala sesuatu yang kira-kira dapat menghilangkan kedukaan sahabatnya itu.
Cao Cun benar-benar merasa berutang budi besar.
Cinta Raja Hu dan cinta Wan Hoa memberinya kebahagiaan lahir dan batin.
Dan ketika setahun Cao Cun menikah dengan suaminya yang menyeramkan itu, maka lahirlah kemudian seorang putra yang diberi nama Ituci Yashi.
Cao Cun semakin bahagia.
Lahirnya seorang putra ini membuat kesibukan baru baginya, kesibukan seorang ibu muda.
Mulailah dia mengenali hubungan batin seorang ibu dengan anaknya.
Mengasuh dan menyusui anaknya itu sebagaimana ibu-ibu lain di dunia.
Cao Cun benar-benar melupakan kenangan lamanya.
Namun ketika beberapa tahun kemudian Cao Cun menginjak usianya yang ke-22, mendadak sang suami yang mulai dicintai dan disayanginya itu meninggal dunia.
Raja Hu terserang suatu penyakit berat.
Dan karena saat menikahi Cao Cun raja itu juga sudah paruh baya dan daya tahan orang yang mulai termakan usia memang tidak sekuat anak muda, maka raja wafat diserang penyakitnya ini.
Seluruh bangsa Siung-nu berkabung.
Cao Cun menangis.
Namun karena Raja Hu meninggalkan seorang anak yang sudah dewasa dari istri yang lain, maka Cimochu, anak raja yang wafat itu, mengambil alih kekuasaan ayahnya.
Hal ini memang sudah menjadi adat istiadat bangsa Siung-nu.
Segala sesuatu yang dimiliki almarhum ayahnya menjadi milik raja yang baru ini, termasuk harem (selir-selir) mendiang Raja Hu, istri Raja Hu yang sah maupun yang setengah sah.