Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 33

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 33

Karena ini sudah merupakan peraturan bangsa tersebut, maka Cao Cun, yang merupakan istri raja lama, secara otomatis jatuh ke tangan raja yang baru, Cimochu. Sebelumnya, Cimochu memang sudah tergila-gila pada kecantikan serta daya pikat Cao Cun, sehingga hal ini menimbulkan kecemasan besar bagi wanita itu.

Setelah beberapa tahun hidup bahagia, tiba-tiba gangguan baru muncul. Cao Cun dirundung kesedihan. Tentu saja ia menolak. Bagaimana mungkin seorang wanita Han yang terhormat, setelah dinikahi ayahnya, kemudian harus dinikahi oleh anaknya? Hal semacam itu sangat tidak lazim bagi Cao Cun. Jangankan menikah dengan anak tiri, menikah kembali dengan orang lain pun merupakan pantangan besar baginya. Hal itu adalah sesuatu yang sangat memalukan bagi wanita Han.

Namun, karena lain lubuk lain ikannya, lain adat lain pula hukumnya, maka setiap hari Cao Cun mulai menangis. Haruskah ia memasrahkan diri pada Cimochu? Haruskah ia menjadi istri dari anak mendiang suaminya? Cao Cun merasa sangat gelisah. Persoalan ini cukup menekan batinnya. Luka lama tiba-tiba kambuh. Ia teringat pada Kim Mou Eng, dan entah mengapa tiba-tiba berharap pada pertolongannya; berharap pendekar itu datang dan menyelamatkannya dari hal yang dianggap aib ini. Menikah dengan anak mendiang suami adalah hal yang sangat memalukan. Terlalu memalukan baginya.

Karena Wan Hoa yang selama ini dekat dengannya ternyata tidak dapat membantu banyak, akhirnya seminggu kemudian Cao Cun jatuh sakit. Kemalangan rupanya kembali menimpa wanita ini. Baru merasakan sedikit ketenangan, kesulitan baru sudah datang menghampiri. Dunia rasanya kiamat. Karena Cao Cun cemas dan gelisah memikirkan hal itu, sebulan kemudian ia menjadi kurus dan lemah.

Haruskah hal yang tidak menyenangkan itu terjadi? Haruskah ia menerima nasib untuk kedua kalinya? Ah, kisah wanita ini masih terlalu panjang. Daripada kita ikut prihatin melihat nasibnya, biarlah kita beralih dahulu untuk melihat yang lain. Mari!

Salima baru dua hari memasuki Tembok Besar ketika ia mendengar kabar tentang serbuan bangsa Tartar. Ia berhenti di sebuah kedai dan memesan arak. Ketika serbuan itu ramai dipergunjingkan oleh para tamu, gadis ini diam-diam tersenyum. "Biarlah," pikirnya. "Biar suku bangsanya menyerang kota raja dan menghajar istana." Ia pun mulai tidak menyukai kaisar setelah kakak seperguruannya dituduh mencuri dan hingga kini belum kembali. Ada perasaan cemas sekaligus marah di hatinya.

Namun, saat ia sedang menikmati araknya sambil menyendiri, mendadak tiga laki-laki berbadan tinggi besar mendatanginya dan menghardik, "Hei, ini juga gadis Tartar. Tangkap dan bekuk dia!"

Salima menoleh. Ia memang orang asing di sana dan sadar bahwa diam-diam ia sedang diperhatikan orang banyak. Topi bulu dan kulitnya yang agak gelap memang membuatnya tampak berbeda dari bangsa Han, namun Salima tidak peduli. Ketika salah satu dari mereka mulai mengganggu dan para tamu di kedai itu serentak mengalihkan pandangan kepadanya, tiba-tiba Salima mengerutkan kening dan bibirnya yang tipis mulai ditarik.

"Hei, kau wanita Tartar. Pasti kau mata-mata yang datang menyusup untuk memantau keadaan!"

Salima tetap tenang. Ketiga laki-laki itu sudah mendekatinya dengan pandangan mengancam. Ia diam-diam tersenyum mengejek karena tatapan ketiga laki-laki itu menunjukkan kekurangajaran; mereka memang berniat membuat onar karena melihat wanita cantik. Begitulah biasanya tabiat sebagian kaum lelaki.

Ketika mereka sudah dekat, salah seorang di antaranya menekan pinggir meja hingga araknya miring. Laki-laki itu tertawa menyeringai sambil menyambar bahunya. "Nona, kau akan kuserahkan pada Thai-taijin. Kau wanita asing di sini dan jelas mencurigakan. Ikutlah kami untuk diperiksa!"

Salima melebarkan senyum. Ia tidak mengelak, bahkan senyum mengejek semakin mengembang di bibirnya. Bahu yang ditangkap itu dibiarkan saja, namun ia dengan cepat mengerahkan tenaga dalam *Tiat-lui-kang* di bahunya. Hawa panas segera menjalar di pundak. Saat laki-laki itu mencengkeram pundaknya, tiba-tiba ia menjerit dan mundur dengan jari-jari yang melepuh.

"Aduh...!"

Kedua temannya terkejut. Semua orang tiba-tiba melihat lelaki ini berteriak seolah-olah disiram air panas. Mereka heran melihat jari si tinggi besar itu melepuh dan membengkak. Mereka memang tidak mengenal Salima. Saat lelaki itu memaki kalang kabut, tiba-tiba ia menubruk kembali dan membentak dengan tangannya yang lain.

"Kau siluman! Kau memasang besi panas di pundakmu!"

Salima tetap diam. Ia malah tertawa geli melihat tingkah lawannya, kembali membiarkan bahunya dicengkeram. Namun begitu tangan menyentuh pundaknya, lelaki ini pun kembali menjerit-jerit. "Aduh, tanganku... tanganku...!"

Semua orang bangkit berdiri. Mereka melihat tangan yang satunya pun membengkak, bahkan sekarang berwarna merah seolah-olah dibakar. Orang-orang mulai tidak mengerti namun merasa gentar memandang Salima. Akan tetapi, saat Salima meneruskan minumnya dan pura-pura tidak tahu, sekonyong-konyong dua lelaki lain yang merupakan teman lelaki pertama mencabut golok dan menyerang.

"Iblis, kau rupanya wanita siluman...!"

Begitu dua golok itu menyambar, Salima mulai mengangkat kening karena menganggap mereka sudah keterlaluan. Ia ingin memberi pelajaran. Saat golok mendekat, ia menyentil cawan araknya hingga terbang menangkis golok yang segera berbenturan sendiri. Hal ini membuat kedua orang itu terkejut karena mereka tidak melihat gerakan Salima yang begitu cepat. Sebelum mereka sempat bereaksi, Salima menampar dan membalas.

"Pergilah!"

Kedua orang itu terangkat naik seolah didorong tenaga raksasa. Mereka menjerit kaget dan terbanting bergulingan di lantai dalam keadaan babak belur, sementara golok mereka pun terlempar entah ke mana.

"Iblis... Setan...!" Keduanya bangun dengan muka pucat. Mereka memandang gentar ke arah gadis yang masih duduk di meja itu. Salima melayani mereka tanpa beranjak dari kursinya. Sadar bahwa gadis yang dihadapi memiliki kepandaian tinggi, ketiganya segera melarikan diri tunggang langgang. Mereka maklum telah menghadapi lawan yang tangguh.

Setelah lawan-lawannya pergi, Salima memesan kembali cawan araknya. Para tamu yang tadi memenuhi kedai mulai menyingkir dan menghilang karena ketakutan; tidak ada yang berani lagi beradu pandang dengan gadis lihai ini. Salima merasa sebal. Namun, beberapa saat kemudian terdengar derap puluhan kuda dan seorang pengawal berhenti di depan pintu. Bentakan nyaring terdengar lantang dari luar.

"Wanita pengacau, keluarlah berhadapan dengan pasukan keamanan! Kami akan memeriksamu atas tuduhan membuat onar!"

Salima merasa terganggu. Sebenarnya, mengingat wataknya sehari-hari, ketiga orang tadi termasuk beruntung karena ia tidak mematahkan tulang mereka. Salima tidak melakukan itu karena menganggap mereka hanyalah orang-orang tak berilmu yang hanya berlagak. Kini, melihat mereka mengundang pasukan keamanan, Salima menjadi marah dan menghentikan minumnya.

Pemilik kedai buru-buru mendekat, menjura dan membungkuk berulang-ulang agar Salima tidak membuat keributan di dalam kedai karena takut bangunannya hancur. Dengan menggigil, pemilik kedai itu mencium kaki Salima dan berkata, "Lihiap, tolonglah aku. Itu San-ciangkun. Dia kejam dan sewenang-wenang. Jika kau tidak menyambutnya, aku bisa disangka komplotanmu. Tolonglah keluar dan selesaikan ini tanpa merugikan aku!"

"Hm!" Salima tertawa mengejek. "Yang mencari ribut bukanlah aku, Lopek, melainkan mereka. Suruh saja mereka masuk, kujamin barang-barangmu akan utuh."

"Ah, mereka galak, Lihiap. Mana aku berani?"

"Kalau begitu biarkan saja, biar mereka ke mari!"

Pemilik kedai itu mengeluh ketakutan. Ketika Salima mengabaikan bentakan di luar, pengawal itu pun berteriak memerintahkan untuk membakar kedai arak tersebut.

"Aduh, celaka, Lihiap! Habis warungku nanti...!"

Salima terkejut. Orang-orang di luar rupanya benar-benar serius. Puluhan orang yang mengepung sudah bersiap membawa minyak. Saat pemilik kedai menangis, Salima yang merasa jengkel tiba-tiba bergerak melesat dengan kursi yang masih menempel di tubuhnya. Ia langsung berhadapan dengan pemimpin pengawal, duduk dengan sikap tenang namun berwibawa.

Orang-orang tertegun melihat demonstrasi kepandaian tersebut. Salima sengaja melakukannya untuk menjatuhkan mental lawan. Saat orang-orang tertegun, Salima menegur pemimpin pengawal yang berwajah garang itu, "Monyet busuk, apa mau kalian mengganggu seorang wanita yang sedang asyik minum? Kurang kerjaankah kalian hingga minta kuhajar?"

Pengawal itu terkejut. "Kau mata-mata, kami datang untuk memeriksamu!"

"Hm, atas petunjuk tiga anjing buduk itu?"

Pengawal itu marah. "Mereka bukan anjing, mereka adalah informan!"

Salima tertawa. "Hidung monyet, sebaiknya kau pergi dan suruh tiga penyelidikmu itu bekerja lebih baik. Aku tidak mau berurusan dengan kalian, jadi enyahlah!"

Pengawal itu gusar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment