Chapter 34
Dia terang-terangan dimaki si hidung monyet, hinaan di depan begitu banyak anak buahnya.
Tapi melihat Salima, seorang gadis cantik dengan tubuh yang cukup menggairahkan, tiba-tiba dia menggeram, menekan kemarahannya.
"Nona, jangan bicara sembarangan. Daerah ini dikuasai Thai-taijin, kau harus tunduk memasuki wilayah orang dan tidak mencari perkara. Kau kami tangkap dan menyerahlah baik-baik. Aku masih sayang kulitmu yang halus."
"Hm, mau coba-coba? Kalau begitu tangkaplah. Aku tak akan beranjak dari kursiku dan kalian boleh menyerang."
"Sombong!" Perwira atau pengawal itu membentak, tak dapat menahan diri, dan menyuruh lima pembantunya bergerak. Lima pengawal di sebelah kanan menubruk dan menusukkan tombak mereka.
Salima tenang saja dan tertawa mengejek. Dan ketika lawan menyerang, dia memutar lengannya. Tiba-tiba pukulan jarak jauh dilontarkan gadis ini ke arah lima pengawal itu.
"Bress!" Lima pengawal itu menjerit roboh. Tombak di tangan mereka mencelat jauh, mereka disambut pukulan kuat yang meluncur dari lengan gadis itu. Tentu saja mereka terpekik dan pemimpin mereka terbelalak. Bukti akan kelihaian gadis itu tampak di depan hidung.
Tapi karena dia marah dan perbuatan Salima menaikkan temperamennya, tiba-tiba perwira ini tak sabar menyuruh semuanya maju, tak kurang dari dua puluh pengawal. "Tangkap dan ringkus dia...!"
Semua pengawal bergerak. Mereka sebenarnya jerih, tapi karena kini maju berbareng dan Salima juga tetap di kursinya, tiba-tiba mereka menjadi berani dan menyerang dengan tombak dan golok bagai sekumpulan serigala menyerang seekor domba.
Salima tak berbuat apa-apa sebelum mereka mendekat, tapi begitu jarak sudah dirasa cukup dan orang-orang ini menubruknya dari segala penjuru, tiba-tiba Salima melengking dan... mumbul ke atas. Kursi yang didudukinya terangkat naik, para pengawal bengong. Separuh di antara mereka menghentikan gerakan.
Tapi begitu Salima turun kembali dan kakinya bergerak ke sana-sini, tiba-tiba seperti capung beterbangan saja Salima membagi-bagikan pukulan dan tendangan ke arah dua puluh pengawal itu.
"Des-des-dess!" Semuanya terkejut. Semuanya terpelanting dan roboh bergelimpangan bagai disambar petir. Golok dan tombak berhamburan, patah-patah.
Dan ketika Salima hinggap kembali di tempatnya semula dan perwira berhidung monyet melongo, maka dua puluh pengawal sudah mengaduh-aduh di tanah dengan tubuh babak-belur.
"Keparat!" Perwira ini gentar. "Kalian orang-orang tiada guna. Ayo bangun, ambil senjata lagi dan serang...!"
Dan menoleh pada tiga laki-laki tinggi besar yang bersembunyi di belakang punggungnya, perwira ini menghardik, "A-lu, bantu aku. Kalian jangan ndomblong saja. Ayo...!" Dan berteriak menyuruh anak buahnya bangun dan menyerang lagi, perwira ini sekarang maju, meskipun gentar tapi dia penasaran juga. Kerasnya tangan Salima belum dia rasakan sendiri.
Maka begitu anak buahnya mengambil senjata baru dan tertatih-tatih menyerang, Salima segera membentak, menggerakkan golok tombaknya, dibantu pula tiga laki-laki tinggi besar yang bersembunyi di belakang punggungnya tadi, terpaksa maju lagi meskipun mereka semakin pucat. Kelihaian Salima ini membuat nyali mereka menciut.
Dan ketika Salima dikeroyok lagi dan hujan senjata kembali menghambur ke arahnya, maka Salima mengincar perwira berhidung monyet ini sambil tertawa mengejek. "Monyet busuk, rupanya kau harus menerima hajaran!"
Salima mumbul ke atas lagi, sekarang menangkis dan dengan tangan telanjang mematahkan senjata lawan. Para pengawal berteriak keras karena senjata lagi-lagi patah, perwira yang memimpin juga terkejut dan pucat, tangan yang halus itu ternyata tak kalah ampuh dengan sebatang pedang.
Dan ketika dia gugup membacok dan Salima berkelebat ke arah dirinya, tiba-tiba goloknya patah pula dan tangan Salima mengenai pelipisnya.
"Plak!" Perwira itu menjerit, roboh terbanting, dan pingsan seketika. Anak buahnya geger dan mundur, berteriak-teriak.
Salima turun kembali, dan tak ada satu pun yang menolong perwira itu. Semua pengawal gentar. Tiga laki-laki tinggi besar sudah mendahului, lintang-pukang melarikan diri. Kini Salima menghadapi pengawal-pengawal yang ketakutan itu.
Dan ketika Salima menggebah dan perwira yang pingsan itu ditendangnya hingga mencelat di tengah-tengah anak buahnya, maka para pengawal ini berseru keras menyambut pemimpin mereka dan lari di atas kuda masing-masing.
"Siluman...!" "Kuntilanak...!" "Kita ketemu iblis...!"
Salima tersenyum mengejek. Sekarang dia telah memberi pelajaran pada orang-orang itu, bangkit berdiri, dan mengeluarkan sekeping perak. Pemilik kedai dilihatnya melongo di muka pintunya. Dia mungkin dikira setan.
Dan geli serta ingin menunjukkan dirinya lebih hebat lagi, tiba-tiba Salima menendang kursi yang didudukinya dan berkelebat lenyap. "Lopek, itu pembayaran minumku!"
Pemilik kedai semakin mendelong. Salima lenyap begitu saja, gerakannya seperti iblis. Dan ketika dia sadar namun orang sudah tak kelihatan lagi, tiba-tiba pemilik kedai ini menjatuhkan diri berlutut dan malah menangis. "Sian-li (dewi), tak perlu bayar uang minummu. Biarlah kau ambil saja agar keberuntungan nasibku tidak tertimpa sial!"
Kiranya, pemilik ini takut kalau Salima adalah dewi atau kuntilanak pembawa sial. Para pengawal menyebutnya iblis, tapi dia malah menyebutnya dewi.
Salima sendiri tertawa di kejauhan sana dan tentu saja tak mau mengambil uangnya, malah dia melempar berturut-turut dua keping emas yang menancap di dekat pemilik kedai ini. Pemilik itu tertegun tapi gembira luar biasa. Kini keberuntungan benar-benar diperolehnya.
Dan ketika dia mengambil dua keping emas itu sementara Salima lenyap ke arah timur, maka Salima sendiri sudah meneruskan perjalanannya dan coba menghilangkan kekesalan dengan lebih dalam lagi masuk ke tembok besar, mulai dipandang keheranan serta curiga oleh orang-orang yang tak mengenalnya.
Hari demi hari serbuan bangsa Tar-tar memang semakin menggemparkan. Kali ini Salima menjauh karena dia tak enak juga, dia ingin menghindari keributan dengan orang-orang rendahan itu. Dan ketika seminggu kemudian dia tiba di sebuah hutan di mana dia merasa kecewa karena jejak suhengnya tak didapatkan juga, mendadak lima orang berlompatan menghampirinya.
"Sian-li lihiap...!"
Salima tertegun. Sin Kok muncul bersama adiknya, memanggil dan sudah berada di depannya dengan wajah berseri-seri. Di belakangnya berdiri dengan muka cemberut tiga laki-laki pendek yang bukan lain Sin-to Sam enghiong adanya.
Salima girang, sedetik kekesalannya lenyap dan dia memandang orang-orang itu. Mereka ini tentu dapat ditanya mengenai suhengnya. Inilah orang-orang yang dikenal sejak dia memasuki tembok besar, setelah sekian lama berpisah. Tapi melihat muka cemberut yang ditunjukkan Sin-to Sam-enghiong dan juga Hwi Ling yang tampaknya tidak bersahabat, tiba-tiba saja teguran Sin Kok tadi disambut dingin oleh Salima yang merasa tidak senang oleh sikap empat orang ini.
"Saudara Sin Kok, ada apa kau memanggilku? Bagaimana kalian ada di sini?"
Sin Kok berseri-seri. "Kami mencari suhengmu, lihiap. Kami sampai di sini karena mencari suhengmu itu. Paman Beng Kwan baru saja bertemu tapi sudah kehilangan jejaknya lagi!"
"Hm, kalian tahu?" Salima bersinar penuh harap. "Di mana suhengku itu dan kapan saudara Beng ini menemuinya?" Pertanyaan terakhir jelas ditujukan pada orang tertua dari Sin-to Sam-enghiong itu.
Beng Kwan bersikap dingin dan mendengus. Baru ketika Salima mengerutkan kening dan tajam memandang laki-laki itu, orang tertua dari Sin-to Sam-enghiong ini bicara, "Tiat-ciang Sian li, suhengmu Kim-mou-eng memang pernah bertemu kami. Tapi kami tak tahu di mana dia sekarang berada. Kami mengira justru kaulah yang menyembunyikan suhengmu itu, karena itu serahkan kepada kami dan biar kami tangkap untuk dihadapkan kaisar secara baik-baik!"
Salima gusar. "Memangnya siapa kalian ini yang dapat menangkap suhengku? Apakah kalian menuduh suhengku pula mencuri Sam-kong-kiam?"
"Aha, bagus. Kau pun telah berterus terang, Tiat-ciang Sian-li. Sekarang kami akan bicara blak-blakan saja bahwa kami pun menduga kau tahu tentang pedang ini. Serahkan dan menyerahlah baik-baik kepada kami!"
"Paman!" Sin Kok kaget. "Kenapa malah hendak memusuhi Sian-li lihiap ini? Bukankah dia tak mencuri pedang?"
"Ah, mencuri atau tidak dia adalah sumoi Kim-mou-eng, Sin Kok. Dia tentu tahu sepak terjang suhengnya itu. Kalau Kim mou-eng menyembunyikan diri, tentu gadis ini tahu di mana suheng nya itu. Tak perlu dia bersikap pura-pura!"
Beng Kwan memberi tanda kepada adik-adiknya, mencabut golok, dan Hwi Ling pun mengangguk, melolos pedangnya. Mereka berempat sudah mengepung gadis ini.
Salima mengangkat keningnya dan naik darah. Ini hinaan langsung. Dan ketika lawan sudah mengelilinginya dengan sikap mengancam dan rupanya mereka itu tak mau diajak bicara lagi, tiba-tiba Salima mendengus dan tertawa mengejek, darah dinginnya muncul, mata berkilat-kilat memandang empat orang lawannya itu.
"Sin-to Sam-enghiong, kalian rupanya mencari penyakit. Aku sedang jengkel tak menemukan suhengku, sebaiknya tak perlu kalian mengeluarkan senjata tajam agar tidak melukai diri sendiri."
"Kau tak perlu banyak cakap, Tiat-ciang Sian-li. Bagi kami beritahukan di mana suhengmu itu atau kau kami tangkap untuk dipaksa mengaku."
"Kalau begitu majulah, aku juga sebal melihat tampang kalian!" Salima tak mau banyak bicara, mengejek orang tertua dari Sin-to Sam-enghiong itu. Sementara Sin Kok di luar sana pucat, menyuruh adiknya mundur, tapi Hwi Ling malah mendamprat kakaknya. Pemuda ini gelisah, bingung.
Dan ketika Beng Kwan membentak dan menyuruh Sin Kok mencabut pedangnya, tiba-tiba orang tertua dari Sin-to Sam-enghiong ini melengking dan berkelebat ke depan dengan serangan pertamanya.